
Rahang Fatwa terlihat mengeras setelah mendengar keinginanku. “Jangan gila kamu, Res! Untuk apa kamu menemui dia lagi?” tanya Fatwa yang merasa tidak habis pikir dengan keinginanku yang tiba-tiba.
“Enak aja! Res nggak gila, ya!” gerutuku kesal dengan ucapan Fatwa yang asal bunyi.
“Ya lagian, permintaan kamu aneh-aneh aja. Ya udah, Yuk pulang!” ajak Fatwa menarik tanganku.
Masih dengan mode diam, aku mengikuti ajakan Fatwa. Tiba di luar kantor, aku melepaskan tangan Fatwa dan pamit pergi ke ruangan bapak kepala sekolah untuk meminta izin pulang awal.
Fatwa menunggu dengan setia di depan mobilnya, hingga tak lama berselang, aku menghampiri dia. Setibanya di sana, Fatwa masih setia membuka pintu mobil untukku, meskipun aku mendiamkannya. Helaan napas Fatwa terdengar berat, saat melajukan kendaraan dalam keheningan.
“Baiklah, besok kita akan menjenguk Citra di rumah sakit,” ucap Fatwa memecah keheningan.
Seketika aku meliriknya dengan mata berbinar. “Benarkah?” tanyaku.
“Hmm,” jawab Fatwa.
“Makasih!” Karena merasa senang, tanpa sadar aku merangkul pundak Fatwa.
Fatwa cukup terkejut mendapati sikapku. Sedetik kemudian kami beradu pandang. Hingga akhirnya, aku memutus tatapan karena menyadari kekonyolanku yang tiba-tiba memeluk Fatwa.
“Maaf,” ucapku lirih.
Fatwa tersenyum. “Tidak apa-apa.”
Setelah semua itu, hanya rasa canggung yang menemani perjalanan kami hingga sampai di rumah. Aku menawari Fatwa untuk singgah. Namun, rupanya dia masih kelelahan karena begitu tiba di bandara dia langsung menjemput aku. Akhirnya, Fatwa pamit pulang.
“Itu, Nak Fatwa yang nganterin kamu pulang, Kak?” tanya mama begitu aku memasuki rumah.
“Iya, Ma,” jawabku.
“Kok, nggak masuk dulu?” Mama kembali bertanya.
“Katanya sih, dia mau istirahat. Soalnya dia baru pulang juga dari Makasar,” kataku.
“Oh, begitu ya? Nak Fatwa baik ya, Kak? Ampe bela-belain jemput kamu, padahal baru pulang dari luar kota,” puji mama.
Aku hanya memutar kedua bola mataku saat mendengar pujian untuk laki-laki itu terlontar dari bibir mama. Hmm, semua lelaki pasti dikatakan baik saat dia mengantar aku pulang. Ah, mama … mama …
“Ya sudah, Ma. Kakak ke kamar dulu, ya. Mo mandi. Gerah!” pamitku kepada mama.
“Oke! Mandi yang bersih ya, Kak! Biar cepet dapat jodoh,” ledek mamaku.
“Yeayy, apa hubungannya?” dengusku kesal.
Aku mulai menaiki anak tangga satu per satu dengan perasaan dongkol. Selalu saja seperti ini, jodoh-jodoh. Ah, nggak ada kalimat yang lain apa?
.
__ADS_1
.
“Ma, aku boleh minta izin menjenguk Citra, nggak?” tanyaku saat kami makan malam.
“Ish, ngapain Kakak jenguk dia?” ucap Rayya terlihat kesal.
“Hus, nggak boleh gitu, Dek!” balas mama. “Memangnya, Citra kenapa, Kak?” Mama bertanya padaku.
“Dia di rumah sakit, Ma,” jawabku.
“Citra sakit?” Mama kembali bertanya.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Mama.
“Sakit apa, Kak?” tanya mama lagi.
“Mama ngapain sih, kepo? Biarin aja dia mo sakit apa, kek. Itu tuh namanya karma!” dengus Rayya terlihat kesal.
Hmm, Rayya mungkin juga merasa kesal karena topik pembahasan kita di meja makan malam ini membahas Citra, yang notabene adalah sahabat yang telah menyakiti aku.
“Ray, nggak boleh gitu Sayang, nggak baik,” tegur mama mengingatkan Rayya.
Rayya yang mendapatkan teguran dari mama hanya mengerucutkan bibirnya.
“Citra kenapa, Kak?” Ternyata mama masih penasaran karena aku belum menjawab pertanyaannya.
“Citra hamil, Ma. Dia hamil anak mas Yudhis. Dan, sepertinya mas Yudhis tidak mau bertanggung jawab. Karena itu, Citra mencoba mengakhiri hidupnya,” jawabku.
