My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Merasa Dikuntit


__ADS_3

Tepat pukul 07.00, mobil sport berwarna putih itu terparkir cantik di halaman rumahku.


"Ka, astaghfirullah ... kenapa masih tidur? Bangun, Nak!"


Tubuhku terasa bergoyang, seketika aku mengerjapkan mata, karena kupikir ada gempa. Namun, rupanya tangan mama yang sedang menggoyang bahuku.


"Mama." Aku bergumam sambil mengucek mata.


"Ish, kok masih tidur sih, Kak. Pasti nggak salat magrib, ya?" tanya mamaku yang merasa heran melihat aku kebablasan tidur sampai waktu solat hampir isya.


"Kakak lagi dapet, Ma," jawabku.


"Oh, pantesan. Itu, di depan ada nak Yudhis, bukannya malam ini kalian mau pergi, ya?" tanya mama lagi.


"Astaghfirullahaladzim ... Kakak lupa, Ma!" Aku memekik pelan sambil menepuk jidat sendiri.


"Ish, kenapa bisa lupa, sih? Harusnya Kakak pasang alarm kalo mo tidur tapi ada janji," ucap mama mengingatkan.


"Kakak pasang, kok, Ma. Tapi, kenapa nggak bunyi, ya?" kataku sambil meraih jam weker di atas nakas. Uuh, pantas saja, baterai-nya abis, Ma!" ucapku sambil menunjukkan jam weker berkarakter tokoh kartun kesukaanku, Mickey Mouse.


"Ya, sudah. Cepat sana bersih-bersih!" perintah mama.


"Siap Bu Bos!"


Aku menyibakkan selimut dan segera berlari ke kamar mandi.


"Jangan mandi Kak, dah malam!" teriak mama.


"Iya, Ma!" jawabku sambil menekan handle pintu kamar mandi. "Mama tolong temenin mas Yudhis dulu, ya! Bilang padanya kalo Kakak lagi siap-siap!" Aku kembali berteriak.


"Ish, sama orang tua, kok ngajarin bohong."


Aku masih bisa mendengarkan mana yang mendengus kesal akan permintaaku. Aku hanya terkekeh membayangkan wajah mama yang pastinya sedang menggerutu sepanjang menuruni anak tangga.


Bernyanyi pelan, aku mulai membasuh muka agar tidak terlihat kucel. Tak lupa aku menggosok gigi supaya napasku tercium harum. Siapa tahu saja, mas Yudhis khilaf dan menciumku. Hehehe, lamunku.


Setelah 20 menit, akhirnya aku keluar kamar dan berlari kecil menuruni tangga.


"Hati-hati, kak! Kamu bisa tergelincir nanti," peringat mamaku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum lebar menanggapi peringatan mama. "Ish, Mama ... memangnya Kakak anak kecil, pake jatuh segala," ucapku begitu tiba di bawah dan segera memeluk mama.


Mama memukul pelan tanganku yang sedang melingkar di perutnya. "Kamu emang dah tua, tapi kelakuan kamu tuh, kek anak kecil," dengus mama kesal.


"Aish, Mama. Nggak perlu dibilangin tuanya juga kali!" rengutku yang selalu merasa kesal jika mama bilang aku tua. Padahal kenyataannya, aku memang sudah agak tua.


"Kapan kalian akan menikah. Apa kalian tidak merasa kasihan sama Mama. Teman-teman Mama sudah pada menimang cucu, lalu kapan giliran Mama?" tanya mama sendu. Aku melihat kesedihan di dalam bola mata orang yang sudah melahirkanku.


"Insya Allah tahun depan, Ma. Nunggu Chi selesai kuliah dulu. Biar tidak terganggu konsentrasi belajarnya," ucap mas Yudhis.


Hatiku kembali tertampar oleh ucapan mas Yudhis. Ya, Tuhan ... semoga Engkau memberikan hidayah kepada si dosen yang tingkat kewarasannya sudah hampir terkikis, ucapku dalam hati.


"Udah, ah. Kita pergi sekarang yuk, ntar keburu terlalu malam!" ajakku pada mas Yudhis. Jujur, aku mulai bosan jika mama selalu bertanya-tanta tentang kapan kami menikah.


"Eh, ya sudah. Kalian berangkatlah. Nanti terlalu malam pulangnya kalo jam segini belum berangkat," timpal mama.


"Hehehe, iya Ma. Kalau begitu, saya pinjem Chi-nya sebentar ya, Ma," ucap mas Yudhis sambil berdiri dan mencium punggung tangan mama.


"Iya, Nak Yudhis. Hati-hati di jalan, ya! Ingat, pulangnya jangan terlalu malam!" kata mama.


