My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Setiap hari pikiran Fatwa selalu dirasuki oleh pertanyaan tentang hubungan gadis itu dengan Gaos. Ingin rasanya Fatwa bertanya kepada Gaos. Tapi entah untuk alasan apa. Jujur saja, Fatwa tidak punya alasan yang tepat untuk mempertanyakan kedekatan Gaos dengan gadis tersebut.


Hingga suatu hari, Fatwa mulai mendapati gadis itu mengikuti kajian yang diselenggarakan oleh IREMA di masjid sekolah. Fatwa tersenyum senang melihat perubahan yang sama pada gadis itu. Dia pun jadi tambah bersemangat untuk mengadakan kajian-kajian IREMA.


"Hai, Res!" sapa Aji saat melihat gadis itu tengah duduk menyendiri di beranda masjid.


"Hai juga," jawab Resti.


"Lagi nungguin siapa?" Aji kembali bertanya.


"Nungguin bang Gaos, nih! Kamu ada lihat dia nggak sih?" tanya Resti.


"Waduh, tadi sih aku lihat, bang Gaos lagi di kantor OSIS," jawab Aji.


"Ish, gimana sih ... katanya abis acara kajian suruh nunggu di sini," gerutu Resti dengan kesalnya.


"Ya sudah, aku temenin kamu deh buat nungguin bang Gaos ampe datang," ucap Aji.


Gadis itu tersenyum.


Dari dalam masjid sekolah, Fatwa bisa mendengar percakapan di antara mereka. Fatwa tersenyum melihat gelak tawa yang sangat renyah keluar dari bibir mungil sang gadis. Setelah beberapa saat, Gaos muncul di hadapan mereka.


"Hai, Chi! Dah lama nunggu?" tanya Gaos begitu tiba di hadapan Aji dan Resti.


"Lumayan lah, ampe cacing-cacing di perut pada demo," seloroh Resti sambil nyengir.


Mendengar gurauan adik angkatnya, Gaos mengerti. Akhirnya dia mengajak gadis itu pergi ke kantin.


"Ya udah, ke kantin, yuk!" ajak Gaos.


"Nah, gitu dong!" seru Resti terlihat sumringah.


"Kantin dulu ya, Ji! Assalamu'alaikum!" pamit Gaos seraya melambaikan tangannya kepada Aji.


"Siap, Bang! Wa'alaikumsalam!" jawab Aji.


"Kamu nggak mau ikut, Ji?" tanya resti.


"Nggak, Res. Aku masih harus bebenah dulu di masjid," jawab Aji.


Setelah berpamitan, akhirnya Gaos dan Resti berlalu dari hadapan Aji.


Sepeninggal kedua sahabatnya itu, Aji kembali memasuki masjid. Di sana dia melihat Fatwa sedang berdiri di depan jendela.

__ADS_1


"Ngapain lo berdiri di sana, Fat?" tanya Aji heran.


"Eh, anu ... ini ... gu-gue lagi lihat kaca jendela, Ji. Sepertinya udah lama nggak dibersihin," jawab Fatwa gugup karena kepergok sedang mengintip mereka.


"Oh, ya sudah. Nanti kita bikin jadwal untuk membersihkan masjid setiap minggunya," ucap Aji tak terlalu menghiraukan kegiatan Fatwa.


Ah, syukurlah! Selamat ... selamat, batin Fatwa seraya mengelus dadanya. Dia kemudian kembali ke meja mimbar untuk menyimpan mikrofon yang masih ada di atas meja.


"Ji, tadi gua dengar suara bang Gaos, kemana dia? Kok dia nggak masuk?" tanya Fatwa memecah kesunyian.


"Oh, dia lagi pergi ma si Resti," jawab Aji sambil membereskan majmu' ke dalam lemari kecil.


"Pacarnya?" tanya Fatwa, tak mampu menutupi rasa penasarannya lagi.


"Pacar? Bhua.. Hahaha..." Aji tertawa keras mendengar pertanyaan Fatwa.


"Ish, lo ngetawain gua, Ji?" tanya Fatwa yang merasa kesal dengan sikap Aji yang seolah sedang mencemoohnya.


"Ish, bukan gitu maksud gue. Lagian, loh ada-ada aja sih, Fat! Punya pikiran dari mana lo, ampe nganggep bang Gaos ma si Resti pacaran?" Ajj balik bertanya.


"Ya kali aja, Ji ... secara, mereka pada dekat juga, 'kan?" tanya Fatwa.


