My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Bu Wati mulai berteriak kepada putrinya. Dia benar-benar sudah kehilangan kesabaran dengan semua tindak-tanduk anaknya yang sudah di luar batas menurut Bu Wati.


"Apa maksud, Bunda. Selama ini aku sudah cukup banyak bertindak sebagai orang waras. Apa bunda pikir aku gila, hah!" Anneu balas membentak ibunya.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba seorang pria paruh baya berpeci, datang menghampiri ibu dan anak yang tengah berdebat itu.


"Putrimu itu, Yah! Bunda sudah tidak habis pikir dengan semua sikap putri kamu. Selama ini, Bunda sudah cukup bersabar dan mengabaikan semua tindakan negatifnya. Tapi apa yang terjadi? Apa Ayah tahu apa yang dia pinta barusan?" adu Bu Wati kepada suaminya.


"Memangnya ada apa, Bun? Ada apa, Neu? Kenapa ibumu sampai marah seperti itu?" Pak Rahadi bertanya kepada istri dan anaknya. Sejurus kemudian, dia menuangkan teh ke dalam cangkir yang sebelumnya dia bawa dari lemari tempat menyimpan peralatan makan. Pak Rahadi kemudian duduk dan mulai mereguk tehnya.


"Anneu cuma bilang sama Bunda, supaya pertunangan Anneu dengan Fatwa disegerakan," ucap Anneu dengan santainya.


"Uhuk... Uhuk...!" Seketika Pak Rahadi tersedak setelah mengetahui akar permasalahan yang menjadi perdebatan istri dan anaknya. Dia menatap tajam ke arah putrinya yang sudah berlalu pergi.


"Lihat! Ayah dengar sendiri, 'kan permintaannya?" tukas Bu Wati, semakin geram.


"Sabar, Bun ... sabar," kata Pak Rahadi.


"Ish, gimana mungkin Bunda bisa sabar, Yah! Anak ini memang sudah keterlaluan. Sikapnya selalu saja di luar batas. Bunda sudah tidak sanggup lagi bersabar, Yah! Apa kata keluarga nak Fatwa jika kita meminta hal itu secepat ini. Bukankah semua ini akan terasa aneh dan janggal? Mereka masih sekolah. Dan kita semua tahu jika nak Fatwa bersedia menjalin hubungan dengan putri kita itu hanya karena rasa tanggung jawabnya kepada Almarhumah. Kita tidak bisa memaksakan cinta, Yah. Tidak bisa!" tutur Bu Wati yang sedari awal memang tidak menyetujui perjodohan anaknya.


Masih terekam jelas dalam ingatan Bu Wati sebulan setelah putrinya meninggal dan Fatwa sadar dari komanya. Dengan begitu histeris, Anneu menyalahkan Fatwa atas kepergian saudara kembarnya.


**********


"Sudah Neu, jangan seperti itu. Semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa," ucap Pak Rahadi mencoba menenangkan putrinya saat dia bertemu dengan Fatwa.


"Takdir Ayah bilang? Ini bukan takdir, Ayah. Anna meninggal karena laki-laki ini. Dia seorang pembunuh! Dia sudah bunuh adek Anneu satu-satunya!" teriak histeris Anneu begitu melihat Fatwa tengah duduk di kursi roda.


Setelah sadar dari komanya, Fatwa meminta kedua orang tuanya untuk menemui keluarga Anna. Dia hendak meminta maaf atas kecelakaan yang telah merenggut nyawa kekasihnya. Namun, siapa sangka jika dia akan mengalami berbagai macam kejutan begitu tiba di rumah mendiang Anna.


Dia begitu terkejut saat melihat sosok Anna berbalut pakaian syar'i setengah berlari menuruni tangga. Fatwa terkesima, sehari yang lalu dia mendapatkan kabar dari ibunya bahwa Anna telah meninggal. Tapi, gadis itu kini berada di hadapannya. Akan tetapi, saat gadis itu berteriak histeris dan menyalahkan dirinya atas kematian Anna. Fatwa pun baru mengetahui jika Anna memiliki saudara kembar.

__ADS_1


"Sudah, Nak! Jangan selalu menyalahkan Nak Fatwa! Kita semua memang merasa kehilangan Anna, tapi apa dengan menyalahkan Nak Fatwa, Anna akan kembali hidup?" ucap Pak Rahadi sambil memeluk putrinya yang sudah terkulai lemas.


"Tapi Anneu nggak punya siapa-siapa lagi, Yah! Anneu tidak punya saudara lagi. Anneu tidak punya teman lagi, huhuhu...." Anneu mulai menangis pilu dalam pelukan ayahnya.


"Maafkan aku! Aku menyesal atas apa yang terjadi pada Anna. Aku siap menerima hukuman apa pun dari kalian, jika itu bisa membuat kalian tenang. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Kalian bisa menuntut aku atas semua kecerobohan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Bahkan kalian bisa menjebloskan aku ke penjara sekarang juga. Aku siap menebus semua dosaku," ucap Fatwa penuh ketegaran.


Untuk sejenak, Bu Wati dan Pak Rahadi saling pandang. Pak Rahadi melepaskan pelukannya terhadap sang putri. "Permisi, bisa saya bicara sebentar dengan bundanya anak-anak?" Pak Rahadi meminta izin kepada tamunya untuk berbicara berdua saja dengan istrinya.