“See!” teriak Rayya, “Tuhan itu memang nggak pernah tidur. Mangkanya, jangan main-main dengan perasaan orang. Itu, tuh … Rayya bilang juga apa. Itu karmanya bagi seorang temen yang nusuk dari belakang!” ucap Rayya berapi-api. Sepertinya Rayya masih menyimpan kekesalan terhadap Citra.
“Adekk!!” teriak aku dan mama berbarengan.
“Iya-iya,” sungut Rayya terlihat kesal.
“Ya sudah, jenguk saja, Kak. Nggak ada salahnya berbuat kebaikan. Toh, ketika kita berbuat kebaikan kepada orang lain, maka kebaikan tersebut akan kembali kepada kita,” nasihat Mama.
“Iya, Ma,” jawabku.
.
.
Keesokan harinya, dengan diantar oleh Fatwa, sepulang sekolah aku pergi ke rumah sakit Medica Centre untuk menjenguk Citra. Fatwa terlihat diam, karena memang masih tidak setuju dengan perbuatanku hari ini. Sedangkan aku, masih terdiam karena aku bingung apa yang harus aku katakan jika nanti aku telah bertemu dengan Citra.
Satu jam setelah melewati perjalanan, kami pun tiba di rumah sakit.
“Turunlah dan tunggu aku di lobi. Aku hendak memarkirkan mobil terlebih dahulu,” perintah Fatwa.
__ADS_1
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku membuka pintu mobil dan keluar. Sesaat setelah aku turun, Fatwa kembali melajukan mobilnya menuju tempat parkir rumah sakit. Sedangkan aku masuk ke dalam dan menunggunya di lobi rumah sakit. Aku langsung mendaratkan bokong di atas sofa. Lalu mengambil sebuah majalah remaja yang terletak di atas meja.
Beberapa menit kemudian, Fatwa tiba di hadapanku. “Sudah siap?” tanyanya.
Aku mendongak, lalu menganggukan kepala. Kemudia aku berdiri dan menghampiri Fatwa.
“Ruang apa?” tanya Fatwa lagi.
“Kenanga kamar nomor 101,” jawabku.
“Sebentar, aku tanyakan resepsionis dulu,” ucap Fatwa.
Aku mengangguk. Namun, saat Fatwa hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku dari arah Lift.
“Kak Chi!” teriak Zein setengah berlari ke arah kami. “Apa Kakak mau menjenguk Citra?” tanya Zein lagi begitu tiba di hadapanku.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Zein.
“Ah, syukurlah. Ayo, saya antar!” kata Zein.
Aku mengangguk. Akhirnya, aku dan Fatwa mengikuti Zein dari belakang. Tiba di pintu gerbang lift, Zein segera menekan tombol. Lift pun terbuka dan kami memasukinya. Setelah beberapa menit, kami tiba di lantai tiga.
“Saya senang sekali Kakak mau meluangkan waktu untuk melihat keadaan Citra,” ucap Zein memecah keheningan.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku, berbasa-basi.
“Tidak begitu baik, Kak. Semalam Citra kembali histeris,” jawab Zein.
“Histeris?” tanyaku.
“Iya. Semenjak sadar, Citra sering melamun. Tiba-tiba dia berteriak histeris. Terkadang, dia menangis tanpa suara.” Zein menjelaskan kondisi Citra.
Aku terkejut mendengar perkataan Zein. Separah itukah kondisi Citra?
Zein membuka pintu ruang kenanga. Dia kemudian membuka pintu kamar rawat nomor 101.
“Silakan masuk, Kak! Mohon maaf, gelap. Citra yang meminta aku menutup tirainya,” bisik Zein pada kami.
Aku mengangguk. Tak ingin menggangu Citra yang sedang tertidur, kami pun berjalan perlahan mendekati ranjang.
Aku cukup terkejut melihat kondisi Citra yang sangat kurus. Perutnya mulai terlihat sedikit buncit. Entah berapa bulan usia kandungannya. Wajahnya pucat pasi, seperti bukan Citra yang aku kenal.
“Kak Chi! Maafkan aku … tolong maafkan kesalahanku. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku….!”
Aku begitu terkejut mendengar suara Citra yang begitu memilukan. Aku pikir Citra terjaga, tapi rupanya dia hanya mengigau.
“Itulah yang selalu dia katakan setiap kali dia mengigau, Kak. Karena itu, aku meminta Kakak untuk menjenguknya. Sebenarnya, apa kesalahan Citra pada Kakak hingga sampai terbawa mimpi seperti itu?” tanya Zein.
__ADS_1
“Kesalahannya sudah sangat melampaui batas.”
Bersambung