
Aku sangat terkejut mendengar kaca jendela pecah.
Buk!
Sebuah batu mendarat tepat di hadapanku.
“Kenapa, Kak?” tanya mama yang datang tergopoh-gopoh ke dapur.
Mama tak kalah terkejutnya mendapati pecahan kaca jendela dapur berserakan di lantai. Tiba-tiba pandangan matanya terkunci pada sebuah benda yang tergeletak di lantai.
“Apa itu, Kak?” Tunjuk mama pada benda yang sepertinya itu bongkahan batu yang dibalut kertas.
“Kakak enggak tahu, Ma. Sebentar, Kakak ambil dulu,” jawabku seraya mendekati benda itu dan memungutnya.
“Hati-hati, Kak,” seru mama.
Aku memungut benda yang memang bongkahan batu sebesar kepalan tangan. Kubuka kertas yang membalutnya. Seketika aku lempar kertas itu setelah aku baca isinya. Tanganku bergetar hebat. Seluruh tubuhku terasa lemas. Apa maksud semua ini? batinku menatap kosong kertas yang telah jatuh ke lantai.
“Kenapa, Kak? Apa isinya?” tanya mama yang sepertinya penasaran melihat reaksi yang aku tunjukkan.
Aku hanya bisa menatap mama tanpa mampu menjawab pertanyaan beliau.
Kulihat mama memungut kertas tersebut dan mulai membacanya. “Hutang nyawa dibayar nyawa,” ucapnya. Mama melirik ke arahku. “Apa maksudnya ini, Kak?” tanya mama seraya mengacungkan kertas tersebut.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan mama.
“Ya sudah, sekarang juga, kamu telepon keamanan komplek. Suruh dia kemari!” perintah mama.
Aku mengangguk, kemudian pergi ke ruang keluarga untuk menelepon keamanan komplek. Sedangkan mama membersihkan pecahan kaca jendela.
“Ada apa, Kak. Perasaan tadi Rayya dengar ada sesuatu yang pecah,” kata Raya yang baru datang.
Daguku hanya menunjuk ke arah mama yang masih sibuk menyapu pecahan kaca jendela. Kulihat Rayya pergi ke dapur.
“Astagfirullah!” pekik Rayya.
“Hallo, assalamu’alaikum dengan keamanan komplek di sini. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seseorang di ujung telepon.
“Wa’alaikumsalam. Pak, bisakah datang ke rumah saya. Ada insiden kecil di rumah saya,” ucapku gugup.
“Blok mana, Mbak?" tanya keamanan komplek.
“Lavender C11,” jawabku.
“Siap, sekarang juga meluncur, Mbak,” jawab penjaga komplek.
Aku meletakkan gagang telepon setelah sambungan terputus. Sedetik kemudian, aku kembali ke dapur untuk bergabung dengan Rayya dan mama.
__ADS_1
“Gimana, Kak?” tanya mama.
“Sudah, Ma,” jawabku.
“Apa mereka akan kemari?” tanya mama lagi.
“Katanya sih begitu,” jawabku lagi.
“Ya sudah, ayo kita bereskan dulu. setelah itu kita mulai masak,” ucap mama.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku dan Rayya membantu mama membersihkan pecahan beling yang sebagian masih berserakan di lantai.
Selesai membersihkan lantai. Kami pun mulai masak untuk pesanan catering tetangga. Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu rumah kami.
“Biar Rayya yang lihat, Kak,” cegah Rayya saat aku hendak pergi untuk membuka pintu.
Aku mengangguk. Rayya kemudian pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu. Beberapa menit kemudian, Rayya datang bersama Mang Iip. Penjaga keamanan itu sangat terkejut melihat kaca jendela kami yang hanya tertutup kain saja.
“Itu jendelanya kenapa, Bu?” tanya Mang Iip seraya menunjuk jendela yang bolong.
“Seseorang melemparkan batu dan kertas ini, Mang,” jawab mama seraya menunjukkan kertas tadi.
“Astagfirullah, keluarga Ibu ada yang neror lagi?” tanya Mang Iip.
“Hmm, sepertinya begitu,” kata mama.
“Apa Ibu tahu siapa pelakunya?” tanya Mang Iip lagi.
“Hehehe, iya-ya, Neng,” ucap Mang Iip. “Ya sudah, kalau begitu, untuk malam ini, biar saya yang berjaga-jaga di sini," lanjut Mang Iip.
“Memang itu tujuan kami meminta Mang Iip datang. Kebetulan, malam ini juga kami hendak begadang karena ada pesanan yang harus kami selesaikan,” kata mama.
