My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Semakin Dekat


__ADS_3

"Ka-kamu kenapa, Fat?" Setelah cukup lama memeluknya, tiba-tiba gadis itu bertanya.


Fatwa melepaskan pelukannya. Dia menatap tajam gadis itu. "Kamu dari mana?" tanya Fatwa dengan nada dinginnya.


"Aku dari sana!" Gadis itu menjawab sambil menunjuk semak belukar yang cukup tinggi di belakang Fatwa.


"Ish, untuk apa kamu pergi ke sana?" Fatwa kembali bertanya dan mulai meninggikan suaranya.


Gadis itu hanya mengangkat jari kelingkingnya, sebagai isyarat bahwa dia sudah buang air kecil di balik semak yang cukup rindang itu.


Fatwa terlihat merengut, kesal. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanyanya.


"Kenapa emangnya? Kamu mo ngintipin aku, pipis?" gurau gadis itu tanpa malu.


Pletak!


Tanpa ampun lagi, sentilan telunjuk panjang Fatwa mendarat di kening sang gadis.


"Ish, sakit!" Gadis itu merengek sambil meraba kening yang mulai berdenyut.


Ah, sungguh rengekan yang begitu halus manja terdengar di telinga Fatwa. Sejenak, Fatwa terbuai oleh suara itu. Namun, dia harus tetap menjaga wibawanya.


"Itu hukuman atas kelancangan kamu berbicara!" ucap Fatwa dengan nada sinisnya


Gadis itu hanya mengerucutkan bibir menirukan kembali kalimatnya.


Tak ingin berdebat lebih panjang lagi, akhirnya Fatwa mengajak gadis itu untuk kembali ke tempat semula. Namun, keningnya sedikit berkerut saat dia melihat gadis itu tak bergerak sama sekali.


"Kenapa?" tanya Fatwa.


"Kaki aku tidak bisa digerakkan," jawab gadis itu.


Fatwa menghampiri gadis itu dan berjongkok di hadapannya. "Apa terkilir?" tanya Fatwa sambil mendongakkan wajahnya.


"Sepertinya, iya," jawab gadis itu.


"Ish, kenapa bisa sampai terkilir begini?" Fatwa merengut kesal.


"Tadi tersandung akar timbul," jawab sang gadis.


"Dasar ceroboh!" Fatwa semakin bertambah kesal. "Ya sudah, naik ke punggungku!" perintah Fatwa sambil membalikkan badan dan berjongkok di hadapan gadis itu.


"Ta-tapi," Gadis itu terlihat ragu-ragu.


"Sudah, naik saja. Kamu mau, semalaman berdiri di situ?" ucap Fatwa lagi.


Dan akhirnya, gadis itu pun naik ke dalam gendongan Fatwa. Sepanjang jalan, jantung Fatwa semakin berdegup kencang. Entah kenapa, rasanya dia ingin waktu berhenti di sini, agar dia bisa menikmati waktu bersama sang gadis.


"Ulurkan kakimu!" perintah Fatwa begitu mereka sampai di tempat istirahat tadi.


Gadis itu terlihat gugup. "Ma-mau ngapain?" tanyanya.


"Sudah, jangan banyak tanya. Ulurkan saja kaki kamu!" Fatwa kembali memberikan perintah.


Meskipun terlihat ragu, tapi gadis itu tetap mengulurkan kakinya yang terkilir tadi.


"Apa kamu membawa body lotion?" tanya Fatwa lagi.


"Buat apa?" tanya gadis itu sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Sudah, nggak usah banyak tanya. Mana body lotion-nya?" Fatwa menadahkan tangan kanannya.


"Tapi aku nggak bawa body lotion, Fat," jawab gadis itu. .


"Ish, biasanya, 'kan anak cewek suka membawa alat tempur di dalam tasnya," ucap Fatwa meledek gadis itu.


"Cewek laen, ya, Fat. Bukan gue!" sanggah gadis itu dengan ketus.


