
Anneu merengut kesal di dalam mobilnya. "Putar arah, Pak!" perintah dia kepada sopirnya.
"Baik, Neng!" jawab Pak Ramlan.
Mobil pun berputar arah menuju jalan pulang ke rumah sang majikan.
Anne terlihat menyandarkan kepalanya pada bantal leher yang tengah dia kenakan. Dia memejamkan mata. Terlintas jelas dalam benaknya saat saudara sepupunya datang ke rumah tempo hari.
*******
"Lo harus percaya ma gua, Neu. Si Fatwa tuh selingkuh," ucap sepupunya yang tak lain adalah Susan.
Anneu hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Susan. "Apa pun yang lo katakan, gua nggak akan percaya selama gua nggak lihat dengan mata kepala gua sendiri," jawab Anneu, tegas.
"Ish, kok lo gitu, sih, Neu! Lo pikir gua tukang bo'ong, apa?" dengus Susan, kesal.
"Bukan begitu, San. Tapi lo nggak punya bukti apa-apa buat nuduh cowok gua selingkuh," tukas Anneu.
"Ya elah, Neu ... gua dah dua kali mergokin dia ngobrol ma tuh cewek, lo masih bilang itu bukan bukti juga? Hei, Neng! Gua nggak ngadi-ngadi, ya? Gua lihat dengan mata kepala gua sendiri, kalo si Fatwa tuh sekarang dah mulai berubah. Dia nggak sekulkas dulu lagi. Palagi, lo masih inget, :kan, cerita gua yang tentang dia tersesat di hutan ma tuh cewek?" cerocos Susan mencoba memprovokasi saudara sepupunya.
Anneu hanya menarik napas panjang. "Gua masih banyak tugas, San. Kalo lo mo pulang, gua rasa lo dah tau pintu keluarnya di mana!" usir halus Anneu kepada Susan.
"Lo ngusir gua, Neu?" tanya Susan, kesal.
Anneu hanya tersenyum tipis kepada Susan.
***********
"Sudah sampai, Neng!"
Ucapan sang sopir membuyarkan lamunan Anneu. Seketika dia membuka pintu mobil dan membantingnya dengan keras. Membuat Pak Ramlan terpaku, terkesima melihat sikap majikannya.
"Huh, sebentar lagi, pasti akan terjadi keributan di kamar atas," dengus Pak Ramlan.
Dan, benar saja dugaan Pak Ramlan. Beberapa menit kemudian, bunyi pecahan kaca dan benda jatuh terdengar jelas dari lantai atas.
Di dalam rumah, Bu Wati tergopoh-gopoh menaiki anak tangga begitu mendengar keributan dari kamar anaknya. Tiba di sana, dia langsung menggedor pintu kamar putrinya.
__ADS_1
Dug-dug-dug!
"Neu! Buka pintunya! Kamu kenapa, Sayang?" teriak Bu Wati dengan wajah penuh kecemasan.
Sementara itu dari dalam kamar. Dengan wajah yang memerah karena dikuasai oleh amarah, seorang perempuan berhijab itu terus melemparkan barang-barang yang ada di dalam kamar.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu menang! Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia di atas semua penderitaanku! Tidak akan! Dasar laki-laki brengsek! Pembunuh! Dasar pembunuh! Argghhh!"
Prang!
Gadis itu kembali menghancurkan cermin yang menempel di dinding kamar. Entah untuk ke berapa kalinya bingkai cermin itu selalu diganti kacanya. Setiap kali gadis cantik itu marah, maka cermin itu akan selalu menjadi sasaran kemarahannya.
"Anneu! Buka pintunya, Nak!" Kembali terdengar gedoran pintu dari luar kamar.
Brugh!
Puas mengeluarkan amarahnya, perempuan itu menjatuhkan diri di tepi ranjang. Dia menatap pigura kecil yang terletak di atas nakas. Sejurus kemudian, dia meraih pigura itu dan menatapnya tajam.
"Tidak dek! Kakak tidak akan membiarkan kematian kamu sia-sia. Selama ini Kakak sudah banyak mengalah sama kamu. Dan kali ini, Kakak tidak akan membiarkan dia menang. Tidak akan!" gumam Anneu.
