
Bripda Agus segera mengajak Fatwa untuk naik ke lantai dua. Tiba di sana, mereka membuka pintu kamar satu per satu. Bripda Agus tampak tertegun saat dia menemukan kotak makan yang isinya telah berceceran di lantai.
"Pak Fatwa, kemarilah!" panggil Bripda Agus kepada Fatwa.
Fatwa yang tengah memasuki kamar sebelah, langsung menghampiri Bripda Agus begitu mendengar namanya dipanggil.
"Ada apa, Pak?" tanya Fatwa begitu sampai di kamar tengah.
Bripda Agus menunjukkan ceceran nasi di lantai. Untuk sejenak, Bripda Agus dan Fatwa hanya bisa saling pandang.
"Hmm, jika aku tidak salah duga, mungkin teman Anda baru saja disekap di kamar ini," ucap Bripda Agus.
Fatwa mengangguk. "Tapi, ke mana dia?" tanya Fatwa, heran. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Resti.
"Hmm, melihat dari makanan yang berceceran di lantai, apa mungkin jika teman Anda telah melarikan diri?" ucap Bripda Agus.
"Entahlah, yang aku takutkan, dia mendapatkan paksaan untuk melakukan sesuatu sehingga dia melawan, dan seperti ini akibatnya," ucap Fatwa terlihat cemas.
"Sudahlah, Pak ... jangan terlalu berprasangka buruk dulu," ucap Bripda Agus sambil menepuk bahu Fatwa.
Saat mereka tengah memikirkan kemungkinan yang terjadi pada korban, tiba-tiba mereka mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Segera mereka berlari menuruni anak tangga.
Tiba di bawah, mereka melihat Komandan Edi yang tengah menginterogasi salah seorang penjahat yang tertangkap oleh salah satu anggota kepolisian.
"Katakan! Di mana kamu menyembunyikan tawananmu, hah?" tanya Komandan Edi.
Namun, pria itu sepertinya enggan menjawab. Rupanya, dia sangat patuh kepada perintah tuanya.
__ADS_1
Fatwa terlihat geram saat si penjahat itu tak menjawab sama sekali. Meskipun komandan Edi telah bertanya kepadanya berulang kali. Seketika, Fatwa menghampiri tawanan itu dan melayangkan bogem mentah.
"Jawab atau hanya namamu saja yang akan kembali pada keluargamu!" ucap Fatwa seraya melayangkan kembali tinjunya secara bertubi-tubi.
Si penjahat itu mulai terhuyung-huyung karena terus mendapatkan pukulan dari tangan kekar Fatwa. Hingga akhirnya dia pun menyerah.
"Sa-saya ti-tidak ta-hu wa-wanita itu ber-ada di mana. Di-dia kabur se-sejak dua jam yang lalu," ucap si penjahat terbata-bata.
"Kabur? Apa maksudmu kabur?" tanya Bripda Agus seraya mencengkeram kerah baju si penjahat itu.
"Be-benar, Pak. Wa-wanita itu me-larikan diri saat kami hendak memberinya makan. Di-dia menendang teman saya dan berlari ke luar," lanjut si penjahat itu.
"Ke arah mana dia lari, hah?" tanya Fatwa lagi.
"Sa-saya tidak tahu pasti. Tapi, teman saya sedang mencarinya di kawasan hutan pinus, Pak," jawab si penjahat.
"Tangkap dia dan kumpulkan tim untuk mencari keberadaan korban di dalam hutan pinus!" teriak Komandan Edi.
Setelah penjahat itu diborgol. Pasukan kembali dikumpulkan dan diberikan perintah untuk menyisir hutan pinus.
Malam semakin merangkak. Keadaan hutan pinus pun semakin terlihat gelap. Rasanya, tidak mungkin bisa menemukan Resti hanya dengan mengandalkan senter ponsel saja.
"Apa tidak sebaik kita lanjutkan pencarian esok hari saja, Pak?" tanya seorang anak buah Komandan Edi kepada Fatwa.
"Tidak, Pak. Saya sangat mengkhawatirkan keadaan teman saya itu. Jadi saya mohon, lakukan pencarian malam ini juga," pinta Fatwa kepada polisi tersebut.
"Saya mengerti perasaan Bapak. Tapi, malam sudah semakin gelap. Cuaca juga terlihat mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Akan sangat sulit bagi kami untuk melakukan pencarian dengan keadaan seperti ini," tutur polisi itu lagi.
