My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Menepis Curiga


__ADS_3

Pria itu terlihat membalikkan badannya. Dia sangat terkejut melihat keberadaan aku di depannya.


"Chi!" gumam pria itu dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya. "Nga-ngapain kamu di sini?" Pria yang tak lain adalah Mas Yudhis, malah balik bertanya kepadaku.


Aku mengerutkan kening. "Ya Chi lagi belanja tas di sini, kebetulan tas Chi sudah rusak. Tuh!" jawabku sambil menunjukkan tas yang kulitnya sudah mulai pudar. "Lah Mas sendiri, lagi ngapain di sini?" Aku kembali bertanya.


"Sa-sama, Mas juga lagi pilih-pilih tas. Emm, anu ... tas kantor Mas sudah mulai nggak nyaman di pakai, Chi," jawab Mas Yudhis.


Aku semakin mengernyitkan kening mendengar jawaban Mas Yudhis. Kok, Mas Yudhis nyari tas di sini, ya? Bukannya toko ini khusus untuk menjual tas-tas wanita? batinku.


"Yakin mo beli tas kantor, Mas?" Aku bertanya untuk memastikan.


"Iya-lah Chi. Memangnya kamu pikir mo beli apa di toko tas, piyama?" gurau Mas Yudhis masih dalam mode salah tingkah.


"Bukan begitu, Mas. Ya, Chi aneh aja gitu, kalo emang Mas Yudhis nyari tas kerja di tempat ini. Bukannya, ini toko yang khusus menjual tas wanita, ya? Jadi, nggak bakalan mungkin Mas nemuin apa yang Mas cari di sini," ucapku dengan polosnya.


"Oh, eh ... be-begitu, ya?" Mas Yudhis terlihat semakin gelagapan. Dia mulai menggaruk kepalanya karena mungkin merasa kebingungan juga.


"Ih, Mas kenapa sih? Kok, kek orang nervous gitu?" tanyaku yang mulai kesal melihat tingkah Mas Yudhis.


"Eh, eng-enggak, Chi. Mas nggak pa-pa. Mas cu–"


"Mas, eh ma-maksud saya, Pak!"


Tiba-tiba kalimat Mas Yudhis terpotong oleh panggilan seorang wanita yang mengenakan pakaian serba ketat. Seketika aku menatap heran dengan kedatangan wanita itu.


"Siapa dia, Mas?" tanyaku menatap tajam wanita itu.


"Eh, di-dia..."


Belum sempat Mas Yudhis mengenalkan wanita itu, si wanita sudah mengulurkan tangannya kepadaku.


"Perkenalkan, Bu! Nama saya Sandra, sekretarisnya Pak Yudhis," ucap wanita itu dengan lugasnya.


Oh, cuma sekretaris, toh! batinku.


Aku tersenyum dan menerima uluran tangan dia. "Resti, calon istrinya Mas Yudhis!" ucapku seraya menjabat tangannya.


Aku sengaja memperkenalkan diri sebagai calon istrinya Mas Yudhis, agar wanita itu tahu bagaimana posisiku. "Apa itu?" tanyaku pada sebuah tas kecil berwarna maroon yang sedang dipegang Sandra.


Sontak Sandra melirik benda yang sedang berada di tangannya. Pun dengan Mas Yudhis yang langsung memusatkan penglihatannya pada tas kecil itu.


"Oh, ini, Bu! Pak Yudhis sebenarnya mengajak saya untuk mencarikan sebuah tas kerja untuk Ibu. Pilihan saya jatuh pada tas ini, Bu. Saya rasa, tas ini cocok untuk Ibu pakai ke tempat kerja Ibu," ucap Sandra begitu lancar berbicara tanpa ada kegugupan apa pun.


Aku kembali mengernyitkan kening. Ish, apa sekretarisnya Mas Yudhis tidak tahu seperti apa pekerjaanku? batin aku yang merasa heran saat melihat tas itu tidak cocok dengan barang bawaan yang aku bawa saat bekerja.


"Loh, tadi katanya Mas lagi nyari tas kerja buat Mas, kok sekarang malah buat Chi. Ini yang bener yang mana sih?" tanyaku, heran.

__ADS_1


"Buat kamu," ucap mas Yudhis


"Buat Bapak," jawab Sandra


Mereka menjawab berbarengan sehingga membuat kepalaku menjadi pusing.


"Begini Bu, sebenarnya Bapak sedang mencari tas kerja untuk beliau. Tapi, saat melintasi toko ini, Bapak meminta saya untuk memilih satu tas yang cocok untuk Ibu. Beliau hendak memberikan suprise untuk Ibu," jawab Sandra.


"I-iya, itu bener, Sayang. Apa yang dibilang Sandra, itu bener." Mas Yudhis membenarkan ucapan sekretarisnya.


"Oh." Hanya itu kalimat yang terucap dari bibirku. Jujur, aku sendiri tidak ingin ambil pusing tentang pertemuan yang tidak terduga ini.


Sekilas, aku melihat tas yang dikenakan Sandra hampir mirip dengan tas yang sedang dia pegang. Yang membedakan, hanya warnanya saja. Karena aku merasa tas itu tidak cocok denganku, aku pun menawari Sandra untuk memilikinya.


"Hmm, Mas. Sepertinya tas itu sama sekali tidak cocok untukku. Mas sendiri tahu, 'kan, barang bawaanku sebanyak apa. Lebih baik, tas itu buat Sandra saja. Aku lihat, tas yang dimiliki Sandra hampir mirip dengan tas itu," ucapku.


Mas Yudhis dan Sandra hanya saling pandang mendengar pendapatku.