Fatwa tak menjawab lagi, dia hanya memijit kaki gadis itu dengan perlahan. Tapi, tiba-tiba...


Krek!


"Aww! Ish, Fat .... sakit bego!" Gadis itu berteriak dan memaki Fatwa. Akan tetapi, Fatwa tidak menghiraukan semua teriakan dan makian sang gadis. Dia malah terus asyik mengotak-atik pergelangan kaki kiri milik gadis tersebut.


Kembali gadis itu terlihat meringis. "Gila, lo fat! Lo mo matahin kaki gua?" ujarnya dengan nada yang sangat kesal.


Fatwa hanya memandang gadis itu dengan tatapan elangnya. Seketika gadis itu pun bungkam.


Tak lama kemudian, Fatwa menghentikan pijatanya. "Coba berdiri! ucapnya memerintah.


Meski masih merasa kesal, gadis itu berdiri. Namun, seketika senyum tipis terukir di bibirnya. Dia menatap kagum kepada Fatwa. "Sakitnya berkurang, Fat," ucap gadis itu terlihat senang.


Fatwa hanya bisa membenahi ranselnya untuk menutupi kegugupan. Dia benar-benar tidak menyangka bisa berdekatan seperti ini. Menyentuhnya, berbicara dengannya dan mencium harum aroma tubuhnya semakin membuat gelanyar aneh membara dalam hati Fatwa.


.


.


Malam semakin larut. Fatwa menatap tajam ke arah gadis yang mulai mendekap tubuhnya dengan erat. Sepertinya, udara dingin mulai mengganggunya. Ditambah lagi, riuhnya bunyi nyamuk yang hilir mudik di sekitar wajah dan kakinya, membuat dia terlihat begitu menyedihkan.


Fatwa mulai mendekati gadis yang tengah memejamkan matanya itu. Sejenak, dia menyelimuti sang gadis dengan jaketnya.


"Tidurlah!" ucap Fatwa.


"Tapi, jaketnya?" kata gadis itu yang merasa tak enak jika Fatwa hanya mengenakan kaos saja. Maklumlah, udara semakin terasa dingin saja.


"Aku masih punya sarung, kok," jawab Fatwa menunjukkan kain sarung yang dia ambil dari tas ransel miliknya


"Tapi, itu 'kan tipis," sanggah gadis itu.


"Aku tidak suka dibantah. Tidurlah!" Fatwa Kembali memberikan perintah dengan nada yang sangat tegas.


Akhirnya, gadis itu memejamkan mata kembali.


Udara dingin di sekitar hutan semakin tidak bersahabat. Fatwa melihat tubuh gadis itu begitu menggigil. Gemeletuk gigi mulai terdengar jelas di telinga. Sejenak dia mengernyitkan keningnya sambil mengamati bibir tipis sang gadis yang mulai membiru.


Ya Tuhan ... apa dia mengidap penyakit hipotermia? batin Fatwa.


Tak ingin mengambil risiko yang lebih tinggi. Fatwa mendekati gadis itu. Dia meraih tubuh sang gadis dan mendekapnya dengan erat. Semakin dekat, dan dia bisa merasakan tubuh yang dingin itu lambat laun mulai menghangat.


"Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin menolongmu. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Itu janjiku!" gumam Fatwa.


.


.


.


Sinar mentari pagi mulai menyapa melalui celah-celah dedaunan jati yang cukup rimbun. Merasakan ada pergerakan, Fatwa membuka matanya. "Kenapa?" tanya Fatwa, menatap gadis itu dengan wajah bantalnya.

__ADS_1


"A-apa yang kamu lakukan semalam? Ke-kenapa aku bisa berada dalam dekapanmu? Apa kau mengambil kesempatan di atas kesempitan aku?" tuduh gadis itu kepada Fatwa.


Fatwa melepaskan pelukannya. Untuk menutupi perasaan gugupnya, dia melengos dan mulai membereskan barang-barangnya. Sejurus kemudian, Fatwa mengangkat ransel dan menggendongnya. Tanpa ingin menjawab pertanyaan, dia berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu.


