
“Gila! Dasar orang gila!” teriakku pada Mas Yudhis. Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan laki-laki tidak waras itu, aku segera berlari menuju ruang guru.
Gelak tawa Mas Yudhis masih bisa aku dengar saat aku berjalan menyusuri lorong kelas. Bulu kudukku meremang seketika. Dengan menutup kedua telinga, aku mempercepat langkahku agar segera tiba di ruang guru.
Napasku masih memburu dengan cepat begitu aku mendaratkan bokong di atas sofa.
“Ada apa Bu Res?” tanya Bu Fina yang baru tiba dari dapur.
“Astagfurullah!” Aku terkejut mendapati Bu Fina telah berdiri di hadapanku.
“Ish, Bu Res ini kenapa, sih?” Bu Fina kembali bertanya seraya mengernyitkan keningnya.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya dikejar anjing saja,” ucapku asal.
“Eits, mana ada anjing masuk ke sekolahan,” tukas Bu Fina.
“Ada, Bu. Itu, anjing yang pengen pinter, hehehe,” kelakarku.
Bu Fina ikut tertawa mendengar humorku yang garing.
“Ya sudah, nih, minum dulu!” ucap Bu Fina seraya menyodorkan segelas air yang dia bawa dari dapur tadi.
“Waduh, makasih Bu. Jadi malu, mohon maaf sudah merepotkan.” Aku kembali bergurau kepada Bu Fina.
“Hmm, Bu Res bisa saja. Ya sudah, saya masuk kelas dulu, ya!” pamit Bu Fina.
Aku mengangguk dan mempersilakan Bu Fina pergi.
Setelah azan dzuhur, aku meminta Rayya untuk menjemputku di sekolah. Kebetulan hari ini kuliahnya sedang kosong. Karena itu, aku meminta bantuan Rayya. Aku takut jika tiba-tiba di tengah jalan, aku berpapasan lagi dengan mas Yudhis.
“Iya, Kakak tunggu dulu di kantor, nggak usah keluar kalau aku belum datang!” pesan Rayya sesaat sebelum dia memutuskan sambungan telepon.
Aku hanya bisa mengangguk. Sejurus kemudian, aku mematikan telepon dan memasukan kembali ke dalam saku tas.
20 menit menunggu, akhirnya Rayya tiba di tempat kerjaku.
“Mau jemput kakaknya, ya?” ucap guru olahraga.
“Iya, Pak,” jawab Rayya.
“Sebentar, ya. Abang panggilkan dulu!” lanjut guru olahraga itu.
“Siap, Pak!” jawab Rayya memberikan sikap hormat layaknya sedang menhormati bendera yang sedang dinaikan tim paskibra.
Sebelum guru olahraga itu memanggilku, aku sudah berdiri di ambang pintu sehingga aku bisa mendengar jelas percakapan mereka.
‘Eh, Bu Resti, itu … adeknya sudah jemput,” ucapnya.
“Iya, Pak. Terima kasih, kalau begitu, saya pulang duluan ya, Pak,” pamitku.
__ADS_1
Guru olahraga itu hanya menganggukan kepalanya.
Aku segera menaiki motor Rayya. Setelah memastikan aku naik dengan benar, Rayya pun segera melajukan kendaraanya.
“Kakak kenapa, sih? Kok tumben minta dijemput?” tanya Rayya.
“Nggak pa-pa, Dek,” jawabku tak ingin membuat Rayya khawatir.
“Ish, pasti ada apa-apanya, nih. Ayo cerita!” desak Rayya.
Akhirnya, mau tidak mau aku ceritakan jika tadi mas Yudhis datang hanya untuk menggangguku.
“Ish, dasar psikopat gila!” dengus Rayya kesal. “Mangkanya, cepet cari suami dong, biar ada yang jagain,” lanjut Rayya.
“Haish, apa hubungannya?” tanyaku seraya menepuk bahu Rayya.
Rayya tergelak karena sudah berhasil men-skak mat diriku.
Tiba di rumah mama menyambut aku dengan sebuah undangan di tanganya.
“Undangan dari siapa tuh, Ma?” tanya Rayya seraya memarkir motornya di dekat teras rumah.
“Citra,” jawab mama singkat.
Aku terhenyak mendengarnya. Entahlah, aku sudah tahu Citra akan menikah. Tapi setiap kali aku mendengar sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan Citra, kok rasanya masih tetap sama. Sakit.
“Belum tahu, Kak. Belum Mama buka juga,” jawab mama.
Aku mengambil undangan itu dan segera membukanya. Dengan jantung berdegup kencang, aku lirik nama yang tertera dalam undangan. Hmm, seharusnya namaku lah yang berada di sini. Bukan Citra! Tapi, ya sudahlah … sekali lagi aku tekankan dalam hati, dia bukan jodohku. Seketika aku teringat akan Fatwa yang telah berjuang untuk kebahagiaan aku.
Kamu ke mana, Fat? Apa kamu tahu kalu aku merindukanmu?
