My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Mencari Tahu


__ADS_3

Terdengar suara mama memekik keras dari ambang pintu. Rayya seketika menoleh, dia kemudian berjalan menghampiri mama, pun dengan pria yang mengaku sebagai ojek online yang katanya di pesan Kak Chi.


kedua tangan Rayya terulur untuk meraih mama ke dalam pelukannya. “Tenanglah, Ma. Semoga saja ini baru perkiraan. Sekarang, kita telepon tempat kerja kakak. Mudah-mudahan, kakak sudah tiba di tempat kerjanya,” ucap Rayya mencoba menenangkan mamanya.


Mama mengangguk. “Cepat kamu telepon sekolah kakak kamu, Ray. Tanyakan, apa kakak kamu sudah sampai di sana?” perintah mama.


Rayya segera masuk ke dalam rumah.


“Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu,” ucap si ojek online kepada mama.


Mama mengangguk. Terima kasih atas informasinya, Pak,” sahut mama.


“Sama-sama, Bu,” jawab si abang ojeknya.


Setelah si tukang ojek online itu pergi, mama segera masuk ke dalam rumah.


“Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya,” ucap Rayya seraya mengembalikan gagang telepon pada tempatnya.


“Gimana, Ray?” tanya mama.


“Menurut bu Fina, kak Chi belum masuk hari ini, Ma. Bahkan pihak sekolah mengira, kak Chi sedang ada keperluan sehingga tidak masuk kerja hari ini,” jawab Rayya.


Seketika tubuh mama limbung mendengar jawaban dari anaknya.


“Ray, apa mungkin yang dikatakan tukang ojek itu, benar adanya?” tanya mama.


“Ish, Ma. Jangan terlalu berprasangka buruk dulu. Kita berdo’a saja supaya kak Chi baik-baik saja. Mungkin memang kak Chi sedang ada keperluan mendadak,” tukas Rayya, berpikiran positif.


“Ya, semoga saja,” timpal mama, “eh, Ray … apa kamu tidak tanyakan kepada teman-teman kampusnya? Barangkali mereka ada yang tahu. Bukankah akhir-akhir ini kakak kamu sedang mengerjakan tugas akhirnya?” tanya mama.


Rayya mengangguk, dia kembali mengangkat gagang telepon. Namun, sepersekian detik kemudian, dia meletakkan kembali gagang telepon tersebut.


“Kenapa Ray?” tanya mama.


“Rayya nggak tahu nomor telepon teman-temannya kak Chi, Ma,” sahut Rayya.


Mama hanya bisa menghela napasnya. “Terus, apa yang harus kita lakukan, Ray?” tanya mama lagi.


“Kita tunggu saja, Ma. Kalau sampai asar, kakak belum pulang juga, kita lapor polisi saja,” usul Rayya.


Mama melirik jam yang menempel di dinding. Penunjuk waktu masih berhenti di angka 9. Itu artinya, masih ada sekitar 6 jam lagi sebelum tiba waktu asar.

__ADS_1


"Ish, apa harus menunggu selama itu, Ray? Kenapa kita tidak langsung lapor polisi saja, Ray? Mama khawatir sama keadaan kakak kamu. Mungkin saja apa yang dikatakan tukang ojek ada benarnya juga,” kata mama.


“Eh, tukang ojeknya mana, Ma?” tanya Rayya yang seketika langsung mengingat si pemberi informasi tentang kakaknya.


“Dia sudah pulang, Dek?” kata mama.


Rayya terkejut mendengar perkataan mamanya. “Kok Mama biarin dia pulang sih?” tanya Rayya pada mamanya.


Mama mengernyitkan keningnya. “Loh, apa salahnya? Toh Dia sudah tidak ada keperluan lagi di sini,” jawab mama.


“Ish, Mama …” tukas Rayya seraya berlari ke luar. tiba di luar, Rayya segera membuka gerbang seraya mengedarkan pandangannya mencari tukang ojek berkaos oblong itu. tapi, Nihil. Sepertinya tukang ojek online itu telah pergi entah kemana. Rayya mendengus kesal. Sejurus kemudian, dia kembali ke rumahnya.


“Kamu ada apa sih, Ray?” tanya mama yang semakin heran melihat sikap putri bungsunya.


“Rayya belum meminta nomor kontaknya dia, Ma. Namanya saja, Rayya tidak tahu. Ya siapa tahu, nanti kita butuh kesaksian dia jika kak Chi benar-benar tidak ada kabar,” jawab Rayya.


Seketika, mama langsung terpaku mendengar jawaban Rayya. Ya! Apa yang dikatakan Rayya memang benar. Dia satu-satunya informan yang mengetahui kabar terakhir putrinya. Lalu, apa yang harus mereka lakukan jika putrinya memang menghilang? Dan akhirnya, mama pun merutuki kebodohannya di dalam hati.


.


.


