My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Akhirnya Pulang


__ADS_3

Aku hanya mampu memandang punggung pria dingin itu yang semakin menjauh. Rasa kagum kembali mencuat di dalam dada. Entah berapa banyak sikap pria itu yang telah membuat kekagumanku semakin bertambah.


"Apa kamu mau tetap di sana saja?" teriak Fatwa dari kejauhan.


Bukannya menjawab, aku malah mengedarkan pandanganku ke sekeliling hutan belantara ini. Matahari memang sudah bersinar, tapi di hutan ini, sinarnya tetaplah hanya sebuah keremangan. Seketika bulu kudukku berdiri saat ucapan Bu Karyo kembali terngiang jelas di telinga. 'Hati-hati loh, Neng. Desa ini masih banyak mistisnya. masih sering terjadi hal-hal ghaib di sini'. Merinding dah, sekujur tubuhku.


"Tunggu!" Akhirnya aku berteriak sambil berlari ke arah Fatwa. Tak lupa sebelum itu aku menyambar tas ranselku yang masih teronggok di bawah batang pohon jati besar.


Aku berusaha mengimbangi langkah Fatwa yang begitu lebar. Dengan napas tersengal, akhirnya aku berhasil mensejajarkan tubuhku dan berjalan berdampingan dengannya.


Sepanjang jalan, hanya desir angin yang mengiringi langkah kami. Bisu, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir kami masing-masing. Sesekali, ujung mataku melirik pria dingin itu, berharap ada kata yang terucap dari bibirnya. Tapi, nihil. Pria itu terlalu fokus untuk mencari jalan setapak yang akan membawa kami keluar dari hutan ini.


Sudah lelah kakiku melangkah, tapi pertigaan awal kami masuk masih belum terlihat. Aku melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, artinya, sudah hampir dua jam kami berjalan kaki.


"Fat, aku capek. Bisakah kita berhenti dulu?" pintaku, ragu.


Pria itu menatapku tajam, mungkin dia sedang menelisik kebenaran dari ucapanku. Aku hanya bisa menundukkan wajah saat tak kuasa melawan tatapannya.


"Apa kakimu terasa sakit lagi?" tanya Fatwa.


"Sedikit," jawabku. Ya, memang benar ... pada kenyataannya, kakiku mulai berdenyut sakit setelah hampir 2 jam berjalan.


Fatwa kembali berjongkok. "Naiklah!" ucapnya.


Melihat dia bersikap seperti itu, aku merasa tidak tega. Masak iya dia harus kembali menggendongku sambil mencari jalan keluar. Sedangkan aku sendiri tidak tahu harus berapa lama lagi kami terjebak di hutan belantara ini.


"Ti-tidak apa-apa, fat. A-aku masih bisa berjalan," tolakku, gugup.


"Sudah, naiklah! Biar lebih cepat jalannya," perintahnya lagi.


Aku berjalan melewati dia. "Tuh, gue masih kuat jalan, 'kan?" ucapku mencoba meyakinkan dia dengan kembali berjalan mendahuluinya.


Huff!


Aku mendengar Fatwa hanya menghela berat napasnya. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Semoga saja tubuhku masih bisa diajak kompromi, batinku.

__ADS_1


Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Sesekali kami berhenti hanya untuk minum saja. Tak ada yang bisa kami makan, karena bekal makanan kami sudah habis semalam. Pun dengan nasi timbel yang dibuatkan Bu Zainab, tak bersisa.


Lambungku mulai tak bisa berkompromi. Rasa perih mulai mendera. Bulir keringat mulai keluar dari balik kerudungku. Sepertinya, penyakit maag-ku kambuh. Tapi aku tidak ingin membuat pria itu khawatir. Aku mencoba menahannya sambil sesekali menelan ludah karena rasa sakit di lambung semakin menjadi.


Tiba-tiba, samar-samar kami mendengar riuhnya suara yang memanggil nama kami.


"Kau dengar itu?" tanya Fatwa sambil menajamkan pendengarannya.


Aku mengangguk, karena aku juga mendengar suara Irma memanggil namaku.


"Sepertinya, teman-teman sedang mencari kita, Fat," ucapku.


"Ya, kau benar. Ayo kita cari sumber suara mereka!" Fatwa menyambar tanganku dan mengajakku setengah berlari untuk mencari sumber suara teman-temanku.


