
Aku hanya menggedikkan kedua bahuku menanggapi pertanyaan Zein. Entah kenapa, kabar kepindahan Fatwa membuat aku tidak bersemangat menjalani akhir-akhir masa kuliahku. Kami tiba di kelas bertepatan dengan bunyi bel masuk mata kuliah terakhir berbunyi. Aku dan Zein segera duduk. Setelah kehamilan Citra, entah kenapa tiba-tiba saja Citra hanya ingin duduk sendiri di bangkunya. Aku mengalah, dan pada akhirnya memilih duduk bersama dengan Zein.
Dosen terakhir telah masuk dan memulai pembelajaran. Sungguh, di mata kuliah jam terakhir ini, aku benar-benar tidak bisa memfokuskan diri dalam menerima materi. Ucapan dosen di depan, seolah masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Beruntungnya, di satu jam terakhir, tiba-tiba dosenku menerima panggilan telepon. Tak lama kemudian, dia segera pamit pulang dan kelas pun dibubarkan.
Tak ingin menunggu Citra, aku segera berjalan menuju halte bus. Mungkin memang benar jika hari ini adalah hari keberuntungan aku. Tanpa harus bersusah payah menunggu, tiba-tiba saja bus melintas di hadapanku, begitu aku tiba di halte. Aku segera naik ke dalam bus. Keinginanku hanya satu, segera menumpahkan isi hatiku di atas ranjang.
Tanpa terasa, bus yang aku tumpangi tiba di depan gerbang masuk perumahanku. Setelah membayar ongkosnya, aku pun turun. Jarak dari gerbang masuk perumahan ke rumahku memang cukup dekat. Hanya terhalang sekitar empat atau lima rumah saja. Aku pun berjalan kaki menuju rumah. Jalan kaki selalu memberikan aku kenyamanan tersendiri di kala hati terasa gundah.
“Sudah pulang, Kak?” tanya Mama begitu dia melihat aku memasuki rumah.
“Iya, Ma,” jawabku masih tidak bersemangat.
“Cepat ganti baju dan makanlah!” perintah mama.
“Kakak sudah makan, Kak. Nanti saja, Kakak mau istirahat dulu,” jawabku kepada Mama.
“Memangnya kamu sudah makan?” tanya Mama.
Aku menganggukan kepala menanggapi pertanyaan mama.
“Ya, sudah istirahatlah!” titah Mama.
Aku kembali menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar. Sebenarnya, alasanku bukan hanya sekedar beristirahat. Aku ingin segera sampai di kamar hanya untuk membaca surat Fatwa yang tadi aku terima dari dosen baru itu.
Tiba di kamar, aku segera menyimpan tas di atas meja. Setelah itu, aku mulai menaiki ranjang dan duduk di sana. Aku rogoh surat Fatwa dari saku jaketku dan mulai membukanya.
Dear Octora Resttyani.
__ADS_1
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak tinggal di kota ini lagi. Sebelumnya aku minta maaf, karena pergi tanpa pamit. Baik itu pada kamu ataupun pada ibumu dan juga Rayya, adikmu. Sungguh aku tidak bermaksud menyepelekan kalian. Aku hanya tidak ingin ada air mata mengiringi kepergianku.
Aku tidak ingin mengecewakan kamu, Res. Tapi aku harus menepati janjiku kepada bang Yudhis. Aku harus mengatakan semua ini agar tidak ada kesalahpahaman lagi seperti di masa lalu. Kamu harus tahu jika bang Yudhis memberikan aku satu kesempatan untuk memiliki kamu. Tapi, jika jawaban kamu adalah tidak, maka aku harus mundur dari kehidupan kamu. Itu tambahan kesepakatan yang kami buat.
Aku tahu, kebahagiaan Citra adalah kebahagiaan kamu. Sedangkan kebahagiaan kamu, adalah kebahagiaanku. Karena itu, untuk memenuhi janji aku kepadamu, aku menerima tantangan bang Yudhis. Aku berani mengambil risiko karena aku memiliki harapan jika kamu memiliki rasa untukku. Tapi, ternyata aku salah. Kamu sendiri telah menutup rapat pintu hatimu. Lalu, bagaimana aku bisa membukanya, sedangkan kunci keyakinan yang aku pegang pun telah patah. Pada akhirnya, aku kalah.
