My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Teka-Teki Lagi


__ADS_3

Aku berteriak keras tanpa melihat nama si pemanggil. Saat aku ingin menutup sambungan telepon, tiba-tiba suara asing itu menggelegar memekakkan telinga.


"Jangan ditutup!" ucapnya.


Sontak aku menjauhkan telepon dari telinga, dan melirik nama yang tertera di layar ponsel. "Dosen gila," gumamku. Kembali aku menyahuti ucapan dosen killer itu.


"Maaf, Res nggak tahu kalo kamu yang telepon," ucapku.


"Mangkanya, kalau ada telepon masuk, lihat dulu id name-nya," tukas laki-laki itu terdengar sangat kesal.


"Iya-iya, maaf," jawabku merendahkan suara. "Lagian, ngapain telepon jam segini?" tanyaku, protes.


"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Bersiaplah dalam waktu 10 menit. Aku sudah menunggumu di bawah," ucap si dosen gila itu.


"Apa?! Jan main-main kamu, Fat?" pekikku.


"Mana ada aku main-main. Kalau kamu nggak percaya, dekati jendela dan lihat aku di bawah!" perintah Fatwa.


Begonya, aku mengikuti perintah dosen gila itu. Saat aku membuka tirai jendela, tampak laki-laki tinggi bertubuh tegap itu melambaikan tangannya. Ish, sial, batinku.


"Ya sudah, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu," ucapku. Sejurus kemudian aku mematikan sambungan telepon. Sebelum aku beranjak dari tepi jendela, tampak mama menghampiri dosen killer itu. Huh, menyebalkan!


Aku pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan otakku. Berhadapan dengan dosen sableng itu, harus memiliki pikiran ekstra dingin dan jernih. Sikapnya yang berubah-ubah seperti bunglon, terkadang bisa membuat kita makan ati.


.


.


"Hmm, Anda terlambat 10 menit dari waktu yang telah ditentukan, Nona," kata dosen itu begitu aku tiba di hadapannya. Sesaat dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Ini rumah Res, bukan kampus. Dan saat ini, kamu adalah tamu Res, bukan dosen Resti," tukasku.


Mama hanya tersenyum melihat interaksi kami. "Ya sudah, Ibu tinggal dulu ya, Nak Fatwa," kata mama.


"Tunggu sebentar, Bu," ucap Fatwa.


"Iya, kenapa, Nak?" tanya mama seraya mengernyitkan keningnya.


"Fatwa mau minta izin untuk membawa Resti ke suatu tempat. Apa Ibu mengizinkan?" tanya dosen itu begitu sopan.


Mama tersenyum. "Tentu saja, silakan, Nak. Asal kembali utuh saja," gurau mama.


"Tenang, Bu. Aman..." sahut Fatwa.

__ADS_1


Mama tersenyum, dia kemudian meninggalkan kami di ruang tamu.


"Sudah siap?" tanya Fatwa melirikku.


"Sebenarnya, kita mau ke mana, sih?" tanyaku sedikit kesal.


"Sudah, ikuti saja!" ajak Fatwa seraya hendak meraih tanganku.


"Eits! No pegang-pegang!" Bukan muhrim!" tukasku seraya menepis tangan Fatwa. Sejurus kemudian, aku berlalu melewati Fatwa begitu saja.


Terlihat jika pria tinggi itu hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar perkataanku. Dia kemudian berjalan mengikuti aku.


Fatwa mendahului aku untuk membukakan pintu mobil. "Silakan masuk, Nona!" ucapnya sopan seraya membungkukkan badan.


"Apaan sih, Fat. Gelaay...!" kataku, menirukan kalimat artis yang sedang nge-trend di kalangan anak muda.


Fatwa hanya tergelak seraya berlari memutar menuju pintu kemudi. Setelah duduk di depan kemudinya, dia itu lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya.


Entah ke mana dia akan membawaku pergi. Yang aku tahu, jalanan yang kami lewati terlihat asing di mataku. Aku melirik Fatwa untuk bertanya. Namun, terlihat jika Fatwa sedang fokus menyetir. Aku pun mengurungkan niatku dan hanya bisa diam. Keheningan terjadi di sepanjang jalan.


Setelah melewati perbatasan kota, Fatwa menepikan mobilnya di sebuah bangunan yang mirip seperti rumah sakit. Sekilas, aku membaca papan nama yang terpampang di depan bangunan. "Yayasan Bina Kasih Sayang," gumamku.


