
"Resti!" ucap Fatwa seraya berlari menghampiriku. Tangannya mulai terulur untuk mengusap rambutku. "Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Res," kata Fatwa menatapku penuh kelembutan.
Aku mulai mengedarkan pandanganku. Dahiku sedikit mengernyit saat aku melihat ruangan tempat aku berada saat ini. "Re-resti di mana?" tanyaku seraya kembali menatap pria itu.
"Kamu sedang berada di rumah sakit sekarang, Res," jawab Fatwa dengan suara parau seperti sedang menahan isak tangisnya.
"A-apa yang terjadi sama Res?" tanyaku lagi.
"Kamu–"
"Kak Chi, ah syukurlah Kakak sudah sadar."
Belum selesai Fatwa mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba Citra memasuki kamarku. Seketika, aku dan Fatwa menoleh kepada wanita yang kini tengah berdiri di depan ranjang rumah sakit.
Melihat wanita itu, perasaanku kembali hancur. Bayangan mereka berdua yang sedang memadu kasih di atas ranjang, kembali berkelebat. Rasa kecewa, jijik, benci, marah, semuanya bercampur menjadi satu. Tapi, aku masih berusaha untuk mengatur emosiku.
Aku lihat, Fatwa mencekal lengan Citra dan hendak menyeretnya keluar. Segera aku cegah dia. "Biarkan dia masuk, Fat!" ucapku kepada Fatwa.
"Tapi, Res?!" Fatwa sepertinya tidak terima dengan keputusanku.
"Resti nggak pa-pa, Fat. Biarkan saja dia masuk," jawabku.
Fatwa melepaskan tangan Citra. Setelah itu, Citra menghampiri dan memelukku. Tangan kiriku mendorong tubuh Citra agar menjauh. Sungguh, aku tidak sudi mendapatkan pelukan dari seorang sahabat munafik seperti dia.
"Mau apa kamu datang kemari?" tanyaku tanpa menoleh kepadanya. Aku muak melihat raut wajah Citra yang terlihat polos.
"A-aku mau minta maaf sama Kakak," jawab Citra, menatap sendu ke arahku.
"Untuk apa?" tanyaku lagi.
"Untuk semuanya, Kak. Aku mau minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama Kakak," ucap Citra begitu lancar.
"Hmm, untuk semuanya. Untuk semua sandiwara dan drama perselingkuhan kamu dengan mas Yudhis? Benar, 'kan?" ucapku seraya tersenyum sinis kepada Citra.
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya saat mendengar tuduhanku yang memang sangat beralasan.
"Tolong beri aku sebuah alasan yang masuk akal, Citra! Kenapa kamu melakukan semua itu? Aku begitu mempercayai kamu. Tapi, kenapa kamu tega menusukku dari belakang?" Aku memberondong Citra dengan berbagai pertanyaan.
"A-aku minta maaf, Kak." Kembali hanya itu yang bisa dia katakan padaku.
"Aku tidak butuh maaf kamu, aku hanya butuh penjelasan darimu!" ucapku sedikit berteriak. Sungguh, aku mulai merasa kesal melihat keluguan yang dia tampakkan di hadapanku.
Citra hanya bisa diam mendengar ucapanku.
"Baiklah, jika memang tidak ada yang ingin kamu katakan lagi, silakan pergi dari sini!" Akhirnya aku menyerah. Rasanya percuma memaksa orang yang tidak pernah ingin berkata jujur.
"Aku mencintai mas Yudhis!" kata Citra, cukup lantang dalam mengakui perasaannya.
Sebenarnya, aku sudah menduga jika Citra akan mengatakan hal ini. Tapi, saat aku mendengarnya secara langsung, tetap saja hatiku terasa sakit.
"Sejak kapan?" Aku mulai memancing Citra untuk berkata lebih jujur lagi.
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan mas Yudhis," jawab Citra.
Terlihat jika Citra sedikit terhenyak mendengar pertanyaanku. Sejenak, dia hanya diam menatapku.
"Kau masih tidak ingin berkata jujur, Cit? Jika memang begitu, pergilah! Aku sudah tidak butuh penjelasan dari kamu lagi!" usirku kepada Citra.
