
Brugh!
Seseorang berteriak dan memeluk Fatwa dari arah belakang.
"Bang Yudhis ke mana saja? Sandra kangen sama Bang Yudhis. Kenapa Bang Yudhis nggak pernah tengokin Sandra lagi," ucap seorang wanita dengan suara yang parau.
"Sandra?" gumamku pelan. Ish, aku semakin tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Fatwa terlihat memegang tangan wanita itu dan berusaha untuk melepaskan pelukannya. Dia kemudian menuntun wanita itu untuk duduk di samping wanita yang aku rasa dia adalah Sandra, sekretaris mas Yudhis.
"Duduklah!" perintah Fatwa kepada wanita itu.
Sejenak, wanita itu melirik orang yang berada di sampingnya. Dia kemudian tersenyum.
"Terima kasih, Kak ... sudah membawa Bang Yudhis kemari," ucapnya seraya menggenggam kedua tangan milik wanita yang mirip dengan Sandra.
"Sama-sama, Dek!" ucap wanita itu seraya menyelipkan helaian rambut di belakang daun telinga milik wanita yang baru saja datang.
Aku semakin gemas melihat pemandangan ini. Akhirnya, tabiat nyablakku sejak SMS mulai keluar.
"Hallo!! Adakah yang bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi saat ini?" seruku sedikit tertahan.
Tiba-tiba wanita itu mengalihkan pandangannya. Sesaat, dia menatapku dengan heran. Namun, sejurus kemudian, wajahnya mulai terlihat beringas.
"Kau! Ngapain kamu duduk di dekat Bang Yudhis, hah? Dasar pelacur laknat! Berani kamu mendekati Bang Yudhis lagi. Rasakan ini, ja'lang hina!"
Tiba-tiba, wanita itu menerjangku hingga aku terjengkang. Sejurus kemudian, dia mencakar wajah dan mulai menjambak rambutku. Semua orang tampak terkejut. Si anak mulai menangis. Si wanita yang mirip dangan Sandra mulai berteriak meminta tolong. Sedangkan Fatwa, dengan sigap dia merangkul wanita itu dan menariknya.
"Menjauh, Res!" teriak Fatwa saat dia sudah berhasil mengunci wanita itu dalam pelukannya.
Si wanita masih berteriak-teriak histeris, kedua kakinya terus meronta.
"Lepaskan aku! Akan aku bunuh wanita laknat itu. Lepaskan!" jerit wanita itu.
Seluruh tubuhku mulai gemetar. Rasa panas di pipi akibat cakaran tamgan wanita itu, mulai terasa perih. Aku meraba pipiku, sesaat kulihat darah menempel di telapak tanganku. Rupanya, cakaran wanita itu cukup dalam sehingga menimbulkan luka di wajahku.
Tak berapa lama kemudian, dua orang perawat menghampiri Fatwa yang mulai kewalahan menahan rontaan wanita itu. Salah satu perawat kemudian memberikan suntikan di bahu sang wanita. Lambat laun, pergerakan wanita itu mulai melemah, dan akhirnya jatuh terkulai dalam pelukan Fatwa.
__ADS_1
Sejurus kemudian, Fatwa membopong wanita itu dan membawanya ke dalam, diikuti oleh wanita yang mirip Sandra. Aku hendak mengikuti mereka. Namun, seorang perawat wanita menahanku.
"Tunggu, Mbak. Sebaiknya Mbak obati dulu lukanya, takut nanti infeksi. Mari, saya bantu," ucap perawat itu seraya memapahku menuju sebuah ruangan.
Tiba di sana, –perawat yang aku baca papan namanya bernama Tantri– dia mulai membuka kotak obat dan mengobati luka bekas cakaran tadi.
"Sus, apa kamu kenal dengan wanita tadi?" tanyaku yang radar ke-kepoannya sudah mulai bekerja.
"Maksud, Mbak ... Sandra?" Perawat itu malah bakik bertanya.
Aku bingung, Sandra yang mana? Bukankah wanita yang bernama Sandra itu adalah wanita yang aku kenal mirip sekretaris mas Yudhis. Lalu, wanita yang memakai pakaian pasien itu?
"Entahlah, Sus. Saya tidak tahu namanya," jawabku.
"Jika Mbak bertanya tentang pasien yang baru saja menyerang Mbak, dia namanya Sandra. Salah satu pasien di yayasan mental ini," jawab perawat itu.
"Yayasan mental?" Aku mengulang perkataan perawat itu dengan heran.
"Iya, Mbak. Di sini tuh tempat khusus untuk merawat orang-orang yang sedang terganggu mentalnya. Ya, seperti Sandra tadi," ucap perawat.
