My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kabar Buruk


__ADS_3

“Sebenarnya, apa yang terjadi pada nak Fatwa, Kak?” tanya mama.


Pertanyaan mama seketika membuyarkan lamunanku. Aku menatap mama, air mata kembali melelh di pipiku. Aku mulai memeluk mama, tak kuasa menahan kesedihanku atas apa yang menimpa kepada laki-laki itu.


Mama kembali mendekap erat tubuhku. Dia mengusap-usap punggungku.


“Tenangkan dirimu, Kak. Jika kamu memang tidak ingin bercerita sekarang, Mama tidak akan memaksa kamu,” ucap mama.


“Fa-fatwa tertembak, Ma. Di-dia tertembak ka-karena melindungi Kakak,” jawabku terbata.


“Astagfirullahaladzim! Tapi, bagaimana bisa?” tanya mama lagi.


“A-anneu berusaha mencelakai Kakak. Awalnya dia hendak menembak Kakak. Tapi, saat Anneu menarik pelatuk senjata apinya, tiba-tiba saja Fatwa datang menghalangi Kakak. Hingga akhirnya, peluru itu mengenai tubuh Fatwa,” paparku.


“Innalillahi … semoga nak Fatwa baik-baik saja,” do,a mama.


“Aamiin,” jawabku.


Perjalanan dari kantor polisi menuju rumah sakit memakan waktu selama 30 menit. Tiba di sana, Zein menurunkan aku, mama dan Rayya di depan lobi rumah sakit. Sedangkan dia kembali melajukan mobilnya menuju tempat parkir.


Aku, mama dan Rayya segera masuk dan langsung menuju bagian pendaftaran.


“Permisi, Sus!” sapa Rayya, “pasien korban penembakan atas nama Fatwa dibawa ke mana, ya?” tanya Rayya.


“Sebentar ya, Mbak. Saya periksa dulu,” jawab perawat yang berjaga di ruang pendaftaran.


Rayya mengangguk. Beberapa menit kemudian.


“Pasien yang bernama Fatwa, saat ini sedang menjalani tindakan di ruang operasi,” jawab perawat itu.


“Apa kami boleh menunggunya di depan ruangan tersebut?” tanya Rayya lagi.


“Baiklah, Mbak. Silakan Mbak langsung menuju ruang operasi saja. Ruangannya berada di lantai tiga. Mbak bisa tanyakan kepada perawat penjaga di sana, di mana letak ruang operasi,” jawab perawat itu.


“Baik. Terima kasih, Sus,” ucap Rayya.


“Sama-sama,” balas perawat itu.


Setelah berpamitan, kami mulai menaiki lift untuk menuju ruang operasi. Tiba di depan ruang operasi, Rayya memberi tahu Zein tentang keberadaan kami saat ini. Aku dan Mama segera duduk di depan ruang operasi. Lampu di atas pintu masih menyala, itu artinya, operasi masih berjalan.


Entah sudah berapa lama kami menunggu. Mama sudah terlihat kelelahan, sedangkan Rayya masih berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Bibirnya terlihat komat-kamit merangkai do’a. Sesekali dia menatap lampu yang masih menyala.


“Ish, kenapa belum padam juga,” gerutu Rayya.


“Sabar, Ray,” ucap Zein, “kemarilah, sebaiknya kamu duduk di sini,” lanjut Zein seraya menepuk bangku di sampingnya.


Rayya melirik Zein, setelah itu, dia pun mendaratkan bokongnya di samping Zein. Sesaat kemudian, Zein menggenggam tangan Rayya.


Aku hanya tersenyum tipis melihat kelakuan mereka. Mungkin dugaanku benar, pasti selama aku pergi, terjadi sesuatu di antara mereka.


Sreek!


Tiba-tiba seorang perawat menggeser pintu ruang operasi. Wajahnya terlihat sangat tegang. Aku, Rayya dan Zein segera menghampiri perawat tersebut. Sedangkan mama masih menunggu di kursi tunggu.


“Ada apa, Sus? Bagaimana kondisi pak Fatwa?” tanya Zein.

__ADS_1


“Kondisi pasien sangat kritis, Mas. Dia kehilangan banyak darah. Stok darah di rumah sakit ini sudah habis. Saat ini, saya hendak menelepon pihak PMI untuk mencari golongan darah yang cocok dengan pasien,” tutur perawat itu panjang lebar.


“Memangnya, apa golongan darah pasien, Sus tanyaku?”


“Golongan darah pasien, A,” jawab perawat.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Golongan darahku tidak sama dengan Fatwa. Bagaimana aku bisa menolongnya?


“Ambil darah saya saja, Sus. Kebetulan, golongan darah saya sama dengan pak Fatwa,” kata Zein.


Aku dan Rayya menatap Zein.


“Tenanglah, Kak. Pak Fatwa pasti baik-baik saja. Mudah-mudahan darahku cocok untuk didonorkan,” tutur Zein.


Aku mengangguk. “Terima kasih, Zein,” ucapku.


“Kalau begitu, mari ikut saya, Mas!” ajak perawat itu kepada Zein.


Zein mengangguk, dia kemudian mengikuti perawat itu untuk tes kecocokan. Rayya mengikuti Zein, sedangkan aku kembali duduk menemani mama.


Setelah beberapa menit berlalu, perawat itu kembali memasuki ruang operasi dengan membawa beberapa kantong darah. Hmm, sepertinya darah milik Zein memiliki kecocokan dengan darahnya Fatwa.