Sebagai seorang pria sejati, aku harus memenuhi janjiku kepada bang Yudhis. Jujur, aku pergi bukan karena ingin menghindari kamu. Namun, aku pergi karena menepati janji. Aku hanya punya satu keyakinan dalam hidupku. Jika memang kita berjodoh, maka Tuhan pasti akan mempertemukan kita. Jaga diri baik-baik, karena saat ini aku sudah tidak bisa lagi menjagamu.
Salam hangat dari dosen killermu
Aku tersenyum membaca akhir kalimatnya. Jadi, selama ini dia tahu jika aku menjulukinya sebagai dosen killer. Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Aku telah begitu banyak menyakiti perasaannya. Ternyata aku sudah sangat egois. Aku mempertaruhkan kebahagiaan Fatwa demi kesepakatan konyol yang aku buat. Hmm, Fatwa memang benar, mas Yudhis benar-benar sangat licik.
Air mata mulai turun saat aku membaca surat itu berulang kali. Karena terlalu lelah, aku pun mulai terlelap.
.
.
Saat aku sedang duduk termenung di sebuah bangku taman sekolah. Tiba-tiba Mas Yudhis menghampiriku.
“Apa kabar, Chi?” sapa Mas Yudhis yang seketika membuat aku terkejut.
“Kau?! Untuk apa kau kemari?” tanyaku segera berdiri dan berhadapan dengannya.
“Wuiss, santai dong, Chi! Aku tidak akan mencelakai kamu lagi,” kata Mas Yudhis.
Aku hanya bisa diam menanggapi perkataan Mas Yudhis.
__ADS_1
“Bagaimana rasaya terpisah dari orang yang kamu cintai? Apa kamu merindukannya?” Laki-laki itu bertanya penuh teka-teki.
Aku masih diam, tak ingin terlalu memusingkan teka-teki yang diberikan Mas Yudhis.
“Hahaha, dasar pria bodoh, bisa-bisanya dia menawarkan sebuah kesepakatan gila seperti itu. Sudah tahu akan kalah, masih saja memaksakan diri. Apa itu yang namanya cinta sejati, Chi? Rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Cih, benar-benar bodoh!” ledek Mas Yudhis.
Aku hanya menarik napas panjang. “Jika kamu datang hanya untuk menghina hubungan aku dan Fatwa, maka usaha kamu itu hanya akan sia-sia. Mungkin memang tidak ada hubungan apa pun di antara kami. Tapi asal kamu tahu, hatiku telah terikat untuknya. Aku yakin, jika kami memamng berjodoh, maka kami akan dipertemukan kembali,” jawabku panjang lebar.
Mas yudhis kembali tergelak mendengar perkataanku. Dia sepertinya sangat menikmati perpisahaan aku dengan Fatwa.
“Katakan! Apa maksud kamu menemui aku?” Aku kembali bertanya tentang maksud dan tujuan dia menemui aku di tempat kerja.
“Aku hanya mau bilang, jika dalam seminggu lagi, pernikahan aku dengan sahabatmu itu akan dilaksanakan,” ucap mas yudhis.
Aku hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Mas Yudhis. “Tidak kamu beri tahu pun, aku sudah mengetahui semuanya,” jawabku sinis.
“Hahaha, rupanya gosip telah beredar begitu cepat. Tapi, apa kamu tahu yang akan terjadi setelah beberapa bulan kami menikah?” tanya Mas Yudhis kembali berteka-teki.
“Cukup, Mas. Aku nggak punya waktu banyak untuk meladeni kegilaan kamu,” ucapku seraya mengambil ancang-ancang untuk segera pergi dari taman belakang sekolah.
“Tunggu!” Mas Yudhis mencekal lenganku. “Aku datang hanya untuk memberi tahu kamu jika setelah kami bercerai, aku akan kembali mengejarmu. Jadi bersiaplah!” bisik Mas Yudhis di telingaku.
Aku terheyak mendengar ucapan Mas Yudhis. Cerai? Apa maksudnya ini?
Aku menatap Mas Yudhis.
Seolah mengerti arti tatapanku, Mas Yudhis kembali menyeringai. "Asal kamu tahu saja, Chi. Kamu meminta aku untuk menikahi Citra, baiklah, akan aku penuhi. Tapi, kamu tidak bisa memaksa aku untuk terus bertahan dengan Citra. Setelah anaknya lahir, aku akan segera menceraikan Citra dan kemabli kepadamu. Hahaha … bukankah aku cerdas, Chi?"
__ADS_1
Bersambung