My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kisah Berlanjut


__ADS_3

Aku melihat pria di sampingku yang begitu antusias melihat tayangan film ber-genre romantis. Matanya tidak berkedip saat tengah serius menyimak dialog di antara pasangan yang sedang jatuh cinta di layar lebar itu. Sesekali, senyumnya tersungging saat para tokoh itu melakukan adegan romantis. Namun, tak jarang mata pria di sampingku memerah saat menyaksikan bagian sedih dalam cerita bergerak tersebut. Dan ... inilah satu-satunya kelemahan dia yang aku sesali.


"Ya Tuhan, Mas ... lebay banget sih, jadi cowok," bisikku pelan di telinganya.


"Ish, sedih tau, Chi," pungkas calon imamku.


"Tapi itu, 'kan, cuma film Mas. Cerita yang di-setting untuk mengaduk rasa penontonnya," sanggahku.


"Nah, itu Chi. Itu bener, dan artinya, mereka tuh berhasil sebagai para pelakon. Karena mereka telah berhasil mengaduk emosi kita dengan peran yang dia mainkan." Mas Yudhis mencoba menyanggah pendapatku yamg sok lebay itu.


"Ya tetep aja, Mas. Ceritanya, 'kan bo'ongan. Mas terlalu asyik memperhatikan cerita itu sampai tidak melirikku. Uhh, sebel!" gerutuku kesal.


Melihat aku cemberut dan mengerucutkan bibir lima sentiku, mas Yudhis merangkul pundakku dan menariknya.


"Sini, biar Mas peluk supaya kamu nggak sebal lagi," ucapnya sambil mendekap erat tubuhku.


"Apaan sih, Mas. Malu tau ... ini, 'kan tempat umum." Aku mengingatkan mas Yudhis.


"Nggak pa-pa, tuh yang lain juga pada pelukan," ucap mas Yudhis seraya dagunya menunjuk pasangan muda yang duduk di depan kami sambil berpelukan.


"Ish, kamu ini!" tukasku memukul pelan bahu calon suamiku. Meski tidak aku pungkiri jika aku merasa nyaman berada dalam pelukannya.


Pluk!


Tiba-tiba, sesuatu jatuh mengenai kepalaku.


"Aduh!" ucapku memekik pelan. Sejurus kemudian aku menunduk untuk mengambil benda-benda yang baru saja berjatuhan di kepalaku. Hmm, rupanya ini butiran pop corn, batinku setelah memperhatikan benda itu dengan seksama.


"Apa itu Chi?" tanya mas Yudhis.


Aku memperlihatkan benda-benda kecil berwarna putih itu.


"Pop corn?" ucap mas Yudhis lagi sambil mengerutkan keningnya.


Aku mengangguk.


"Ish, kurang kerjaan banget, sih," gerutu mas Yudhis


"Mungkin mereka terganggu dengan ulah kita Mas," jawabku.


Mas Yudhis langsung terkekeh mendengar jawabanku. "Hehehe, bisa jadi Chi. Kita godain mereka lagi, yuk!" Ajak mas Yudhis.


"Ih, nggak ah!" Aku menolak ajakan mas Yudhis.


"Hahaha, kamu takut dikeroyok anak-anak muda itu, ya?" goda mas Yudhis.


Aku melirik ke belakang untuk melihat para kawula muda yang sedang bercengkrama.

__ADS_1


Deg!


Tiba-tiba, jantungku seolah berhenti berdetak saat beradu pandang dengan sepasang mata elang milik dosen gila itu. Ya Tuhan, berarti bayangan yang kusangka mirip dia, ternyata benar adanya.


Ish, untuk apa dosen tidak waras itu mengikuti aku. Eh, tapi ... mungkin saja dia juga sedang berkencan bersama kekasihnya. Siapa tahu, 'kan?


Aku mulai mengedarkan pandanganku di sekitar dosen killer itu. Ya, siapa tahu dia memang datang bersama seorang wanita. Tapi, dahiku sedikit mengernyit saat tak mendapati seorang wanita pun di kanan kirinya. Yang ada, justru pasangan anak-anak muda yang sedang memadu kasih di bawah remangnya cahaya ruang bioskop.


Sesaat aku memalingkan wajahku saat mendapati pasangan anak muda itu berciuman. "Ish," gumamku yang ternyata masih bisa didengar oleh mas Yudhis.


"Kenapa Chi?" tanya mas Yudhis menoleh ke arahku.


"Itu para anak remaja. Enggak ada tempat lain apa? Ciuman kok di tempat umum." Aku menggerutu kesal.


Mas Yudhis menengok sekilas ke belakang. Sejurus kemudian, dia kembali menatapku. "Apa kamu juga mau merasakan sensasi itu seperti mereka?" tanya mas Yudhis dengan senyum dan kerlingan mata menggoda.


