
Fatwa duduk bergeming di depan meja belajarnya. Apa yang baru saja disampaikan oleh kedua orang tuanya, sungguh membuat Fatwa seakan tersambar petir di siang bolong. Dia benar-benar tidak menyangka jika ada harga besar yang harus dia bayar atas peristiwa kecelakaan yang menimpa dirinya dan sang kekasih.
Ish, bagaimana mungkin aku bertunangan dengan Anneu. Umur kami belum cukup untuk menjalin sebuah hubungan yang cukup serius. Kami masih sekolah, ditambah lagi ... aku sama sekali tidak memiliki perasaan lebih terhadap Anneu, batin Fatwa. Sejenak dia menyugar rambutnya dengan kasar.
"Aargh! Kenapa semuanya malah seperti ini?" Fatwa mendengus kesal saat menyadari kedua orang tuanya menyetujui perjodohan tanpa bertanya dulu kepadanya.
Fatwa melirik jam beker yang terpajang di atas nakas samping ranjang. Penunjuk waktu berhenti di angka 19.05. Hmm, belum terlalu malam untuk menemui Anneu, batin Fatwa. Dia kemudian menyambar kunci motor dan segera keluar untuk pergi ke rumah Anneu.
25 menit melewati jalanan yang mulai lengang, Fatwa akhirnya tiba di tempat tujuan. Fatwa sengaja memarkirkan motornya di luar gerbang, karena tujuannya ke rumah Anneu juga tidak akan memakan waktu lama.
"Bang, titip motornya, ya?" ucap Fatwa kepada beberapa orang pemuda yang sedang bermain gitar di pos kamling depan rumah Anneu.
"Siap, Dek! Nggak usah khawatir, aman kok, sama kita," jawab pemuda yang dipanggil Fatwa tadi.
"Makasih, Bang!"
Setelah mengucapkan terima kasih, Fatwa pun memasuki halaman rumah Anneu.
Ting tong!
Fatwa menekan bel pintu rumah Anneu.
"Sebentar!" Terdengar suara seorang anak perempuan dari dalam rumah.
"Fatwa?" seru gadis itu saat melihat pria idamannya berdiri di depan pintu.
"Assalamu'alaikum, Neu!" sapa Fatwa.
"Eh, wa-wa'alaikumsalam," jawab Anneu membalas salam Fatwa. "Ada apa kamu kemari?" tanya Anneu tersipu malu, karena baru kali ini Fatwa berinisiatif datang mengunjunginya di rumah.
"Aku mau bicara sama kamu, Neu," ucap Fatwa.
Hati Anneu begitu berbunga-bunga mendengarnya. Sebelumnya, selalu Anneu yang mendekati Fatwa dengan berbagai macam alasan agar bisa ngobrol dengannya.
"Oh, masuklah, Fat!" Anneu mempersilakan tamunya untuk masuk.
"Tidak usah, Neu! Di sini saja," tolak Fatwa yang lebih memilih berbicara di luar ketimbang masuk ke ruang tamu.
__ADS_1
"Ba-baiklah," jawab Anneu, gugup. Dia kemudian mempersilakan Fatwa duduk di kursi beranda rumah.
"Mau bicara apa, Fat?" tanya Anneu pelan setelah mereka mendaratkan bokongnya di kursi.
"Aku ingin kamu berbicara dengan kedua orang tuamu tentang lamaran yang mereka layangkan, Neu," ucap Fatwa langsung.
"Maksud kamu?" Anneu pura-pura berlagak pilon dan seolah tidak tahu apa-apa tentang apa yang baru saja dia dengar dari Fatwa.
"Hhh...." Fatwa menghela napasnya sejenak. Dia kemudian menatap tajam ke arah Anneu.
"Beberapa hari yang lalu, kedua orang tua kamu datang untuk menentukan tanggal pertunangan. Jujur aku terkejut, Neu. Aku tidak merasa pernah menjanjikan sebuah ikatan kepada kamu dan orang tuamu. Namun, ternyata kedua orang tuaku telah menerima perjodohan yang di tawarkan orang tuamu tanpa sepengetahuan aku," ucap Fatwa.
Sejurus kemudian dia menatap Anneu dan berkata, "Neu! Hubungan kita tidak lebih dari sekedar teman. Aku mohon, jangan paksa aku untuk menerima perjodohan ini. Bahkan pertunangan yang begitu mendesak. Kita masih sekolah, Neu. Aku masih ingin mengejar cita-citaku dulu. Aku mohon mengertilah!" lanjut Fatwa meminta pengertian dari Anneu.
