My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Dikuntit


__ADS_3

“Astagfirullahaladzim!” pekikku cukup keras.


Seketika anak-anak menoleh padaku. Mereka merasa terkejut mendengar aku beristighfar setengah berteriak. Pun dengan orang yang memanggilku. Dia pun merasa heran melihat sikapku.


“Ada apa, Bu Res?” tanya Pak Dani.


“Eh, enggak, Pak. Saya hanya kaget saja,” jawabku.


“Mangkanya, jangan banyak melamun, Bu. Hehehe …” ledek Pak Dani.


“Ah, Bapak bisa saja,” tukasku.


“Oh iya, ini! Tadi ada kurir yang menitipkan ini untuk Bu Resti,” ucap Pak Dani seraya menyerahkan bungkusan kotak berwarna coklat.


“Ah, ya … terima kasih, Pak,” jawabku sambil menerima bungkusan tersebut.


“Iya, sama-sama, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu!” pamit Pak Dani.


“Baiklah.”


Setelah guru olahraga itu pergi, aku pun melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Sebelumnya, aku menyimpan kotak tersebut di laci meja. Sejurus kemudian, aku memerintahkan anak didikku untuk mempelajari terlebih dahulu materi hari ini, sebelum aku menerangkan materi tersebut.


Tanpa terasa, bel pulang untuk anak kelas bawah sudah berbunyi. Semua peserta didik menyambut gembira bunyi bel tersebut.


“Bu, bukunya boleh diberesin sekaranng,” tanya Raina, salah satu muridku yang memang paling cerewet di kelas.


“Boleh, Nak,” jawabku.


Seketika anak-anak kembali sibuk memasukkan alat-alat sekolahnya masing-masing.


“Boleh pulang sekarang, Bu?” tanya Farhan.


“Eits, berdo’a dulu, ya. Supaya ilmunya berkah,” ucapku.


“Baik, Bu,” jawab anak-anak serempak.


Di detik selanjutnya, mereka pun mulai mengucapkan hamdalah dan berdo’a bersama. Satu per satu, semua anak didikku mulai pulang.


Aku menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Kulirik jam kecil yang berada di atas meja kerja. Masih pukul 10.30. Hmm, masih ada waktu 1 jam sebelum kerja kelompok dimulai di rummah Rahma. Tanpa sengaja, sudut mataku menangkap bayangan kotak yang aku simpan di laci yang sedikit terbuka. Aku pun menarik laci dan mengeluarkan kotak yang dititipkan kurir pada pak Dani.


“Kira-kira, apa isinya? Kenapa tidak ada nama pengirimnya? batinku seraya membolak-balik kotak tersebut.


Karena merasa penasaran, aku mulai membuka kotak itu. Tetapi,


Drrt… Drrt…!


Bunyi getaran ponsel di dalam laci, lebih menarik perhatianku. Akhirnya, pandanganku teralihkan oleh getaran tersebut. Aku mengurungkan niat untuk membuka kotak itu. Berpindah pada ponsel yang berkelap-kelip menandakan ada panggilan masuk.


“Assalamualaikum Zein?” tanyaku pada orang yang menelepon aku.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam. Kakak, Zein sedang dalam perjalanan menuju rumah Rahma. Apa Kakak mau sekalian Zein jemput?” tawar Zein di ujung telepon.


Kembali aku lirik jam di atas meja kerjaku. Sebenarnya masih banyak waktu sebelum kerja kelompoknya dimulai. Tapi entah kenapan Zein sudah berangkat sekarang.


“Nggak usah, makasih Zein. Kakak nanti saja naik ojek online.” Aku menolak tawaran Zein.


“Kakak belum selesai ngajar?” tanya Zein lagi.


“Sebenarnya Kakak sudah selesai mengajar, hanya saja, Kakak belum mengerjakan RPP untuk besok,” jawabku.


“Oh, ya sudah kalau gitu. Sampai ketemu nanti di rumah Rahma ya, Kak. Assalamu'alaikum.” Zein mengakhiri sambungan teleponnya.


“Wa’alaikumsalam,” jawabku seraya menutup sambungan telepon.


Aku melirik tumpukan tugas siswa yang belum aku nilai. Setelah itu, aku mengalihkan pandangan pada buku Silabus dan RPP. Akhirnya aku mengeluarkan laptop dan mulai membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.


Setengah jam berkutat dengan laptop, pekerjaanku selesai juga. Aku segera membereskan meja kerja. Setelah berpamitan kepada rekan-rekan kerja, aku mulai memesan ojek online untuk pergi ke rumah Rahma.


Saat aku tengah menunggu ojek di gerbang sekolah, tanpa sengaja aku melihat pria yang kemarin memakai hoodie, sedang duduk di warung depan sekolah. Untuk sejenak, pandangan kami beradu. Terlihat laki-laki itu tersenyum menyeringai kepadaku. Bibirnya bergerak menirukan orang yang sedang mengecup sesuatu. Seketika aku bergidik dan segera memutuskan pandangan dengannya.


