
"Ini sarapan untuk kamu, Zein," ucapku seraya menyerahkan kantong plastik berwarna putih itu.
"Kenapa harus repot-repot, Kak. Zein bisa beli sendiri nanti," jawab Zein.
"Nggak pa-pa, tadi sekalian lewat kantin saja," jawabku.
Zein mengeluarkan dua bungkus nasi uduk tadi dan meletakkannya di atas kursi. Begitu pula dengan kopi cup-nya. "Ayo, kita makan Kak!" ajaknya.
"Emm, Kakak nanti saja, Zein. Atau, kalau kamu masih lapar, kamu bisa makan bungkusan yang satunya lagi," kataku.
"Ish, emangnya perut Zein terbuat dari karet," tukas Zein.
"Hehehe, ya ... siapa tahu aja, kamu laparnya tingkat dewa," ledekku.
Zein hanya mencebikkan bibirnya menanggapi ejekan aku.
"Kakak pergi dulu ya, Zein," pamitku.
"Loh, Kak Chi mau ke mana? Bukannya kita mau sarapan dulu," tukas Zein.
"Di luar ada Ida, Kakak mau menemuinya," sahut aku.
"Ida pengasuh anaknya bang Rizal?" tanya Zein.
Aku mengangguk.
"Mau ngapain dia datang kemari?" tanya Zein lagi.
"Entahlah ... tapi Kakak rasa, dia sepertinya sedang memiliki masalah," jawabku.
"Ish, dari mana Kakak tahu? Sotoy banget." Zein malah meledek aku.
"Haish, tentu saja Kakak tahu. Orang tadi dia datang dan menangis-nangis di depan Kakak," kilahku.
"Menangis?" ulang Zein.
"Iya, tadi dia menangis di depan Kakak begitu menyayat hati. Kakak jadi kasihan sama dia, Zein," jawabku.
"Ish, ngapain juga Kakak harus ngerasa kasihan buat orang jahat kek dia," gerutu Zein sambil menyendok nasi uduknya.
"Kok jahat sih, Zein," protes aku.
__ADS_1
"Ya iyalah ... orang dia juga ikut ambil bagian dalam penyekapan Kakak. Coba kalau dia nggak jahat, dia pasti udah lapor polisi tuh, dan kasih tahu jika ada orang yang disekap di rumah majikannya," cetus Zein.
Aku menarik napas dalam, lalu duduk di samping pemuda itu. "Zein, bagaimanapun juga, kita tidak bisa menilai sebuah permasalahan dari sudut pandang kita sendiri. Ida itu hanya seorang pelayan di rumah bang Rizal. Dan sebagai seorang pelayan yang baik, tentunya dia harus mengikuti semua perintah tuannya. Bukan begitu?" tutur aku, mencoba memberikan pengertian kepada Zein.
Sambil mengunyah makanannya, Zein mencoba mencerna perkataan aku. Akhirnya, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, Kakak temui Ida dulu, ya," pamitku. Beberapa detik kemudian, aku kembali keluar untuk mengajak Ida ke kantin.
.
.
Sepanjang perjalanan ke kantin, Ida tak henti-hentinya menyeka air mata yang terus membasahi pipi. Aku sendiri merasa risih dengan tingkah laku Ida. Bukannya apa-apa, aktivitas Ida justru malah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kami.
Huft!
Aku hanya bisa membuang napas, kasar. Tiba di kantin, aku memilih untuk duduk di bangku pojok.
"Mau makan apa, Da?" tanyaku kepada Ida.
"Tidak usah, Nona," jawab Ida di sela-sela isak tangisnya.
"Jangan begitu, Da. Kamu sedari pagi sudah ada di sini, kamu pasti belum sarapan, 'kan?" tekanku.
"Ya sudah, aku pesankan bubur ayam, ya?" tawarku.
Ida hanya mengangguk menanggapi tawaranku. Sejurus kemudian, aku pergi ke kedai bubur ayam untuk memesankan makanan buat Ida.
Setelah memesan samangkok bubur ayam komplit, aku kembali menghampiri Ida dan duduk berhadapan dengannya.
"Ada apa, Da? Maira kenapa?" tanyaku setelah melihat tangis Ida mulai reda.
"Maira ... Ida kasihan sama Maira, Non. Dia masih terlalu kecil untuk merasakan semua penderitaan ini," tukas Ida.
Aku menghela napas sejenak. Penderitaan! Ida menganggap nasib yatim yang menimpa bocah kecil itu merupakan penderitaan. Padahal, segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah, selalu memiliki hikmah.
"Sudahlah, Da. Aku yakin Maira pasti akan baik-baik saja. Dia memiliki kakek nenek yang begitu menyayanginya. Lagi pula, masa depan Maira pasti terjamin dengan segala asuransi yang sudah disiapkan oleh bang Rizal untuknya," jawabku mencoba menenangkan Ida.