Sepertinya, gadis itu belum puas karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan kepada Fatwa. Dia kemudian menarik tangan Fatwa. "Apa yang kamu lakukan padaku" teriaknya, kesal.


Tak ingin menimbulkan kesalahpahaman atas apa yang terjadi, Fatwa menghela napasnya dan menatap tajam gadis itu.


"Aku hanya mencoba menyelamatkan nyawamu dari hipotermia yang sedang menyerang kamu semalam," ucap Fatwa, menepis tangan gadis itu dan pergi.


Sejenak, gadis itu hanya termangu mendengar jawaban Fatwa.


Tak ingin membuant waktu, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Sesekali Fatwa melirik gadis itu yang berjalan penuh kepayahan akibat kakinya yang terkilir. Melihat hal itu, Fatwa merasa iba. Dia kemudian menawarkan diri untuk menggendongnya. Sayangnya, sang gadis menolak tawaran Fatwa. Sepertinya dia tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain. Fatwa tersenyum tipis melihat sikap keras kepalanya.


"Hmm, mirip sekali denganmu, An," gumam Fatwa, pelan.


Tiba-tiba, samar-samar Fatwa mendengar riuhnya teriakan yang memanggil namanya dan juga nama sang gadis.


"Kau dengar itu?" tanya Fatwa, menajamkan pendengarannya.


Gadis itu terlihat mengangguk. "Sepertinya, teman-teman sedang mencari kita, Fat," ucapnya.


"Ya, kau benar. Ayo kita cari sumber suara mereka!" Fatwa menyambar tangan gadis itu. Setengah berlari, dia mengajak gadis itu untuk mencari sumber suara.


"Fatwaaa! Restiii! Kalian di mana?" terdengar suara seorang pria memanggil nama mereka.


"Kami, di sini Ji!" teriak Fatwa.


"Chii! Lo di mana? Jawab gua kalo lo denger suara gua!" teriak seorang perempuan.


"Itu suara Irma, Fat!" ucap gadis itu terlihat senang.


Fatwa tersenyum lebar. "Ya, kamu benar! Sepertinya, sumber suaranya dari arah sana!" ucapnya.


Fatwa menunjuk sebuah celah yang terhalang ilalang tinggi. Dia kemudian berlari mendekatinya dan mulai menyibakkan ilalang tersebut.


"Res! Aku melihatnya!" teriak Fatwa. "Kemarilah!" panggilnya sambil melambaikan tangan agar gadis itu mendekat.


Gadis itu berlari menghampiri Fatwa.


"Kamu lihat itu!" tunjuk Fatwa ke arah segerombolan orang-orang yang sedang berjalan melalui jalan setapak.


"Ya Tuhan, Fat. Jadi jalan utamanya ada di balik rumput tinggi ini? Pantas saja kita tidak menemukan jalan keluar dari tadi," ucap gadis itu sambil melihat kepada mereka yang sedang melalui jalan setapak.


"Iya, kamu benar. Sekarang, ayo kita susuri ilalang ini. Aku yakin di ujung sana nanti, kita akan menemukan pertigaan yang kemarin kita lewati," ajak Fatwa.Dia meraih tangan mungil sang gadis.


Deg-deg-deg!


Kembali ritme jantungnya berdetak begitu cepat saat dia menggenggam erat tangan sang gadis. Sungguh, tangan mungil nan halus yang mampu membuat hati Fatwa terbang tanpa sayap.


Beberapa saat kemudian, Fatwa melepaskan tanganku untuk menyibak ilalang-ilalang itu. Semakin lama, suara-suara yang memanggil mereka mulai terdengar jelas.


"Teman-teman, kami di sini!" teriak Fatwa. Tanpa sadar, dia terus melangkah meninggalkan gadis itu. Dengan napas yang masih tersengal, Fatwa tiba di hadapan teman-temannya. Akan tetapi


"Loh, mana Chi?" tanya Irma yang begitu terkejut melihat Fatwa datang sendirian.


Deg!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2