"Ta-tapi, Yang, Mas membelikan itu khusus buat kamu,loh," ucap Mas Yudhis.


"Benar, Bu," timpal Sandra.


"Nggak pa-pa, Mas. Lagian Chi nggak butuh tas seperti itu. Buat kamu aja, San!" jawabku.


"Baik, Bu. Terima kasih," jawab Sandra.


"Ya sudah, Chi mau lanjut cari tas dulu. Permisi!" Aku berpamitan kepada mereka.


"Tapi, Sandra?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula, pacar saya sebentar lagi akan tiba untuk menjemput saya. Bapak dan Ibu tidak usah khawatir," ucap Sandra dengan sangat sopan.


"Aduh, maafin Mas Yudhis ya, San," kataku merasa tak enak karena harus meninggalkan Sandra sendirian.


"Iya, tidak apa-apa, Bu. Selamat bersenang-senang!" ucap Sandra seraya melambaikan tangannya.


Kami mengangguk dan berlalu pergi dari hadapan Sandra.


"Mas, ih, kamu keterlaluan, masa ninggalin Sandra di sini sendirian," kataku sambil menepuk lengan Mas Yudhis yang sudah merangkul pundakku.


"Tidak apa-apa, bukannya tadi Sandra bilang pacarnya mau menjemputnya, ya sudah, aman, 'kan?" tukas Mas Yudhis.


"Kamu ini!" Aku hanya menarik pelan hidung mancung pria yang selama dua bulan aku rindukan.


Aku mulai berkeliling mencari keberadaan Bu Fina.


"Sudah ketemu, Bu, tasnya?" tanyaku begitu melihat Bu Fina sedang membayar barang belanjaannya di kasir.

__ADS_1


"Eh, sudah Bu Red. Loh, ada Oak Yudhis juga? Waduh, tampaknya lagi menjemput nih?" gurau Bu Fina.


"Iya, Bu. Takut pulangnya kesasar," gurau Mas Yudhis.


"Hahaha, aman kok, Pak, 'kan datangnya sama saya." Bu fina menimpali guyonan Mas Yudhis.


"Oh iya Bu Fina, maaf ya, saya tidak bisa pulang bareng sama Ibu. Nggak pa-pa, 'kan?" ucapku penuh penyesalan.


"Aduh, nggak pa-pa, kok, Bu. Santai saja kali! Lagi pula, saya sedang menunggu putra sulung saya. Katanya dia juga sedang berada di mal ini," jawab Bu fina.


"Oh, begitu, Bu. Ya sudah, saya pamit dulu ya, Bu. Mari!"


Aku dan Mas Yudhis berpamitan pada Bu Fina. Kami pun kembali berkeliling untuk mencari tas yang cocok untukku. Setelah mendapatkan dan membayarnya, kami memutuskan untuk pulang.


"Mas ke mana saja, sih? Kok nggak pernah nemuin Chi lagi?" tanyaku sembari mengerucutkan bibir. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kesal karena teringat kembali janji Mas Yudhis yang tidak dia tepati.


"Maaf, Sayang. Mas mendapatkan proyek yang cukup menjanjikan. Karena itu, Mas sangat sibuk. Proyek itu benar-benar menguras waktu, pikiran dan tenaga Mas," ucap Mas Yudhis sambil mengelus punggung tanganku.


Tiba-tiba aku melihat sebuah paper bag berwarna pink yang ada di kursi belakang dari kaca spion depan. Karena penasaran, aku bertanya pada Mas Yudhis.


"Itu paper bag siapa, Mas? Apa isinya?" tanyaku menunjuk paper bag itu lewat kaca spion.


Mas Yudhis melirik kaca spion. Lagi-lagi, wajahnya terlihat gugup. "I-itu pakaian buat kamu, Sayang. Sama, tadinya Mas mo bikin suprise juga bareng tas itu. Eh, malah udah ketauan duluan," ucap Mas Yudhis.


"Apaan sih, Mas? Kenapa harus ada kejutan segala, sih?" tanyaku tersipu malu.


"Ya, nggak pa-pa, Yang. Anggap aja sebagai penebus dosa, karena Mas tak bisa menemui kamu selama dua bulan terakhir ini," jawab Mas Yudhis terlihat tulus.


"Uuh, co cweet," ucapku sambil mengelus pipi Mas Yudhis.


Mas Yudhis menangkap tanganku dan mengecupnya. "I love you," ucapnya.


"I love you too," jawabku, merasa tersanjung.


Tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan rumahku. "Mampir dulu, Mas?" tawarku pada Mas Yudhis.


"Lain kali saja ya, Yang? Badan Mas capek banget," jawab Mas Yudhis.


"Oh ya sudah. Makasih ya, tas sama bajunya," ucapku seraya mengambil paper bag di kursi belakang. Tak lama kemudian, aku segera keluar dari mobil Mas Yudhis.


Mas Yudhis kembali melajukan mobilnya sesaat setelah aku keluar dari dalam mobil.


Dengan perasaan berbunga-bunga, aku memasuki rumah. Perasaan curiga yang awal mendera saat aku melihat Mas Yudhis berada di toko tas wanita, segera aku tepis. Tidak baik berburuk sangka, toh tadi juga aku bertemu dia dengan sekretarisnya, bukan wanita lain.


"Huh, tidak boleh curiga ... tidak boleh curiga..." gumamku sepanjang menaiki tangga.


Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di kamar dan membuka kejutan dari Mas Yudhis. Tiba di kamar, aku langsung melemparkan tas kerjaku. Setelah itu, aku mengeluarkan pakaian yang dibelikan Mas Yudhis untukku. Aku membentangkannya.

__ADS_1


"Apa ini?"


Bersambung


__ADS_2