My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Disekap Lagi


__ADS_3

Perlahan, aku membuka mata. Namun, entah kenapa semuanya masih terlihat gelap. Rupanya, orang-orang itu telah menutup mataku dengan menggunakan kain yang aku sendiri tidak tahu kain apa.


“Harus kita apakan wanita ini?” tanya seseorang yang tidak aku kenali suaranya. Tapi, dari logat bicaranya yang medok, sudah bisa dipastikan jika dia orang Jawa.


“Entahlah, gue sendiri nggak tahu. Bos enggak memberikan perintah apa pun selain menculik dia,” jawab temannya.


Bos? batinku. Siapa bos mereka? Dan, kenapa dia menyuruh mereka menculik aku? Apa sebenarnya aku mengenal bos mereka?


Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam hatiku.


“Lagian gue heran sama si Bos. Kenapa sih dia harus memberikan kita perintah untuk menculik wanita ini? Kenapa dia nggak ngasih kita perintah buat nyulik anak konglomerat gitu, yang jelas-jelas bisa dimintai tebusan,” tutur temannya yang dari suaranya pasti pria yang lain.


“Udah deh, lo fokus nyetir aja, Mat!” tukas si orang Jawa tadi.


Akhirnya, keheningan terjadi untuk beberapa saat. Sebenarnya, aku sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu. Namun, demi mengorek keterangan dari para penculik ini, aku masih bertahan untuk terus berpura-pura tak sadarkan diri.


Setelah beberapa menit, aku merasa jalanan yang kami lalui mulai berkelok-kelok. Aku sendiri merasa mual karena harus melewati perjalanan dengan posisi meringkuk. Badanku terasa pegal, tapi aku masih tetap bertahan.


“Ish, tidak bisakah kau menemukan jalan yang lurus?” tanya salah seorang penculik dengan logat Batak-nya.


“Sorry, Bung! Hanya jalan ini yang gue tahu untuk sampai ke tempat yang dimaksud sama si bos,” jawab orang yang tadi disuruh fokus nyetir.


Lagi-lagi kata bos mereka sebutkan. Lalu, siapa sebenarnya bos mereka?


Mobil terus melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hingga setelah melewati perjalanan mungkin sekitar tiga jam, kecepatan mobil mulai berkurang. Mungkin kendaraan ini sedang melalui jalanan terjal berbatu, karena aku rasa perjalanan yang aku lewati mulai berguncang.


Ish, sebenarnya hendak ke mana mereka membawa aku pergi? batinku.


Sepertinya, jalan terjal itu cukup panjang. Terbukti dengan lamanya waktu yang aku tempuh di jalan berbatu ini. Hingga aku merasa, mobil yang membawaku, kembali melewati jalanan berkelok.


“Ish, jauh bener, Mat!” gerutu salah seorang penculik.


“Ya mana gue tahu,” jawab orang yang dipanggil Mat.


“Ini bener nggak, jalan menuju ke alamat yang bos kasih?” tanyanya lagi.


“Bener, Bang. Lah wong cuma ini satu-satunya jalan menuju ke tempat itu,” jawab temannya.


“Ya sudah, jalan! Perut gue dah mual banget nih gara-gara nih jalan,” dengus penculik yang lainnya.


“Iya, Bang … sabar!”

__ADS_1


Tak lama kemudian, aku merasakan mobil mulai berbelok. Aku dengar bunyi gonggongan anjing sangat riuh bersahutan. Ish, ke tempat seperti apa sebenarnya mereka membawa aku pergi?


Mobil berhenti. Beberapa detik kemudian, seseorang memanggul aku layaknya sebuah karung beras. Aku masih diam, masih berpura-pura tak sadarkan diri.


Brak!


Aku mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan paksa. Sejurus kemudian, orang itu mulai menurunkan aku di atas kursi. Dengan cekatan, dia menarik kedua tanganku ke belakang dan mengikatnya. Tak lama berselang, dia merapatkan kedua kakiku dan kembali mengikatnya juga. Terakhir, dia melilitkan tali beberapa kali lilitan di tubuhku, hingga aku benar-benar terikat pada sebuah kursi yang aku duduki.


Ikatan yang mereka buat sungguh sangat kuat. Padahal aku hanya seorang wanita. Ya Tuhan, sebegitu takutnya mereka, jika aku meloloskan diri?


“Sudah kau hubungi si bos?” tanya penculik yang berlogat batak itu.


“Belum,” jawab temannya.


“Ish, kenapa masih tidak kau hubungi juga. Cepat hubungi dan suruh dia membayar biaya operasional kita,” lanjutnya memberikan perintah.