“Oke, Bu. Kalau begitu, saya akan menghubungi teman saya dulu untuk memperketat penjagaan di pos depan,” tukas Mang Iip.
“Baiklah,” jawab mama.
Setelah Mang Iip berjaga-jaga di luar. Aku, mama dan Rayya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
.
.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mama dan Rayya mengantarkan pesanan catering tetangga. Sedangkan aku masih asyik berkutat di dapur untuk membersihkan sisa-sisa semalam. Kembali aku lihat kaca jendela yang pecah itu. Sejenak aku tertegun, kira-kira siapa pelaku teror itu? Hutang nyawa, dibalas nyawa. Apa maksudnya? Dan, nyawa siapa?
Citra? Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan kematian Citra?
Ish, secepat kilat aku tepis praduga itu. Tidak mungkin keluarga Citra menuntut balas atas kematian Citra padaku. Bukankah semua ini terjadi karena hilangnya mas Yudhis? Kalaupun ada yang harus disalahkan, mungkin itu adalah mas Yudhis.
__ADS_1
“Loh, kamu belum mandi juga, Kak?”
Tiba-tiba pertanyaan mama membuyarkan lamunanku.
“Eh, Mama! Bikin kaget aja,” jawabku.
“Ish, ditanya segitu kok kaget,” balas mama.
“Itu karena Kak Chi lagi ngelamun, Ma,” tukas Rayya.
“Uuh, sok tahu kamu, Dek!” pungkasku.
“Ya sudah, sana cepetan mandi. Bukannya hari ini kamu kerja?” kata mama.
“Ya kerja-lah, Ma. Selain tanggal merah, mana ada guru libur,” jawabku.
“Hahaha, mangkanya Ray nggak mau jadi guru,” timpal Rayya.
“Sudah-sudah, ayo cepat mandi, nanti kamu telat,” kata mama lagi.
Bukannya beranjak ke kamar mandi, aku malah rebahan di sofa ruang keluarga.
“Loh, Kakak! Bukannya mandi, ih!” teriak Rayya.
“Bentar, Dek. Ini masih pagi, kok,” jawabku.
“Masih pagi gimana? Ini sudah mau jam 7 loh, Kak,” tukas Rayya.
Tapi aku diam. Entah kenapa, rasanya hari ini aku malas sekali untuk bekerja. Seluruh tubuhku terasa lemas. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika seharian ini aku berada di rumah. Rebahan sambil menonton film drama korea kesukaanku.
Semilir angin pagi yang masuk melalui celah jendela ruang keluarga, membuat mataku terasa berat. Sayup-sayup, suara obrolan mama dan Rayya di dapur pun semakin samar terdengar. Dan akhirnya aku kembali terlelap merangkai mimpi.
Beberapa menit berlalu hingga aku merasakan tangan dingin seseorang menyentuh kulit pipi. Aku mengerjap. Ah, rupanya tangan lembut yang mulai keriput itu sedangkan membangunkan aku.
“Kak, ini sudah siang. Memangnya kamu nggak mau berangkat kerja?” tanya mama begitu melihat mataku terbuka.
“Lima menit lagi ya, Ma? Kakak ngantuk banget,” ucapku, memelas.
“Ya, Mama sih nggak jadi masalah mau sejam atau 5 jam juga. Yang penting, kamu emang lagi libur. Tapi sekarang, kamu, 'kan kerja. Masak iya kamu mau meninggalkan kewajiban kamu hanya karena rasa malas. Apa kamu mau mendapatkan predikat pegawai yang suka makan gaji buta?” tanya mama lagi.
“Ish, Mama … ya, enggaklah,” jawabku seraya bangkit untuk duduk.
“Ya mangkanya, segera bangun dan bersiaplah. Kamu bisa makin terlambat kalau berleha-leha seperti ini,” kata mama.
Aku mengangguk dan segera pergi ke atas. Tiba di kamar, aku memasuki kamar mandi dan mulai menjalankan ritual mandi pagi. Saat mandi pun, rasanya aku benar-benar malas untuk menjalani rutinitas mandi. Ya Tuhan … jika aku tidak ingat akan janjiku yang hari ini akan membawa anak-anak belajar di luar, mungkin aku sudah izin kerja sama Bos.
Setelah selesai bersiap, akhirnya aku pamit kerja kepada mama.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan ya, Kak! Jangan lupa kabari begitu tiba di sekolah!”
Bersambung