
Lepas asar, akhirnya kami tiba di rumah.
"Bunaaaa!" teriak Maira sambil berlari ke arahku. Gadis kecil itu terlihat begitu senang menyambut kedatangan kami.
"Halo Sayang!" sapaku, berjongkok mensejajarkan tubuh agar bisa merangkul Maira. Sesaat kemudian, kami saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan.
"Buna, tenapa Buna pelginya lama cekali?" tanya Maira, cadel.
"Maafkan Bunda Sayang. 'Kan Bunda harus ngurusin Om dulu," jawabku sambil menoleh ke arah Fatwa yang sudah berdiri di belakang kami.
"Eh, ada Om juga," ucap Maira melepaskan pelukannya. Sedetik kemudian, Maira berlari ke arah Fatwa.
Aku lihat laki-laki itu berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya. Sesaat setelah Maira masuk ke dalam pelukannya, Fatwa kemudian berdiri dan menggendong Maira mendekati aku.
"Ish, Fat. Maira jangan digendong. Kamu, 'kan baru sembuh," protesku yang melihat Fatwa sedikit meringis saat berjalan seraya menggendong Maira.
"Tidak apa-apa, Res. Jangankan Maira. Kamu pun bisa aku gendong kalau kamu mau," gurau Fatwa yang langsung membuat pipiku memerah sempurna.
"Apaan sih, Fat," jawabku menonyor pelan bahu Fatwa.
"Hehehe," Fatwa terkekeh melihat sikapku.
"Ayo Non Maira. Kita mandi dulu!" ajak seorang gadis yang sudah tidak asing lagi bagiku.
"I-ida." Aku begitu terkejut melihat keberadaan Ida di rumahku. Sejenak aku menoleh ke arah Mama.
"Nanti Mama jelaskan, Kak. Sekarang, kamu antarkan Nak Fatwa ke kamarnya," jawab Mama yang seolah mengerti arti tatapanku. "Da, tolong mandikan Maira, ya," pinta Mama kepada Ida.
"Baik, Bu," jawab Ida seraya mengambil alih Maira dari tangan Fatwa.
Setelah Maira diserahkan pada pengasuhnya, aku pun mengajak Fatwa ke kamar tamu.
"Ini kamarnya, Fat. Kamu bisa beristirahat di sini," ucapku sambil meletakkan tas Fatwa di meja.
"Terima kasih, Res," jawab Fatwa.
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan Fatwa. Karena merasa penasaran dengan kehadiran Ida, aku segera pamit keluar.
"Res pergi dulu, istirahatlah!" ucapku kepada Fatwa.
"Baiklah," jawab Fatwa.
Setelah menutup pintu kamar Fatwa, aku segera menemui Mama di kamarnya.
Tok-tok-tok!
"Ma, apa boleh Kakak masuk?" Aku meminta izin Mama untuk memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Masuk saja, Kak. Pintunya tidak dikunci," jawab Mama dari dalam kamar.
Aku menekan handle pintu dan mendorongnya. Tampak Mama sedang memasukkan pakaian ke dalam lemari.
"Apa kita bisa bicara sebentar, Ma?" tanyaku kepada Mama.
"Tentang?" Mama bertanya sambil terus melakukan aktivitasnya.
"Tentang Ida, Ma," jawabku.
Seketika Mama menghentikan kegiatannya. Dia menoleh dan menghampiri aku yang telah duduk di tepi ranjang. Sejurus kemudian, Mama turut duduk di sampingku.
"Iya, Kak. Mama yang ajak Ida kemari buat jagain Maira. Karena jujur aja, awal mula Maira datang ke rumah ini, Mama dan Rayya merasa kesulitan untuk mendiamkan Maira yang selalu menangis dan menanyakan kamu. Rayya mengusulkan agar Mama mempekerjakan seorang pengasuh. Namun, tak ada pengasuh yang betah dengan sikap Maira. Karena itu Mama memutuskan untuk mencari Ida kembali. Alhamdulillah, dengan bantuan nomor ponsel ayahnya Maira dari Zein, Mama pun meminta Ida untuk datang ke rumah ini dan mengasuh Maira kembali," tutur Mama panjang lebar.
Aku hanya bisa manggut-manggut mendengar cerita Mama.
"Maafkan Kakak ya, Ma. Karena keputusan Kakak untuk mengasuh Maira, Mama dan Rayya menjadi ikut repot," ucapku merasa tak enak hati.
"Ish, tidak apa-apa Kak. Lagi pula, sudah kewajiban kita untuk mengurus anak yatim. Pahalanya besar loh, Kak, kalau kita mengurus dan merawat anak yatim atau piatu," jawab Mama.
Aku tersenyum. Jujur saja, aku sangat bangga memiliki seorang ibu yang begitu pengertian. Beliau selalu ada di masa-masa tersulit aku. Bahkan, beliau selalu menjadi orang yang pertama mendukung semua keputusan aku. Mama adalah ibu sekaligus sahabat bagiku. Dan aku sungguh beruntung karena memiliki beliau.
"Ya sudah, istirahatlah Kak. Kamu pasti lelah setelah mengurusi Nak Fatwa di rumah sakit selama berminggu-minggu," perintah Mama.
