My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pahit


__ADS_3

Lututku semakin bergetar hebat saat aku bertatap muka dengan wajah yang tak asing itu.


"Kau?! pekikku tertahan. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa berada di apartemen Mas Yudhis. Yang aku mengerti, kini dia tengah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan calon suamiku sendiri. Dan itu sungguh diluar dugaanku.


Seketika, Mas Yudhis mendorong tubuh polos Citra dari atas tubuhnya. Dia bangkit dan mengenakan celana boxer-nya. Sedangkan gadis –ah, sepertinya dia bukan gadis lagi– itu langsung menyelimuti tubuhnya yang polos.


Mas Yudhis mendekati aku. "Chi, Mas bisa jelaskan semua ini," ucap Mas Yudhis tanpa tahu malu. Dia menyentuh kedua pundakku.


Seketika aku menepiskan kedua tangan Mas Yudhis. "Jangan sentuh Chi!" teriakku histeris.


Sungguh, aku merasa jijik saat tangan kotor yang telah menggerayangi tubuh polos sahabatku sendiri, menyentuh bahuku. Tak sanggup melihat pengkhianatan mereka, aku segera berlari ke luar kamar Mas Yudhis.


"Chi, tunggu! Chi!"


Aku masih mendengar Mas Yudhis berteriak memanggilku. Bahkan dia menarik tangan dan memaksaku untuk berhenti. Namun, aku sudah tidak sudi lagi berhadapan dengannya. Kembali kutepis tangan Mas Yudhis. Aku segera berlari menuju lift. Tanpa aku sadari, sepasang mata tengah mengawasi dari balik pintu unit yang lain.


Aku terus berlari hingga akhirnya aku tiba di halte bus. Aku mencoba mengatur napas sebelum aku menaiki bus yang aku sendiri tidak tahu akan membawaku ke mana. Dadaku semakin terasa sesak. Sungguh, aku tidak pernah menyangka jika aku akan mendapati sebuah kenyataan yang begitu pahit. Sahabat yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri, ternyata tega bermain gila bersama calon suamiku sendiri. Ya, Tuhan ... takdir apa yang sedang kuhadapi saat ini? Kenapa harus Citra? Kenapa harus Mas Yudhis? Kenapa mereka tega mengkhianati aku? batinku menjerit.


Air mata sudah tak mampu aku bendung lagi. Saat aku menoleh ke kaca jendela bus, aku melihat sebuah taman yang cukup sepi. Akhirnya, aku memutuskan untuk turun di sini.


Setelah membayar ongkos bus, aku menyeberangi jalan dan mulai memasuki taman bunga itu. Terdapat sebuah danau buatan di tengah-tengah taman. Aku mulai mendaratkan bokong di bangku kosong yang menghadap danau buatan.


Aku mencoba mengatur ritme jantungku yang berpacu dengan cepat. Namun, aku tak mampu melakukannya. Bayangan kedua insan yang sedang menari berirama di atas ranjang kembali menghampiri ingatanku. Ya Tuhan ... Apa salah dan dosaku kepada mereka? Kenapa kedua orang yang aku sayangi, tega memperlakukan aku seperti ini. Aku sudah seperti orang bodoh saja. Kenapa mereka tega mempermainkan aku?

__ADS_1


Buliran bening itu kembali berlomba-lomba untuk turun. Dadaku semakin terasa sakit. Tubuhku terus berguncang hingga tanpa sadar aku berteriak keras untuk menumpahkan semua bentuk perasaanku. Kecewa, sakit, marah, dan terluka, semuanya bercampur menjadi satu. Mungkin inilah yang dinamakan luka tak berdarah. Perih!


"Sebaiknya Kakak mempercepat tanggal pernikahan Kakak!"


Kalimat itu kembali terngiang di telingaku. Kenapa? Kenapa Citra memberikan solusi seperti itu jika pada akhirnya dia justru menusukku dari belakang. Ya Tuhan ... permainan seperti apa yang sedang dia lakukan?