__ADS_1
Fatwa menengadah. Memang benar apa yang dikatakan polisi itu. Langit terlihat sangat hitam. Saat Fatwa menadahkan tangannya. Tetesan air hujan mulai ia rasakan. Akhirnya, mau tidak mau, Komandan Edi menghentikan pencarian untuk malam ini. Mereka kemudian fokus untuk menangkap para pelaku kejahatan terlebih dahulu.
Fatwa kembali ke dalam mobilnya. Dia mulai gelisah saat rintik air hujan turun semakin lebat. Seketika, dia teringat akan penyakit hipotermia yang dialami gadis itu saat cuaca dingin menerpa tubuhnya. Ya Tuhan, aku mohon lindungi dia, batin Fatwa.
Sepanjang malam, Fatwa terus merasa gelisah di dalam mobilnya. Dia tak mampu memejamkan kedua matanya. Bayangan tubuh kurus Resti yang menggigil, membuat Fatwa semakin cemas. Fatwa sudah tak sabar menunggu pagi datang.
Menjelang subuh, tanpa menunggu perintah dari pihak kepolisian, Fatwa segera menyusup memasuki kembali kawasan hutan pinus. Dengan mengandalkan cahaya senter dari ponselnya, Fatwa terus menyusuri kawasan hutan pinus tersebut. Dia masih ingat saat dia menempati villa sang kakek, untuk menenangkan batin dan menstabilkan emosinya, dia selalu berjalan-jalan pagi di kawasan hutan pinus ini. Karena itu, Fatwa tidak terlalu kesulitan menyusuri celah-celah pohon pinus, meskipun dengan bantuan penerangan seadanya.
Saat mentari mulai terbit di ufuk timur, perlahan sinarnya menyeruak memasuki celah-celah pohon pinus. Hingga suasana di hutan pinus mulai terlihat agak terang. Fatwa segera mematikan senter ponselnya agar dia bisa menghemat baterai ponsel. Bagaimanapun juga, Fatwa masih memerlukan ponsel hari ini untuk berkomunikasi dengan para polisi itu.
Saat dia bermaksud untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon yang rindang, Fatwa melihat sobekan baju yang berada di salah satu ilalang berduri tajam. Sobekan baju itu cukup menarik perhatian Fatwa, hingga akhirnya, Fatwa melupakan niatnya untuk beristirahat. Sejurus kemudian, Fatwa mendekati sobekan baju tersebut.
"Sepertinya, ini milik Resti," gumam Fatwa meraih sobekan baju tersebut dan menciumnya. "Benar, ini wangi parfum yang selalu dipakai oleh dia," gumam Fatwa, tersenyum.
Sejenak, Fatwa mengedarkan pandangannya. Mencoba mencari keberadaan gadis itu yang mungkin saja berada di sekitar sini. Namun, nihil. Fatwa tak melihat keberadaan Resti di tempat ini. Hingga akhirnya, dia mulai kembali menyusuri hutan pinus itu.
Cukup jauh Fatwa berjalan. Napasnya pun mulai tersengal. Fatwa berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Namun, Fatwa mendengar rintihan seseorang dari balik pohon besar yang berada tak jauh di hadapannya. Fatwa berlari mendekat pohon itu. Dia begitu terkejut saat mendapati Resti tengah duduk meringkuk di bawah pohon. Tubuhnya menggigil karena semalaman dia pasti kehujanan.
Fatwa segera menghampiri Resti dan berjongkok di hadapannya. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi gadis itu yang terlihat pucat.
"Panas," gumam Fatwa. Segera dia meraba kening gadis itu. "Ya Tuhan ... sepertinya dia demam."
Fatwa segera menghubungi Komandan Edi. Dia memberi tahu Komandan Edi jika dia telah berhasil menemukan Resti. Di sisi lain, Komandan Edi juga memberi tahu Fatwa jika tim-nya berhasil menangkap orang-orang suruhan Yudhis. Saat ini, kelima bodyguard Yudhis akan segera digelandang ke kantor polisi.
Setelah menutup teleponnya, Fatwa kembali menghubungi rumah sakit terdekat agar mengirimkan mobil ambulan ke lokasi.
Fatwa meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Sejurus kemudian, dia mengangkat tubuh lemah Resti dan segera membawanya pergi.
__ADS_1
Bersambung