My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Perdebatan Kecil


__ADS_3

"Zein, Kakak titip Maira sebentar, ya!" ucapku kepada Zein. Sejurus kemudian, aku mendekati Maira. "Maira Sayang ... Bunda mau bicara dulu sama Enin dan Ateu Rayya. Maira nggak pa-pa, 'kan tunggu di sini sama Om Zein," pintaku pada gadis kecil itu.


"Oke, Buna," jawab Maira seraya berlari menghampiri Zein.


"Anak pintar," sambut Zein seraya memangku Maira. "Yuk, main HP sama Om di sofa itu," ajak Zein kepada Maira, sambil menunjuk sofa di sudut ruangan.


"Oke, Om." Sekali lagi Maira menjawab dengan tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi kecilnya yang putih bersih. Ah, benar-benar malaikat kecil yang menggemaskan.


"Ayo Ma, Ray, kita ke masjid dulu untuk shalat magrib. Setelah itu, kita ke kantin. Biar Kakak jelaskan semuanya di sana." Aku mengajak mama dan Rayya untuk shalat magrib dan ke kantin setelahnya.


Tak ingin menyimpan rasa penasaran lebih lama lagi, mama dan Rayya mengikuti aku keluar dari kamar rawat Fatwa. Aku ajak mereka untuk melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu. Beberapa menit berlalu, setelah melaksanakan shalat magrib, kami akhirnya kami pergi ke kantin untuk berbincang-bincang sekalian makan malam.


"Jadi, apa yang ingin Kakak jelaskan tentang anak itu? Kenapa dia berada sama Kakak saat ini? Ke mana pengasuhnya?" tanya mama yang dibarengi anggukan Rayya.


"Nah, itu yang ingin Rayya tanyakan sama Kakak," timpal Rayya.


Aku menghela napas sejenak. "Sebelumnya, Kakak minta maaf jika Kakak sudah mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan kalian. Jadi, mulai hari ini, Kakak telah mengangkat Maira sebagai putri kandung Kakak," ucapku tak ingin berbasa-basi.


"Apa?! pekik tertahan mama dan Rayya. Sejenak, mama mengedarkan pandangannya untuk melihat reaksi orang-orang terhadap dirinya. Namun, para penghuni kantin seperti tidak terganggu dengan pekikan mama yang cukup keras. Terbukti jika mereka terlihat masa bodoh tanpa sedikit melirik pun ke meja kami.


Mama pun bernapas lega seraya mengusap dadanya. "Syukurlah," ucap mama.


"Mama kenapa?" tanya Rayya yang merasa heran dengan tingkah laku mama.


"Nggak pa-pa, Dek. Tadi, Mama cuma takut kalau kita jadi pusat perhatian orang saja," jawab mama.

__ADS_1


"Ish, Mama ini," tukas Rayya sambil menepuk punggung tangan mama.


Aku tersenyum tipis. Tingkah itulah yang selalu aku rindukan selama aku disekap. Aku pikir, aku tidak akan pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini lagi. Namun, syukurlah Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk kembali kepada mereka.


"Lah, kamu kok malah senyum-senyum sih, Kak. Kenapa kamu mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepada kami?" tanya mama ketus.


"Apa Mama keberatan?" todongku langsung.


"Aish, bukan seperti itu Kak. Begini, Nak. Mengangkat anak perempuan itu, bukan perkara yang mudah. Akan a–"


"Maksud Mama?" tanyaku memotong pembicaraan beliau.


Kali ini, aku yang giliran mendapatkan teguran Rayya lewat tepukan tangannya. "Ish, Kakak ... dengerin Mama ngomong dulu dong! Maen selak aja," tegur Rayya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya ... maaf, Ma," jawabku, sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Jadi sebenarnya, maksud Mama tuh apa?" Aku kembali bertanya setelah mama mengakhiri ceramahnya.


