My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

"Astaghfirullah! Lalu?" tanya Citra semakin terlihat penasaran.


"Ya, begitu. Itulah kabar terakhir yang Kakak dengar. Hingga akhirnya, Kakak begitu terkejut saat tiga semester yang lalu bertemu kembali di kampus ini," jawabku.


"Apa Kakak tidak mencari tahu kenapa dia sampai depresi?" tanya Citra.


"Tidak, untuk apa?" Aku balik bertanya kepada Citra.


"Ish, Kakak ... jahat banget," kata Citra.


"Itu bukan jahat, Cit. Tapi, memang untuk apa Kakak mencari tahu tentang dia lagi. Toh Kakak bukan siapa-siapanya dia. Dan buktinya? Kamu sendiri bisa lihat, 'kan, kalau dia baik-baik saja," tukasku.


"Hehehe, Kakak benar. Ya, apa pun itu, tapi pada kenyataannya, dia baik-baik saja. Tapi, ngomong-ngomong, Kak. Apa mungkin orang baik-baik saja bisa mengajukan penawaran gila seperti itu?" tanya Citra lagi.


"Maksud kamu?" Aku tidak mengerti perkataan Citra.


"Itu, tentang penawaran yang dia ajukan untuk menambah nilai ujian Kakak," ucap Citra dengan polosnya.


Deg!


Aku cukup terkejut mendengar perkataan Citra. Mungkin Citra benar, kalau dia waras, dia nggak mungkin mengajukan penawaran itu. Ish, apa mungkin sisa depresinya masih ada? batinku.


"Udah ah Cit, jan bahas dia lagi. Kok aku jadi merinding ya,"ucapku.


Citra terkekeh mendengar ucapanku. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti di depan kami. Aku melihat Citra tersenyum begitu melihat mobil tersebut.


"Cowok lo, Cit?" tanyaku padanya.


"Iya, Kak," jawabnya. "Aku duluan ya, Kak. Buru-buru nih, nanti aku kenalin Kakak sama dia kalo senggang," ucap Citra.


"Ok," jawabku sembari menempelkan ujung jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran kecil.


Setelah kepergian Citra, aku kembali duduk di temani bapak satpam yang umurnya sudah lebih dari setengah baya.


"Jemputannya belum datang, Neng?" tanya pak satpam yang mungkin berbasa-basi karena di tempat ini tinggal kami berdua.


"Iya, Pak," jawabku, tersenyum tipis padanya.


"Siapa yang jemput, pacarnya?" tanya satpam lagi.


Dalam hati aku menggerutu kecil, memang apa urusannya denganmu?


"Calon suami, Pak," jawabku.


"Oh, sudah punya calon suami, toh. Tak pikir masih pacaran seperti anak-anak muda yang lainnya. Ya wis lah, kalo sudah punya calon suami, 'kan bagus. Sudah terarah, sudah pasti toh. Beda lagi dengan mereka yang masih pacaran. Ya anak zaman sekarang, 'kan, suka kebablasan kalo pacaran. Iya toh.. ya toh...!" ucap satpam kampus itu.


Dahiku berkerut seketika. Ish, ngomong opo toh, Pak? Aku kok, ora ngerti yo, batinku sambil tersenyum lucu melihat wajah pak satpam.

__ADS_1


"Kenapa toh, Neng? Kok mesem-mesem sendiri?" tanya satpam itu lagi dengan logat jawanya yang medok.


Aku yang menyadari Kekonyolanku, langsung tergagap seketika. "Eh, enggak kok Pak... enggak ada apa-apa. Ya, Bapak bener ... sekarang memang banyak anak muda yang salah pergaulan. Mungkin karena mereka masih mencari jati dirinya sendiri. Maklumlah, yang muda-muda seperti untuk, 'kan, sedang berada dalam fase pembuktian diri." Aku mrnimpali obrolan si bapak. Meskipun aku sendiri nggak terlalu paham ke mana arah pembicaraannya.


Satu jam berlalu, mobil sport berwarna putih milik Mas Yudhis akhirnya berhenti tepat berada di depan kami. Seketika aku berdiri untuk menyambutnya.


Mas Yudhis keluar dari dalam mobil. Dengan gayanya yang berwibawa, dia melangkah tegap ke arah kami.


"Maaf telat, Yang. Meeting di kantor cukup lemot hari ini," ucap Mas Yudhis begitu tiba di hadapanku.


"Tidak apa-apa, Mas. Harusnya tadi Mas Yudhis bilang kalo ada meeting, jadi 'kan aku bisa pulang sendiri, jawabku.


"Tidak apa-apa, lagian aku mo ngajak kamu ketemu sama seseorang kok,"


ucap mas Yudhis.


"Benarkah? Sama siapa, Mas?" tanyaku penasaran.


