My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kecemasan Seorang Ibu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Kak! Apa Kakak sudah tidur?" Sapaan dan pertanyaan mama tiba-tiba membangunkan aku dari lamunan tentang Fatwa dan mas Yudhis.


"Wa'alaikumsalam! Belum, Ma!" jawabku.


"Apa Mama boleh masuk?" tanya mama lagi.


"Ish, Mama ... masuk aja kali, masak mo masuk kamar putrinya harus minta izin segala," gurauku.


Klek!


Pintu seketika terbuka, tampak wanita anggun yang selalu aku kagumi berjalan mendekati ranjang. Beliau lalu duduk di tepi ranjang.


"Kak, boleh Mama tanya sesuatu?" tanya lembut mamaku.


Aku menatapnya heran. "Kenapa harus minta izin, Ma. Tanya saja sesuka hati Mama. Kalo Kakak bisa jawab, tentu bakalan Kakak jawab," ucapku seraya merebahkan kepala di atas pangkuan Mama.


"Iya, Nak. Mama hanya tidak mau mengganggu privasi kamu saja," ucap mama sambil mengusap lembut kepalaku.


"Memangnya Mama mo nanya apa, sih?" Aku balik bertanya pada mamaku. Sesekali aku melirik ponselku untuk cek pesan whatsapp yang baru aku kirimkan pada mas Yudhis.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan nak Yudhis, Kak?" tanya pelan mamaku.


Sontak aku terkejut mendengar pertanyaan mama. Sejenak aku berpikir, kenapa mama bertanya seperti itu? Apa yang sebenarnya mengganggu pikiran mama saat ini? Aku tahu betul bagaimana sifat mama. Beliau tidak akan bertanya jika tidak ada hal penting yang sedang mengganggu pikirannya.


Aku bangun dan duduk di hadapan mama. Sejenak aku menatap kedua bola mata mama yang terlihat bening. Entah kenapa, aku merasa, sepertinya tersimpan begitu banyak kesedihan di sana. Sejenak aku menghela napasku dan meraih tangan Mama. "Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa Mama bertanya seperti itu? Apa yang Mama khawatirkan dengan hubungan Kakak sama mas Yudhis? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati Mama?" Aku memberondong mama dengan pertanyaan.

__ADS_1


Terlihat mama menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Beliau meremas jari-jemari tanganku. "Entahlah, Kak ... hanya saja, Mama merasa nak Yudhis seperti berubah. Apa mungkin karena dia jarang mampir kemari, ya?" tanya mamaku lagi.


Aku tersenyum. "Sekarang mas Yudhis sudah menjadi orang penting, Ma. Tentunya kesibukan dia semakin bertambah, jadi dia tidak punya waktu untuk bermain-main seperti dulu lagi." Aku mencoba menenangkan hati mama dengan mengatakan kesibukan yang mendera mas Yudhis pasti akan menyita banyak waktunya.


Padahal, jika aku boleh jujur ... aku pun merasakan hal yang sama. Jangankan untuk bertemu, untuk sekadar membalas chat pun, mas Yudhis juga jarang melakukannya. Seperti saat ini, chat yang aku kirimkan sejak sore, sampai malam sudah selarut ini, masih centang dua berwarna biru, tanpa balasan apa pun dari mas Yudhis.


"Itulah yang Mama khawatirkan, Kak. Kesibukan akan membuat hubungan kalian renggang. Jangankan orang yang baru terikat tunangan, yang sudah terikat hukum perkawinan pun, kesibukan bisa menghancurkan janji suci yang mereka buat. Dan Mama tidak bisa menghentikan pikiran buruk itu, Kak," ucap mama sedikit tegang.


Aku mengernyit, "Maksud Mama?" tanyaku, heran.


Mama tersentak kaget. Mungkin, tanpa sengaja dia telah mengungkap kegundahan hatinya selama ini. "Eng-enggak, Kak. Mama nggak punya maksud apa-apa. Sudah, lupakan saja omongan Mama," ucap mama, mencoba mengelak pertanyaanku.


"Ada apa, Ma? Katakan saja! Pasti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Mama, 'kan?" tebakku.


Mama menghela napasnya. "Kamu masih ingat dengan Bu Yani, 'kan?" tanya mama.


