
Bola mataku hampir keluar saat melihat wanita semampai berambut panjang yang baru saja menyenggolku.
"Na-ina...?" gumamku pelan.
Aku sangat terkejut melihat Naina, teman satu kampus berada di pestanya Mas Yudhis. Apa dia salah satu teman Mas Yudhis? Tapi, bagaimana mungkin Mas Yudhis memiliki teman yang usianya terpaut sangat jauh dengan dirinya. Atau, mungkin saja Naina adalah anak dari salah seorang kolega Mas Yudhis. Ah, berbagai spekulasi bermunculan dalam otakku.
"Kak Chi, kok bisa ada di sini, sih? Aduh, maaf ya ... karena kecerobohan aku, pakaian Kakak jadi kotor," cerocos Naina sambil meraih tisu dan berusaha membersihkan pakaian yang tersiram jus.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku bisa membersihkannya sendiri, kok," ucapku, mencegah tangan Naina untuk menjangkau pakaianku lebih jauh lagi.
"Maafkan aku ya, Kak!" Sekali lagi, gadis itu meminta maaf seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Iya, santai aja kali," tukasku, "kalau begitu, aku permisi ke toilet dulu, ya!" Aku berpamitan kepada Naina.
"Eh, tunggu!" teriak Naina.
Seketika aku menghentikan langkahku. "Ya, kenapa Na?" tanyaku.
"Kakak belum menjawab pertanyaan aku. Kenapa Kakak ada di pestanya Kak Yudhis?" tanya Naina lagi.
Aku diam, bingung harus menjawab apa. Jika aku bilang aku adalah calon istri Mas Yudhis, apa itu tidak akan heboh namanya? Maklumlah, Naina itu salah satu ratu gosip yang ada di kampus. Berita apa pun yang sampai kepadanya, dari mulai satu jengkal, maka akan berubah menjadi satu meter, panjang ceritanya. Dan aku tidak mau menjadi sasaran empuk dia berikutnya.
"Aku ... emm ... aku sedang menemani mama untuk menghadiri pesta temannya." Aku terpaksa berbohong dan menjual nama mamaku sendiri. Maafkan aku yang sudah berbohong, ma, batinku
"Oh, gitu, ya," jawab Naina sedikit mengerutkan keningnya.
"Lalu, kamu sendiri? Kenapa bisa berada di sini?" tanyaku mengalihkan perhatian Naina.
"Oh, kalau aku ... aku diajak pak Fatwa menghadiri pesta saudara sepupunya," jawab Naina, tersenyum lebar.
Siapa yang tidak merasa bangga diajak oleh dosen dingin sekaliber Fatwa Immamuddin. Seorang dosen tampan, baik hati dan masih single pula. Setidaknya desas-desus itu yang aku dapatkan di kampus dari rekan-rekan mahasiswi.
"Ya sudah, Na. Aku ke kamar mandi dulu, ya?" Terburu-buru aku pamit kepada Naina. Aku tidak ingin dosen gila itu mengetahui keberadaanku.
Tak-tak-tak!
Bunyi sepatu berhak di atas 3 cm menggema di sebuah lorong yang menjadi akses menuju kamar mandi. Ish, apa jalannya tidak salah, kenapa sepi sekali? gumamku dalam hati.
__ADS_1
Gema bunyi sepatuku sendiri terdengar begitu menyeramkan di lorong ini. Lalu, apa kabar aku yang memang pada dasarnya mempunyai mental penakut. Sesekali, aku melihat ke belakang. Berharap ada seseorang yang memang sedang ada keperluan di lorong ini.
Tiba di toilet wanita, aku segera membuka pintu kamar mandi dan mulai membersihkan gaunku yang terkena orange juice tadi. Ish, kenapa malah pen pipis, sih? umpatku dalam hati. Tak ingin membuang waktu lebih lama di tempat sepi seperti ini, aku mulai menuntaskan hajatku.
Trek!
Saat aku sedang membersihkan faraj, tiba-tiba aku mendengar bunyi pintu yang terkunci. Aku segera menyelesaikan ritualnya dan kembali merapikan segitiga berenda.
Tap-tap-tap!
Aku mendengar derap langkah kaki semakin lama semakin jelas.
"Apa ada orang di luar?" tanyaku sedikit berteriak. Namun, tak ada jawaban dari luar. Untuk beberapa saat, keheningan tercipta di ruang toilet tersebut.
