My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Janggal


__ADS_3

Aku mengernyit mendapati baju yang aku bentangkan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasiku. "Apa mungkin tertukar?" gumamku seraya membolak-balikan pakaian tersebut.


Aku kembali meraih paper bag berwarna pink itu dari atas ranjang dan merogohnya lagi. "Masih ada," gumamku sambil menarik pakaian tersebut.


Lagi-lagi, kedua mataku membelalak melihat pakaian yang aku bentangkan kembali. "Ish, pakaian apaan ini? Kenapa semuanya seperti kekurangan bahan begini?" ucapku.


Paper bag itu berisi tiga setel pakaian kerja yang serba ketat dan teramat sangat kekurangan bahan. Aku sendiri heran, ada apa dengan mas Yudhis? Kenapa sepertinya dia tidak pernah mengenalku saja. Dua tahun kami menjalin hubungan, masa iya dia tidak mengetahui selera berpakaianku.


"Huff!" Aku membuang napas dengan kasar. "Fix! Ini pasti tertukar dengan punya orang lain. Ish, ceroboh sekali!" dengusku seraya mengeluarkan ponsel dari saku blazer.


Aku berniat menghubungi mas Yudhis. Tapi, saat aku lirik penunjuk waktu pada layar ponsel, aku teringat kalau aku belum shalat asar. Tanpa sadar aku melemparkan ponsel itu ke atas kasur dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Badanku sedikit lengket akibat beraktivitas seharian. Mungkin masih ada sekitar 5 atau 6 menitan untuk aku megguyur tubuh agar terasa segar kembali. Aku melucuti semua kain yang menempel di tubuhku. Tak membutuhkan waktu lama, aku segera membuka kran shower dan mulai menikmati tetesan hujan lokal di sekitar tubuhku yang telah polos.


Molor dari waktu yang diperkirakan, akhirnya setelah 10 menit aku mulai mengeringkan badan dengan handuk. Aku membuka lemari dan mengambil satu setel pakaian santai. Lepas itu, aku menunaikan kewajibanku menjalankan shalat asar.


Selesai shalat, aku turun dan bergabung bersama ibu dan adikku duduk di ruang keluarga untuk menonton TV dan bercengkerama.


"Tadi Mama denger suara mobil, Kak. Kamu pulang dianterin siapa? Bukannya nak fatwa sedang ada seminar di Bandung, ya? Trus, siapa yang nganter kamu?" Mama memberondongku dengan beberapa pertanyaan begitu aku mendaratkan bokong di sofa.


"Oh, itu tadi mas Yudhis, Ma," jawabku seraya mengupas keripik kentang yang berada di atas meja.


"Ish, Kakak ... kebiasaan deh! Itu, 'kan punya Rayya," rengek adikku seraya memonyongkan bibir 5 sentinya.


"Iya, entar Kakak ganti kalau dah gajian," tukasku.


"Hidih, masih lama kali, nunggu tanggal muda," dumel Rayya.


Aku hanya cengengesan mendengar adikku ngedumel dengan bibir yang dimonyong-monyongin.


"Kok tumben nak Yudhis jemput kamu!" celetuk mama.


"Mas Yudhis emang nggak jemput Kakak ke sekolah, Ma. Tapi kita nggak sengaja ketemu di mal," jawabku.


"Loh, emang tadi Kakak ke mal?" tanya Rayya.


"Iya," jawabku


"Mal mana?" Rayya kembali bertanya.


"Maya Plaza." Aku menjawab pertanyaan Rayya sambil fokus menatap layar kaca.


"Dih, kok nggak ketemu. Padahal tadi Rayya ke sana loh, sama temen-temen," ucap Rayya, kaget.


"Nah ya, ketauan ngelayap. Ngapain kamu ke mal?" tanya mama yang cukup terkejut karena Rayya nggak langsung pulang ke rumah begitu kuliah bubar.


"Yeay, Mama ... Rayya, 'kan ke Gramed, cari buku buat tugas makalah," jawab Rayya.


"Huh, alesan," ledek mama. "Oh iya, Kak. Ngapain nak Yudhis ke mal. Bukannya dia masih kerja, 'kan, jam segitu?" Mama kembali bertanya padaku.


"Mas Yudhis beli tas sama pakaian ... Astaghfirullahaladzim! Sebentar Ma, Kakak lupa sesuatu." Tiba-tiba aku teringat akan pakaian yang hendak aku tanyakan sama mas Yudhis. Tanpa permisi, aku segera berlari menaiki tangga menuju kamarku.

__ADS_1


"Kakak kamu, tuh! Suka nggak jelas gitu," tunjuk mama padaku.


"Tau, tuh! Anaknya sapa ya, Ma?" ledek Rayya pada mama.


"Kamu itu!" tukas mama


Blugh!


Sejurus kemudian aku mendengar suara benda jatuh. Hmm, apalagi kalo bukan bantal sofa yang melayang dan mendarat di tubuh Rayya. Bukankah itu yang selalu menjadi ujung perdebatan antara mama dan Rayya? Aku tersenyum mendengar berisiknya dua orang yang paling berarti dalam hidupku.


Tiba di kamar, aku segera meraih ponselku dari atas kasur. Sejurus kemudian, aku menekan nomor mas Yudhis. Telepon tersambung.


"Assalamu'alaikum, Chi!" sapa lembut mas Yudhis terdengar di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam," jawabku. "sibuk, Mas?" Aku bertanya pada mas Yudhis karena aku takut menggangu waktunya.


"Nggak juga, ini lagi santai. Kenapa, Chi?" Kembali mas Yudhis bertanya.


"Ini, Mas. Sepertinya, paper bag yang Mas kasih tadi siang, ketuker deh sama punya orang," ucapku.