Citra menghela napasnya. "Sejak aku SMA," jawab Citra, "aku mengenal mas Yudhis jauh sebelum Kakak mengenalnya. Aku jatuh cinta kepada mas Yudhis, jauh sebelum Kakak jatuh cinta terhadap dia," ucap Citra dengan tegas.
"Dan kamu mencintai mas Yudhis yang saat itu telah menjadi kekasih sahabatmu sendiri, benar, 'kan?" tuduhku langsung.
Citra terlihat sangat terkejut mendengar tuduhanku.
"Da-dari mana Kakak tahu tentang hal itu?" tanta Citra yang seketika terlihat begitu gugup.
"Hmm, kamu tidak perlu tahu dari mana aku mengetahui semua sikap buruk kamu di masa lalu. Satu yang ingin aku tanyakan sama kamu. Kenapa saat aku mengenalkan mas Yudhis padamu, kamu bersikap seakan-akan tidak pernah mengenal dia? Apa untungnya kamu mengelabui aku, Cit?" tanyaku kepada Citra.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Kak. Demi Tuhan, aku tidak ada niat untuk merebut mas Yudhis dari Kakak. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, aku–"
"Tiba-tiba katamu?" tukasku, "kamu bilang terjadi dengan tiba-tiba, di saat kalian menjalani hubungan gelap kalian di belakangku hingga setahun lebih! Gila ... kalian benar-benar gila. Ternyata, selama ini aku sudah seperti orang bodoh saja. Tega-teganya kalian membohongi aku!" teriakku kesal.
Aku lihat, Citra kembali terkejut mendengar perkataan aku yang telah mengetahui perselingkuhan dia dan mas Yudhis selama ini.
"Kakak ... a-aku ... aku...." Citra terlihat kesulitan untuk berbicara
"Cukup Cit, aku sudah tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang pengakuan cintamu terhadap mas Yudhis. Sekarang juga, tolong tinggalkan aku!" pintaku kepada Citra.
"Tapi Kakak, aku mohon ... tolong bebaskan mas Yudhis dari kantor polisi," pinta Citra. Sedetik kemudian, tubuhnya luruh begitu saja di lantai.
Aku begitu terkejut mendengar permintaan Citra. Sejenak, aku menatap Fatwa yang masih berdiri di samping ranjang dengan melipat kedua tangannya di dada. Kantor polisi? Apa maksud dari ucapan Citra?
"Pulanglah! Tak perlu kamu urusi dia lagi. Biar dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya," kata Fatwa, dingin.
Ah, aku semakin tidak mengerti.
"Aku mohon Kakak, aku mohon ampuni mas Yudhis, Kak! Aku janji, aku tidak akan menggangu hubungan kalian lagi, asal kamu mau mengampuni dan membebaskan mas Yudhis dari penjara," ucap Citra.
"Apa kamu pikir aku masih mau menjalani hubungan dengan pria seperti itu? Ck, dangkal sekali pikiranmu. Dengar Citra, aku tidak akan pernah sudi menerima mas Yudhis lagi di dalam hidupku. Jadi, tolong pergilah dari sini. Apa pun yang kamu lakukan, itu tidak akan mengubah keputusan. Mas Yudhis harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya, paham kamu!" ucapku.
"Tapi Kakak...."
"Aku mau istirahat, aku lelah. Tolong pergilah dari sini sebelum aku meminta penjaga keamanan untuk mengusirmu," ucapku, lirih.
Entah apa yang terjadi padaku. Seumur hidup, aku tidak pernah mengusir seseorang meskipun aku tidak menyukainya. Tapi kali ini, aku tidak bisa untuk bersikap biasa saja terhadap wanita ini. Mungkin, sesekali aku juga harus mampu bersikap kejam, agar dia tahu jika aku bukan wanita yang lemah.
Fatwa segera mendekati Citra setelah hampir 10 menit dia masih berlutut di depan ranjang. Dengan sigap, tangannya mencekal pergelangan tangan Citra dan menyeretnya keluar.
"Dasar perempuan nggak tahu diri!" dengus Fatwa kesal
Aku masih bisa mendengar Citra berteriak-teriak memanggil namaku. Tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Meski tanpa sadar, air mata sudah jatuh melewati kedua pipiku. Tapi aku tidak boleh lemah hanya dengan mendengar teriakan dan tangisan Citra yang memilukan.
__ADS_1
Bersambung