
Keesokan harinya.
Seorang perawat memasuki kamar. Dia tersenyum saat menatapku yang baru terjaga. "Saya dengar, semalam suami Anda sudah sadar. Selamat ya, Bu," ucap perawat itu sambil membetulkan selang infus.
"Iya, alhamdulillah Sus," jawabku.
"Syukurlah kalau begitu. Mudah-mudahan suami Ibu lekas sehat paripurna," ucapnya lagi.
"Terima kasih, Sus. Omong-omong, apa Mas Fatwa bisa pulang hari ini, Sus?" tanyaku.
"Kita tunggu visit dokternya dulu ya, Bu. Soalnya, suami Ibu baru sadar. Kemungkinan besar, kondisi tubuhnya belum stabil. Saran saya, sebaiknya dirawat dulu sampai dokter menyatakan pulih," tutur perawat itu.
"Ah, baiklah kalau begitu," pungkasku.
Setelah perawat itu keluar kamar, aku pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku mempercepat rutinitas mandiku, takut jika Fatwa akan mencariku begitu terbangun dari tidurnya. Setelah berganti pakaian, aku segera keluar dari kamar mandi.
"Wah, segar sekali," tegur Fatwa sesaat setelah melihat aku keluar dari kamar mandi.
Aku yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil, seketika mendongak mendengar teguran Fatwa.
"Eh, kamu sudah bangun, Fat," ucapku seraya menyimpan handuk di tempat jemuran kecil lalu menghampiri Fatwa.
"Res, badanku lengket. Apa kamu bisa membantu aku pergi ke kamar mandi? Rasanya aku ingin mengguyur tubuhku dengan air dingin. Supaya lebih segar," ucap Fatwa.
"Ish, luka kamu belum kering, Fat. Jangan dulu mandi," larangku.
"Tapi nggak nyaman banget, Res. Rasanya lengket banget," rajuk Fatwa.
"Sebentar, Res tanya perawat dulu."
Fatwa mengangguk. Setelah itu, aku pergi ke luar untuk menemui perawat dan berkonsultasi.
Tok-tok-tok!
Aku mengetuk pintu ruangan perawat. Seseorang membuka pintu tersebut dan mempersilakan aku masuk.
__ADS_1
" Ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya salah seorang perawat penjaga.
"Begini Sus. Mas Fatwa ingin membersihkan dirinya. Apa tidak akan bermasalah dengan luka bekas operasinya?" tanyaku.
"Hm, luka bekas operasinya belum kering benar, Bu. Jika Bapak memang ingin membersihkan diri, sebaiknya diseka saja," jawab perawat itu.
"Emm, apa Anda bisa menugaskan seorang perawat pria untuk menyeka mas Fatwa?" tanyaku ragu.
"Loh, bukankah Ibu itu istrinya? Kenapa bukan Ibu saja yang melakukannya? Memandikan suami itu, besar loh Bu, pahalanya," jawab perawat itu.
Aku hanya tersenyum mesem mendapati jawaban dari perawat tersebut.
Uuh, sudah kuduga. Pasti jawabannya seperti ini jika aku meminta hal tersebut. Ah, bodoh sekali kamu, Res, gerutu aku dalam hati.
Merasa tidak ada lagi yang ingin aku tanyakan, akhirnya aku pamit undur diri dari hadapan perawat itu.
Dengan lutut yang terasa lemas, aku melangkahkan kembali kakiku ke kamar Fatwa. Tiba di sana, Fatwa menyambut aku dengan senyumnya yang khas.
"Gimana, Res? Aku boleh mandi, 'kan?" tanya Fatwa.
"Tunggu Zein ke sini, ya?" ucapku.
Fatwa mengernyit, pertanda tak mengerti maksud ucapanku. Tentu saja, aku bisa memahami kerutan di dahinya.
"Suster menyarankan agar kamu diseka saja. Tapi saat Res meminta bantuan seorang perawat pria untuk menyeka kamu, eh suster itu malah menyuruh Res. Mereka pikir, Res ini istri kamu. Karena itu mereka suruh Res buat seka kamu. Uh, apa-apaan?" Tanpa sadar, aku mengeluh di hadapan laki-laki itu.
Fatwa hanya tersenyum mendengar keluhanku. "Ya sudah, kamu telepon Zein. Suruh dia segera datang," pungkas Fatwa.
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Kondisi Fatwa juga semakin membaik. Operasi bekas pengangkatan peluru di dadanya pun sudah mengering. Usahanya yang gigih untuk sembuh, kini telah membuahkan hasil. Akhirnya, setelah seminggu dirawat, dokter pun mengizinkan Fatwa untuk pulang.
"Sebaiknya Abang pulang ke rumah kita saja," usul Rayya saat membantu kami berkemas.
__ADS_1
Aku membulatkan kedua bola mata mendengar usulan Rayya. Ish, benar-benar ide konyol. Ngapain sih, si Rayya ngasih ide ngawur kek gitu, batinku.
Fatwa hanya tersenyum menanggapi usulan adikku. Tiba-tiba, Mama melontarkan pertanyaan kepada pemuda tinggi itu. "Memangnya Nak Fatwa nggak tinggal sama jeng Amara?"
"Enggak, Bu. Fatwa tinggal di apartemen sendirian," jawab Fatwa.
"Oh ya sudah, kalau gitu Nak Fatwa tinggal sama kami saja. Biar nanti kami bisa membantu Nak Fatwa sampai bisa pulih total. Nanti, biar Ibu yang bicara sama ketua RT setempat," ucap mama.
Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan mama yang terkesan mendukung ide gila Rayya. Haish, ini mama apa-apaan lagi...
Fatwa melirikku. Melihat raut muka aku yang masam, sepertinya dia tidak enak hati untuk menerima tawaran mama dan Rayya.
"Tidak apa-apa, Tan. Aku bisa tinggal di apartemen sendirian, kok," tolak halus Fatwa seraya menatapku.
Namun, rupanya Rayya menyadari alasan penolakan Fatwa.
"Ish, Rayya tahu, Abang nolak tawaran kita gara-gara Kak Chi, 'kan? Abang nggak usah kuatir, urusan Kak Chi, biar Rayya yang tangani. Lagi pula, itu 'kan rumah punya Mama. Jadi mama berhak dong nawarin siapa saja untuk tinggal di sana. Bukan begitu, Ma?" tanya Rayya, tangannya bergelayut manja melingkar di tangan mama. Namun, matanya mendelik ke arahku.
"Hmm, Rayya benar. Itu rumah Ibu, dan Ibu pingin kamu tinggal di sana. Kamu nggak keberatan, 'kan?" Mama menegaskan perkataan Rayya.
Fatwa menatapku.
Aku hanya melengos hendak keluar kamar seraya menjinjing tas yang berisi pakaian kotor milik Fatwa. Melarang keinginan mama pun tak ada gunanya. Toh aku sendiri berhutang nyawa kepada laki-laki itu.
"Baiklah, aku terima tawaran kalian."
Samar-samar aku mendengar ucapan Fatwa yang menerima penawaran mama dan Rayya. Hatiku kesal. Namun, entah kenapa senyum tipis terukir di bibirku saat mendengar perkataan Fatwa.
"Uuh, benar-benar munafik kamu, Res," seruku kepada diriku sendiri.
Setelah selesai berkemas, akhirnya Zein dan Rayya memapah Fatwa keluar dari rumah sakit.
Wellcome home my killer lecturer
Bersambung
__ADS_1