Aku hanya bisa menatap kosong hamparan air danau yang terlihat hijau. Tubuhku masih terus berguncang, meski tak sehebat tadi. Derai air mata masih tidak ingin berhenti, meski dadaku mulai sedikit lega setelah berteriak lepas tak karuan. Tiba-tiba saja, seseorang mengulurkan sebuah saputangan berwarna maroon.


"Hapuslah! Air mata kamu terlalu berharga untuk menangisi pria seperti itu," ucapnya dingin.


Aku mendongak, tampak pria bertubuh tegap itu tengah berdiri di hadapanku. Sejurus kemudian, dia duduk di sampingku dan mulai menyeka air mataku dengan saputangannya.


"A-aku bisa sendiri," ucapku seraya mengambil saputangan itu dan mulai membersihkan wajahku dari sisa-sisa air mata yang masih mengalir.


"Minumlah!" ucap Fatwa seraya menyodorkan sebotol air mineral.


Aku merasa heran, kenapa Fatwa bisa berada di tempat ini. Apakah hanya karena faktor kebetulan, atau memang dia sengaja mengikuti aku.


"Dari mana kamu tahu jika aku berada di sini?" tanyaku mulai menyelidik.


"Aku selalu tahu keberadaan kamu. Jadi jangan pernah tanyakan hal itu lagi!" ucapnya dingin.


Ah, melayani omongan pria ini, bisa-bisa membuat aku gila. Aku pun tak ingin bertanya lagi meski ada banyak pertanyaan yang menggunung di benakku.

__ADS_1


"Mau aku pinjamkan bahu untuk bersandar?" tanya pria itu.


Aku mengangguk.


Pria itu meraih kepalaku dan membawanya ke dalam pelukan dia.


Aku kembali menangis di dada bidang laki-laki itu. Aku tidak peduli jika air mataku telah membuat bajunya basah.


Fatwa mengusap punggungku untuk memberikan kekuatan. "Menangislah hanya untuk saat ini. Setelah itu, jangan pernah ada air mata lagi yang keluar untuk laki-laki seperti bang Yudhis," ucap Fatwa.


"Ke-kenapa, Fat? Kenapa kisah cinta Res selalu berakhir penuh kepahitan?" tanyaku.


Fatwa masih mengusap punggungku tanpa bicara. Mungkin, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


"Res sudah begitu mempercayai mas Yudhis. Res menaruh harapan besar jika dia akan menjadi imam Res. Tapi kenapa dia tega mengkhianati kepercayaan yang Resti berikan. Kenapa Fat?" Aku kembali menangis saat mengingat pengkhianatan mas Yudhis.


"Ssst, sudahlah Res ... jangan pernah mempertanyakan hal yang tidak aku ketahui jawabannya. Yang aku tahu, bang Yudhis tidak pernah pantas mendapatkan ketulusan cinta dari kamu. Aku sudah memberi tahu kamu, tapi sayangnya kamu tidak pernah percaya padaku," ucap Fatwa.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Fatwa memang benar, aku tidak pernah mengindahkan ucapannya. Bahkan aku malah menuduhnya jika dia ingin menghancurkan hubungan aku dengan mas Yudhis. Ish, bodohnya aku...


Aku melepaskan pekukanku dan menatapnya. "Maafin Res, karena tidak pernah mempercayai kamu, Fat. Bahkan, Res membenci kamu dan menganggap kamu sebagai orang yang hendak menghancurkan hubungan Res sama mas Yudhis. Tapi nyatanya, mas Yudhis dan sahabat Res sendiri yang justru menghancurkan hubungan ini," ucapku.


Telunjuk laki-laki itu menyeka air mataku yang terus membasahi pipi. "Tidak apa-apa, apa pun pemikiran kamu tentang aku, itu tidak jadi masalah. Aku hanya tidak mau kamu terluka, Res. Kamu itu sangat berharga bagiku," ucapnya tulus.

__ADS_1


"Terima kasih, Fat," ucapku. Tiba-tiba, aku ingat sesuatu yang ganjal dari kejadian ini. Kunci apartemen mas Yudhis. Ya, kenapa Fatwa memberikan kunci apartemen mas Yudhis dan mengakuinya sebagai kunci apartemen miliknya. Apakah ada sebuah permainan dari kejadian hari ini?


Bersambung


__ADS_2