
Saat aku berjalan di sepanjang koridor kelas, desas-desus antara kedekatan aku dan Fatwa memang telah ramai dibicarakan. Padahal, kalau boleh jujur, selain kejadian tersesat dan antaran pulang tempo hari, aku tak pernah lagi menghabiskan waktu berdua dengan pria dingin itu. Aku sendiri tidak tahu, dari mana kabar itu berawal hingga bisa beredar cepat.
Kebanyakan dari mereka yang bergosip adalah para siswi. Mereka memandangku dengan tatapan heran. Seolah sedang bertanya, 'kok bisa, ya?'
Aku tak menghiraukan tatapan sinis itu. Dengan langkah cepat, aku terus berjalan menuju kelas Fatwa.
"Assalamu'alaikum!" sapaku begitu aku tiba di kalas IPA 1.
Para siswa yang sedang berada di kelas, seketika melihat ke arahku. Begitu juga dengan pria dingin yang sedang duduk bersama Aji, dia menatapku sambil mengerutkan keningnya.
"Wa'alaikumsalam, masuk Res!" Aji mempersilakan aku masuk ke kelasnya.
Meski gemetar, aku tetap melangkahkan kakiku mendekati meja mereka.
"Ada apa?" tanya Aji.
"Res mau bicara sebentar sama Fatwa, boleh?"
Aku melihat kedua pria yang sama tingginya itu saling bertatapan untuk sejenak. Namun, sejurus kemudian Aji tersenyum dan beranjak dari kursinya.
"Tentu saja boleh," jawab Aji. Setelah berbicara seperti itu, Aji kemudian pamit keluar.
"Fat, aku mau bicara!" ucapku dengan bibir bergetar.
"Bicaralah!" perintah pria dingin itu tanpa menatapku.
"I-ini tentu gosip yang sedang beredar. A-aku harap berita-berita bohong itu tidak akan mempengaruhi pertemanan kita," ucapku.
Fatwa mendongak. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. "Tidak usah terlalu cemas, itu, 'kan hanya gosip," ucapnya.
Huff! Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega mendengar perkataan Fatwa. Ah, selain tampan dan berkharisma, ternyata dia juga cukup bijak dalam menanggapi berita-berita bohong seperti itu.
"Ya sudah, aku ke kelas dulu!" pamitku.
Pria dingin itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab apa-apa lagi.
Dengan langkah ringan, aku kembali berjalan melewati koridor kelas dan tiba di kelasku, bertepatan dengan bel masuk berbunyi.
.
.
.
__ADS_1
Setelah melewati dua mata pelajaran yang membuat kepala para siswa terasa berat, akhirnya bel istirahat berbunyi. Semua siswa tampak riuh menyambut nada yang memanggil mereka untuk rehat sejenak dari aktivitas belajar.
"Gimana, Chi?" Tiba-tiba Kak Lastri yang berada di bangku depan, membalikkan badannya dan bertanya kepadaku.
"Gimana apanya?" Aku balik bertanya sambil memasukkan buku catatan Fisika.
"Apa kamu sudah bicara sama Fatwa?" tanyanya lagi. Ada sinar kecemasan yang terpancar dari bola mata Kak Lastri.
"Oh itu, aku sudah bicara kok, padanya," jawabku.
"Terus, tanggapan Fatwa?" tanya Kak Lastri lagi.
"Dia bilang, aku tidak usah menghiraukan omongan mereka. Gitu aja, sih!" ucapku.
"Ah, syukurlah!" ucap Kak Lastri lagi. Terdengar helaan napas yang sangat lega darinya.
Pun dengan Irma, dia yang sibuk mencatat karena bukunya tertinggal, akhirnya bisa bernapas dengan lega.
"Gue ikut seneng dengernya, Chi," celetuk Irma yang masih menunduk karena sedang menulis.
Untuk beberapa saat kami menunggu Irma yang sedang mencatat. Beberapa menit kemudian, Tika datang.
"Pantas saja, aku tungguin dari tadi, ternyata kalian masih di kelas," ucap Tika mendekati kami.
"Iya, kita lagi nungguin Irma selesai mencatat," jawab Kak Lastri.
"Nggak pa-pa, kita pergi barengan aja. Mangkanya, buruan tuh nyatetnya!" tukasku.
Irma hanya menjulurkan lidahnya. Kami semua tersenyum geli melihat tingkah Irma. Setelah hampir 10 menit menunggu, akhirnya Irma selesai juga mencatat. Irma memasukkan buku catatannya ke dalam tas, tak lama kemudian, kami berangkat menuju kantin sekolah.