"Oh, iya ... silakan, Pak!" ucap Haji Imron yang tak lain ayahnya Fatwa.


Pak Rahadi kemudian mengajak istrinya ke ruang keluarga.


"Ayah apaan sih? Nggak enak tahu, sama tamu kita!" tukas Bu Wati.


"Sst!" Pak Rahadi menempelkan telunjuknya di bibir. "Dengar, Bun. Bagaimana kalau kita dekatkan putri kita dengan nak Fatwa?" usul Pak Rahadi.


"Maksud Ayah, Anneu?" tanya Bu Wati.


"Iya, maaf Yah!" kata Bu Wati. "Lalu maksud Ayah, apa?" Bu Wati kembali bertanya.


"Bunda tahu kalau sejak kecil Anneu selalu tidak pernah bisa menguasai emosinya dengan stabil. Karena itu kita memasukkan dia ke pesantren. Di sini pun, dia tidak pernah bergaul dengan teman-temannya. Satu-satunya teman tempat dia bercerita pun sudah tiada. Ayah khawatir jika jiwa Anneu akan terganggu lagi seperti sesaat setelah kematian Andra. Bagaimana kalau kita minta nak Fatwa untuk membimbing Anneu. Bukankah saat dia berteman dengan Anna, dia juga berhasil membawa Anna menjadi anak yang lebih baik lagi?" usul Pak Rahadi.


Bu Wati tampak tertegun. Jujur saja, Bu Wati merasa ini bukan jalan yang terbaik. Emosi Anneu terlalu labil jika mengingat kematian saudara kembarnya. Lalu, apa dengan mendekatkan orang yang telah menyebabkan saudaranya meninggal, itu adalah hal yang baik?


"Sebaiknya kita tanya putri kita dulu, Yah?" ucap Bu Wati memberikan usul.


Pak Rahadi mengangguk. Dia kemudian meminta pembantunya untuk memanggil Anneu.


"Ada apa, Yah?" tanya Anneu dengan mata sembabnya.


"Apa kamu mau berteman dengan nak Fatwa?" tanya Pak Rahadi tanpa basa-basi.

__ADS_1


Anneu tertunduk, sendu. Dia hanya bisa diam. Hmm, pertanyaan inilah yang aku tunggu sejak aku melihat laki-laki itu mengantarkan Anna ke rumah, batin Anneu.


"Neu!" Bu Wati menyentuh pundak anaknya.


"Ta-tapi, apa dia mau berteman sama Anneu. Apa dia mau menerima kekurangan Anneu?" tanya Anneu menatap pasrah pada ibunya.


"Biar ayah yang urus semuanya!"


Setelah Anneu menyetujui usulan orang tuanya. Pak Rahadi pun keluar.


"Begini Nak Fatwa. Sebenarnya, kami sudah tidak mempermasalahkan tentang kecelakaan yang merenggut nyawa putri kami. Semuanya kami anggap sebagai sebuah takdir yang harus kami terima. Tapi, jika Nak Fatwa masih terus dihantui rasa bersalah dan ingin meringankan beban Nak Fatwa, maka Bapak sama Ibu tidak bisa menghalangi niat Nak Fatwa untuk bertanggung jawab. Jika memang Nak Fatwa berkenan, maukah Nak Fatwa menjadi temannya Anneu, putri Bapak? Selama ini, Anneu sudah sangat terpukul atas kematian kedua saudaranya. Bapak sama Ibu takut jika suatu hari nanti, Anneu berbuat nekat karena merasa tidak memiliki teman," papar Pak Rahadi.


Fatwa menatap gadis yang tengah berurai air mata karena meratapi kepergian adiknya. Hmm, tidak ada salahnya aku berteman dengannya. Mungkin dengan begini, rasa bersalahku bisa sedikit berkurang. Lagi pula, sepertinya gadis itu memang butuh seorang teman untuk berkeluh kesah, batin Fatwa.


"Baiklah, Pak. Saya bersedia menjadi teman Anneu sampai kondisi Anneu bisa stabil seperti semula," ucap Fatwa.


Bu Wati hanya bisa menghela napasnya. Namun, entah kenapa hatinya tidak merasa baik-baik saja melihat semua ini.


Waktu terus berlalu. Hubungan yang semula hanya sebuah pertemanan, kini telah menjadi sebuah perbincangan serius. Atas permintaan putrinya, Bu Wati dan Pak Rahadi dengan terpaksa mengesampingkan rasa malunya dan melamar Fatwa untuk menjadi rekan hidup Anneu, kelak. Mereka selalu menekan orang tua Fatwa dengan alasan bertanggung jawab. Hingga akhirnya kedua orang tua Fatwa menyetujui perjodohan itu meski tanpa sepengetahuan Fatwa. Dan sekarang...?! Bagaimana mungkin dia bisa membicarakan pertunangan dengan keluarga Fatwa sedangkan orangnya sendiri belum tahu tentang perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya.


************


"Bun!"


Bu Wati terhenyak. Panggilan suaminya membuat lamunan dia buyar seketika.


"Kenapa, Pak?" tanya Bu Wati.


"Apa kita harus membicarakan hal ini kepada orang tua nak Fatwa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2