Ya, Bu Yani adalah salah satu teman Mama sewaktu masih duduk di bangku SMP. Meskipun sudah berumur, tapi angkatan mamaku masih aktif reunian. Mengalahkan angkatanku sendiri. Aku dan mama, adalah alumni dari sekolah yang sama.


"Kamu tahu jika menantu Bu Yani itu seorang pemimpin perusahaan? Apa itu namanya, Kak, yang si-si-o apa sih, Kak, kalo bahasa anak muda sekarang?" tanya mamaku belibet.


"CEO?" timpalku.


"Nah, itu. Menantunya, 'kan seorang CEO juga. Dan, setelah diangkat menjadi CEO, kesibukannya semakin bertambah hingga dia tidak punya waktu untuk anak dan istrinya. Tapi, beberapa hari yang lalu, Bu Yani cerita jika tiba-tiba saja putrinya menggugat cerai sang suami. Dan saat ini mereka telah berpisah." Mama mulai bercerita.


"Astaghfirullahaladzim, Mbak Mayang cerai? Ta-tapi kenapa, Ma?" tanyaku, kaget.

__ADS_1


"Suaminya ketahuan selingkuh sama sekretaris," jawab Mama.


Aku semakin terhenyak mendengar jawaban Mama. Kembali aku meraih tangan yang sudah mulai berkeriput itu. "Apa karena hal itu, Mama mempertanyakan hubungan Kakak sama mas Yudhis?" tanyaku.


Mama mengangguk. "Iya, Kak. Mama jadi khawatir sama hubungan kalian. Terlebih lagi, saat Mama mengetahui jika bukan nak Yudhis yang menjemput kamu di bandara. Tapi malah dosenmu yang mengantarkan, Mama semakin cemas, Kak," tutur Mama.


Huh, tentu saja mas Yudhis tidak akan menjemput aku, orang aku tidak pernah pergi ke Bandung. Ah, Ma ... seandainya Mama tahu jika selama hampir sepekan, aku disekap oleh dosen gila itu. Bukan workshop sama dia! gerutuku dalam hati.


Tapi, aku merasa heran juga. Apa mas Yudhis memang tidak pernah menghubungi aku? Seharusnya, jika dia menghubungi dan tahu jika aku sulit untuk dihubungi, dia pasti akan mencari keberadaanku lewat mama. Atau mungkin ... si dosen sedeng itu telah mengatakan aku workshop juga, sehingga mas Yudhis tidak mencemaskan keadaanku. Aargh, pusing! batinku.


"Mama tidak usah khawatir. Hubungan Kakak sama mas Yudhis baik-baik saja. Mas Yudhis memang jarang main ke rumah, tapi kita selalu komunikasi, kok!" ucapku sedikit berbohong. Maafkan aku Tuhan ... tapi aku tidak ingin membuat mamaku merasa khawatir lagi.


"Ya, semoga saja Kak. Ya sudah ... ini sudah larut malam. Tidurlah! Kamu pasti tidak tidur teratur selama pelatihan di Bandung," ucap mama.


Aku hanya tersenyum mesem mendengar ucapan mama. Ya Ma, aku memang tidak bisa tidur nyenyak, tapi bukan karena tugas workshop, melainkan karena ulah si dosen gila itu! gumamku dalam hati.


Setelah mama keluar dari kamar, aku kembali mengusap layar ponselku. Pesan whatsapp yang aku kirim masih tetap berwarna sama, biru! Tapi entah kenapa calon suamiku itu tak mau membalas pesanku. Sudah hampir 5 jam aku menunggu. Apa memang dia tidak punya waktu 10 detik hanya untuk membalas pesanku. Ish, sedang apa kamu, mas? Sesibuk itukah kamu, hingga tak memiliki waktu untuk membalas pesan? gumamku dalam hati.


Dengan hati dongkol, aku melempar ponselku sembarang. Aku mulai menjatuhkan diri dan menelungkupkan wajah di atas bantal. Sejenak, kecemasan ibu mulai mempengaruhiku. Apa mungkin mas Yudhis telah berubah?


Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Aku segera bangun dan menyambarnya dari atas kasur.


"Hallo! Mas! Kamu kemana saja? Kenapa tidak menghubungi aku?"


Tut-tut-tut!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2