My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pertukaran


__ADS_3

Mendengar permohonan yang diucapkan oleh Sarah, aku hanya bisa bergeming. Aku masih berusaha untuk bersikap egois. Aku benar-benar merasa kesal. Kenapa aku harus dilibatkan oleh permasalahan mereka. Tapi, saat aku melihat anak kecil itu mulai menangis ketakutan, seketika pertahananku runtuh. Mungkin, aku memang bukan seorang ibu, tapi aku tak kuasa melihat isak tangis seorang anak kecil.


"Kau ingin menukar anak kamu sendiri denganku, 'kan?" tanyaku kepada Mas Yudhis. "Baiklah, aku bersedia ikut denganmu, tapi ... lepaskan anak kecil itu!" perintahku pada Mas Yudhis.


Seketika Fatwa membulatkan bola matanya. Dia langsung meraih tanganku saat aku hendak melangkah mendekati Mas Yudhis.


"Jangan gila, kamu, Res!" bentak Fatwa.


Sejenak aku menatapnya. Setengah berbisik, aku berkata. "Sori, Resti nggak punya pilihan lain."


"Tolong jangan gegabah, Res. Aku tidak bisa mempertaruhkan kehidupan kamu," bisik Fatwa.


"Dan aku tidak bisa mempertaruhkan kehidupan anak kecil itu," jawabku seraya menatap anak tak berdosa yang terus berteriak-teriak dalam dekapan tangan kekar Mas Yudhis.


Fatwa menghela napasnya. "Kita bisa pikirkan cara lain, Res. Aku tidak mau kamu celaka," ucap Fatwa terlihat memelas.


Aku memegang tangan Fatwa, tersenyum padanya, dan berusaha untuk memberikan dia ketenangan. "Jangan khawatir, Res bukan orang yang lemah seperti saat SMA dulu. Res sudah mengantongi sabuk hitam sekarang," ucapku bangga. Tapi tetap saja, perkataanku tak merubah kecemasan yang tampak di raut wajah dosen gila itu.


"Tapi, Res...."


Fatwa masih berusaha menahanku, hingga akhirnya, teriakan Mas Yudhis mengagetkan kami.


"Hei! Apa kalian sudah berdiskusinya? Jangan sampai aku kehilangan kesabaran dan melenyapkan nyawa anak ini!" teriak Mas Yudhis.


Sontak aku menoleh padanya. Kupikir, hanya si dosen saja yang otaknya sudah gesrek, tapi ternyata ... otak Mas Yudhis lebih parah sedengnya daripada dosen gila itu.


Aku kembali menatap Fatwa. "Sudahlah, Fat. Kita tidak punya waktu lagi. Nanti saja kamu pikirkan bagaimana cara menyelamatkan Resti dari orang gila itu, oke!" kataku. Sepersekian detik kemudian, aku melangkahkan kaki mendekati Mas Yudhis untuk melakukan pertukaran tempat dengan anak itu.


Sekilas aku lihat, Fatwa hanya bisa menjambak rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


Mas Yudhis mendorong tubuh anak itu dengan kasar saat aku tiba di hadapannya. Sejurus kemudian, dia menarik tanganku dan menyeret aku keluar dari ruangan ini. Aku begitu terkejut saat di sepanjang koridor, aku mendapati orang-orang yang mengenakan pakaian hitam dan berkacamata hitam pula. Mereka mengikuti Mas Yudhis dengan patuhnya. Hmm, mungkin mereka memang anak buah Mas Yudhis, atau bisa jadi para bodyguard-nya. Pantas saja tidak ada yang berani melawan. Ternyata, yayasan ini sudah dikepung oleh manusia-manusia serba hitam itu.


Dalam hati aku tersenyum, urusan cinta kok kek urusan mafia saja, gerutuku kesal.


Mas Yudhis terus menyeretku. "Masuk!" perintah Mas Yudhis begitu kami tiba di depan mobil sport putih miliknya.


Bosan melawan, akhirnya aku memasuki mobil itu di kursi belakang. Sedetik kemudian, Mas Yudhis mengikuti aku dan duduk di sebelahku. Huh, sejak kapan dia memiliki sopir?


"Jalan, Pak!" Mas Yudhis memberikan perintah kepada sopirnya.


