
Sekitar pukul 16.00, aku tiba di rumah. Sore itu, rumah terlihat sepi. Aku sendiri tidak tahu ke mana perginya orang rumah. Tiba di kamar, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit berlalu. Aku merebahkan diri di atas ranjang. Seketika, perkataan Citra terngiang di telingaku. Haruskah aku menyegerakan pernikahan kami? batinku. Tapi, bagaimana jika mas Yudhis bukan orang yang tepat untukku?
Terbayang kembali ucapan dosen gila itu, yang begitu yakin mengatakan jika mas Yudhis bukan orang baik-baik. Lalu, haruskah aku menikah dengan pria yang seperti itu? Tapi, kata hatiku berbisik lain. Tidak mungkin mas Yudhis tega mengkhianati aku.
Karena merasa lelah, aku mulai mengantuk dan terlelap.
.
.
Sayup-sayup aku mendengar suara ketukan di pintu kamar. Aku membuka mata dan segera terbangun. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar.
"Astaghfirullah! Sudah gelap," gumanku.
Tok-tok-tok!
"Kakak, buka pintunya! Makan malam sudah siap!" teriak Rayya dari luar.
"Makan malam? Ya Tuhan...!" Aku segera bangkit dan setengah berlari menuju pintu.
Trek!
Aku membuka kunci pintu. Sejurus kemudian, Rayya memasuki kamar dengan wajah yang ditekuk.
"Kakak ke mana saja, sih? Ray udah gedor-gedor pintu dari tadi. Tuh, ampe merah tangan Ray!" dengus Rayya sambil menunjukkan telapak tangan kanannya yang memang terlihat merah.
Aku hanya tersenyum mesem. "Sori Ray, Kakak ketiduran," jawabku.
"Ya sudah, tuh ditungguin mama buat makan malam," ucap Rayya.
"Oke! Tapi, kamu duluan aja, ya! Kakak mo shalat dulu," ucapku seraya mendorong punggung Rayya untuk keluar.
"Shalat? Shalat apaan?" Rayya bertanya dengan ekspresi heran.
"Shalat magrib," jawabku terus mendorong Rayya untuk segera keluar.
"Ish, kualat lo, Kak! Ini dah hampir isya, astaghfirullah!" pekik Rayya dari balik pintu kamar yang sudah aku tutup.
"Yeeay, namanya juga ketiduran," kilahku.
Setelah Rayya keluar, aku pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan segera menunaikan shalat magrib yang waktunya sudah hampir habis.
Selesai shalat, aku keluar dan menuruni tangga untuk bergabung bersama mama dan adikku.
"Rayya bilang, kamu baru shalat magrib, Kak?" tegur mama begitu aku tiba di meja makan.
__ADS_1
"Iya, Ma. Maaf," ucapku seraya menarik kursi dan duduk.
"Makanya, Kak. Jangan dibiasakan tidur sore. Gitu jadinya, kebablasan," kata mama.
"Iya, Ma. Maaf...!" Sekali lagi, aku minta maaf.
"Ya sudah, ayo kita makan!" ajak Mama. "Eh, Kak ... nanti, selesai makan, Mama mau bicara sama kamu," lanjutnya.
"Baik, Ma," jawabku.
Kami pun makan bersama, diselingi cerita Rayya tentang ujiannya di kampus.
"Kakak, kapan ujian?" Mama bertanya.
"Dua minggu lagi, Ma," jawabku.
"Belajar yang bener, Kak. Biar nilainya nggak jeblok terus," ledek Rayya.
Aku menggulung tisu makan dan melemparkannya kepada Rayya. "Enak aja, Kakak udah belajar. Dasar dosennya aja yang sableng!" keluhku.
"Sesekali, kamu temui dia Kak, coba tanya apa alasannya dosen kamu memberikan nilai seperti itu? Kok, Mama lihat, sampai tiga mata kuliah loh, nilai kamu kek kapal pecah gitu," saran mama.
"Tau nih, Ma ... Kakak juga nggak ngerti," jawabku.
Ya, di antara kami bertiga, memang tidak pernah ada rahasia. Mama bukan hanya sekedar ibu bagi aku dan Rayya. Tapi, beliau juga sahabat kami. Beliau selalu bisa memberikan kami solusi di saat kami memiliki masalah yang tidak mampu kami selesaikan sendiri.
"Dosennya punya dendam kesumat kali sama Kakak," celetuk Rayya.
"Memangnya siapa sih dosennya, Kak? Kok
Mama jadi kepo, ya?" tanya mama
"Itu, dosen kesayangan Mama," celetukku tanpa sadar.
"Siapa?" Mama terlihat semakin penasaran.
"Si Fatwa, dosen sengklek itu!" jawabku. Entahlah, aku selalu merasa kesal jika teringat kembali dosen gila yang mempersulit nilaiku.
"Apa?!" Mama terkejut.