Brakk!
"Apa yang terjadi padamu, Nak?" ucap Bu Wati segera berlari dan berjongkok di hadapan putrinya.
Gadis itu mendongak. Bengkak di kedua matanya terlihat jelas. Sisa air mata masih membekas di kedua pipinya. Sejurus kemudian, dia mengulurkan tangannya untuk memeluk sang bunda.
"Bunda..." rengek Anneu dalam isak tangisnya.
Dengan penuh kasih, Bu Wati merangkul putrinya dan membelai lembut kepalanya. "Apa yang terjadi, Nak? Kenapa kamu bisa semarah ini?" tanya Bu Wati.
"Minumnya, Bu!" Belum sempat Anneu berbicara, seorang pelayan paruh baya menghampiri mereka dan menyodorkan nampan kecil yang berisi segelas air minum dan botol kaca yang berisi butiran obat.
"Terima kasih, Mbok!" ucap Bu Wati mengambil air minum dan botol tersebut. Bu Wati mengeluarkan sebutir obat dari botol tersebut. "Minumlah!" perintahnya kepada Anneu.
Sebenarnya, Anneu sudah sangat muak harus meminum pil itu di saat dia sedang marah. Namun, tak ingin menyakiti perasaan ibunya, dengan terpaksa dia menelan pil kecil itu.
Setelah meminum obatnya, lambat laun, Anneu mulai terlihat lebih tenang. Bu Wati dan Mbok Jum memapah Anneu menuju tempat tidur.
__ADS_1
Anneu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sejenak, dia menatap ibunya. "Bu, bisakah tinggalkan Anneu sendirian?" pinta Anneu.
Meski cemas, tapi Bu Wati tak ingin memaksa Anneu. Jika memang dia belum mau berbicara, maka Bu Wati tidak akan memaksa putrinya untuk bicara.
Setelah ibunya pergi, Anneu meraih gagang telepon yang berada di atas nakas. Dia lalu menekan tombol-tombol angka yang tertera di sana. Beberapa detik kemudian, terdengar sapaan seorang perempuan di ujung telepon.
"Apa kamu tahu siapa perempuan yang saat ini tengah dekat dengan Fatwa?" tanya Anneu, dingin.
"Tentu saja aku tahu, dia tuh cewek binal di sekolah gua," jawab Susan di ujung telepon.
"Binal?" Anneu mengulang pertanyaan seraya mengerutkan kening.
"Jadi, dia tuh cewek gampangan, cewek murahan, gitu. Suka nemplok di mana aja. Lihat cowok bening dikit aja, di ngikuti kek lalat," ucap Susan memprovokasi sepupunya.
Anneu meremas ujung bantal mendengar semua ucapan Susan tentang gadis yang tadi dia lihat tengah dibonceng oleh Fatwa.
'Ish, jadi aku harus bersaing dengan perempuan seperti itu? Sangat memalukan!' umpat Anneu dalam hatinya.
"Apa sudah lama mereka berhubungan?" tanya Anneu lagi.
"Setau gua sih, sejak pulang dari Parentas mereka makin tambah akrab. Palagi tuh cewek sekarang sering ngikutin kegiatan IREMA juga. Gua rasa, tuh cewek mang naksir berat ma si Fatwa," papar Susan.
"Apa Fatwa juga menyukai perempuan itu?" Anneu terus bertanya.
"Ya elah, Neu ... kucing dikasih ikan asin, mana nolak, Neng," seloroh Susan.
Wajah Anneu seketika memerah mendengar ucapan Susan. Hatinya terasa panas. Sepertinya dia mulai terbakar api cemburu. Setelah sekian lama, baru kali ini dia merasakan cemburu lagi terhadap laki-laki itu.
"Si-siapa nama perempuan itu?" tanyanya terbata. Sungguh Anneu sepertinya tidak akan sanggup lagi menerima kenyataan jika lelaki pujaannya mencintai orang lain.
"Octora Resttyani," jawab Susan di seberang telepon.
"Apa?! Perempuan itu??"
Seketika Anneu membanting teleponnya saat mengetahui nama seseorang yang sangat membekas di hatinya.
Mungkinkah dia orang yang sama?
__ADS_1
Bersambung