
Aku menyikut lengan Fatwa saat mendengar ucapannya yang begitu sinis.
“Apaan sih, Res?” gerutu Fatwa terlihat sangat kesal.
“Kamu yang apaan? Ngapain juga ngomongnya asal bunyi kek gitu?” tegurku kesal.
“Yeay, itu, ‘kan, kenyataannya,” tukas Fatwa.
“Ssst, diam!” Aku menempelkan telunjuk di bibir agar Fatwa diam dan tidak meneruskan ucapannya yang bisa membuat orang salah paham.
Sedangkan Zein hanya melongo mendengar perdebatan kami yang setengah berbisik.
“Sebenarnya ada apa sih, Kak. Apa yang terjadi pada kalian? Kenapa aku lihat, Kakak tidak pernah berbarengan lagi dengan Citra?” tanya Zein.
Aku menatap Fatwa untuk meminta pendapat. Kulihat Fatwa menganggukan kepalanya, pertanda dia setuju jika aku menceritakan semua kebenaran ini kepada Zein.
“Sebenarnya kami memang sedang ada masalah, Zein,” ucapku lirih.
“Masalah?" tanya Zein. "Masalah apa, Kak?” Sepertinya Zein mulai penasaran.
“Sebaiknya kita duduk dulu. Kakak takut jika berbicara di sini, tidur Citra akan terganggu,” kataku.
“Oh, iya. Astagfirullahaladzim, saya sampai lupa. Silakan duduk, Kak, Pak!” kata Zein seraya mengajak kami duduk di sofa.
Aku dan Fatwa mengikuti Zein dan duduk berdampingan di hadapan Zein.
“Jadi, masalah apa yang terjadi antara Kakak dan Citra?” tanya Zein lagi.
Aku menghela napas sejenak. Jujur, aku butuh kekuatan untuk menceritakan kembali sesuatu yang membuat hatiku luka.
Seolah mengerti apa yang aku butuhkan saat ini, Fatwa menggenggam tanganku. Mungkin, dengan begini, aku memiliki kekuatan untuk melepaskan semua bebanku. Aku menatap Fatwa. Senyum manisnya mengiringi tekadku untuk bercerita.
“Apa kamu ingat dengan mas Yudhis?” tanyaku mengawali cerita.
Zein menganggukan kepalanya. “Mas Yudhis tunangan Kakak yang sering menjemput ke kampus, ‘kan?” pertegas Zein.
Aku mengangguk.
“Ada apa dengan beliau? Kenapa aku tidak pernah melihat beliau menjemput Kakak lagi?” tanya Zein.
Aku menarik napas. “Sebenarnya, Citra ….” Entahlah, rasanya berat bagiku untuk membuka rahasia Citra.
Zein semakin mengernyitkan keningnya. “Sebenarnya Citra kenapa, Kak?” tanya Zein.
__ADS_1
“Citra memiliki hubungan dengan mas Yudhis di belakangku.” Akhirnya aku ungkapkan rahasia yang selama ini hanya keluarga aku dan keluarga mas Yudhis yang tahu, juga Fatwa.
Zein sangat terkejut mendengar penuturanku. “Jadi, selama ini Citra berselingkuh dengan tunangan Kakak?” tanya Zein seolah butuh penegasan.
Aku mengangguk.
“Hmm, pantas saja Citra selalu menolak perasaanku,” gumam Zein.
Sudah aku duga, Zein ternyata memiliki perasaan untuk Citra. Maafkan aku, Zein. Aku tahu, saat ini hatimu pasti sedang terluka.
“Maafkan aku, Zein. Ceritaku ini pasti menyakiti hati kamu,” kataku.
“Tidak apa-apa, Kakak. Justru aku yang minta maaf, karena aku, Kakak harus membuka luka lagi,” tukas Zein.
“Tidak apa-apa. Mungkin ini sudah garis takdir Kakak. Ya, Kakak cukup bersyukur, Tuhan menunjukkan jati diri mas Yudhis yang sebenarnya sebelum kami benar-benar membina rumah tangga,” kataku.
“Tapi kenapa, Kak? Bagaimana bisa Citra berhubungan dengan mas Yudhis?” tanya Zein yang terlihat kebingungan.
Aku melirik Fatwa. Laki-laki itu kembali menganggukan kepalanya.
"Sebenarnya, mereka telah lama saling mengenal. Bahkan mungkin sebelum Kakak mengenal mas Yudhis. Kakak sendiri baru tahu hal itu setelah Kakak bertemu dengan mantan kekasih mas Yudhis di masa lalu. Ternyata, Citra pernah berselingkuh dengan mas yudhis, yang statusnya masih menjadi kekasih sahabatnya. Setelah bertemu lagi, Citra juga melakukan hal yang sama kepada Kakak,” tuturku panjang lebar.
Kembali aku lihat Zein semakin terkejut mendengar masa lalu Citra.
Kami semua menoleh. Aku lihat, Mbak Sekar dan Mas Andre telah berada di sana. Dan, kemungkinan mereka mendengar kebenaran tentang Citra yang baru saja aku ungkap.