“Sabar sedikit, Bang. Bukankah kita baru sampai juga?” timpal yang lainnya.


“Aih, urusan duit mana bisa sabar, Coy!” tukasnya.


“Ya sudah, ayo kita tinggalkan dia. Kita hubungi si bos di luar saja,” ajak penculik yang lainnya.


Tak lama kemudian, aku mendengar langkah mereka mulai menjauh. Semakin lama, semakin tidak terdengar.


Suara pintu kembali aku dengar, mungkin para penculik itu menutup pintu ruangan tempat aku disekap.


Trek!


Sedetik kemudian, aku mendengar bunyi kunci pintu. Hmm, ruapanya dia sangat menjagaku dengan ketat, sehingga harus mengunci pintu dari luar segala, batinku menyeringai. Keadaan ruangan pun hening seketika.


Saat aku tak mendengar suara apa-apa lagi, aku mulai membuka mata. Beruntungnya, benda yang mereka gunakan untuk menutup mataku, mulai semakin longgar. Dengan beberapa kali menggelengkan kepala, benda itu pun luruh hingga ke leher. Sepersekian detik kemudian, aku membuka mata, dan mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tempat aku di sekap.


Dahiku sedikit mengkerut saat melihat ruangan yang begitu asing. Ruangan gelap yang samar akan cahaya, hingga membuat napas aku terasa sesak. Mungkin ini tempat terparah selama tiga kali aku mengalami penyekapan. Aah … entah siapa dalang dibalik semua penculikan aku kali ini?


Aku mulai menggerakkan tubuh, berharap gerakan-gerakan tersebut bisa melonggarkan ikatan yang melilit di tubuhku. Namun, gerakan tersebut tidak menghasilkan apa pun. Ikatannya begitu kuat, semakin aku bergerak, lenganku semakin terasa panas akibat bergesekan dengan tali pengikat. Akhirnya aku menyerah.


Sayup-sayup aku mendengar, percakapan di luar ruang penyekapan.


“Apa kalian sudah memberi dia makan?” tanya seseorang yang tidak aku kenali suaranya.


Hmm, mungkin dia baru saja tiba di tempat ini. Aku mulai menajamkan pendengaran. Suara yang samar itu seolah pernah aku dengar. Ish, siapa orang yang baru datang itu? Apakah dia orang yang mereka panggil bos? batinku.

__ADS_1


“Dasar bodoh!”


Brakk!


Orang itu berteriak dan mungkin menendang sebuah benda yang berada di depannya. Entah itu kursi ataupun meja, yang jelas suara itu terdengar begitu keras.


Seketika aku terhenyak saat menyadari jika mungkin saja orang itu seseorang yang temperamental.


“Cepat kalian cari makanan!” perintah orang itu kepada anak buahnya.


“Baik, Bos!” jawab seseorang yang telah menculik aku.


Sesaat setelah itu, aku tak mendengar apa pun lagi. Hingga satu jam berlalu, seseorang membuka pintu ruangan tempat aku disekap.


Tap-tap-tap!


Derap langkah kaki begitu jelas terdengar mendekati tempat di mana aku duduk dengan tangan dan kaki yang terikat kuat. Seorang laki-laki datang menghampiri aku dengan membawakan sebuah kotak nasi di tangannya.


Sejenak, pria itu tampak tertegun menatapku. “Mamat!” teriak pria itu memekakkan telingaku.


“Ya, Bos!” Seseorang datang tergopoh-gopoh memasuki ruangan. “Ada apa, Bos?” tanya orang yang dipanggil Mamat itu.


Plak!


Bukannya menjawab pertanyaan si Mamat, orang yang dipanggil bos itu malah menampar anak buahnya begitu keras.


“Ish, Bos! Kenapa gue ditampar?” tanya si Mamat terlihat kesal.


“Tuh, lihat kerjaan kamu!” Tunjuk orang itu memperlihatkan kondisiku kepada si Mamat.


“Ish, kenapa bisa terbuka seperti ini?” kata si Mamat seraya mendekati aku dan hendak kembali mengikatkan tali panjang itu di kedua mataku.


“Percuma lo ikat dia lagi, dasar bodoh!” Orang itu memaki si Mamat.


“Eh, jangan sekate-kate ente kalo ngomong,” tukas si Mamat.


“Lo emang bego, terus … mau apa lo?” Si bos masih mengatai si Mamat.


“Brengsek, lo!” si Mamat berteriak seraya mengambil ancang-ancang hendak memukul orang itu.


“Apa-apaan ini?” tukas seseorang mendekati mereka.

__ADS_1


“Kau?!”


Bersambung


__ADS_2