"Hahaha," sedangkan Rayya tertawa, "sepertinya ... Rayya tahu alasan kenapa bang Fatwa ngasih nilai jelek sama Kakak," ucap Rayya.
"Apa?" tanya aku dan mama berbarengan.
"Mungkin dia naksir sama kakak, tuh. Hahaha,...." Kembali Rayya tergelak.
"Hmm, bisa jadi, sih," timpal mama seraya mengusap-usap dagunya.
__ADS_1
"Ish, kalian apaan sih," rengutku, kesal.
.
.
Setelah makan malam selesai, aku menghampiri mama di kamarnya.
"Duduk, Kak!" perintah mama sesaat setelah menyuruhku masuk.
"Memangnya, apa yang mau Mama bicarakan?" tanyaku, sedikit penasaran.
"Ini tentang hubungan kamu dengan nak Yudhis, Kak," jawab mama.
Deg!
Aku sungguh terkejut mendengar perkataan mama. Perasaan seorang ibu memanglah sangat peka. Aku memang sedang memikirkan hubunganku dengan mas Yudhis yang entahlah, mungkin terasa mulai hambar.
"Memangnya, ada apa dengan mas Yudhis, Ma?" Aku bertanya untuk mengetahui bagaimana isi hati mama.
"Entahlah, Kak. Mama ngerasa, kok hubungan kalian terlihat semakin jauh. Sudah lama nak Yudhis tidak main ke rumah. Dan, kamu juga tidak pernah mengunjungi nak Yudhis, baik di kantor ataupun di rumahnya. Jika keadaannya seperti ini terus, lama-lama, hubungan kalian tidak akan pernah ada artinya. Terlebih lagi, tadi mama lihat sekretaris nak Yudhis dengan cara berpakaian seperti itu. Jujur, mama takut jika apa yang menimpa Mayang, itu juga akan kamu alami. Jadi, sebelum semuanya terlanjur kejadian. Saran Mama, pastikan dulu hubungan kalian, Kak. Jika ada yang harus dibenahi, maka benahi dulu. Jika ada yang harus diperjuangkan, perjuangkanlah secara bersama-sama. Tapi, jika sudah tidak ada yang bisa dipertahankan, akhiri sebelum semuanya terlanjur jauh melangkah!" saran mama.
Sejenak, aku diam memikirkan perkataan mama. Aku belum bisa mengambil keputusan mengakhiri, karena aku tidak tahu kebenaran tentang hubungan mas Yudhis dengan sekretarisnya.
"Ma, bolehkah Kakak mempercepat tanggal pernikahan Kakak dengan mas Yudhis?" tanyaku, tiba-tiba.
Mama terlihat terkejut sekali mendengar keputusan mendadakku.
"Tapi kenapa, Kak? Ada apa? Bukankah selama ini kalian berkomitmen jika pernikahan akan diselenggarakan setelah kamu lulus kuliah nanti?" Mama memberondong aku dengan berbagai pertanyaan. Sepertinya, dia mulai mencium gelagat yang kurang baik dari hubungan aku dan mas Yudhis.
"Tidak apa-apa, Ma. Kakak hanya merasa, mungkin Kakak tidak akan lulus tepat waktu. Mama sendiri tahu, 'kan, kalau Kakak harus meremidi tiga mata kuliah yang ancur itu? Belum lagi ulah si dosen gila yang sepertinya enggan meluluskan Kakak di mata kuliahnya dia. Kakak takut, jika panjangnya perjalanan kuliah Kakak, justru akan memberikan efek yang buruk terhadap hubungan Kakak dengan mas Yudhis. Masalahnya, dulu mas Yudhis sempat meminta agar pernikahan kami dipercepat." Aku mencoba memberikan alasan yang cukup masuk akal.
"Bagi Mama pribadi, keputusan ada di tangan kamu, Kak. Tapi, sebaiknya kamu bicarakan lagi rencana ini dengan nak Yudhis. Dan, untuk urusan nilai kamu, coba kamu temui nak Fatwa. Bicara baik-baik dengannya. Mama yakin, nak Fatwa bukan orang yang akan mempersulit keadaan orang lain," ucap mama.
"Huh, Mama tidak tahu sih, bagaimana sablengnya tuh dosen sama mahasiswa," gerutuku kesal. Entah kenapa, mama selalu membela dosen gila itu.
"Ya sudah, nanti Mama coba bantu untuk bicara sama nak Fatwa," ucap mama.
"Eh, nggak usah, Ma. Biar Kakak saja yang bicara sama dia. Semoga saja, saat Kakak berbicara, dia sedang memiliki hati malaikat," ucapku.
"Maksud kamu?" tanya mama mengerutkan keningnya.
"Hehehe, enggak, Ma ... nggak pa-pa," jawabku, terkekeh.
"Ya sudah, cepet tidur sana! Entar kesiangan lagi," ledek mama.
Aku hanya mengerucutkan bibir menanggapi gurauan mama.
__ADS_1
Ah, my mom my best friend...
Bersambung