
"Gimana, Kak? Jadi, nemuin nak Yudhis hari ini?" tanya mama saat sarapan.
"Insya Allah, jadi Ma. Nanti, pulang kerja Kakak mampir dulu ke tempat mas Yudhis," jawabku.
"Loh, nggak janjian di luar?" Mama kembali bertanya.
Sambil menyendok nasi, aku menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya mama lagi.
"Takut ganggu jadwal kerja mas Yudhis, Ma. Kalau di tempat kerjanya, 'kan nggak banyak menyita waktu," jawabku mencari alasan.
"Oh, ya sudah. Semoga urusannya lancar ya, Kak?" do'a mama.
"Aamiin."
.
.
Jujur saja, sejak semalam pikiranku tidak pernah bisa tenang. Bayangan Sandra yang memiliki bodi bak gitar Spanyol dibalut dress yang sangat ketat, terus menggelayut dalam ingatanku. Apa yang dikatakan Citra ada benarnya juga. Sekuat-kuatnya iman seorang lelaki, pasti suatu saat akan ada titik kelemahannya. Terlebih lagi jika setiap hari dia berhadapan dengan wanita seperti itu. Ya, mana ada kucing yang menolak ikan. Apalagi kalau dikasih ikan bandeng yang montok dan empuk. Huh, bisa kacau urusannya.
Bel istirahat berbunyi bertepatan dengan bel kepulangan kelas bawah. Kelas mulai bubar dan aku segera membuat RPP untuk hari esok. Biasanya aku membuat rencana pelaksanaan pembelajaran di malam hari, sambil mempelajari materi yang akan aku ajarkan. Tapi, karena ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan, aku memilih mengerjakan tugasku saat ini.
Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. 15 menit menuju waktu dzuhur. "Ah sebaiknya aku pergi ke kantor mas Yudhis sekarang. Biar nanti aku shalat di mushala kantor saja," gumamku.
Setelah meminta izin bapak kepala sekolah, aku mulai memesan taksi online. Cuaca hari ini cukup panas, karena itu aku memilih menaiki taksi ketimbang ojek online.
Setelah 30 menit melewati perjalanan, akhirnya aku tiba di kantor mas Yudhis. Aku membayar ongkos taksi kemudian segera turun. Saat melewati lobi hotel, sebagian penghuni kantor mengenali aku sebagai orang yang berjasa dibalik keberhasilan mas Yudhis. Karena itu, beberapa di antara mereka terlihat menganggukkan kepalanya saat berpapasan denganku.
"Loh, Bu Resti! Tumben kemari?" teguran Tiara sebagai salah seorang resepsionis di kantor mas Yudhis, membuat karyawan yang tidak aku kenali melirik ke arahku.
"Eh, iya Nih. Kebetulan ada perlu dengan mas Yudhis. Beliau ada di ruangannya, Ti?" tanyaku pada Tiara.
"Ada, Bu," jawab Tiara. "Mari, saya antarkan ke ruangan beliau," lanjutnya.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, kami mulai menaiki lift untuk menuju lantai di mana ruangan mas Yudhis berada.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku dan Tiara berjalan menyusuri koridor menuju ruang kerja mas Yudhis.
__ADS_1
"Siang, San. Pak Yudhis-nya ada di dalam?" tanya Tiara begitu dia melihat Sandra sedang mengotak-atik komputernya di meja sekretaris.
Sandra mendongak. "Eh, Bu Resti," ucapnya sedikit terkejut begitu melihat kedatanganku.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Tiara, heran.
"Iya, kami pernah ketemu di pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu. Benar, 'kan, San?" tanyaku pada Sandra.
"Eh, iya. Be-benar Bu," ucap Sandra membenarkan ucapanku.
"Jadi, pak Yudhis-nya lagi sibuk, nggak?" tanya Tiara lagi.
"Sepertinya enggak, sih. Soalnya dia baru selesai meeting sama rekan kerjanya," jawab Sandra.
"Oh, ya sudah. Kalau begitu, aku masuk dulu ya, mo nganter Bu Resti," pamit Tiara.
Sandra hanya tersenyum menanggapi ucapan Tiara. Tiba di depan ruangan mas Yudhis, Tiara segera mengetuk pintu ruangan.
"Masuk!" perintah mas Yudhis dari dalam.
Tiara membuka pintu ruangan mas Yudhis. "Permisi, Pak ... ada Bu Resti mau ketemu Bapak," ucap Tiara.
"Suruh dia masuk," ucap Mas Yudhis.
Aku mengangguk. "Terima kasih ya, Ti," jawabku.
"Sama-sama," balas tiara.
Setelah tiara pergi, aku memasuki ruangan dan menghampiri mas Yudhis.
"Hai, Chi ... apa kabar?" tanya Mas Yudhis menghampiriku.
Aku tersenyum. "Baik, Mas," jawabku, "Mas sendiri?" aku balik bertanya.