“Ish, siapa dia? Kenapa tidak sopan sekali?” dengusku kesal. Sayang laki-laki itu memakai kacamata hitam, sehingga aku tidak bisa megenalinya dengan pasti.


Aku mulai risih melihat dia terus menatapku. Berulang kali aku melirik jam tangan. Entah kenapa, ojek online yang aku pesan pun terasa sangat lama. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? batinku.


Tak berapa lama ojek yang aku pesan, tiba.


Aku mengangguk. Aku segera menaiki motornya. “Jalan, Bang!” perintahku sambil menepuk bahunya.


Sejurus kemudian, ojek itu melesat membelah jalanan. Beberapa menit berlalu, sesekali tukang ojek itu melirik kaca spion.


“Sepertinya ada yang mengikuti kita, Mbak,” ucap tukang ojeg.


Deg!


Aku terkejut mendengar apa yang dia katakan. “Yang benar, Bang?” tanyaku.


“Coba Mbak lihat!” kata tukang ojek itu.


Sejurus kemudian, tukang ojek itu mengarahkan kaca spionnya agar aku bisa melihat kendaraan yang ada di belakangnya. Dan benar saja, sebuah motor sedang berada di belakang kami. Dilihat dari pakaiannya, dia adalah orang yang sama yang tadi tengah memperhatikan aku di warung depan sekolah.


“Apa Mbak mengenalnya?” pertanyaan tukang ojek seketika membuyarkan lamunan aku.


“Jujur aku tidak mengenalnya, Bang. Hanya saja …” aku menggantungkan kalimatku.


“Hanya saja kenapa, Mbak?” tanya tukang ojek lagi yang sepertinya merasa penasaran.


“Orang itu sejak kemarin mengikuti saya, Bang,” cicitku.


“Ish, sepertinya Mbak sedang dikuntit sama orang itu,” tebak si tukang ojek.

__ADS_1


“Terus, gimana dong, Bang?” tanyaku yang mulai merasa cemas.


“Pegangan, Mbak!” perintah tukang ojek itu seraya membetulkan kembali spion motornya.


Aku menuruti perintahnya. Aku memegang erat pinggang si tukang ojek.


“Sudah siap, Mbak?” tanya si tukang ojek.


Meskipun aku tidak mengerti dengan apa yang akan dia lakukan, aku hanya menjawab siap saja kepadanya.


“Oke, let’s go!” teriak si tukang ojek.


Wusss…!


Kendaraan beroda dua yang aku naiki melesat dengan kecepatan di atas rata-rata. Bagaikan Valentino Rossi, si abang tukang ojek memacu kendaraanya dengan zig-zag. Entah pada kecepatan berapa per jam, si abang mengendarai sepeda motornya. Yang jelas, jantungku pun seperti ikut maraton saat si abang kembali berkelak-kelok untuk mengecoh si penguntit.


Motor melesat memasuki kawasan yang cukup ramai dengan kendaraan. Si abang kembali ber-atraksi dengan menyalip beberapa kendaraan yang jaraknya cukup rapat.


Astagfirullah!" Mataku seketika terpejam saat aku lihat sebuak truk besar melintas tepat di depan kami.


Ciiiiit!


Seketika si abang ojek menginjak rem hingga wajahku mendarat tepat di punggungnya.


“Maaf, mbak. Hehehe,…."


Wusss…!


Eits, gila! Baru saja dia minta maaf, tapi sepersekian detik kemudian, dia kembali menjalankan motornya bagai kesetanan. Setelah kami tiba di jalanan yang cukup lengang, dia melirik kaca spionnya. Seulas senyum aku lihat tersungging di bibirnya.


“Hmm, sepertinya kita aman, Mbak,” kata si tukang ojek.


“Hufft!” Aku membuang napas dengan kasar. “Alhamdulillah,” ucapku, lega.


Si abang ojeg itu kembali mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Setelah hampir 2 jam berada di jalanan, akhirnya motor yang aku kendarai tiba juga di rumahnya Rahma.


“Sudah sampai, Mbak!” ucap si tukang ojek seraya menghentikan motornya.


Aku turun dari motor, kemudian melepaskan helm miliknya. Setelah membayar ongkos ojek beserta tips karena berhasil lolos dari si penguntit, aku pun melangkahkan kaki menuju halaman rumah Rahma yang tampak asri. Tiba di teras depan, kedua kakiku terasa lemas. Aku segera mengetuk pintu rumah Rahma.


“Masuk!” teriak seseorang dari dalam rumah.


Aku menekan handle pintu. “Assalamualaikum!” sapaku.


“Wa’alaikumslam. Eh, Ka-“


Brugh!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2