"Apa kamu tahu, kenapa dia bisa sampai berada di sini?" tanyaku lagi.
"Nasibnya sungguh tragis, Mbak. Dia dicampakkan oleh pacarnya setelah diketahui jika dia sedang mengandung. Menurut penuturan keluarganya, Sandra memergoki perselingkuhan pacarnya dengan sahabatnya sendiri. Sesaat setelah itu, sang pacar memutuskan Sandra dan tidak mau mengakui anaknya. Karena itulah dia mengalami depresi," jawab sang perawat.
Mendengar kisah Sandra yang diselingkuhi sahabatnya, seketika aku ingat tentang perselingkuhan mas Yudhis dengan Citra. Aku hanya bisa menghela napas.
"Sudah selesai, Mbak," ucap perawat itu.
"Ah, ya ... terima kasih. Oh iya, Sus. Apa Anda tahu di mana kamar Sandra berada?" tanyaku lagi.
Perawat itu tersenyum. "Mari, saya antar, Mbak," jawabnya.
Aku mengangguk dan mulai mengikuti dia menuju kamar rawat pasien yang bernama Sandra itu.
Tiba di sana, aku melihat Fatwa dan wanita yang mirip sekretaris mas Yudhis berdiri di depan kamar yang memiliki jeruji besi. Aku segera menghampiri mereka.
"Fat," kataku pelan
__ADS_1
Fatwa menoleh. Raut wajah kecemasan tampak jelas. "Kamu nggak pa-pa, Res?" tanya Fatwa.
"Nggak, cuma luka dikit aja," jawabku.
"Maafkan sikap adik saya, Bu," kata wanita itu.
"Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula, ini hanya luka kecil saja," jawabku berusaha menenangkan mereka. Padahal pipiku mulai berdenyut, sakit.
Aku menatap Fatwa, memberikan isyarat tentang apa yang tersembunyi di balik kunjungan kita ke tempat ini. Namun, rupanya si wanita yang mirip dengan sekretaris mas Yudhis itu bisa membaca tatapan mataku terhadap Fatwa.
"Dia adik saya, namanya Sandra Wulandari," ucap wanita itu.
Seketika aku menoleh padanya. "Sandra? Bukankah Sandra itu nama kamu?" tanyaku. "Kamu sekretarisnya mas Yudhis, 'kan?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi menggelitik hatiku, terucap juga dari bibir ini.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Namaku Sarah, dan Ibu benar, saya adalah sekretaris pak Yudhis. Tapi itu seminggu yang lalu. Saat ini, saya sudah resign dari perusahaan mas Yudhis," jawab sekretaris mas Yudhis yang ternyata bernama Sarah.
"Tunggu, aku tidak mengerti. Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Kenapa kamu membawa Res ke tempat ini, Fat? Dan kenapa adiknya Sarah memanggil kamu Bang Yudhis?" Aku melirik Fatwa, berharap mendapatkan setitik penjelasan dari dosen bermata elang itu.
"Biar Sarah yang menjelaskan semuanya," ucap Fatwa.
"Lima tahun yang lalu, Sandra pernah menjalin hubungan dengan seorang pemuda. Saat itu, usia Sandra baru memasuki kelas 2 SMA. Pemuda itu sempat menolong Sandra dari beberapa anak laki-laki yang sedang menggangunya saat Sandra pulang sekolah. Karena kebaikan pemuda itu, Sandra akhirnya jatuh cinta. Singkat cerita, mereka berpacaran hingga menjalani sebuah hubungan yang terlarang. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, pemuda itu mencampakkan Sandra demi sahabat Sandra sendiri. Citra," tutur Sarah, panjang lebar.
"Citra?" Aku terhenyak mendengar penuturan Sarah. 'Apa maksudnya semua ini. Res bener-bener nggak ngerti. Tolong jangan berbelit-belit seperti ini!" pintaku kepada mereka berdua. Sungguh, rasanya kepalaku semakin terasa berat setelah mendengar nama Citra disebutkan.
"Citra yang kamu kenal sebagai sahabatmu, dia juga sahabat Sandra saat masih duduk di bangku SMA," timpal Fatwa
Deg!
Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Fatwa. Jika itu memang benar, berarti Citra telah memiliki sifat pagar makan tanaman semenjak dulu.
"La-lalu hubungannya dengan Sarah memanggilmu bang Yudhis. A-apa itu artinya, pe-pemuda itu adalah mas Yudhis?" tanyaku terbata.
"Benar, Bu. Pemuda itu adalah pak Yudhis. Dan ini," Sarah menarik tangan mungil anak itu hingga si anak berdiri tepat di hadapanku, "anak ini adalah hasil hubungan terlarang Sandra dengan pak Yudhis."
Brugh!
Bersambung
__ADS_1