Dengan terpaksa, aku mengikuti Fatwa berlari meskipun tubuhku sudah semakin lemas.


"Fatwaaa! Restiii! Kalian di mana?"


Mataku sudah berkunang-kunang, tapi indera pendengaranku masih bisa mendengar jelas teriakan Aji.


Fatwa berteriak, meski dia sendiri tidak terlalu yakin apa orang-orang itu akan mendengar teriakannya.


"Chii! Lo di mana? Jawab gua kalo lo denger suara gua!"


"Itu suara Irma, Fat!" Seketika aku berjingkrak senang saat mendengar suara cempreng milik sobatku yang paling bawel.


Aku melihat pria dingin itu tersenyum lebar. Ah, sungguh sebuah senyuman yang terindah yang pernah aku lihat. Untuk sepersekian detik, aku terpana melihat senyum manisnya.


"Ya, kamu benar! Sepertinya, sumber suaranya dari arah sana!"


Fatwa menunjuk sebuah celah yang terhalang ilalang tinggi. Dia kemudian berlari mendekatinya dan mulai menyibakkan ilalang tersebut.


"Res! Aku melihatnya!"


Fatwa berteriak yang membuat tubuhku serasa melayang seketika. Res! Apa aku tidak salah dengar? Dia memanggil namaku, dan ini untuk yang pertama kalinya. Ya Tuhan ... mimpi apa aku semalam.

__ADS_1


"Kemarilah!" Fatwa kembali berteriak sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat agar aku mendekati.


Dengan hidung yang hampir terbang dan perasaan bahagia yang membuncah, aku berlari menghampiri pria yang namanya mulai terukir huruf per huruf di hatiku.


"Kamu lihat itu!" tunjuk Fatwa ke arah segerombolan orang-orang yang sedang berjalan melalui jalan setapak.


"Ya Tuhan, Fat. Jadi jalan utamanya ada di balik rumput tinggi ini? Pantas saja kita tidak menemukan jalan keluar dari tadi," ucapku sambil melihat kepada mereka yang sedang melalui jalan setapak. Ya, kabarnya, jika kita terus melalui jalan setapak tersebut, maka ujung dari jalan itu merupakan sebuah perbatasan dengan kabupaten Garut.


"Iya, kamu benar. Sekarang, ayo kita susuri ilalang ini. Aku yakin di ujung sana nanti, kita akan menemukan pertigaan yang kemarin kita lewati," ajak Fatwa.


Aku mengangguk. Fatwa kembali menggandeng tanganku agar aku tidak tertinggal lagi.


Aku menatap tengkuknya yang mulai berpeluh. Rasanya aku ingin menyeka peluh itu, tapi apa hakku? Aku hanya bisa tersenyum merasakan kebersamaan ini. Sungguh, sedekat ini dengan pria itu? Sama sekali tidak pernah terbersit dalam hatiku.


Uuh! Tiba-tiba rasa perih kembali menyerang lambungku. Tangan kananku mulai meremas perut, untuk sedikit meredakan nyerinya. Namun, lambungku sepertinya enggan berkompromi. Bahkan perih itu kini mulai membuat tubuhku kian melemas.


Aku mohon, jangan tumbang saat ini. Bertahanlah! Tolong beri aku kekuatan, Tuhan, pintaku dalam hati.


Fatwa melepaskan tanganku untuk menyibak ilalang-ilalang itu. Semakin lama, suara-suara yang memanggil kami mulai terdengar jelas.


"Teman-teman, kami di sini!"


Aku mendengar Fatwa berteriak. Dia kemudian melambaikan tangannya sebagai tanda agar teman-teman kami melihat kami.


"Fat," gumamku lirih. Namun, sepertinya Fatwa yang telah berada jauh dariku, tidak mendengar suaraku. Dia terus berjalan tergesa-gesa ke arah mereka yang sedang mencari kami.


Perlahan, aku kembali mengayunkan langkahku mengikuti Fatwa. Tapi, kepalaku mulai terasa berat. Mataku juga semakin buram. Hingga akhirnya, aku tak mampu melihat sosok pria bertubuh tinggi tegap itu.


Brugh!


Tubuhku yang kian melemas, tiba-tiba ambruk ke tanah. Mataku mulai tertutup, hanya satu kalimat yang aku dengar dari suara cempreng milik Irma sebelum akhirnya aku tak ingat apa pun lagi.


"Loh, mana Chi?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2