Ya, apa yang dikatakan Mama memang benar. Fisikku benar-benar merasa lelah. Bahkan berat badanku turun beberapa kilo. Mungkin pengaruh kurang tidur juga. Akhirnya, setelah berpamitan kepada Mama, aku menuju kamar untuk beristirahat.
.
.
Sore ini, sepulang dari kampus, aku melihat Maira yang sedang duduk sendirian di gazebo belakang. Tatapan matanya terlihat kosong. Bangku ayunan yang sengaja dipasang Zein atas permintaan Mama, tidak dia mainkan. Biasanya, sore hari Maira selalu meminta Ida untuk bermain ayunan di taman belakang.
Tiba-tiba, Ida melintas di depanku seraya membawa mangkuk berisi potongan aneka buah. Aku menghentikan langkah Ida dengan pertanyaan. "Maira kenapa, Da?"
Ida terperanjat mendengar suaraku. Mungkin dia tidak menyadari keberadaan aku yang sedang memperhatikan Maira.
"Astaghfirullahaladzim!" pekik Ida.
"Eh, maaf Da," ucapku, merasa bersalah karena membuat Ida terkejut.
"Eh, tidak apa-apa Non," jawab Ida.
"Itu, Maira kenapa Da? Kenapa dia melamun sendirian di sana?" Aku mengulang pertanyaan yang sama kepada Ida.
"Non Maira sedang ngambek, Non," jawab Ida.
"Ngambek?" ulangku seraya menautkan kedua alis, "ngambek kenapa, Da?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Tadi siang, Non Maira datang ke kamar pak Fatwa. Dia melihat pak Fatwa sedang berkemas. Saat Non Maira tahu jika pak Fatwa hendak pulang esok hari, Non Maira pun menangis. Dia nggak mau pak Fatwa pergi. Dia bilang, pak Fatwa itu ayahnya, jadi nggak boleh ninggalin dia lagi seperti almarhum tuan Rizal," tutur Ida.
Aku cukup terkejut mendengar penuturan Ida. Apa selama ini, Maira menganggap jika Fatwa adalah bang Rizal? batinku.
"Ya sudah, Non. Ida suapin Non Maira dulu, ya," pamit Ida.
Aku mencegahnya. "Tidak usah, Da. Biar aku saja."
Aku mengambil alih mangkuk berisi potongan buah segar itu dari tangan Ida. Sejurus kemudian, aku melangkahkan kaki menuju gazebo.
"Hai, Sayang!" sapaku saat tiba di dekat Maira.
Aku bisa melihat ekspresi keterkejutan dari Maira. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum menyambut kedatangan aku.
"Holleee, Buna cudah pulang," teriaknya, berdiri seraya melambai-lambaikan kedua tangannya.
Aku tersenyum dan segera duduk berhadapan dengan Maira. "Sini, cium Bunda!" pintaku kepada Maira.
Gadis kecil itu mendekat dan mencium pipiku. "Emmuaaah," serunya.
Aku hanya tersenyum geli merasakan bibir basah itu menyentuh kulit pipiku.
"Sekarang Maira makan dulu buahnya, ya. Mau, 'kan?" tawarku seraya mengacungkan mangkuk buah yang aku pegang sedari tadi.
"Maila enggak mau, Buna," jawab Maira, menggelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa?" tanyaku.
"Maila cedang cedih Buna. Kalo Maila cedih, Maila nggak mau makan," jawabnya kembali duduk dan menatap ayunan.
"Memangnya Maira sedih kenapa?" tanyaku.
"Maila cedih kalena papa Fatwa mau pulang," jawabnya seraya menundukkan kepala.
Aku meletakkan mangkuk berisi potongan buah di atas meja, kemudian meraih Maira agar duduk di pangkuanku.
Maira menurut. Gadis kecil itu kini duduk di pangkuanku. Sambil membenahi rambut ikalnya, aku mencoba memberikan pengertian kepada Maira.
"Dengar Sayang, saat ini papa Fatwa sudah sembuh. Jadi papa Fatwa tidak bisa tinggal di sini lagi. Papa Fatwa juga punya rumah dan pekerjaan yang harus diurusnya. Lagi pula, Maira tahu, 'kan, jika papa Fatwa itu bukan papanya Maira? Maka dari itu, papa Fatwa pun nggak bisa tinggal di sini Sayang," ucapku mencoba memberikan Maira sedikit pemahaman tentang keberadaan Fatwa.
"Kalau begitu, kenapa papa Fatwa tidak jadi papa Maila yang cebenalnya. Ayo, Buna ... celama ini Maila cudah nulut cama Buna. Maila cudah jadi anak yang baik. Buna mau, 'kan jadiin papa Fatwa cebagai papanya Maila. Bial papa Fatwa nggak pelgi kayak papa Lizal. Buna cayang Maila 'kan? Buna mau 'kan, kacih papa Fatwa buat jadi papanya Maila," rengek gadis kecil itu.
Aku begitu terperanjat mendengar permintaan Maira. Sedangkan Mama, dia hanya bisa menatap kami dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Ish, bagaimana ini?
Bersambung
__ADS_1