Namun, entah kenapa Ida kembali mengeluarkan air matanya. Isak tangisnya pun kembali terdengar. Membuat aku jadi salah tingkah dibuatnya. Ish, ada apa lagi dengannya?
"Justru itu, Nona ... justru itu yang Ida khawatirkan. Apa yang Nona katakan, itu berbanding terbalik dengan kenyataannya," tukas Ida.
__ADS_1
Aku mengerutkan kening. Entahlah, mungkin otakku sedang loading, atau Ida yang sedang berteka-teki. Namun, yang pasti aku tidak mampu mencerna omongan Ida dengan cepat.
"Sebenarnya ada apa, Da? Aku benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan kamu," ucapku.
"Apa yang Nona katakan tentang kakek nenek Maira yang sangat mencintainya, tentang masa depan Maira yang sudah terjamin, pada kenyataannya itu hanya omong kosong belaka," ucap Ida, lirih.
"Maksud kamu?" tanyaku, heran. "Demi Tuhan, Da ... aku benar-benar tidak bisa mencerna perkataan kamu. Bisakah kamu tidak berbelit-belit seperti ini?" pintaku yang semakin gemas dengan kelakuan Ida yang seolah sedang bermain tebak-tebakan.
"Pada kenyataannya, Ibu Wati dan Pak Rahadi merasa keberatan mengasuh Maira. Mereka merasa jika mereka tidak akan mampu menjamin kehidupan Maira di masa yang akan datang," jawab Ida.
"Loh, kenapa mereka harus berbicara seperti itu. Dengan apa yang dimiliki Maira dari peninggalan ayahnya, aku rasa, Maira tidak akan pernah kekurangan apa pun. Mereka cukup merawat Maira saja. Lagi pula, bukankah Maira itu cucu kandungnya?" kataku.
"Tapi pada kenyataannya, Tuan Rizal tidak meninggalkan sepeser uang pun untuk Maira, Nona," tukas Ida.
Deg!
Aku terkejut mendengar perkataan Ida. Loh-loh-loh ... apa maksudnya ini? batinku.
Aku menatap Ida dengan seksama. "Apa maksud kamu berbicara seperti itu, Da? Bukankah kita sendiri tahu jika bang Rizal memiliki villa yang cukup besar. Apartemen yang mewah, perusahaan yang berkembang pesat. Bahkan, rumahnya pun berada di mana-mana. Setidaknya, itu yang pernah kamu katakan dulu tentang bang Rizal, bukan?" kataku mengingatkan memori Ida tentang perbincangan kami di taman belakang tempo hari.
"Itu memang benar, Nona. Bahkan Ida sendiri tahu jika Maira sudah memiliki jaminan asuransi pendidikan dan terkait masa depannya. Namun, semua itu hilang dalam sekejap mata," jawab Ida.
"Astaghfirullahaladzim, Da ... bisakah kamu berbicara pada intinya saja? Otakku benar-benar sudah cukup lelah untuk mencerna perkataan kamu yang berbelit-belit itu." Aku sedikit membentak Ida karena sudah cukup lelah untuk berbelit-belit.
"Maaf, Nona," jawab Ida, lirih.
"Ya sudah, katakan ... apa maksud pembicaraan kamu tadi?" tanyaku dengan tegas. Aku tidak akan memberikan Ida ruang dan waktu untuk ngobrol ngalor ngidul lagi.
"Seluruh aset kekayaan almarhum tuan Rizal, disita oleh pihak pemerintah."
"Apa?! Disita?" Pekik aku.
"Iya, Nona. Disita ... dan semuanya habis tak bersisa. Bahkan, saat ini Ida dan bapak juga merasa bingung harus pergi ke mana? Esok hari, kami harus sudah mengosongkan villa almarhum tuan Rizal," tutur Ida.
Aku benar-benar terkejut mendengar perkataan Ida. Seluruh aset kekayaan yang mungkin jika dihitung, tidak akan pernah habis tujuh turunan, semuanya ludes begitu saja. Entah apa yang sudah diperbuat bang Rizal sehingga pihak pemerintahan menyita semua kekayaannya.
"Kenapa bisa sampai disita, Da? Apa alasan pemerintah menyita semua aset bang Rizal. Bahkan asuransi anaknya juga habis. Lalu, kesalahan seperti apa yang bang Rizal lakukan hingga pihak pemerintah mengambil tindakan seperti itu? Sebenarnya ... apa pekerjaan bang Rizal?" cecarku kepada Ida.
"Tuan Rizal terlibat bisnis ilegal," jawab Ida.
"Apa?!
__ADS_1
Bersambung