"Maksud Mama. Harus ada banyak pertimbangan jika kita mengangkat seorang anak perempuan. Pertama, kita harus tahu seluk beluk si anak. Siapa saja saudara-saudara laki-laki dari pihak ayah. Karena, bagaimanapun juga, kelak Maira akan menikah, dan tentunya dia membutuhkan paman, om, kakek, uwa laki-laki untuk menjadi wali," papar mama.


"Tapi, bang Rizal itu tidak memiliki siapa pun, Ma. Sejak kecil dia hidup sebatang kara. Dia sendiri dibesarkan di panti asuhan," sanggahku.


Mama menghela napasnya. "Baiklah, kita lupakan dulu hal itu. Toh Maira masih kecil. Namun, ada yang lebih utama dari sekadar wali nikah," ucap mama.


"Apa itu, Ma?" tanya aku dan Rayya berbarengan.

__ADS_1


"Kelak, jika Kakak sudah bersuami, dia harus bisa menjaga pandangannya atas diri Maira," tutur mama.


"Maksud Mama?" Kembali aku dan Rayya bertanya karena tidak bisa mencerna ucapan mama.


"Maira itu bukan mahram suami kamu. Jadi haram hukumnya dilihat kecuali wajah dan telapak tangannya. Apa kelak, kamu ingin memakaikan cadar pada Maira agar suami kamu terhindar dari dosa?" tanya mama ketus.


"Ish, Mama ini," tukas aku.


Jujur, aku memang tidak pernah mengerti tentang hukum mengangkat anak secara agama. Aku hanya mengedepankan rasa empatiku saja terhadap anak itu. Aku tidak bisa membayangkan nasib Maira jika harus hidup di panti asuhan.


Bang rizal pernah bercerita bagaimana kerasnya berjuang sendiri di panti asuhan. Aku tidak ingin Maira merasakan apa yang pernah dirasakan oleh ayahnya. Terlebih lagi, Maira anak perempuan. Jangan sampai dia salah jalan karena merasa terbuang.


"Akan Kakak pikirkan kelak jika Kakak memang mendapatkan jodoh, Ma. Bukankah, selama ini Mama sendiri tahu jika hilal jodoh Kakak belum terlihat. Jadi, tolong hargai keputusan Kakak. Jujur, Kakak tidak mungkin berdiam diri saja ketika melihat kedzoliman terjadi di depan mata Kakak sendiri. Maira itu sudah seperti bola bekel yang dilempar ke sana kemari oleh orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. Ibu kandungnya saja membenci dia. Bahkan kakek neneknya tidak mau merawat dia. Satu-satunya orang yang mencintai Maira, sudah pergi meninggalkannya. Jadi, Kakak tidak bisa hanya berpangku tangan melihat Maira harus hidup sebatang kara. Tolong, posisikan jika Mama melihat Kakak seperti itu. Bagaimana jika putri Mama mengalami nasib seperti Maira? Apa Mama akan tega dan menutup mata?" tutur aku kepada mana.


Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasakan saat memutuskan untuk mengangkat Maira. Dan semoga saja, Mama tidak tersinggung dengan apa yang menjadi keputusanku.


Kulihat mama menarik napasnya dalam-dalam. Sejurus kemudian, dia mengembuskan napas dengan perlahan.


"Ya, Kakak benar. Kita pikirkan saja nanti," pungkas mama mengakhiri perdebatan kecil di antara kami.


"Ish, kalian ini! Ah, Rayya bener-bener nggak ngerti dengan pola pikir kalian!" gerutu Rayya.


Sepertinya Rayya masih kesal dengan keputusan yang aku ambil. Karena itu, dia langsung beranjak dari kursinya saat mendengar mama mendukung keputusan aku.


"Sudah, tidak usah hiraukan perkataan adik kamu. Dia masih terlalu kecil, jadi tidak begitu paham dengan perasaan wanita dewasa. Sebaiknya kita kembali ke kamar. Maira pasti cemas nungguin kamu," ajak mama.

__ADS_1


Aku mengangguk. Setelah membayar makanannya dan membelikan nasi goreng untuk makan malam Maira dan Zein, kami pun berjalan beriringan untuk kembali ke kamar rawat Fatwa.


Bersambung


__ADS_2