My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Tentangmu, Aku dan Dia


__ADS_3

"Kematian Anna mengubah duniaku. Merubah warna hidupku yang awalnya berwarna-warni, kini hanya menyisakan hitam dan putih saja. Hingga pada akhirnya, aku bertemu denganmu. Jujur saja, pertemuan pertama kita mengingatkan aku pada pertemuan pertamaku dengan Anna. Yang membedakan hanyalah sikap kalian saja. Waktu itu, kau meminta maaf atas insiden yang terjadi. Sedangkan Anna, dia terus mengomel dan menyalahkan aku atas insiden tersebut."


Fatwa memulai kisahnya.


Brugh!


"Maaf!"


Pria dingin itu terus berlalu tanpa menghiraukan permintaan maaf sang gadis. Untuk sejenak, dia seperti melihat bayangan kekasihnya yang telah tiada. Namun, tak ingin terus dihantui perasaan bersalah. Pria itu pun pergi meninggalkan gadis yang sedang terbengong sendirian.


Sepeninggal gadis itu, si pria tampak tertegun. Sepertinya, wajah gadis yang menabraknya tidak begitu asing dalam ingatannya. Samar-samar, kepingan wajah yang mulai utuh itu mengingatkan dia pada seorang gadis yang tengah berusaha membersihkan sebagian tubuhnya di tempat wudhu masjid sekolah.


Saat itu, setelah kegiatan IREMA berakhir, samar-samar pria dingin itu mendengar suara sekelompok laki-laki yang sedang berbisik-bisik di beranda samping masjid. Dia kemudian keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ya, mungkin saja ada sesuatu hal yang tak lazim, terjadi di luar sana. Dan, memanglah benar, sekelompok laki-laki yang tak lain adalah adik kelasnya sendiri, sedang menikmati sebagian punggung putih nan mulus yang terpampang jelas beberapa meter dari hadapan mereka.


Entah kenapa tiba-tiba Fatwa merasa tak rela jika punggung mulus itu menjadi konsumsi publik. Tak ingin mempermalukan gadis itu, dia kemudian mendekatinya. Niat awal, Fatwa hanya ingin menegur gadis itu. Tapi, siapa sangka jika Fatwa melihat tumpahan mie di atas seragam yang telah jatuh di bawah bahu. Hmm, rupanya gadis itu tengah berusaha untuk membersihkan punggungnya. Fatwa bisa melihat dengan jelas warna kemerahan di punggung mulus itu. Tak tega melihat kesulitan sang gadis, Fatwa mengambil segayung air dan mengguyur bagian yang sulit dijangkau oleh gadis itu.


Mendapati kucuran air di sebagian tubuhnya, gadis itu segera membalikkan badan. Dia tampak terkejut melihat seorang lelaki tengah berdiri di hadapannya.


Sedangkan Fatwa, masih dengan tatapan dinginnya dia berkata. "Lain kali, jangan tampakkan sebagian tubuhmu di hadapan orang lain!"


Fatwa mengusap air di punggung milik gadis itu. Tanpa sepatah kata pun lagi, dia berlalu saja meninggalkan gadis yang masih terpaku di tempat wudhu. Namun, tangannya masih terasa hangat sisa menyentuh punggung mulus sang gadis. Seketika, jantung Fatwa berdegup kencang. Akan tetapi, Fatwa berusaha untuk menetralkannya dan menganggap jika dia hanya ingin menolong gadis itu.


Siapa sangka, pertemuannya barusan, kembali mengingatkan Fatwa pada kenangan sentuhan pertama dia terhadap seorang gadis. Dan itu sangat menghantui pikirannya.


.


.

__ADS_1


Hari demi hari terus berlalu. Tetapi, tangan itu seolah tak mampu melupakan apa yang telah disentuhnya. Ingin rasanya Fatwa mencari tahu di mana kelas gadis itu. Tapi, dia terlalu takut untuk memulai. Bayangan Anna masih terus melintas dalam benaknya. Hingga suatu hari....


Besok adalah giliran dia untuk memberikan khotbah di masjid sekolah. Karena semalaman mengerjakan tugas sekolah, Fatwa lupa menghafal khotbah Jumatnya. Dia bergegas pergi ke kelas untuk menemui Aji.


Tiba di kelas, Fatwa melihat Aji tengah duduk bersama seorang gadis. Awalnya dia merasa malas untuk mendekati mereka. Namun, karena terdesak oleh kebutuhan, mau tidak mau Fatwa menghampiri Aji.