"Uuh, dasar otak mesum!" ucapku seraya mendorong pelan bahu mas Yudhis.


"Hahaha,...." Mas Yudhis tergelak. Namun, sedetik kemudian dia menangkap tanganku. "Tapi aku serius, Sayang," ucapnya menatap tajam kepadaku.


Aku menatap mas Yudhis, terkesima dengan apa yang dia katakan. Semakin lama, wajahnya semakin mendekat. Wangi aroma mint seketika mengganggu indera penciumanku, membuat jantungku seakan ingin melompat dari tempatnya.


Ya, Tuhan ... apa ciuman pertamaku akan terjadi malam ini?


Aroma mint semakin kuat, detak jantungku semakin tak terkendali. Aku tak kuat melihat tatapan mata mas Yudhis yang seolah ingin memberikan aku sebuah kesan yang tidak akan terlupakan. Akhirnya, aku pasrah. Mungkin ini hal yang wajar, toh aku juga sering mendengar curhatan Citra tentang ciuman pertamanya.


Pluk!


Pluk!


Pluk!


Puluhan pop corn menghujani kepalaku. Seketika aku menoleh ke belakang. Kudapati kembali tatapan elang milik si dosen killer itu. Aku mendengus kesal.


Mas Yudhis yang mendengar helaan berat napasku, bertanya. "Kamu kenapa, Chi?"


"Nggak Mas. Enggak pa-pa," jawabku.


Ulah si dosen gila itu, seketika membuat mood-ku ambyar dan tak bersemangat lagi untuk melanjutkan kencan ini.


.


.


Tanpa terasa, sepekan telah berlalu. Aku kembali menjalani aktivitas kuliahku di akhir pekan. Huh, demi mempertahankan pekerjaan, aku terpaksa merelakan akhir pekanku menguap dan menggantinya dengan aktivitas menuntut ilmu. Tapi, ya sudahlah ... toh ini juga demi kebaikanku.


Mata kuliah ketiga. Ah ... seperti biasa, selepas istirahat, kakiku berat untuk melangkah ke dalam kelas. Terlebih lagi sejak peristiwa malam Minggu kemarin. Rasanya aku semakin enggan mengikuti perkuliahan dosen gila itu.

__ADS_1


"Kak Chi!"


Tiba-tiba aku mendengar suara Citra memanggil. Saat aku menoleh, aku melihat gadis muda itu tengah berlari kecil ke arahku. Aku tersenyum melihat tingkah anak itu. Semua yang ada dalam diri citra, mengingatkan aku akan masa SMA-ku


"Gimana kencannya, kemarin?" tanya Citra.


"Ish, kencan apaan?" jawabku, tersipu malu.


"Cie... Cie.... nggak usah malu-malu gitu, kali Kak. Ya wajar, 'kan, kalo pasangan muda itu hangout di malam Minggu. Nge-date, gitu!" ucapnya.


"Ish, sotoy kamu!" elakku.


"Hehehe,..." kekeh Citra, "tapi seru, 'kan, Kak?" lanjutnya.


"Huh, seru apaan? Yang ada, kencanku malah berantakan." Aku kembali mendengus kesal saat mengingat kencanku yang amburadul gara-gara ulah dosen sedeng itu.


"Kok, bisa?" tanya Citra yang kembali radar keponya mulai berfungsi.


"Seseorang menghancurkan segalanya, Cit. Dan aku tidak tahu apa maksudnya," jawabku.


"Seseorang?" Citra terlihat mengernyitkan keningnya.


Aku mengangguk.


"Siapa?" tanya Citra lagi.


"Siapa lagi kalau bukan si dosen sedeng itu. Dasar emang dosen nggak waras! Aku rasa tingkat kegilaannya sudah mulai naik. Dasar cowok se–"


"Ehm! Ehm!"


Dehaman seseorang menghentikan umpatanku. Seketika aku menoleh ke belakang. Rupanya, dosen berjambang tipis yang matanya sudah membulat sempurna karena emosi, sudah berdiri di hadapanku.


"Pak!" kata Citra seraya membungkukkan badannya.


"Lain kali kalau mau ghibah, cari tempat tersembunyi!" ucap si dosen sambil berlalu begitu saja.


Aku dan citra hanya saling tatap melihat sikap dosen killer itu.


"Kak Chi, ayo cerita lagi soal yang kemaren," ucap Citra.


"Yang kemaren yang mana?" tanyaku sambil mengerutkan kening.


"Yang tentang Kak Chi dan pak Fatwa dulu," jawab Citra.


Sesaat aku menatap punggung tegap yang mulai mengecil.


"Hhh." Aku menghela napas. "Setelah aku memutuskan untuk untuk menyepi, aku...."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2