Saat kami melintasi masjid sekolah, aku baru ingat jika aku belum melaksanakan salat dhuha. Ya, semenjak aku mengikuti pengajian rutin di IREMA, aku mulai membiasakan diri untuk melakukan salat sunah dhuha. Aku berbelok ke arah masjid.
"Lo mo ke mana, Chi?" tanya Irma.
"Gue lom dhuha, kalian duluan deh, ke kantinnya!" jawabku.
Aku melihat ketiga temanku itu menganggukkan kepala.
"Eh, kamu mo dipesenin apa, Dek?" teriak Kak Lastri.
"Bakso saja, Kak. Kek biasa!" teriakku pula.
"Ok!" Kak Lastri menempelkan ujung telunjuk dan ibu jarinya membentuk bulatan kecil. Aku pun melakukan hal yang sama untuk membalas kode dari Kak Lastri.
__ADS_1
Aku membuka sepatu dan segera mengambil wudu. Selesai berwudu aku seger mendirikan salat sunah dhuha dua rakaat. Setelah salat, aku selalu menyempatkan diri untuk berdo'a memohon perlindungan dan kesehatan untuk kedua orang tuaku. Mengingat perjuangan papap dan mama, air mataku selalu keluar tanpa permisi.
Selesai salat dan berdo'a, aku melipat mukena dan menyimpannya kembali di rak. Aku melirik jam tangan, masih tersiksa waktu 20 menit lagi sebelum jam istirahat berakhir. Aku segera keluar untuk mengenakan kembali sepatu.
Tiba-tiba,
"Kita harus bicara!"
Suara yang tak asing lagi terdengar begitu jelas. Aku mendongak dan seketika tersenyum mendapati wajah tampan itu sedang berdiri di hadapanku. Tapi tunggu! Kenapa raut wajahnya terlihat marah seperti itu? batinku, mengerutkan kening.
"Ya, mo bicara apa, Fat?" ucapku, berdiri dan berhadapan dengannya.
"Aku minta, kamu tarik kembali ucapanmu itu!" Fatwa berkata penuh ketegasan.
Aku semakin mengerutkan kening. Sungguh, aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.
"Maksud kamu apa, Fat?" tanyaku lagi.
"Sudah, tidak usah berlagak pilon! Apa kamu pikir aku tidak tahu maksud kamu, hah?" Kali ini Fatwa berkata sambil meninggikan suaranya.
Astaghfirullah! ucapku dalam hati. Aku hanya mampu mengusap dada mendengar nada bicaranya.
"Demi Tuhan, Fat. Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan, sekarang. Bisa diperjelas, apa yang kamu maksud dengan maksudku?" Aku berusaha untuk bersikap tenang, meskipun tidak aku pungkiri, jantungku berdegup kencang saat melihat matanya menyimpan sinar kemarahan.
"Apa tujuan kamu mengikuti kegiatan IREMA? Apa semua itu keinginan yang datang dari hati kamu sendiri, atau ada maksud tertentu dibalik semua itu?"
Aku diam mendengar ucapan pria dingin itu. Apa maksudnya coba, dia berkata seperti itu? Namun, rupanya kediamanku disalahartikan olehnya.
"Jangan bilang kalau kamu memiliki tujuan lain dalam mengikuti kegiatan ekskul ini?" tanya Fatwa lagi. Kali ini dia mulai melangkahkan kakinya semakin mendekati.
Aku mundur beberapa langkah, sungguh ... tatapan matanya bagaikan burung elang yang sedang mengintai mangsa.
"Aku-aku tidak mengerti maksud kamu, Fat," ucapku gugup.
"Dengar Res, sebanyak apa pun kamu menyebarkan rasa sukamu kepadaku terhadap orang lain, sebanyak itu pula aku pasti menolak pernyataan kamu!" ucapnya tegas.
"Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti ucapanmu. Tolong bicara lebih jelas lagi!" Aku mulai terpancing emosi karena tak bisa memikirkan arti dibalik kata-katanya.
"Aku tahu kau cinta padaku. Tapi asal kau tahu, seujung kuku pun aku tidak pernah mencintai kamu. Paham!"
Pria dingin itu berkata dengan tegasnya. Sepersekian detik kemudian, aku mendengar riuhnya sorakan para siswa-siswi yang sedang menyaksikan drama live antara aku dan Fatwa.
Seketika, kedua kakiku sudah tak mampu menopang tubuhku. Hingga akhirnya, tubuh yang lemah ini ambruk tak berdaya. Aku benar-benar tidak menyangka jika pria yang baru saja aku beri predikat baik dan sopan, ternyata sanggup berbicara kasar dan membuat hatiku patah jadi dua.
__ADS_1
"Chi!"
Bersambung