
Semakin lama, kepalaku semakin terasa berat memikirkan percakapan kedua orang itu. satu yang bisa aku yakini adalah, mereka mengenalku. Tapi, siapa mereka?
Tak sanggup lagi untuk berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk memejamkan mata. Rasa lelah benar-benar mendera tubuhku. Ditambah lagi, cacing-cacing di perut sudah mulai meronta.
Aku melihat makanan yang tadi disajikan mulai sedikit berlendir. Itu artinya, makanan tersebut sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Hmm, tak apalah, untuk malam ini aku tidur tanpa mengisi perut. Toh tidak mungkin juga aku menyantap makanan basi.
.
.
Cuitan burung mulai terdengar bersahutan. Aku membuka mata dan sedikit menggeliatkan tubuh. Tidur menunduk semalaman, membuat tengkuk aku terasa pegal. Apalagi kedua tangan dan kakiku masih terikat kuat. Ya Tuhan … kok sampai seperti ini nasib, hamba…
Krieet!
Pintu terbuka lebar. Aku lihat pria asing datang menghampiri seraya membawa kotak makanan.
“Ini sarapannya, Mbak!” ucap pria itu dengan logat Jawa. Oh, rupanya dia salah satu komplotan penculik itu.
Setelah meletakan kotak nasi di atas meja, dia mengambil kotak nasi bekas kemarin. Dahinya sedikit mengernyit saat mendapati kotak nasi itu masih berisi.
“Mbak nggak makan?” tanya si penculik itu, lembut. Sejenak, dia mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan denganku. “Sebaiknya Mbak makan, jangan sampai Mbak sakit, karena itu akan sangat merepotkan kami,” ucapnya.
Huh, aku kira dia peduli padaku, tapi rupanya, dia hanya tidak ingin aku menjadi bebannya saja.
“Baiklah, aku pergi dulu. 10 menit lagi, aku akan kembali. Aku harap, makanannya sudah habis saat aku kembali kemari,” ucap laki-laki itu seraya beranjak dari kursinya.
“Tunggu!” teriakku.
Laki-laki itu menatap aku seraya mengernyitkan keningnya.
“Bisakah kau melepaskan ikatanku?” pintaku padanya.
“Maaf, Mbak. Aku tidak memiliki kewenangan untuk hal itu,” jawab laki-laki itu.
“Baiklah, suapi aku!” Aku mulai memberikan perintah kepadanya.
Aku lihat, kening laki-laki itu semakin mengernyit. Mungkin dia merasa heran mendengar perintahku yang tidak masuk akal.
“Kamu tidak mau melepaskan ikatan di tanganku, lalu bagaimana caranya aku bisa makan selain kamu suapi. Benar, ‘kan?” tutur aku penuh penekanan.
“Oalah …!” Terlihat laki-laki itu menepuk jidatnya. Sejurus kemudian dia kembali mendekati aku dan membuka salah satu ikatan di tanganku. “Sekarang, makanlah!” perintahnya.
__ADS_1
Setelah laki-laki itu pergi, aku mulai menyantap makanan Itu. Ditambah lagi, perutku terasa perih akibat penyakit maag yang kambuh. Tak membutuhkan waktu lama, makanan itu ludes hingga tak bersisa.
“Hmm, cepat juga kamu makan,” ucap laki-laki itu saat kembali ke ruangan ini.
“Bisakah kau tidak mengikat tanganku lagi?” pintaku mencoba bernegosiasi.
Laki-laki itu tampak berpikir.
“Aku janji, aku tidak akan melepaskan diri,” jawabku.
“Sudahlah, jangan memintaku untuk melakukan hal yang mustahil bisa aku lakukan,” dengus laki-laki itu, “memangnya kamu pikir aku tidak tahu niat kamu yang sebenarnya,” lanjut dia.
“Ish, niat seperti apa maksud kamu? Aku hanya merasa, tanganku sudah sangat pegal harus terikat di belakang terus. Apa kamu pikir, aku nyaman tidur dengan tangan dan kaki terikat seperti ini?” Aku benar-benar kesal dituduh yang bukan-bukan oleh laki-laki itu.
“Sudah, lepaskan ikatan di tangannya!”
Tiba-tiba seseorang yang tak lain adalah si abang ojek itu, masuk dan memberikan perintah kepada laki-laki berlogat Jawa.
“Baik, Bos!” ucapnya seraya menghampiri aku.
Dengan cekatan, laki-laki itu membuka ikatan di tangan kiriku.
Alhamdulillah, batinku. Aku mulai mengepalkan tangan untuk melemaskan jari-jemariku.
Aku menatapnya sinis. “Siapa kamu?” Aku kembali bertanya, karena sedari kemarin aku tak mampu mengingatnya.
