
Aku mengerjapkan mata saat merasakan sentuhan hangat di kening. Sesaat setelah membuka mata, aku melihat Kak Lastri sedang menyeka bulir keringat di keningku. Wajahnya terlihat cemas.
"Kak," gumamku.
Kak Lastri melirik. "Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Dek?" ucapnya.
Aku mengedarkan pandangan. Semua yang aku lihat saat ini, sangatlah asing. "Di mana ini, Kak?" tanyaku seraya mengerutkan kening.
"Kamu sedang berada di ruang rawat Puskesmas Desa, Dek," jawab Kak Lastri.
"Memangnya, apa yang terjadi padaku?" Sungguh, aku tidak bisa mengingat apa pun.
"Kamu pingsan sesaat setelah kami menemukan kalian," jawab Kak Lastri. "Sepertinya, maag kamu kambuh," lanjut Kak Lastri
"Ah, iya ... Aku ingat!" Aku berseru. "Lalu Fatwa? Di mana dia? Apa dia baik-baik saja?" cerocosku.
"Ssst, tenanglah dulu, Dek! Fatwa baik-baik saja. Sekarang dia berada di rumah Pak Karyo," jawab Kak Lastri.
"Ah, syukurlah." Aku bernapas lega saat mendengar jika pria dingin itu baik-baik saja.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada kalian. Kenapa kalian bisa sampai hilang semalaman?" tanya Kak Lastri. Terlihat gurat kekhawatiran di wajahnya.
"Apa Fatwa tidak menceritakannya kepada Kakak?" Aku malah balik bertanya.
"Jujur saja, Kakak belum bertemu dia lagi. Setelah dia diperiksa dan dinyatakan sehat oleh dokter Puskesmas, Fatwa memutuskan untuk kembali ke rumah Pak Karyo. Sedangkan Kakak sendiri lebih memilih menjaga kamu," jawab Kak Lastri.
Aku menarik napas sejenak, dan mengembuskannya dengan perlahan. Pandanganku tertuju pada kaca jendela yang sedikit terbuka. Sejenak, aku mulai mengingat kembali awal mula kami memasuki hutan belantara itu hingga tersesat.
"Dek?" Kak Lastri menyentuh punggung tanganku. Seketika lamunanku terbuyar.
"Jika kamu tidak ingin bercerita, Kakak tidak akan memaksa kamu," ucap Kak Lastri lagi.
Aku mengalihkan pandanganku dan menatap Kak Lastri. "Apa Kakak masih ingat dengan nenek tua yang dulu pernah jalan bareng sama kita?" tanyaku.
"Nenek yang menemani kita berjalan ke desa ini?" Kak Lastri balik bertanya.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Ya, Kakak ingat. Memangnya, ada apa dengan dia? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa hubungannya dengan hilangnya kalian?" Kak Lastri memberondong aku dengan berbagai pertanyaan.
"Pada saat kami ingin pergi ke rumah ketiga, tiba-tiba aku dan Fatwa melihat nenek itu sedang duduk di tepi jalan. Setelah kami dekati, ternyata kaki beliau terkilir hingga tak mampu berjalan. Akhirnya, Fatwa menggendong nenek itu, dan kami mengantarkan beliau pulang." Aku menghela napas sejenak.
"Tidak kami sangka, ternyata rumah beliau cukup jauh. Bahkan kami harus melewati hutan jati untuk tiba di sana. Sampai di sana, aku melihat nenek itu tinggal sendirian di rumah. Anaknya yang bernama Bu Zainab, sedang pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumah. Karena merasa kasihan, Aku meminta Fatwa untuk menemani nenek itu dulu sebelum anaknya pulang. Menjelang ashar, Bu Zainab pulang. Awalnya, kami hendak langsung pulang begitu Bu Zainab tiba, tapi ternyata, Bu Zainab malah memaksa kami untuk makan. Katanya sebagai bentuk terima kasihnya karena sudah menolong ibunya Bu Zainab. Setelah selesai makan, kami pamit. Sebenarnya, nenek itu menahan kami dan menawarkan kami menginap di rumahnya. Beliau khawatir dengan keselamatan kami. Tapi Fatwa menolaknya. Dia tidak ingin merepotkan ibu dan anak itu. Akhirnya, kami memutuskan pulang. Saat kami memasuki hutan, hari mulai gelap. Dan akhirnya, kami tersesat." Aku menceritakan kronologi kenapa aku dan Fatwa bisa sampai tak pulang sehari semalam.
Kak Lastri terlihat manggut-manggut mendengar ceritaku.