"Mas juga baik, Chi," jawab Mas Yudhis. "Ngomong-ngomong, ada keperluan apa kamu datang kemari?" tanya Mas Yudhis.
"Mas, Chi mo ngomong hal yang penting sama Mas. Kira-kira Mas ada waktu nggak, siang ini?" tanyaku pada Mas Yudhis.
Terlihat Mas Yudhis mengerutkan keningnya. "Penting banget ya, Chi?" tanyanya.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah, Mas pesan makanan dulu, ya. Kita makan siang di sini saja, sambil bicara," usul Mas Yudhis.
Aku hanya mengangguk menanggapi usulan Mas Yudhis. Tak lama kemudian, Mas Yudhis menekan tombol interkom dan memesan makanan kepada sekretarisnya. Sambil menunggu makanan, dia mengajak aku duduk di sofa.
"Mau bicara apa, Chi?" tanya Mas Yudhis, lembut.
"Mas, bisa nggak kita percepat tanggal pernikahan kita?" tanyaku yang entah punya keberanian dari mana, langsung menodong calon suamiku dengan pertanyaan seperti itu.
Mas Yudhis terlihat terkejut mendengar pertanyaan yang aku layangkan kepadanya. Untuk sejenak, aku lihat dia hanya diam saja.
"Mas?" Aku kembali memanggilnya.
Mas Yudhis terhenyak mendengar panggilanku. Ah, entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang aku tahu, pertanyaanku ini pasti sedang mempengaruhi pikiran Mas Yudhis.
"Ke-kenapa, Chi?" tanya Mas Yudhis, tergagap.
"Mas setuju, 'kan, jika tanggal pernikahannya kita percepat?" tanyaku lagi.
Terlihat Mas Yudhis menghela napasnya, berat. "Kenapa tiba-tiba kamu mendadak menginginkan hal itu, Sayang?" Mas Yudhis balik bertanya.
Seketika aku gelagapan mendapati pertanyaan Mas Yudhis. Aku bingung harus menjawab apa. Masak iya harus aku jawab karena khawatir Mas Yudhis selingkuh. Ish, itu sama aja aku nuduh dia. Mana belum ada bukti lagi? Ya, meskipun aku pernah memergoki dia sama sekretarisnya di restoran tempo hari, itu belum cukup untuk dijadikan bukti jika Mas Yudhis berselingkuh.
"Chi? Kok, malah melamun?" tanya Mas Yudhis menyentuh punggung tanganku.
Aku menatapnya.
"Mas tanya, kenapa kamu ingin mempercepat pernikahan kita? Bukankah kita sudah sepakat jika kita akan menikah setelah kamu lulus kuliah? Tinggal beberapa bulan lagi, loh, Chi!" ucap Mas Yudhis.
"Apa itu artinya, Mas nggak setuju kalo tanggal pernikahan kita dipercepat?" Aku bertanya penuh keraguan.
"Bukan begitu, Mas hanya kaget saja kamu meminta hal tersebut. Padahal, kamu sendiri, 'kan yang menetapkan tanggal pernikahan kita dulu," kata Mas Yudhis.
Perkataan Mas Yudhis seolah menyudutkan aku. Ya, memang benar, aku yang meminta Mas Yudhis menunggu hingga aku lulus kuliah. Tapi sekarang, apa aku salah jika meminta semuanya dipercepat?
"Chi tahu, tapi sekarang ... Chi mau pernikahan kita dipercepat. Bisa, 'kan, Mas?" tanyaku penuh harap.
Kembali Mas Yudhis menghela napasnya. Dia menatap intens kepadaku. "Tidak usah berpikir yang macam-macam. Fokus saja pada kuliahmu, agar bisa lulus tepat waktu," jawab Mas Yudhis.
"Jadi, Mas Yudhis nggak setuju dengan permintaan Chi?" tanyaku yang mulai berkaca-kaca. Entahlah, kenapa rasanya dadaku sesak sekali mendapati jawaban Mas Yudhis yang seolah enggan memajukan tanggal pernikahan kami.
"Bukannya nggak setuju, Chi. Tapi, lebih baik kita tetap pada rencana semula. Lagi pula, hanya tinggal beberapa bulan lagi kamu lulus. Bukankah dua minggu lagi kamu akan menghadapi UAS? Mas melakukan semua ini, hanya semata-mata Mas tidak mau mengganggu konsentrasi belajar kamu. Urusan pernikahan itu gampang Chi, menjalaninya yang susah. Mas nggak mau kalau kamu kerepotan ngurusin beberapa hal. Bukan hal yang mudah loh, Chi ... menjalankan kuliah sambil bekerja dan berkeluarga. Pikiran kamu pasti akan terpecah pada beberapa hal," jawab Mas Yudhis panjang lebar.
__ADS_1
Aku hanya bisa menarik napas panjang mendengar keputusan Mas Yudhis. Ternyata, jawabannya tidak sesuai dengan ekspektasiku. Aku pun pasrah.
Bersambung