Alhamdulillah …. Aku mengucap syukur dalam hati.


Setengah jam kemudian, Rayya terlihat memapah Zein kembali ke bangku yang berada di depan ruang operasi.


“Ray, Zein terlihat pucat, mama juga terlihat sangat keletihan. Sebaiknya kalian pesan hotel di sekitar sini untuk beristirahat,” ucapku pada Rayya.


“Iya, Kak … kami memang sudah memesan hotel untuk menginap malam ini,” jawab Rayya.


“Kalau begitu, kalian pergilah untuk beristirahat. Biar Kakak saja yang menunggu Fatwa di sini,” ucapku.


“Tapi, Bang,” timpal Rayya.


“Nggak pa-pa, Ray. Bang Zein baik-baik aja. Lagian, pihak kepolisian hanya tahu nomor Abang untuk menghubungi Kak Chi. Kamu sebaiknya bawa mama ke hotel. Mama pasti kecapean, Ray,” ucap Zein.


"Baiklah kalau begitu, Rayya sama Mama pulang dulu. Kabari jika ada perkembangan terbaru,” pesan Rayya kepada kami.


Aku dan Zein mengangguk.


“Mama pulang dulu ya, Kak. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa makan,” ucap mama seraya mengelus pucuk kepalaku.


Aku mengangguk dan mencium punggung tangan mama. lepas itu, Zein pun melakukan hal yang sama.


“Titip Kakak ya, Nak Zein!” kata mama.


“Iya, Ma, jangan khawatir, Zein pasti jagain Kak Chi,” sahut Zein.


Mama tersenyum. “Terima kasih,” ucapnya.


“Sama-sama, Ma,” jawab Zein.


Rayya dan mama pun pergi dari hadapan kami.


.

__ADS_1


.


“Kak, kita ke kantin dulu, yuk! Kakak pasti belum makan sejak tadi siang,” ajak Zein.


“Kakak nggak lapar, Zein,” jawabku yang memang tidak berselera untuk makan.


“Kalau begitu, biar Zein bungkuskan untuk Kakak saja, ya,” usulnya.


Aku mengangguk menyetujui usulan Zein. Tak lama kemudian, dengan langkah gontai, Zein pergi menuju kantin rumah sakit.


Setengah jam setelah Zein pergi, lampu di atas pintu ruang operasi tiba-tiba padam. Beberapa menit kemudian, tim dokter yang menangani Fatwa keluar dari ruang operasi. Aku segera menghampiri mereka.


“Bagaimana kondisi pasien, Dok?” tanyaku dengan bibir bergetar.


“Apa Anda keluarga pasien?” tanya salah seorang dokter yang sepertinya sudah senior.


“Saya temannya pasien, Dok,” jawabku.


“Alhamdulillah, kami sudah bisa mengeluarkan peluru yang bersarang di dada kirinya. Tapi sayangnya, peluru tersebut mengenai tepi jantung pasien. Kita berdo’a saja, semoga pasien tidak mengalami komplikasi pascaoperasi,” ucap dokter itu, jujur.


Seketika, tubuhku kembali terasa lemas mendengar ucapan dokter. Sejurus kemudian, aku melihat beberapa perawat mendorong brankar Fatwa.


“Pa-pasien mau dibawa ke mana, Dok?” tanyaku, bingung.


“Untuk saat ini, pasien hendak dibawa ke ruang ICU untuk observasi pascaoperasi,” jawab dokter itu.


“Apa saya boleh menjaga pasien?” tanyaku lagi.


“Tidak perlu, sudah ada tim medis yang akan memantau pasien setiap waktu. Namun, jika Nona tetap ingin mengetahui perkembangan pasien, Nona bisa menunggui pasien di luar ruang ICU,” jawab dokter senior tersebut.


“Baiklah, Dok. Saya akan menuggu di luar saja,” ucapku.


Terlihat dokter itu mengangguk. Sejurus kemudian, tim dokter pergi.


Setelah tim dokter pergi, aku melangkahkan kaki untuk mengikuti para perawat yang akan membawa Fatwa ke ruang ICU. Tiba-tiba, Zein berteriak memanggilku.


“Kak, Chi!” Tergopoh-gopoh, Zein menghampiri aku.


“Ada apa, Zein?” tanyaku, sedikit mengernyit.


“Barusan pihak kepolisian menelepon aku. Mereka mengatakan jika korban yang jatuh ke jurang sudah berhasil mereka temukan,” tutur Zein.


“Alhamdulillah …” ucapku, “lalu, bagaimana kondisinya, Zein?” tanyaku.


“Yang satu ditemukan dalam keadaan kritis, sedangkan yang satunya la-“


“Yang satunya lagi kenapa, Zein?” tanyaku memotong perkataan Zein.


“Yang satunya lagi … meninggal dunia, Kak,” jawab Zein.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” gumamku, “siapa yang meninggal Zein? Bang Rizal atau Anneu?” tanyaku lagi dengan perasaan tak menentu.


“Zein nggak tahu, Kak. Mereka nggak memberi tahu secara mendetail. Mereka hanya meminta kita untuk melihat kedua korban di rumah sakit Husada. Bagaimana? Apa Kakak mau pergi sekarang?” tanya Zein.


Aku hanya menatap Zein tanpa mampu menjawab. Kabar buruk ini sungguh membuat pikiranku kacau balau.

__ADS_1


“Kak Chi?”


Bersambung


__ADS_2