Jam demi jam telah terlewati. Sekarang sudah hampir pukul 17.00, tapi Resti tak kunjung jua pulang. Kecemasan semakin merasuki di jiwa ibu dan anak yang tengah duduk di kursi ruang tamu. Mereka sedang menunggu salah satu anggota keluarganya untuk pulang.


Rayya kembali melirik jam dinding yang berada di ruang keluarga. “Ini belum 1 x 24 jam, Ma. Percuma kita datang ke kantor polisi,” jawab Rayya.


“Loh, kok bisa?” tanya mama kebingungan mendengar jawaban Rayya.


“Iya, Ma. Karena menurut prosedur laporan orang hilang, laporan akan ditanggapi oleh pihak kepolisian setelah dalam waktu 1 x 24 jam orang yang kita laporkan memang benar-benar tidak kembali kepada kita,” jawab Rayya.


“Ish, bagaimana bisa seperti itu?” gerutu mama dengan perasaan yang semakin cemas.


“Itu memang sudah aturannya lo, Ma,” ucap Rayya.


“Terus, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya mama lagi.


“Kita terpaksa menunggu hingga esok hari, Ma. Kalau memang malam ini kak Chi nggak pulang. Besok kita lapor pihak yang berwajib, Ma,” kata Rayya.


“Mama sih terserah kamu saja, yang penting kakak kamu segera ketemu,” pungkas mama.


“Baiklah, Rayya janji Rayya akan berusaha untuk mencari kak Chi. Walau ke lubang semut sekalipun. Mama tenang saja, Rayya nggak akan pernah tinggal diam,” sahut Rayya.

__ADS_1


“Ya … semoga saja, Nak. Semoga kakak kamu memang sedang ada keperluan di luar rumah,” kata mama menghibur diri sendiri.


Malam semakin larut. Mama dan Rayya tidur di ruang keluarga dengan alasan, jika Resti pulang, mereka akan dengan cepat mengetahuinya.


.


.


Keesokan harinya, seperti biasa mama bangun jam tiga dini hari. Dia kemudian pergi berwudhu, setelah itu baru menunaikan sholat tahajud. Di akhir shalat tahajud, mama bermunajat kepada Allah SWT. Mama berharap jika anak sulungnya pulang dalam keadaan tidak kurang suatu apa pun dalam dirinya.


Matahari mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu. Cuaca kali ini memang sedikit tidak mendukung. Awan hitam sudah menggantung di langit sepagi ini, pertanda hujan mungkin saja akan segera turun.


Rayya melangkahkan kakinya menuju gerbang pagar rumah. Di sana tampak seorang pemuda yang mengenakan jaket ojek online berwarna hijau. Rupanya dia abang ojek yang dipesan Rayya untuk mengantarkannya ke kantor polisi.


“Dengan Mbak Rayya?” tanya pemuda itu.


“Iya, Mas, benar. Mas-nya tukang ojek online, 'kan?” tanya Rayya.


“Benar, Mbak,” jawab si tukang ojek.


“Kalau gitu, bisa kita berangkat sekarang, Mas?” Rayya kembali bertanya.


“Boleh,” sahut si tukang ojek, “mau pakai helm-nya, Mbak?” lanjutnya.


Rayya mengangguk. Setelah itu motor pun melaju dengan kecepatan sedang.


“Oh iya, Mas. Kalau misalnya perampokan ojek online, bisa terdeteksi nggak sih?” tanya Rayya yang tiba-tiba teringat tentang pembegalan ojek online yang dipesan kakaknya.


“Ini, maksudnya gimana, ya Mbak? Ojeknya yang ngerampok penumpang atau gimana? Kalau seperti itu, wah kita mana berani loh, Mbak. Soalnya, bisa langsung ke-deteksi juga. 'Kan di aplikasi sudah tertera biodata diri kita, kecuali kalau ada orang yang nakal,” tutur si abang ojek.


“Maksudnya nakal?” tanya Rayya, heran.


“Maksudnya … 'kan suka banyak tuh Mbak akun yang dijual, nah kalau kita jual ke sembarang orang, rawan kejahatan tuh Mbak. Ya, bukannya suudzon ya, Mbak. Tapi bisa saja akun kita disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak baik, ya seperti ngerampok konsumen salah satunya,” jawab si abang ojek.


“Kalau misalnya tukang ojeknya dibegal sama orang lain, itu gimana, Mas?”


“Wah, kalau itu ceritanya lain lagi, Mbak. Tapi, saya kurang tahu juga sih, Mbak. Soalnya saya nggak pernah ngalamin. Amit-amit, deh … jangan sampai, Mbak. Ngomong-ngomong, Mbak mau ngapain ke kantor polisi? Mbak dirampok sama tukang ojek online?” terka si abang ojek.


“Bukan, saya hendak melaporkan hilangnya kakak saya. Sehari yang lalu, kakak memesan ojek online, tapi ternyata dia malah dibawa kabur sama tukang ojek palsu."


Si abang ojek mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2