"Tapi, Fat...."
"Neu, kamu percaya jodoh, 'kan? Jika memang kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh, aku yakin ... sejauh apa pun kita menghindar, kita pasti akan bertemu juga di kursi pelaminan. Hanya saja untuk saat ini, biarkan semuanya mengalir apa adanya. Tidak perlu memaksakan diri untuk saling mendekat," tutur Fatwa.
Anneu mengepalkan kedua tangannya. Selama hidupnya, dia tidak akan pernah menerima sebuah kekalahan, apalagi penolakan. Dia selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Meski dengan cara kotor sekali pun.
"Nanti Anneu bicara sama ayah, Fat. Jujur saja, Anneu sendiri tidak tahu kalau ayah melakukan semua itu di belakang Anneu. Padahal Anneu sudah bilang sama ayah, kalau kita cuman teman biasa. Tapi kamu tidak usah khawatir. Anneu akan mencoba memberikan pengertian kepada ayah. Anneu malu, Fat. Anneu minta maaf atas kelancangan kedua orang tua Anneu," ucap Anneu menundukkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Anneu ikut berdiri dan mengantarkan Fatwa sampai gerbang utama.
Sesaat setelah Fatwa berlalu, Anneu kembali ke dalam rumahnya. Dan,....
Prang!
Prang!
Pyarr!
Semua benda yang ada di ruang tamu kembali menjadi sasaran kemarahan Anneu.
.
.
__ADS_1
.
Seminggu telah berlalu. Suasana damai yang tercipta hilang seketika saat keluarga Haji Imran mendapati teror dari seseorang.
Fatwa menjalankan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tiba di rumah, dia memarkirkan motornya begitu saja hingga motor itu terjatuh. Fatwa berlari memasuki rumahnya.
"Ada apa ini, Bah?" tanya Fatwa kepada ayahnya begitu dia tiba di ruang keluarga.
"Fat, Mbak Nilam, Fat..., huhuhu.... " Bu Suci merangkul Fatwa dan menangis di dalam pelukan putranya.
"Ada apa Ama? Kenapa dengan Mbak Nilam?" tanya Fatwa kepada ibunya.
"Mbak... Mbak Nilam diculik, Fat. Hiiks... hiks.. " Bu Suci kembali terisak.
Fatwa terkejut mendengar berita yang disampaikan ibunya. "Tapi, Bagaimana bisa, Ama? Bukannya tadi pagi Mbak Nilam berangkat kuliah?" tanya Fatwa.
Bu Suci mengangguk. "Ama sendiri tidak tahu, Fat. Hanya saja, satu jam yang lalu Ama mendapatkan telepon kalau seseorang menculi kakakmu saat dia sedang menunggu angkot di tepi jalan," tutur Bu Suci.
Seketika, kedua lutut Fatwa terasa tak bertulang. Dia menatap sang ayah. "Bagaimana ini Abah? Apa kita harus melapor kepada pihak yang berwajib?" tanya Fatwa.
Haji Imran menggelengkan kepalanya lemah. "Kita belum bisa melapor sebelum 1 x 24 jam. Sedangkan kakakmu baru hilang sekitar tiga jam yang lalu," jawab Haji Imran.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Fatwa lagi.
"Kita–"
Kring...! Kring...!
Fatwa mengangkat gagang telepon. "Hallo!"
"Fatwa... tolong Mbak, Fat... ! Tolong Mbak... Aargh! Menjauh...! Menjauh..! Jangan dekati saya! Tolong! Jangan sentuh saya!" teriak seorang wanita di ujung telepon.
"Hallo! Mbak Nilam! Hallo! Mbak jawab Fatwa, Mbak!" teriak Fatwa, kalut.
"Dengar! Kalau kamu masih ingin melihat kakakmu selamat. Jauhi Resti! Permalukan dia hingga dia tidak akan pernah punya muka lagi untuk berhadapan dengan siapa pun. Kalau tidak! Aku jamin kakakmu akan kembali dalam keadaan tidak suci lagi. Camkan itu!"
"Kamu? Siapa kamu?"
__ADS_1
Tut.. Tut.. Tut...
Bersambung