Hening


"Mas? Hallo? Mas masih di sana, 'kan?" Tanyaku saat tak mendengar suara mas Yudhis di ujung telepon.


"Eh, iya ... Kenapa, Chi? Mas masih di sini, kok," ucap mas Yudhis.


"Ini, baju yang Mas beliin buat Chi. Sepertinya, baju itu tertukar sama punya orang lain, Mas," jawabku.


"Idiih, seragam kerja apaan, modelnya pun seuprit, Mas. Kek baju kurang bahan gitu," ucapku kesal.


"Waduh, sepertinya iya, ketuker mungkin sama orang yang tadi bayar di samping Mas," ujar mas heru.


"Tuh, bener, 'kan. Ya udah, coba fotoin notanya, biar besok Chi tuker ke butiknya," ucapku.


"Jangan Chi, Mas takut ngerepotin kamu. Biar nanti, Mas suruh Sandra saja datang ke rumah kamu buat ngambil barangnya," ucap mas Yudhis.


"Oh, oke deh. Ya sudah, Chi tutup dulu ya, dah mo magrib nih," ucapku.


"Oke, Assalamu'alaikum, Chi."


"Wa'alaikumsalam."


Aku menutup telepon dan meletakkannya di atas nakas. Kembali aku meraih pakaian-pakaian seksi yang aku sampirkan di kursi. Aku bentangkan kembali pakaian itu.


Ya Tuhan .. sapa kira-kira pemilik baju ini. Apa dia seorang artis atau foto model, ya, batinku seraya bergidik ngeri membayangkan harus memakai pakaian model terbuka seperti ini.


.


.


Selepas magrib, seperti biasa, setelah mengaji beberapa ayat, aku membuka buku materi dan mempelajari materi yang akan aku sampaikan esok hari kepada anak didikku. Tiba-tiba, ketukan pintu membuyarkan konsentrasiku.

__ADS_1


"Masuk!" perintahku kepada orang yang berada di balik pintu.


Tampak Rayya menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Psst... Psst...," bisiknya.


"Apaan sih, Dek? Masuk aja, kali!" kataku yang masih fokus menatap layar laptop.


"Ada bang Fatwa tuh di bawah," ucap Rayya.


Aku menghentikan pekerjaanku. "Fatwa? Kenapa dia datang kemari? Bukankah dia sedang mengikuti workshop di Bandung, ya?" Aku malah bertanya pada Rayya.


"Yeay, mana Rayya tahu. Udah, yuk ah! Suruh temuin tuh sama mama!" ajak Rayya.


Aku melepaskan kacamata anti radiasi, sejurus kemudian memakai sandal rumahku dan mengikuti Rayya menuruni tangga.


Dari arah tangga, aku melihat Fatwa tengah asyik berbincang sama mama. Huh, dasar penjilat, gerutuku dalam hati.


"Eh, sini Kak. Ini, ada Nak Fatwa. Katanya ada kepentingan loh sama kamu," ucap mama.


Aku tersenyum kemudian duduk di samping mama.


"Kok, Bapak ada di sini? Bukannya Bapak sedang mengikuti workshop di Bandung, ya?" tanyaku, polos.


"Iya, tapi Nak Fatwa sudah pulang. Dan dia sengaja mampir dulu kemari untuk memberikan oleh-oleh Bandung pada kita. Hmm, baik, ya Nak Fatwa," puji mama.


"Ish, Mama ... kenapa malah Mama yang jawab? Kakak, 'kan nanya sama Pak Fatwa," gerutuku kesal.


"Eh, iya ya ... duh, suka kelupaan kalau nimbrung sama yang muda. Serasa ikut muda lagi, hehehe. Ya sudah ya, Nak Fatwa ... Ibu tinggal dulu. Makasih loh, oleh-olehnya," ucap mama. "Ayo, Ray, kita pergi!" ajak mama pada adikku.


Mereka pun meninggalkan aku dan dosen gila itu di ruang tamu.


"Sori, ya ... hari ini aku nggak bisa jemput kamu. Tadinya sudah berusaha untuk pulang cepat. Tapi ternyata, acaranya sampai jam 3 sore," ucap Fatwa.


"Iya, tidak apa-apa. Lagian, tadi Res pulang sama Bu Fina, kok," jawabku.


"Loh, bukannya sama bang Yudhis?" tanya Fatwa seperti menyelidik.


"Dari mana kamu tahu?" tanyaku.


"Ibu kamu yang bilang," jawab Fatwa.


"Sebenarnya, itu pertemuan tanpa sengaja. Tadi siang, Res...."


Aku menceritakan semua kejadian yang aku alami hingga aku bertemu mas Yudhis. Bahkan tentang kesalahan memilih tas dan tertukarnya pakaian kerjaku, tak luput kuceritakan pada dosen gila itu. Dan, entah kenapa ... aku begitu lancar bercerita. Seolah tanpa beban untuk menceritakan semua urusan pribadiku bersama mas Yudhis kepada dosen sableng itu.


"Masf, Res. Bukannya aku ingin mematahkan kebahagiaan yang sedang kamu rasakan saat ini. Tapi, apa semua kejadian itu tidak terasa janggal, ya?" tanya Fatwa tanpa memikirkan perasaanku.


Aku menatap tajam kepadanya. "Apa maksud kamu, Fat?


"Pertama, dia bilang hendak membeli tas kerja, tapi sekretarisnya bilang mau beli tas buat kamu. Mana yang benar? Kedua, pakaian kerja kamu, kok bisa ketuker gitu, ya. Trus yang paling aneh, kenapa bang Yudhis berkeliaran sama sekretarisnya di saat jam kerja? Menurut kamu, janggal nggak, sih?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2