“Kapan, Kak?” tanya mama membuyarkan lamunan aku.
“Besok, jam 10 pagi, Ma,” jawabku.
“Apa kamu mau berangkat?” tanya mama lagi.
“Kakak berangkat pagi, Ma. Citra meminta Kakak untuk menjadi pendamping mempelai wanita,” jawabku.
“Apa?!" ucap mama dan Rayya berbarengan.
“Ish, dasar cewek sinting!” umpat Rayya terlihat kesal.
Mama menepuk lengan Rayya. Sejurus kemudian, dia menatapku. “Kok Kakak mau sih?” tanya mama.
“Nggak pa-pa, Ma. Lagian, Kakak juga mo buktiin sama Mas Yudhis, kalo Kakak tuh ikhlas dan tidak selemah yang dia kira,” jawabku tegas.
Mama mengelus punggungku. “Ya sudah, masuk dan bersihkan dirimu. Setelah itu, kita makan siang bersama,” perintah mama.
__ADS_1
Aku mengangguk. Seketika aku dan Rayya berhamburan untuk masuk kamar membersihkan diri dan menunaikan shalat dzuhur
.
.
Matahari tampak malu-malu menerangi bumi. Semalaman hujan mengguyur kota ini, bahkan hari ini pun terlihat mendung. Seolah matahari enggan untuk keluar dari peraduannya.
Sudah sedari subuh aku merias diriku sendiri untuk menghadiri acara pernikahan Citra. Awalnya, Mbak Sekar menawarkan seorang MUA untuk mendandani aku, tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin merepotkan mereka. Lagi pula, aku hanya sekedar pendamping calon mempelai wanita, bukan mempelai wanita. Karena itu, aku tidak ingin terlihat heboh di acara pernikahan Citra nanti.
Pukul 07.00, aku berangkat ke rumah Citra dengan menggunakan taksi online. Awalnya, acara pernikahan akan digelar di sebuah gedung yang ada di kota ini. Tapi entah kenapa sekarang jadi di rumahnya Citra. Ah sudahlah, aku tidak ingin memusingkan hal itu.
Setengah jam kemudian, aku tiba di kediaman Citra. Mbak Sekar langsung menyuruhku naik ke kamar Citra. Tiba di sana, aku sedikit tertegun melihat penampilan Cinta yang menggunakan kebaya pengantin berwarna putih tulang. Aksen payet di sekeliling kebaya itu, membuat Citra terlihat elegan. Hanya saja, kebaya itu dibuat pas di tubuh Citra sehingga perutnya yang tengah hamil terlihat dengan jelas.
“Kakak Chi, Citra senang Kakak bisa jadi pendamping Citra menuju pelaminan,” ucap Citra seraya menghampiri aku.
“Iya, Kakak juga senang akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpimu,” balasku.
“Iya, Kak. Citra juga senang dan sangat bahagia,” katanya.
Kedua bola mata Citra terlihat berbinar, menandakan jika perempuan itu benar-benar sedang merasa bahagia saat ini. Ah, semoga kebahagiaan kamu tidak hanya sekejap, Cit, batinku yang mengingat kembali ucapan mas Yudhis tempo hari.
Detik berganti menit, demikian menit yang terus berganti jam, hingga tanpa terasa aku dan Citra sudah menunggu selama hampir dua jam lebih di kamar.
“Cit, memang akad nikahnya jam berapa, sih?” tanyaku yang sudah menguap karena lelah menunggu.
“Seharusnya sih pukul, O8. 00,” jawab Citra terlihat gelisah.
Aku melirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tanganku. Penunjuk waktu berhenti di angka 10.15. Berati sudah lebih dari 2 jam kami menunggu di kamar tanpa tahu berita apa-apa di bawah sana.
“Coba Kakak cek dulu ke bawah ya, Cit!” kataku.
Citra hanya mengangguk menjawab pertanyaan aku. Setelah mendapatkan persetujuan dari Citra, aku segera pergi ke bawah untuk melihat situasi di sana.
Saat aku menuruni anak tangga, aku melihat Mas Andre sedang menelepon. Raut wajahnya terlihat cemas. Namun, tak lama kemudian, kedua rahangnya tiba-tiba mengeras.
“Brengsek!” seru Mas Andre hendak membanting ponselnya.
“Mas, ish … apa-apaan sih?” Beruntung Mbak Sekar datang dan segera menahan tangan Mas Andre yang tadi ingin melemparkan ponselnya.
Mas Andre melirik istrinya, seketika Mas Andre meraih pundak Mbak Sekar dan mendekapnya dengan erat.
“Ada apa, Mas?” tanya Mbak Sekar setelah cukup lama memberikan ketenangan kepada suaminya.
“Yudhis kabur dari rumah. Dia lari dari pernikahannya sendiri, Sekar. Dan, keluarganya tidak ada yang tahu, sekarang dia berada di mana,” ucap Mas Andre, lirih.
“Astagfirullahaladzim!”
Bersambung
__ADS_1