
Aku menghentikan langkah saat mendengar pertanyaan Aji. Untuk sejenak, aku hanya mampu diam. Rasanya, lidah ini terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan itu.
Orang bilang, kesan pertama begitu kuat melekat di hati. Mungkin itu juga yang terjadi dalam hidupku. Dia adalah pria pertama yang sanggup memberikan rasa yang begitu dalam. Meskipun rasa itu telah menghilangkan ribuan warna dalam hidupku.
Aku menghela napas, sedetik kemudian membalikkan badan. Aku berusaha tersenyum untuk menutupi gemuruh di hati. "Aku sudah bertunangan, Ji. Jadi, apa pun yang terjadi pada Fatwa, itu semuanya sudah terlambat," jawabku. "Permisi!"
Aku pamit dan segera pergi dari halaman belakang rumah Wak Haji. Bukannya aku tidak ingin berlama-lama berbincang dengan sahabatku itu, tapi aku sudah tidak sanggup melanjutkan pembicaraan ini. Aku takut luka yang telah lama mengering, kini akan kembali menganga.
"Loh, Mbak Chi mo ke mana?" Tiba-tiba, teguran Az-Zahra di depan rumah, menghentikan langkahku.
"Eh, Mbak Zahra ... maaf, aku harus pulang," jawabku.
"Loh, kok pulang sih? Bukannya kalian baru pertama kali bertemu setelah sekian lama berpisah? Kenapa harus buru-buru, Mbak? Memangnya nggak mau saling bertukar cerita dulu?" tanya Zahra.
"Chi harus bantu mama, mungkin lain kali saja. Mari, Mbak!" Aku mencari alasan agar tidak terlalu lama di tahan oleh Zahra.
"Oh, iya, Mbak. Ya sudah, titip salam buat mamanya Mbak Chi, ya?" ucap Zahra.
"Oke, nanti Chi sampein. Yuk, Mbak ... assalamu'alaikum!" Aku berpamitan pada Zahra.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Zahra.
.
.
Aku menyusuri jalanan komplek. Sepanjang jalan pikiranku terus berkelana pada apa yang dikatakan Aji. Entah kenapa, hatiku mulai tergelitik untuk mencari tahu tentang hubungan Fatwa dengan Anna dulu. Terbersit niat dalam hati untuk menghubungi salah satu teman pramuka dari SMA 42. Tapi setelah aku timbang lagi, tak baik rasanya mengorek cerita orang yang telah meninggal.
"Kakak! Mau kemana?" teriakan mama menghentikan langkahku. Seketika aku berbalik
"Ya, mau pulang lah, Ma!" jawabku sambil menatap mama.
"Pulang ke mana?" Mama balik bertanya.
"Ke rumah atuh, masak ke rumah orang!" jawabku yang merasa kesal dengan pertanyaan unfaedah mama
"Rumahnya di sini, Kak! Kelewatan! Ngapain juga Kakak terus jalan," teriak mama lagi.
Aku mengedarkan pandanganku. Astaghfirullah! Memang benar apa yang dikatakan mama. Rumahku sudah terlewati, dan kini aku tengah berdiri, di depan rumah tetanggaku. Aku mendengus kesal sambil kembali berjalan menghampiri mama. Kok bisa-bisanya aku kurang fokus kek gini?!
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Kak?" tanya mama begitu aku tiba di hadapannya.
Rasanya, aku ingin mengungkapkan semua kegelisahan hati. Tapi apa yang harus aku katakan pada mama? Ini bukanlah hal yang benar. Aku telah memiliki tunangan, dan tidak sepantasnya aku memikirkan orang lain.
"Kenapa, Kak? Kamu ada masalah?" Mama kembali bertanya.
Aku hanya bisa menatap mama. Sejurus kemudian, aku memeluk erat mamaku untuk merasakan kehangatan yang akan memberikan aku kekuatan.
Sepertinya mama tidak ingin memaksa aku berbicara jika memang aku belum siap. Karena itu beliau hanya mengusap punggungku untuk menguatkan aku.
Setelah puas memeluk mama, aku berpamitan untuk pergi ke kamar.
"Pergilah! Bersihkan dirimu," ucap mama yang melihat mataku mulai memerah.
Aku mengangguk, kemudian berlalu pergi dari hadapan mama. Mataku memang mulai terasa panas mengingat kembali perkataan Aji. 'Dia mencintai aku. Benarkah itu?'