“Ah, Chi … rupanya waktu 1 X 24 jam tak cukup untuk mengingat siapa aku,” kata laki-laki itu.
“Sudahlah, aku sudah lelah bermain teka-teki. Sekarang katakan, siapa kamu? Dan apa tujuan kamu menculik aku?” tanyaku beruntun.
Laki-laki itu menarik kursi dan duduk di hadapanku. “Jadi, kamu benar-benar tidak mengingat aku, Chi? Malang sekali nasibku. Padahal, di setiap waktuku, aku selalu mengingat kamu, Chi,” tuturnya dengan wajah sendu.
“Maafkan aku … tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat siapa kamu. Tolong katakan, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanyaku mencoba bersikap lembut padanya, meski dalam hati, aku merasa dongkol atas setiap kejahatan dia padaku.
Laki-laki itu mencondongkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dengan wajahku.
“Tatap wajahku dengan baik, Chi. Akan aku berikan waktu selama 5 menit agar kamu bisa mengingat aku,” ucapnya.
Perlahan, mataku mulai menyusuri gurat wajah itu. Ya, guratan wajahnya memang seperti tidak pernah asing dalam ingatanku, tapi sungguh, aku tak mampu mengingat di mana aku pernah bertemu dengan dia dulu.
Aku menggelengkan kepala. “Maafkan aku, tapi Demi Tuhan … aku tidak bisa mengenali kamu,” ucapku, menyerah.
__ADS_1
Laki-laki itu terlihat mengembuskan napasnya secara kasar. “Kamu ingat dengan orang yang bernama Andra Wardana?” tanya laki-laki itu, dingin.
Seketika aku terhenyak mendengar nama alamarhum bang Andra keluar dari bibirnya. Aku kembali menatap lekat wajah tegas itu. Sedetik kemudian, aku menganggukkan kepala.
“Sekarang, apa kamu mulai mengingat aku?” Kembali laki-laki itu bertanya.
Aku menggelengkan kepala.
“Ish, kenapa kamu tega sekali padaku, Chi. Padahal sedari dulu, aku menahan sesak karena harus melihat kamu melewati hari bersama Andra,” ucap laki-laki itu. matanya menerawang jauh, menatap ke luar jendela yang berada di belakang aku.
Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan laki-laki itu. Aku melihat, gurat kesedihan kentara jelas di wajahnya.
“Dulu, aku sering menyaksikan kalian tertawa bersama, Chi. Dan kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? Di sini, Chi!” Tunjuk laki-laki itu pada dadanya, “sakitnya itu di sini, Chi. Tapi aku tetap mencoba bertahan demi persahabatan aku dan Andra. Aku tidak mau persahabatan kami hancur hanya karena wanita. Tapi …” laki-laki itu menjeda kalimatnya.
Perlahan memoriku mulai terbuka. Bayangan remaja bertubuh kurus, berkulit hitam manis dengan gurat wajah penuh ketegasan mulai melintas dalam benakku.
“Ba-bang Ri-zal?” gumamku terbata.
Laki-laki itu tampak tersenyum. “Ah … akhirnya kamu mengingatku, Chi,” ucapnya.
Mataku membulat sempurna saat laki-laki itu seolah membenarkan terkaanku. Jadi benar, dia adalah Afrizal Mahesa, kawan karib bang Andra saat aku masih duduk di bangku SMP. Ya Tuhan, pantas saja aku tak mampu mengingat dengan cepat. Sudah puluhan tahun aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu. Dan, dulu pun aku hanya sekedar tahu, tidak terlalu mengenal akrab dengannya. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka jika dia memiliki rasa untukku.
“Jadi, wanita yang semalam bersamamu … di-dia adalah Anneu?” tanyaku.
“Anneu?” Bang Rizal mengulang ucapanku.
“Ya, Anneu Jannatunnisa,” jawabku.
“Hmm, dari mana kamu tahu tentang dia?” tanya Bang Rizal.
“A-aku hanya menebak saja,” jawabku.
Bang Rizal tersenyum sinis padaku. “Apa laki-laki itu yang menceritakan tentang Anneu?” tanyanya.
“Laki-laki itu?” Aku balik bertanya seraya mengerutkan keningku.
“Sudahlah, tidak perlu membahasnya. Aku muak kalau harus mendengar nama laki-laki itu,” tukas Bang Rizal terlihat tidak suka.
Aku hanya diam. Sekarang mulai terkuat siapa dalang dibalik penculikan aku. Tiba-tiba aku teringat akan satu hal yang mengganggu pikiranku. “Kenapa Bang Rizal nyulik Res?” tanyaku.
“Untuk aku jadikan sebagai istri.”
__ADS_1
Bersambung