"Siap, Ma!" jawab mas Yudhis.


Setelah berpamitan, aku dan mas Yudhis berjalan beriringan menuju mobil mas Yudhis yang terparkir di depan. Setelah itu, mas Yudhis melajukan kendaraannya membelah gelapnya malam.


.


Setengah jam kemudian, kami tiba di salah satu mal yang cukup besar di kota ini. Mas Yudhis menurunkan aku di depan lobi mal, sedangkan dia kembali melajukan mobilnya menuju pelataran parkir.


Saat aku melambaikan tanganku, tiba-tiba sudut mataku menangkap raut wajah pria berjambang tipis. Aku terhenyak ketika aku melihat seseorang yang mirip dengan si dosen killer itu tengah berdiri di trotoar kecil yang menjadi pembatas jalan.


Aku menggelengkan kepalaku, mencoba menepis praduga dari pikiranku. Rasanya tidak mungkin seorang Fatwa bermain ke tempat seperti ini, gumamku dalam hati.


Sejurus kemudian, aku melihat mas Yudhis tengah berjalan ke arahku. Seketika senyumku mengembang melihat pria bertubuh atletis itu mengayunkan langkahnya. Bagaikan slow motion, mas Yudhis berjalan begitu gagahnya.


"Hati-hati, ngeces tuh iler," gurau mas Yudhis yang melihat aku begitu terpana menatapnya.


Aku terkejut dan langsung menyeka bibirku. "Ish, Mas Yudhis kebiasaan deh, ngerjain mulu, rengekku yang baru menyadari jika mas Yudhis mengerjai aku.


Mas Yudhis tertawa. "Abisnya, kamu liatin Mas ampe bola mata tuh mo keluar. Kenapa? Mas makin tampan, ya?" guraunya narsis sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Huuuh, kepedean!" balasku menonyor pelan bahu mas Yudhis.


"Ya udah, masuk yuk! Keburu antreannya tambah banyak," ajak mas Yudhis seraya merangkul pundakku.


Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Saat kami melintasi lobi, lagi-lagi ujung mataku menangkap sosok bayangan yang hampir mirip dengan dosen geblek itu.


Sambil berjalan, sesekali aku melihat ke belakang. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres malam ini.


"Kamu kenapa, Yang? Kok nengok ke belakang terus," tanya mas Yudhis yang merasa heran dengan sikapku.


"Mas, sepertinya ada yang sedang menguntit kita," ucapku setengah berbisik.


"Ish, jangan ngaco deh. Buat apa seseorang menguntit aktivitas kita. Memangnya kita selebriti," sangkal mas Yudhis.


"Ish, siapa tahu aja. Mas Yudhis, 'kan punya calon istri yang tingkat ketenarannya nggak kalah sama artis Indonesia. Makanya mereka pada penasaran, siapa gitu loh, pasangannya seorang Yudhistira Devano calon CEO Derrens Corp," ucapku dengan gaya yang tak kalah absurd ma artis-artis yang sok ngartis.


"Hahaha, kamu bisa aja, Yang!" Mas Yudhis memijit pelan ujung hidungku.


"Ish, sakit Mas!" rengekku.


Setelah menaiki eskalator kedua, akhirnya kami tiba di twenty-two Cinema.


"Penuh, Mas," ucapku saat melihat para kawula muda sudah mulai mengantre membeli tiket.


"Tenang saja, Mas sudah pesan via online kok, tiketnya. Kamu duduk dulu di sana, ya. Mas mau beli pop corn sama minuman dulu," ucap mas Yudhis.


Aku mengangguk dan berjalan mendekati bangku yang ditunjuk mas Yudhis. Saat hampir tiba di sana, aku kembali melihat bayangan yang mirip dengan Fatwa. Karena merasa penasaran, aku menghampirinya.


"Permisi, Pak. Apa Bapak sengaja mengikuti saya?" ucapku geram karena ini sudah ketiga kalinya aku melihat bayangan pria itu


Pria itu menoleh. "Ya, Mbak!"


Deg!


Eh, maaf Mas. Saya salah orang," ucapku merasa malu dengan perbuatan ku yang salah mengenali orang.


"Tidak apa-apa," jawab pria itu berlalu pergi.


Dengan menahan malu, aku kembali melangkahkan kaki menuju bangku tadi.

__ADS_1


Aku menunggu mas Yudhis sambil celingak-celinguk ke belakang. Entahlah, aku merasa seperti sedang dikuntit seseorang. Pada akhirnya, rasa cemas mulai menjalari hatiku.


Bersambung


__ADS_2