.
.
.
Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku saat aku sedang berjalan menuju halte bus.
"Kau!" Aku memekik pelan, tak ingin membuat para mahasiswa-mahasiswi yang telah bubar kuliah menaruh curiga kepada kami.
Fatwa terus menyeret aku. "Masuklah!" perintahnya setelah dia membukakan pintu mobil.
Aku bergeming. Aku benar-benar malas meladeni dia yang sikapnya tak pernah baik terhadapku.
"Masuk!" Sekali lagi dia memberikan perintah sambil sedikit mendorong tubuhku.
Mau tidak mau, aku mengikuti keinginannya. Sejurus kemudian, dia memutar dan membuka pintu kemudi. Bagai orang kesetanan, Fatwa melajukan kendaraannya di atas kecepatan rata-rata.
Entah jalan mana yang aku dan Fatwa lalui, tapi semuanya tampak asing di mataku. Ingin rasanya aku bertanya. Tapi melihat wajah dingin yang tanpa ekspresi di sampingku sedang menatap lurus ke depan, aku mengurungkan niatku. Aku hanya bisa diam dan mengikuti ke mana pun dia membawaku pergi.
Mobil terus melaju melewati jajaran pohon pinus yang berbaris di kiri-kanan jalan. Bulu kudukku mulai berdiri melihat keadaan yang begitu sepi. Ditambah lagi dengan redupnya sinar matahari yang mulai bersembunyi di ufuk barat, membuat tempat itu semakin terasa mencekam.
Setelah berkeliling selama satu jam di hutan pinus, aku melihat sebuah rumah bertingkat yang berdiri kokoh di ujung hutan pinus. Rumah kuno bergaya Eropa dengan eksterior yang memiliki ciri khas identik. Berdindingkan granit dan batu bata di luar rumah, serta ornamen-ornamen tradisional yang membuat rumah tersebut terkesan klasik.
__ADS_1
Daun pintu masuk yang sangat tinggi dengan bentuk atas yang melengkung, serta memiliki jendela yang lebar dan tinggi pula, menciptakan kesan elegan pada rumah itu. Seolah sedang membawa kita kembali ke masa lalu. Terlihat dari luar jika rumah itu menyerupai sebuah kastil kuno.
"Turunlah!" ucap pria dingin itu, datar.
Aku masih tetap bertahan dalam diamku. Sungguh, aku merasa sangat kesal dengan sikap dia yang menurut aku sudah menculikku.
"Aku tidak suka mengulangi perintahku berkali-kali, turunlah!" Masih dengan nada datar dia kembali memberikan aku perintah.
Sesaat, aku melirik padanya. Terlihat sangat jelas tatapan mata yang begitu tajam dengan sinar penuh amarah.
Ya Tuhan ... apa dosaku? Kenapa dia bisa memiliki sorot mata sekejam itu padaku?
Tak ingin menjadi sasaran kemarahannya, aku mulai turun dan mengikuti dia dari arah belakang. Sejenak, pria dingin itu mengeluarkan kunci dari saku jasnya.
Trek!
Kunci rumah terbuka.
Krieet!
Daun pintu terbuka lebar. Bau udara yang khas dari sebuah rumah kosong, menyeruak di hidungku. Terlihat begitu banyak debu di atas kain-kain putih yang menutupi semua barang yang ada di sana.
Kembali pria dingin itu mencekal pergelangan lemganku dan menariknya hingga aku terjatuh dalam pelukannya. Untuk sejenak, dia memelukku erat seraya memejamkan matanya.
"Apa kau tahu, sudah cukup lama aku menantikan hari ini," bisik Fatwa di telingaku.
Aku hanya diam. Sungguh aku tidak bisa mengerti atas perbuatannya hari ini.
Embusan napasnya mulai menyusuri pipi kanan hingga bermuara di ceruk leherku. "Aku mencintaimu ... aku sangat mencintaimu," bisiknya lembut.
Aku terhenyak, sejenak akal sehatku mulai menghilang. Perlahan kedua tanganku mendekap erat punggungnya. Namun,....
'Kamu mengingatkan dia pada almarhumah Anna'.
Ucapan Aji begitu jelas terngiang di telinga. Aku pun mendorong tubuh Fatwa.
"Tidak! Itu bukan cinta, akan tetapi hanya sebuah pelarian!"
Bersambung
__ADS_1