My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kembali Diteror


__ADS_3

Aku menghempaskan tubuh di atas ranjang. Hari ini benar-benar sangat melelahkan. Terlebih lagi setelah mengalami tragedi penguntitan yang terjadi layaknya di film-film action. Saking parno sama si penguntit, aku sampai salah mengenali orang.


Huff!


Aku membuang napas dengan kasar saat mencoba mengingat raut wajah si penguntit. Rasanya, wajah berahang keras itu seperti tidak pernah asing bagiku. Aku merasa, dia pernah hadir dalam hidupku, tapi siapa?


"Huh, ada-ada saja," gerutuku dengan sangat kesal. Aku sendiri heran, kenapa hidupku selalu penuh oleh masalah. Rasanya, ingin seperti orang lain, yang bisa damai dalam menjemput kebahagiaan.


Aku melirik jam yang berada di atas nakas, hmm ... jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebaiknya aku tidur, supaya besok aku tidak bangun kesiangan, batinku.


Kutarik selimut yang terlipat di tepi bawah ranjang. Sejurus kemudian, aku menyelimuti tubuhku hingga menutupi dada. Bersiap untuk merangkai mimpi yang aku harap bisa sedikit menenangkan pikiran.


.


.


"Aarghh!"


Saat aku tengah berada di dapur, tiba-tiba aku mendengar teriakan Rayya dari luar. Sejenak, aku dan mama saling pandang.


Mama menautkan kedua alisnya. “Adek kamu kenapa, Kak?” tanya mama.


Aku hanya menggedikkan bahu. “Ayo kita lihat, Ma!” Aku mengajak mama keluar.


Kami segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kerasnya teriakan Rayya, membuat kami merasa khawatir.


“Ada apa, Dek?” tanyaku begitu tiba di depan rumah.


“I-itu, Kak!” ucap Rayya seraya menunjuk lantai. Wajahnya terlihat sangat pucat. Bibirnya bergetar, sedangkan tangan kanannya yang sedang memegang sapu ijuk, terlihat gemetaran.


Aku dan mama seketika menoleh ke arah yang ditunjuk Rayya. Kedua bola mata kami membulat sempurna, saat melihat noda berwarna merah yang berceceran di lantai teras rumah.


“Apa itu, Dek?” tanyaku kepada Rayya.


“Ra-ray enggak tahu, Kak. Be-begitu Ray keluar hendak menyapu lantai, no-noda merah itu sudah ada,” jawab Rayya terbata.


Aku memberanikan diri untuk menghampiri tetesan noda yang kalau aku tak salah duga, itu adalah darah.


“Hati-hati, Kak!” kata mama.


Aku mengangguk, kemudian berjongkok untuk melihat lebih dekat noda yang hampir mengering itu. Tanganku terulur untuk menyentuhnya. Sejurus kemudian, aku mencium noda yang sudah menempel di ujung jari telunjukku.


“Uuh ... hhueek!”


Bau amis yang menyengat dari noda itu, hampir mengeluarkan isi perutku. Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangan dengan sabun. Saat aku membuka pintu kamar mandi. Kini teriakkan mama yang aku dengar dari luar. Buru-buru aku mencuci tangan dan kembali keluar untuk melihat apa yang terjadi.


“Ada apa, Ma?” tanyaku.

__ADS_1


“I-itu!” tunjuk mama pada seekor hewan yang berlumuran noda merah.


Aku melirik hewan yang ditunjuk mama. “Astagfurullah!” pekikku yang menyadari jika hewan itu adalah seekor tikus besar yang kepalanya telah terpotong.


Rayya menjerit keras saat melihat hewan tanpa rupa itu. Jeritan Rayya membuat penjaga keamanan yang tengah melintas, menoleh.


“Ada apa, Bu?” tanya penjaga keamanan komplek kepada mama.


“Ah, Mang Iip, kemarilah!” panggil mama kepada penjaga keamanan komplek.


Laki-laki paruh baya itu membuka pintu pagar dan memasuki halaman rumah kami. “Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Mang Iip kepada mama.


“Iya, Mang. Tolong bersihkan semua ini, ya!” pinta mama seraya menunjuk kepada hewan itu serta ceceran darah yang ada di lantai.


“Astagfirullahaladzim! Apa ini, Bu?” tanya Mang Iip yang sepertinya terkejut melihat suasana di teras rumah kami.


“Entahlah, Mang. Mungkin saja ada orang iseng,” jawab mama, berusaha untuk tenang.


“Wah, ini sih bukan orang iseng namanya, Bu. Tapi sudah mengganggu ketenangan dan kenyamanan warga. Seperti di film-film horor gitu, Bu. Apa ya, namanya?” ucap Mang Iip seraya memutar bola matanya seolah sedang mengingat sesuatu.