Aku menatap pria dingin itu. "Ini tempat apa, Fat? Dan, untuk apa kita ke sini?" tanyaku.


Aku kembali hendak bertanya. Tapi, aku melihat seseorang yang sedang menuntun seorang anak perempuan, menghampiri mobil dan mengetuk kaca jendela di bagian jok kemudi.


Fatwa menekan power windows untuk membuka kaca mobil. Seketika aku terhenyak saat wanita itu membuka kacamatanya.


"Maaf, sudah membuat Anda lama menunggu," ucap wanita itu dengan sopan.


"Tidak apa-apa, saya juga baru datang, kok," jawab Fatwa.


"Selamat siang, Bu. Apa kabar?" tanya wanita itu tersenyum ramah.


"A-aku baik," jawabku terbata karena masih shock melihat penampilan wanita itu.


"Ya sudah, sebaiknya kita masuk sekarang," ucap Fatwa.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Sejurus kemudian, dia menjauhi mobil dan menunggu kami di depan gerbang yayasan Bina Kasih Sayang.


Meskipun merasa bingung, tapi aku tetap mengikuti ajakan Fatwa untuk turun. Sejurus kemudian, kami tiba di gerbang.


"Kita masuk sekarang, Pak?" tanya wanita itu.

__ADS_1


Fatwa menggerakkan tangannya ke depan sebagai isyarat agar wanita itu masuk terlebih dahulu.


"Ayo, Sayang!" ajak wanita itu kepada anak kecil berusia sekitar lima tahun.


Fatwa menggenggam tanganku, mengaja aku berjalan untuk mengikuti wanita itu. Saat kami tiba di depan kantor yayasan, wanita itu menemui kami.


"Katanya, kita disuruh nunggu di taman, Pak," ucapnya.


"Oh, ya sudah. Ayo, kita ke taman," jawab Fatwa.


Kembali wanita itu berjalan di depan menuju taman.


Sejenak aku menatap laki-laki yang sedang menggenggam tanganku dan bertanya. "Fat, bukankah dia Sandra?" tanyaku.


Fatwa menatapku. "Menurutmu?"


Huh, menyebalkan ... laki-laki itu malah balik bertanya padaku.


"Wajahnya mirip Sandra, tapi penampilannya berbeda," jawabku.


Ya, wanita ini sangat mirip dengan Sandra. Hanya saja, cara berpakaiannya sangat tertutup, meskipun dia tidak memakai hijab. Dan riasannya juga cukup natural. Tidak menor seperti Sandra, sekretarisnya mas Yudhis.


Begitu kami tiba di taman. Wanita itu duduk seraya memangku anaknya. Sesekali, dia mengedarkan pandangan seakan sedang mencari sesuatu. Raut wajahnya terlihat begitu cemas. Sedangkan si anak, dia masih tetap asyik memainkan boneka yang sedari tadi dia bawa.


Fatwa dan aku duduk berdampingan tepat di hadapan wanita itu.


"Apa yang kamu lihat akhir- akhir ini di perusahaan?" tanya Fatwa kepada wanita itu.


"Maaf, Pak. Sebenarnya, saya sudah resign dari perusahaan," jawab si wanita.


"Oh."


Hanya itu yang keluar dari mulut Fatwa. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Rasa penasaranku membumbung tinggi. Tapi, aku enggan bertanya. Aku merasa, mungkin apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak ada urusannya denganku. Yang aku tidak mengerti, kenapa si dosen gila itu mengajakku kemari?


Tiba-tiba, anak itu mulai merengek kepada si wanita yang mirip Sandra. Sepertinya dia mulai merasa bosan dengan mainannya.


"Tante, Ica mau gambar," rengek anak kecil itu.


Sang tante mengeluarkan pensil dan buku gambar. Dia kemudian menyerahkan kedua benda tersebut kepada keponakannya. Dengan wajah ceria, si anak menerima benda-benda itu dan mulai menggambar.


Sesuatu mulai menarik perhatianku dari cara menggambar anak itu. Kidal ... hmm, sepertinya dia tipe anak yang terbiasa melakukan gerakan dengan menggunakan tangan kiri. Aku pun tersenyum. Aku seolah melihat mas Yudhis yang sedang menulis menggunakan tangan kirinya. Tiba-tiba...


"Bang Yudhis!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2