"Hmm ... rahasia!" gurau Mas Yudhis mencubit pelan ujung hidungku.


"Ish, Mas! Sakit ...." Aku merengek manja.


Mas Yudhis tersenyum melihat sikap manjaku.


"Hmm, kalo lagi pacaran, emang serasa dunia milik berdua, yang lainnya ngontrak," seru pak satpam.


"Maaf, Pak. Oh iya, kenalin ini Mas Yudhis, orang yang sedari tadi saya tunggu." Aku memperkenalkan Mas Yudhis kepada penjaga keamanan kampus yang dari tadi menemani aku menunggu Mas Yudhis.


Calon imamku tampak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak satpam. "Kenalkan, saya Yudhistira Devano, calon suaminya Resttyani," ucap Mas Yudhis.


"Oh, jadi ini toh calon imamnya," ucap pak satpam menerima uluran tangan Mas Yudhis.


Aku tersenyum menanggapi ucapan pak satpam. "Kalau begitu, Chi permisi dulu ya, Pak! Terima kasih sudah menemani Chi," ucapku.


"Iya Neng, sama-sama. Tidak usah khawatir, Bapak selalu siap menemani para mahasiswa yang menunggu jemputan," jawabnya.


Setelah mengucapkan salam, kami akhirnya pergi meninggalkan bapak satpam yang masih setia melakukan tugasnya.


"Chi, hari ini ibu mau ketemu denganmu," ucap Mas Yudhis, dalam perjalanan.


Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Mas Yudhis.


"Kok ngedadak sih, Mas!" Aku sedikit protes pada Mas Yudhis. Pasalnya, Mas Yudhis nggak bilang kalo mo ngajakin aku ketemuan sama ibunya hari ini.


"Nggak pa-pa juga kali, 'kan ini bukan yang pertama kalinya kamu ketemu ibu," jawab Mas Yudhis.


"Ya, tapi 'kan Mas, aku belum ada persiapan. Belum ganti baju juga, entar kalo ibu merasa illfeel dengan penampilan aku yang baru pulang kuliah, gimana?" Aku mencoba mencari alasan.

__ADS_1


"Sudah, nggak usah terlalu dipikirkan. Kamu itu calon menantu kesayangan ibu, jadi nggak mungkin ibu merasa illfeel sama kamu," tukas mas Yudhis.


Aku hanya diam dan sedikit menekuk wajah karena masih merasa kesal sama sikap Mas Yudhis yang seenaknya saja. Setelah melewati 40 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di sebuah restoran yang cukup mewah.


"Ayo!" ajak Mas Yudhis setelah memarkirkan mobilnya.


Mas Yudhis menggandeng tanganku dan mulai memasuki lobi restoran.


"Permisi, Mbak! Meja atas nama nyonya Amara Hadijaya nomor berapa, ya?" tanya Mas Yudhis kepada resepsionis di sana.


"Sebentar, Pak," ucap resepsionis itu sambil melihat buku tamu. "Oh, di privat room no 15, Pak, di lantai 2," lanjutnya.


"Baiklah. Terima kasih, Mbak," ucap Mas Yudhis.


Kembali Mas Yudhis menggandeng tanganku. Satu per satu kami menaiki anak tangga untuk menuju ruangan yang dimaksud.


Tiba di sana, seorang ibu yang usianya melewati setengah abad, berdiri dan menyapaku.


"Hallo, Sayang! Apa kabar?" sapanya sambil memeluk dan mencium kedua pipiku.


"Alhamdulillah, baik Bu," jawabku membalas pelukan ibunya Mas Yudhis.


"Senang bertemu denganmu. Sudah lama ya, kita nggak pernah ngobrol bareng. Duduk yuk!" ajak Tante Amara yang tak lain ibunya Mas Yudhis.


Aku mengangguk dan mengikuti ajakan Tante Amara. Setelah duduk, kami berbincang sejenak sambil menunggu makanan datang.


"Gimana kuliah kamu, lancar?" tanya Tante Amara.


"Alhamdulillah Tante, lancar," jawabku.


"Tinggal berapa semester lagi, Nak?" tanyanya lagi.


"Kalau tidak ada halangan, tinggal dua semester lagi, Tan," jawabku.


"Ah, syukurlah! Tante udah nggak sabar menimang cucu. Kalian tidak mengubah waktu pernikahan, 'kan?" tanya Tante Amara, menyelidik.


"Insya Allah nggak, Bu. Setelah Chi lulus kuliah, kami akan segera menikah," jawab Mas Yudhis.


"Ibu senang mendengarnya, Nak. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai dengan keinginan kita."


"Aamiin."


"Maaf, saya terlambat. Jalanan macet sekali tadi."


Deg!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2