"Baik, Tuan!" jawab sopir itu seraya melajukan mobilnya.


Mas Yudhis menatapku penuh kemenangan. Entah apa yang tersimpan di otaknya. Yang aku tahu, bulu kudukku seakan berdiri melihat seringai di bibirnya. Ya Tuhan, aku seolah tak mengenal Mas Yudhis yang saat ini sedang duduk di sampingku.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku, Mas?" tanyaku dingin.


Aku tersenyum sinis. Setelah semua yang aku dengar tentang Mas Yudhis dan masa lalunya, entah kenapa aku merasa geli saat dia menyebutkan kata cinta. Bullshitt!


"Apa yang kamu tahu tentang cinta, Mas? Kenikmatan dan perselingkuhan?" sindirku pada Mas Yudhis.


"Jangan pernah memancing amarahku, Chi. Atau kamu akan merasakan akibat yang tidak akan kamu duga sebelumnya," ancam Mas Yudhis.


Aku hanya mampu bergeming mendengar ancaman Mas Yudhis. Hmm, sepertinya dia sudah sangat berubah. Atau... wujud aslinya memang seperti ini.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir Mas Yudhis memasuki kawasan yang sama sekali tidak aku kenal. Mobil terus melaju menyusuri jalanan sepi dan berbatu. Entahlah, aku sendiri tidak mengenali tempat itu.


30 menit melewati jalanan terjal, mobil berhenti di sebuah villa yang begitu megah. Mas Yudhis kembali mencekal pergelangan tangan dan menarikku untuk keluar dari mobilnya. Aku hanya bisa pasrah. Melawan seorang diri di tempat sunyi seperti ini dengan puluhan orang yang mengelilingi Mas Yudhis, sepertinya itu bukan ide yang baik.


Mas Yudhis kembali menyeretku untuk memasuki villa mewah itu. Sejurus kemudian, dia membawaku menaiki tangga.

__ADS_1


Tiba di lantai atas, mas Yudhis membuka salah satu pintu kamar yang berada di sana. "Masuk!" perintahnya padaku.


Awalnya aku hanya diam, karena enggan memasuki kamar yang cukup besar itu. Tapi, Mas Yudhis mendorongku dengan keras hingga aku terjerembab ke atas ranjang. Sial! Aku mendengus kesal melihat sikapnya yang kasar.


Brakk!


Trek!


Mas Yudhis menutup pintu kamar dengan kasar dan menguncinya.


"Jaga dia! Jangan sampai dia kabur!"


Aku mendengar Mas Yudhis memberikan perintah kepada seseorang. Setelah itu, suasana di luar terdengar sepi.


Aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Sial, batereinya tinggal sedikit lagi, batinku.


Aku mencoba mencari titik di mana aku di sekap. Setelah ketemu, aku pun mengirimkan lokasi itu kepada Fatwa.


Blep!


Tiba-tiba ponsel mati karena kehabisan daya. Aku hanya bisa pasrah dan berharap pesan itu telah terkirim. Aku beranjak dari atas ranjang. Berjalan menuju jendela kamar yang tertutup tirai. Sesaat, aku singkap tirai jendela itu.


Aku menatap ke luar jendela. Sejauh mata memandang, hanya jajaran pohon pinus yang berdiri kokoh beberapa meter dari depan jendela. Aku semakin merasa kesal atas sikap Mas Yudhis. Sialan! umpatku dalam hati.


Aku mencoba mengelilingi kamar yang cukup besar itu. Berharap ada sedikit celah yang bisa aku gunakan untuk keluar. Tapi, nihil. Kalau pun ada, mana berani aku melompat dari lantai dua. Sekejap, terlintas di benakku untuk membuat keributan dengan cara menggedor pintu. Tapi, saat aku coba kembali memikirkan dengan kepala dingin. Hmm, percuma ... semuanya hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja. Ya, sudah ... nikmati saja Res, selama Mas Yudhis tidak berbuat macam-macam. Toh ini bukan pertama kalinya kamu disekap, batinku menghibur diri.


Aku kembali berjalan menuju kasur. Sejenak, aku merebahkan diri diatas kasur. Sungguh pertukaran yang harus aku bayar mahal dengan kebebasanku. Tapi setidaknya, anak itu tidak akan mengalami trauma karena keegoisan seorang Yudhistira.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2