"Ji, kamu taruh di mana naskah pidato buat khotbah besok?" tanya Fatwa.


Gadis yang duduk bersama Aji, seketika mendongak. Kembali tatapan mata mereka bertemu. Dan lagi-lagi, Fatwa bisa merasakan kehadiran Anna dalam diri gadis itu.


"Aku taruh di dalam laci meja khotbah, Fat," jawab Aji.


Tak ingin terlena oleh tatapan mata sendu itu, Fatwa memutuskan untuk pergi tanpa permisi.


"Ish, nggak sopan!" ucap gadis itu.


Tiba di masjid, Fatwa duduk bersila di tempat imam. Dia mengeluarkan selembar foto dari dalam dompetnya.


"Hai, An ... apa kabar?" Fatwa mulai bermonolog sambil menatap foto gadis yang sedang memakai seragam pramuka.


"Apa kamu tahu, An? Ini pertemuan ketigaku dengan gadis itu. Entahlah, tapi aku merasa, semakin lama, gadis itu semakin mirip denganmu. Dia tidak cantik sepertimu. Bahkan tutur katanya juga, tidak selembut dirimu. Tapi cerewetnya dia dan kecerobohannya, selalu mengingatkan aku akan hadirnya dirimu. An, jika engkau izinkan, bolehkah kau beri aku kesempatan untuk lebih mengenalnya?"


Fatwa memejamkan mata. Bayangan Anna mulai kembali menari dalam benaknya. Semakin lama, bayangan itu semakin tampak jelas menghampiri dirinya. Gadis yang mengenakan syar'i putih itu, berdiri tak jauh dari hadapan Fatwa. Tangan mungilnya mulai bergerak menyentuh pipi milik kekasih yang dicintainya.


Fatwa tersenyum merasakan sentuhan tangan dingin itu. "Apa kabar An?" sapanya.


Gadis itu hanya tersenyum menanggapi sapaan Fatwa. Dia mendekati Fatwa dan duduk di pangkuannya. Sesekali tangannya mengusap lembut rambut milik pria itu sambil menatapnya penuh cinta.

__ADS_1


Fatwa meraih tangan itu dan mengecupnya. "Apa kau marah jika aku memberikan ruang untuk gadis lain?" tanya Fatwa.


Lagi-lagi, gadis itu tersenyum. Namun, sedetik kemudian terlihat jika dia menggeleng pelan kepalanya.


"Waktu terus berlalu, An. Aku selalu berusaha untuk menjaga hatiku. Tapi, entah kenapa ... sejak bertemu dengan gadis itu, hatiku seakan goyah. Aku mencintaimu An, sangat mencintaimu. Tapi cintamu tidak akan bisa aku gapai. Dunia kita berbeda. Meski aku nyaman karena kamu selalu hadir di setiap diamku. Tapi dia? Entahlah, aku hanya merasa aku memiliki harapan saat bertemu dengannya. Maafkan aku, An. Aku tidak bermaksud menduakan cintamu. Tapi aku tak sanggup melawan hatiku untuk tak bersikap bahagia saat bertemu dengannya. Entah sejak kapan, bertemu dengan dirinya kini telah menjadi satu aktivitas yang aku tunggu dan sangat menyenangkan. Meskipun tak ada sapaan dalam setiap pertemuan kami."


'Apa kau mencintai dia?'


Fatwa terkejut mendengar bisikan hatinya. Dia menatap sendu bayangan gadis itu.


"Aku mencintaimu, An. Tapi perasaanku bahagia menatap senyumnya. Aku tidak tahu, An. Aku tidak tahu apa aku mencintainya. Kamu sendiri tahu, segenap rasa cintaku telah aku persembahkan untukmu. Tapi, tidak aku pungkiri. Aku menginginkan kehadirannya di sisiku. Aku ingin melewati seluruh waktuku bersamanya. Apa keinginan itu bisa dinamakan cinta?"


Cup!


Kecupan hangat mendarat di bibirnya. Fatwa menatap gadis itu.


"Apa ini artinya, An? Apa kau ingin memberikan aku kesempatan untuk meraih kebahagiaanku sendiri?"


Gadis itu mengangguk.


"Tapi, aku bahagia hidup bersama bayanganmu."


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Sejurus kemudian, dia beranjak dari pangkuan Fatwa. Berjalan menjauhinya seraya melambaikan tangan.


"Tidak, An! Jangan tinggalkan aku! Jangan!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2