"Syukurlah kalian selamat, hutan itu sebenarnya hutan keramat. Tak ada seorang pun di desa ini yang berani memasuki hutan jati itu." Tiba-tiba salah seorang perawat memasuki ruanganku.
Aku dan Kak Lastri sangat terkejut mendengar ucapan perawat itu.
"Benarkah?" tanya Kak Lastri terlihat antusias.
"He-emh," jawab perawat itu sambil memeriksa cairan infus.
Aku dan Kak Lastri hanya bisa saling pandang.
"Dan sebenarnya, sepasang ibu dan anak yang kamu dan temanmu lihat itu, mereka adalah salah satu di antara ribuan penunggu hutan jati tersebut?"
Sontak aku dan Kak Lastri memekik keras.
"Suster, jangan bercanda!" ucap Kak Lastri.
"Untuk apa saya bercanda, toh tidak ada gunanya. Mereka memang sering jahil dengan menampakkan diri dan mengganggu orang. Terutama orang-orang baru di desa ini," jawab perawat itu lagi.
Syerr!
Seketika darahku berdesir. Bulu kudukku mulai berdiri. Jadi, mereka yang kami lihat itu, yang berjalan beriringan dari pertengahan jalan hingga memasuki desa ini, yang Fatwa gendong, yang aku papah dan yang membuatkan kami bekal, adalah makhluk gaib? batinku bergidik ngeri.
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang lebih baik kamu beristirahat," ucap perawat itu.
"Apa Anda juga makhluk gaib?" celetukku.
"Hahaha, mana ada suster gaib secantik diriku," jawab perawat itu, narsis.
"Ish, Dek!" Kak Lastri menegur sambil menepuk pelan punggung tanganku.
__ADS_1
"Ya, bisa jadi, 'kan, Kak. Abisnya desa ini aneh," gerutuku yang belum bisa menerima jika aku tersesat karena keisengan makhluk seperti itu.
"Sudah, istirahatlah!" Kak Lastri berdiri, sejurus kemudian dia sedikit menekan bahuku agar aku mau berbaring.
"Ish, tidak-tidak!" Aku sedikit menepis kedua tangan Kak Lastri. "Aku mau pulang. Sus, bisakah kamu membuka jarum infus ini?" pintaku kepada perawat itu.
Gila! Yang benar saja, apa setelah semua ini, aku masih sanggup bermalam di Puskesmas ini?
"Tapi kamu tidak bisa pulang hari ini, Dek. Tubuh kamu juga masih lemas karena dehidrasi. Jadi untuk malam ini, kamu terpaksa tidur dulu di sini," ucapnya.
"Nggak-nggak, aku mau pulang saja!" Aku mulai panik mendengar kata bermalam di Puskesmas Desa. Omaygat, jangan sampai aku harus menginap di sini, apalagi sendirian.
Aku mulai bereaksi berlebihan. Kucabut jarum infus itu hingga darah segar muncrat membasahi sprei.
"Ish!" Aku meringis menahan rasa sakit bercampur perih.
"Ish, kamu apa-apaan, Dek!" seru Kak Lastri.
Aku mulai merengek. "Aku mo pulang, Kak. Pokoknya aku mo pulang!" Aku merajuk seperti anak kecil kepada Kak Lastri.
"Iya-iya, sabarlah dulu! Hanya untuk malam ini saja, Kakak janji, Kakak akan selalu menemani kamu di sini. Kamu masih sakit, Dek. Kamu perlu istirahat," ucap Kak Lastri.
"Aku nggak mau! Siapa tahu, tengah malam nanti rumah sakit ini berubah jadi istana jin. Nggak, pokoknya aku nggak mau!" tolakku sambil menepiskan tangan perawat yang ingin memasangkan kembali jarum infusku.
"Ih, jangan dipasang lagi, dong! Sakit tahu!" dengusku, kesal.
"Salah sendiri, kenapa juga dicabut paksa. Sudah tenanglah, biar aku pasang kembali," ucap perawat itu malah menyalahkan aku.
Ish, judes sekali suster itu, apa dia juga makhluk gaib? Suster ngesot seperti yang ada dalam film-film horor itu? Tapi tunggu, kakinya jelas mampu berdiri. Ah, Aku semakin parno setelah mendengar kejadian gaib yang aku alami.
"Tidak! Aku mo pulang!" Aku mulai berteriak dan kembali memberontak.
"Ish, tenanglah Dek! Kakak janji, malam ini Kakak nggak bakalan tidur. Kakak akan menjagamu sepanjang malam," ucap Kak Lastri mulai meyakinkan aku agar aku mau bermalam di Puskesmas ini.
"Tidak usah lakukan itu, Las. Biar malam ini, aku yang menjaganya!"
Bersambung
__ADS_1