My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Akhir yang Bahagia


__ADS_3

Sesaat setelah ungkapan perasaan kami masing-masing, Fatwa mengajak aku masuk ke dalam rumah.


"Udaranya sudah semakin dingin, Res. Sebaiknya kita masuk," ucap Fatwa.


Aku mengangguk. Fatwa kembali menggenggam tanganku hingga akhirnya kami berpisah untuk menuju kamar masing-masing.


"Istirahatlah!" perintah Fatwa.


"Tunggu Fat, boleh Res tanya sesuatu?" tanyaku.


Laki-laki itu tersenyum. "Hmm, tentu saja. Memangnya, apa yang ingin kamu tanyakan, Res?"


"Apa benar, besok kamu akan pergi dari sini?" tanyaku, pelan.


Fatwa menatapku penuh kelembutan. Kedua tangannya membenahi rambutku dan menyelipkannya di daun telinga.


"Besok kita bicarakan lagi, ya. Sekarang, naik dan beristirahatlah!" ucap Fatwa, mengecup keningku.


Aku memejamkan mata untuk merasai kehangatan yang telah diberikan oleh laki-laki itu. Setelah berpamitan, aku pun mulai menaiki anak tangga menuju kamar. Tiba di kamar, kudekap erat boneka yang selama hampir 20 tahun menemani aku. Tanpa sadar, aku mulai menceritakan semua kejadian ini pada benda tak bernyawa itu.


Keesokan harinya.


Selepas subuh, aku pergi ke dapur untuk membantu Mama. Tiba di dapur, aku tertegun saat melihat Fatwa memakai apron dan begitu sibuk di depan kompor bertungku dua. Dengan cekatan, tangannya memainkan spatula di atas wajan. Sedangkan di tungku yang satunya lagi, terdapat sebuah panci presto di atasnya. Aku pun mulai tergelitik untuk menghampiri calon suamiku.


"Sedang masak apa, Fat?" tanyaku.


Fatwa terlihat terperanjat mendapati pertanyaan dariku. Dia kemudian menoleh dan tersenyum.


"Oh, ini Res. Semur daging," jawab Fatwa singkat.


Aku mencoba mengambil alih spatula dari tangannya. " Biar Res yang lanjutin. Kamu duduk saja," ucapku.

__ADS_1


"No-no-no!" ucap Fatwa merebut kembali spatula dari tanganku. "Hari ini adalah hari spesial, Res. Aku ingin memberikan kesan yang terbaik untuk calon mama mertua. Aku berharap, mama kamu bisa menerima aku sebagai menantu di rumah ini," ucap Fatwa yang membuat aku terharu.


"Tidak melakukan apa pun, Mama sudah sangat terkesan denganmu, Nak. Tanpa diminta pun, tentu saja Mama akan menerima kamu sebagai bagian dari keluarga ini. Kamu bukan hanya menantu bagi Mama. Namun, sudah seperti anak Mama sendiri." Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu dapur.


Aku dan Fatwa menoleh. Sesaat kemudian, Mama menghampiri kami. Fatwa mematikan kompornya, dia kemudian meraih tangan Mama dan menciumnya. "Terima kasih, Ma," ucap Fatwa.


Mama tersenyum seraya berkata, "Mama yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Nak. Kalau tidak ada kamu, mungkin Mama tidak akan pernah bertemu dengan putri sulung Mama lagi."


"Mamaaa ..." Aku merengek seraya memeluk Mama.


Wanita paruh baya itu balas merangkulku. Dan tangan kekar Fatwa memeluk kami berdua.


Puas saling berpelukan, Mama kemudian mengajak kami duduk di meja makan. Sesaat, beliau memandang kami bergantian. Senyumnya tak pernah lepas dari raut wajah yang mulai keriput itu.


"Apa kalian tahu, ini adalah hal terindah dalam hidup Mama. Keputusan kalian adalah kado yang paling sempurna di bulan kelahiran Mama," ucap Mama mengawali pembicaraan serius kami.


"Benarkah?" tanya Fatwa.


"Ih, Mama ... nggak perlu buru-buru juga, kali. Bukankah Kakak baru semalam dilamar," ucapku.


"Kakak, lebih cepat lebih baik, Nak. Kalian sudah sangat dewasa, sudah cukup matang untuk menjalani pernikahan. Mau menunggu apalagi? Kuliah kamu?" ledek Mama, seolah mengingatkan aku akan kesalahan yang pernah aku buat.


Ya, waktu itu, saat keluarga mas Yudhis meminta tanggal pernikahan secepatnya, aku malah menolak dengan alasan ingin menyelesaikan kuliah terlebih dulu. Dan pada akhirnya, semuanya berantakan.


"Ibu benar, res. Kita tidak perlu mengulur waktu. Lagi pula, bukankah kamu hanya tinggal menunggu wisuda saja?" timpal Fatwa.


"Ya sudah, terserah kamu saja," jawabku.


Mama terlihat sumringah mendengar jawabanku. Begitu juga dengan Fatwa yang tersenyum lebar.


"Lalu, kapan kalian akan meresmikannya?" tanya Mama lagi.

__ADS_1


"Eem, memangnya kapan Mama berulang tahun?" Bukannya menjawab, Fatwa malah menanyakan tanggal lahir Mama.


"Tiga hari lagi Mama ulang tahun, Fat," jawabku.


"Ya sudah, tiga hari lagi kita akan menikah," jawab Fatwa pasti.


"Yeayy ... Maila punya papa!"


Tiba-tiba si kecil Maira berlari ke arah kami. Fatwa beranjak dan berjongkok untuk menyambutnya. Sesaat kemudian, si kecil pun merangkul dan bergelayut manja dalam pangkuan papa barunya.


.


.


Tiga hari telah berlalu. Hari ini, bertepatan dengan hari ulang tahun Mama, akhirnya ikrar sehidup semati akan kami ucapkan.


Dalam balutan jas putih, pria bermata elang itu berjalan tegap menuju meja akad. Sesaat setelah tiba, dia kemudian duduk di kursi yang berada di samping aku. Rayya mulai mengenakan kerudung putih di kepala kami berdua. Kerudung sebagai simbol jika hari ini, aku dan kamu akan menjadi kita.


Di depan kami, duduk bapak penghulu dan Om Darma, adik almarhum papa yang akan menjadi waliku.


"Bismillahirrahmanirrahim. Fatwa Immamuddin, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau kepada putri saya yang bernama Octora Resstyani binti Ahmad, dengan maskawin seperangkat alat shalat beserta perhiasan sebesar 100 gram dibayar, tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Octora Resstyani binti Ahmad, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"


"Alhamdulillah, saaah!"


Untaian do'a mulai mengalun sesaat setelah ijab qabul dinyatakan sah oleh para saksi. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mempersatukan kami. Aku tidak menyangka, jika kisah cinta yang selama sepuluh tahun terakhir aku pendam, ternyata bersambut jua. Meski ada banyak cerita yang harus aku lalui. Namun, aku senang karena kisah cinta ini berakhir bahagia.


Aku mencintaimu, wahai imamku. Fatwa Immamuddin.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2