"Deket bukan berarti pacaran ya, Fat. Setau gua, mereka memang sangat dekat. Tapi bukan berarti sebagai lawan jenis, Fat. Lo tau sendiri, 'kan, seleranya bang Gaos kek apa?" tukas Aji.


"Mereka tuh udah seperti abang ma adek," jawab Aji.


"Abang-Ade ketemu gede, bisa aja mereka nutupin hubungannya," ucap Fatwa sambil melengos ke tempat rak kitab dan Al-Qur'an.


"Ati-ati loh, ntar timbul suudzon!" pungkas Aji.


"Astaghfirullah!" kata Fatwa. "Tapi serius Ji, kalau hanya sekedar abang ma ade, kok mereka bisa sedekat itu, ya?" Fatwa kembali bertanya.


"Ya, mungkin karena di antara mereka itu nggak ada yang punya saudara dan saudari," jawab Aji.


Fatwa mengerutkan keningnya. "Maksud lo?"


Aji menghela napasnya. "Lo tau sendiri, 'kan kalo bang Gaos tuh nggak punya sodara cewek? Nah, kebetulan si Resti juga nggak punya sodara cowok. Jadi pas ketemu, ya klop gitu ... saling menjaga dan melindungi," papar Aji.


Fatwa hanya manggut-manggut mendengar pemaparan Aji tentang kedekatan gadis itu dengan sang ketua IREMA. Senyum tipis terbit dari bibirnya.


"Apa Resti sudah punya pacar?" celetuk Fatwa.


Seketika Aji menoleh kepada sahabatnya. Hmm, ada apa gerangan? Tumben nih cowok kulkas bertanya seperti itu? batin Aji mulai kepo.

__ADS_1


"Lo naksir dia, Fat?" tanpa tedeng aling-aling, Aji langsung menebak perasaan Fatwa.


Ditodong pertanyaan seperti itu, Fatwa yang sudah lama tidak pernah mengenal yang namanya lawan jenis, tentu saja gelagapan.


"Eng-enggak ... gua nggak naksir dia, Ji. Cuma, kepo aja ma hubungan bang Gaos ma tuh cewek," jawab Fatwa.


"Lah, ngapain lo kepoin urusan orang? Sumpah, hari ini lo aneh banget, Fat. Naksir juga kagak apa-apa kali," ledek Aji.


"Hadeuh, lo mah Ji," ucap Fatwa seraya berlalu pergi. Wajahnya sudah memerah karena menahan rasa malu.


Aji tersenyum geli melihat sikap Fatwa yang salah tingkah. "Sudah waktunya lo move on, Fat!" teriak Aji.


Fatwa menghentikan langkahnya.


"Tapi, lo harus punya mental yang cukup kuat buat berhadapan ma bokapnya," lanjut Aji.


Sejenak Fatwa diam. Entah apa yang dia pikirkan. Namun, kedua sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk ukiran senyum yang cukup misterius. Hmm, hati gua mungkin bisa move on, Ji. Tapi, bagaimana dengan raga gua yang telah terikat janji? Apa mungkin bisa luluh begitu saja?" batin Fatwa.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengawasi percakapan mereka. "Huh, awas saja kalau lo berani melakukan hal itu. Seumur hidup, gua nggak akan pernah membuat lo seneng di atas penderitaan orang lain!" gumamnya.


.


.


Waktu terus berlalu, hubungan Fatwa dengan gadis itu mulai menunjukkan peningkatan. Fatwa mulai bisa mengatur ritme jantungnya saat berhadapan dengan gadis itu.


"Aku senang kamu bisa mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan IREMA," ucap Fatwa kepada gadis itu, sesaat setelah kegiatan kajian islami berakhir.


Gadis itu hanya tersenyum sambil mengenakan sepatunya.


"Ini sudah sangat sore, ayo, aku antar kamu pulang!" ajak Fatwa.


Rupanya ajakan tersebut cukup membuat Resti terkejut. Dia hanya bisa menatap bengong ke arah Fatwa.


"Kok malah ngelamun, ayo!" Fatwa melangkah menghampiri Resti yang sedang terpaku. Sejurus kemudian, gadis itu berdiri dan mulai mengikuti Fatwa.


Tiba di pelataran parkir, Fatwa segera menyalakan mesin motornya. Mereka pun pergi ke luar dari halaman sekolah.


Seorang gadis terlihat sangat kesal saat melihat mereka tengah melintas di jalanan. Niat hati menghampiri sang kekasih, malah melihat sebuah pemandangan yang membuatnya murka.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia begitu saja. Kamu harus membayar semua penderitaanku!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2