“Teror?” timpal Rayya.


“Nah, bener itu, Neng. Ini namanya teror,” ulang Mang Iip mempertegas.


“Ish, siapa juga yang mau meneror kami, Mang. Lah wong kita ini bukan pengusaha sukses, bukan artis terkenal, bukan pula pejabat pemerintahan yang sering diteror orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” tukas mama.


“Memangnya Mang Iip nggak lihat orang yang mencurigakan gitu, di sekitar komplek ini?” Tiba-tiba aku teringat akan si penguntit yang tempo hari selalu mengikuti layaknya bayangan.


“Emm, nggak ada sih. Mamang pikir, nggak ada yang mencurigakan tuh, Neng,” jawab Mang Iip.


“Oh, ya sudah. Ini pasti kerjaan orang iseng aja. Tolong dibersihkan ya, Mang!” pinta mama.


“Siap, Bu!” jawab Mang Iip.


Dengan sigap, Mang Iip mengambil pengki dan sapu lidi yang tersimpan di sudut halaman. Sejurus kemudian, dia mulai mengambil bangkai tikus tersebut.


“Coba ambil kain pel-nya, Ray!” perintah mama kepada Rayya.


Rayya segera ke dalam untuk mengambil kain pel dan seember air untuk membersihkan ceceran darah tikus di lantai. Sedangkan aku pergi ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan aku di dapur. Sedikit insiden di pagi hari ini, membuat aku terlambat pergi bekerja.


.


.


Selama bekerja, pikiranku terus berkelana pada hal-hal yang membuat aku merasa kembali diteror. Kepalaku terasa berat saat aku tak mampu menemukan titik terang dari semua kejadian ini. Jika ini memang ada unsur kesengajaan, lalu siapa orang yang berada dibalik semua teror yang terjadi pada keluargaku. Siapa sasarannya, aku, mama, ataukah Rayya? Atau dia memang sengaja hendak meneror seluruh anggota keluargaku. Tapi, apa motifnya?


“Belum pulang, Bu Res?” tanya Pak Dani yang memang selalu pulang terakhir.

__ADS_1


Aku melirik jam di atas meja kerjaku. Sudah hampir pukul 3 sore. Ya Tuhan, saking asyiknya melamun, aku sampai tidak sadar jika waktu pulang memang sudah telat hampir satu jam.


“Eh, iya. Ini sebentar lagi, Pak,” ucapku.


“Mau pulang bareng?” tawar Pak Dani.


Hmm, boleh juga. Cari aman saja, mumpung ada yang mau mengantar. Ya, siapa tahu si penguntit itu beraksi lagi.


“Boleh, kalau memang tidak merepotkan, Pak,” jawabku.


“Tidak merepotkan kok, Bu. Kita, ‘kan searah,” balas Pak Dani.


Aku tersenyum. Setelah merapikan meja kerja, aku mengikuti Pak Dani ke tempat parkir.


Setelah melewati perjalanan selama satu jam, aku tiba di rumah.


“Terima kasih, ya Pak Dan,” ucapku.


“Sama-sama, Bu. Mari!” balas Pak Dani.


Sesaat setelah Pak Dani pergi, aku melangkahkan kaki memasuki rumah.


“Kok, pulangnya terlambat, Kak?” tanya mama begitu aku membuka pintu.


“Iya nih, Ma. Lagi banyak kerjaan,” jawabku sedikit berbohong. aku tidak mau membuat mama khawatir dengan kejadian yang aku alami akhir-akhir ini.


“Oh, ya sudah. Cepat ganti pakaian dan bantu mama di dapur. Hari ini mama dapat pesanan catering buat acara tasyakuran besok pagi di rumah Bu Ima,” kata mama.


“Berapa kotak, Ma?” tanyaku.


Sekitar seribu kotak, ” jawab mama.


“Alhamdulillah! Begadang dong, Ma,” kataku.


“Iya, nggak pa-pa, ‘kan?” tanya mama.


“Iya, nggak pa-pa. Bentar ya, Ma … Kakak ganti baju dulu.”


Setelah berpamitan pada mama, aku ke atas untuk mengganti pakaian. Tak lama kemudian, aku turun dan mulai asyik berkutat di dapur.


Kami menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan kami masak selepas magrib. Hingga tanpa sadar, matahari sudah mulai condong ke barat.


“Sudah, Kak. Kita shalat dulu. Dah Adzan, tuh,” ucap mama.


Aku mengangguk dan segera beranjak untuk pergi ke kamar mandi.


Prang!!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2