Ah, mungkin ini hanya halusinasi aku saja. Aku terus fokus pada hal-hal positif agar tidak terlalu terpengaruh pada pemikiran-pemikiran buruk tentang dunia gaib.
Aku membuka kran air dan kembali membasuh tanganku. Setelah merasa cukup rapi, aku mulai menekan handle pintu dan membukanya.
Brak!
Pintu yang telah terbuka tiba-tiba tertutup kembali saat seseorang masuk secepat kilat.
Aku yang begitu terkejut, hanya bisa terkesima menatap pria yang sedang membekap mulutku.
Menyadari diriku sedang berada di bawah ancaman, aku mulai berteriak sekuat tenaga. Sayangnya, hanya bunyi "hummph" yang lemah yang keluar dari mulutku.
"Turuti aku! Diamlah, dan aku tidak akan pernah menyakitimu!" ucap pria itu lagi.
"Hummph...! Hummph!"
Kembali hanya itu yang bisa dia berikan padaku. Ancaman. Percuma aku melawan, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah. Aku diam, mencoba mengikuti apa yang dia inginkan.
Fatwa melepaskan tangannya. Dia menatapku tajam. Kedua tangannya mencengkeram bahuku.
"Jangan lakukan ini!" ucapnya datar.
"A-apa? Melakukan apa? Aku tidak mengerti, Pak. Dan, apa ini? Kenapa Bapak bisa masuk kemari?" tanyaku, heran.
__ADS_1
"Tidak penting kenapa aku bisa masuk. Yang terpenting saat ini, kamu jangan lakukan itu kepada saya," ucap pria berjambang tipis itu.
"Apa maksud Anda, Pak? Saya benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Anda," kataku setengah berbisik.
"Putuskan hubungan kamu dengan bang Yudhis!" katanya penuh ketegasan.
"Apa?!" Aku cukup terkejut mendengar perkataannya. "Dasar gila!" umpatku seraya mendorong tubuhnya, agar dia tidak menghalangi jalanku untuk keluar.
Brugh!
Pria itu kembali menarik tanganku dan mendorong tubuhku hingga punggungku menempel di dinding kamar mandi. Matanya menatap nyalang, terlihat memerah seperti menahan amarah.
"Aku bilang putuskan pertunangan kamu dengan bang Yudhis!" Kembali dia mengucapkan kalimat itu.
Sungguh aku tidak mengerti apa maksudnya. Setelah sekian lama tidak bertemu, kenapa dia datang dan mencampuri urusanku. Apa memang takdirnya hanya untuk menggangguku saja? Huh, menyebalkan!
"Aku tidak akan pernah memutuskan pertunanganku dengan Mas Yudhis! Memangnya siapa kamu, berani-beraninya kamu memerintah aku seenaknya. Kamu itu hanya dosenku, dan kamu tidak punya hak untuk ikut campur dalam kehidupanku. Minggir!"
Aku benar-benar kesal melihat sikapnya yang diktator. Kembali aku mendorong tubuhnya agar aku bisa segera pergi dari hadapan pria gila itu. Namun, lagi-lagi dia menarik tanganku.
Blugh!
Tarikannya yang cukup keras membuat aku terjerembab ke dalam pelukannya. Saat aku mendongak untuk melepaskan diri dari eratnya kedua tangan dia yang melingkar di tubuhku. Tiba-tiba,
"Humphh...."
Bibirnya mendarat sempurna di bibir mungilku. Serangannya begitu cepat, sehingga aku tidak bisa mengelak. Aku hanya mampu membelalakkan kedua bola mataku. Sesaat setelah aku tersadar, aku mencoba mendorong tubuhnya, tapi sia-sia.
Laki-laki itu memegang tengkukku. Bibir sensualnya begitu hangat memagut semua rasa yang ada. Dadaku mulai bergemuruh merasakan api kemarahan. Namun, bahasa tubuhku tidak mampu memvisualisasikan kemarahan yang sedang berkecamuk dalam dada. Sepertinya, hati, logika dan tindakan seolah tidak bisa sinkron. Aku hanya mampu bergeming merasakan semua kehangatan yang dia berikan.
Setelah beberapa menit, pria dingin itu melepaskan pagutannya. Sejenak, dia menatapku penuh kelembutan. Dia terus mendekati aku hingga kening kami bersentuhan. "It's your first kiss?" tanya pria dingin itu, tersenyum penuh pesona.
Aku mengangguk.
"Dan kau berhasil merebut ciuman pertamaku."
Bersambung
__ADS_1
Siap" ya gengs...
konflik dimulai... ☺☺