“Maafkan aku, Mbak. Aku tidak bermaksud menjelekkan Citra,” ucapku.
“Tidak bermaksud menjelekkan, tapi kenyataanya kau menghina adikku!” seru Mbak Sekar, terlihat marah.
Aku hanya bisa diam. Menanggapi orang yang sedang marah, sungguh hanyalah sebuah kesia-siaan.
“Apa yang dikatakan Kak Chi memang benar, Mbak!” tiba-tiba Citra membuka suara.
Sontak kami terkejut dan langsung menoleh kepadanya.
“Kamu sudah bangun, Cit?” tanya Zein seraya menghampiri Citra.
Pun dengan Mbak Sekar yang langsung tersenyum begitu melihat adiknya telah membuka mata. Mbak Sekar mengikuti Zein untuk menghampiri adik tercintanya.
“Alhamdulillah. Mbak senang kamu mau bicara lagi sama Mbak, Dek,” ucap Mbak Sekar.
Citra mengulurkan tangannya kepada sang kakak. Sejurus kemudian, mereka saling berpelukan. Citra pun menangis tersedu-sedu dalam pelukan kakaknya.
__ADS_1
“Maafkan Citra, Mbak. Citra memang bukan orang baik-baik. Citra hanya manusia hina. Citra sudah sangat mengecewakan Mbak,” racau Citra dalam pelukan kakaknya.
“Sudahlah, Cit. Jangan dibahas lagi. Mungkin kamu memang bersalah, tapi … bagaimanapun juga, kamu tetap adik Mbak. Sabesar apa pun kesalahan kamu, Mbak akan memaafkan kamu. Asalkan kamu tidak mengulanginya kembali,” jawab Mbak Sekar.
Citra semakin tersedu mendengar ketulusan kasih sayang sang kakak. Citra mengalihkan pandangannya kepadaku.
“Kak Chi, Citra minta maaf karena sudah menyakiti Kakak. Padahal, selama ini Kakak sudah begitu baik sama Citra. Kakak selalu menganggap Citra sebagai adik. Tapi, Citra bener-bener teman yang nggak tahu diri. Citra malah … hiks … Ci-citra malah menyakiti hati Kakak,” ungkap Citra dalam isak tangisnya.
Aku beranjak dari tempat duduk kemudian menghampiri Citra. Kugenggam erat tangan Citra seraya menatapnya. “Aku sudah memaafkan kamu, Cit. Tanpa diminta pun, aku sudah memaafkan kamu,” kataku.
“Kakak, boleh Citra peluk Kakak?” pinta Citra.
Aku tersenyum dan merentangkan kedua tangan. Citra pun menjatuhkan tubuhnya, memelukku dengan erat. Setelah beberapa detik, aku mengurai pelukanku. Kutatap perut Citra yang mulai buncit. Sejenak, aku mengelusnya.
“Berapa bulan usia kandungan kamu, Cit?” tanyaku seraya mengelus-elus perut Citra.
“Memasuki trimester kedua, Kak,” jawab Citra seraya memandang perutnya.
“Gimana, rewel nggak?” tanyaku lagi.
“Alhamdulillah nggak, Kak. Mungkin karena dia tahu ayahnya tidak bertanggung jawab,” gumam Citra, pelan.
“Apa kamu yakin itu anaknya Yudhis?” celetuk Mas Andre.
Kami semua terkejut mendengar celetukan kakak iparnya Citra.
“Mas!” bentak Mbak Sekar.
“Citra nggak serendah itu, Mas!” bantah Citra. “Demi Tuhan, hanya mas Yudhis satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuh Citra,” ucapnya lagi
Mas Andre menghela napasnya. “Ya sudah, jika memang kamu yakin Yudhis adalah ayah dari bayi yang kamu kandung, kita akan menempuh jalur hukum supaya Yudhis bertanggung jawab sama kamu,” ucap Mas Andre.
Citra menundukkan kepalanya seraya mengusap perut. “Mas Yudhis akan bertanggung jawab terhadap bayi yang Citra kandung. Tapi dia tidak akan menikahi Citra,” gumam Citra pelan.
Seketika aku terkejut mendengar perkataan Citra. “Apa maksud kamu, Cit?” tanyaku, heran
Citra mendongak. “Citra pernah menemui mas Yudhis untuk meminta tanggung jawab. Mas Yudhis bilang, dia akan memenuhi semua kebutuhan anak Citra, tapi dia tidak mau menikahi Citra,” ucapnya pilu.
“Astagfirullahaladzim!” seketika aku memeluk Citra karena merasa iba akan nasibnya. Jika memang apa yang diucapkan Citra benar adanya, itu artinya … akan ada lagi Sandra kedua. Ish, tidak! Aku tidak akan membiarkan Sandra-Sandra yang lain bermunculan.
“Kamu tenang saja, Cit. Mas Yudhis pasti akan bertanggung jawab.”
Bersambung
__ADS_1