My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Aku Ingin Tahu Kebenaran


__ADS_3

Sekuat tenaga aku mendorong dan berteriak padanya bahwa apa yang dia rasakan saat ini bukanlah cinta, melainkan sebuah pelarian saja.


Aku melihat jika pria dingin itu cukup terkejut dengan reaksi yang baru saja aku lakukan.


"Apa maksudmu?" tanya pria itu begitu dingin. Langkahnya yang tegap kembali mendekati aku.


Merasa takut, aku mundur beberapa langkah. Tapi sialnya, dia seolah tidak ingin melepaskan aku. Dia terus melangkah hingga akhirnya aku berhenti karena punggungku telah menyentuh dinding ruang tamu.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kau tidak pernah merasakan gemuruh dadaku yang menginginkan kamu menjadi milikku? Apa kau tidak bisa merasakan isi hatiku melalui ciuman kita waktu itu?" ucap Fatwa menatapku tajam.


Pria dingin itu kembali memejamkan mata dan mulai mendekati wajahku. Wajahnya kembali bermuara di ceruk leher. Sesekali kecupan hangat mulai dia layangkan di sana.


Aku memegang ujung pakaianku dengan erat. Terselip rasa takut jika pria itu akan berbuat sesuatu yang lebih terhadapku. Namun, entah kenapa tubuhku tak mampu bereaksi untuk sebuah penolakan. Hanya detak jantungku saja yang berpacu dengan cepat.


Embusan napas pria dingin itu kembali terasa hangat menyentuh kulit leherku. Indera perasanya mulai menari-nari di daun telinga. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sensasi yang tidak mampu aku gambarkan. Hanya saja, aku mulai menikmati sensasi asing tersebut.


Dada bidangnya menempel dan menyentuh bukit kembarku, aku terhenyak dan mulai tersadar dari sensasi gila ini. Aku berusaha untuk mendorong tubuhnya yang tegap.


"Aku mohon, jangan lakukan ini, Fat? Aku bukan Anna," bisikku lirih di telinganya. Sungguh, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan.


Fatwa sangat terkejut mendengar bisikanku. Mungkin dia tidak menyangka jika aku akan menyebutkan nama Anna.


"Da-dari mana kau tau tentang A-Anna?" tanya Fatwa, tergagap.


"Itu tidak penting! Yang terpenting sekarang, tolong jangan lakukan ini padaku. Apa pun yang kamu rasakan hari ini, itu bukanlah cinta. Aku bisa pastikan hal itu!" ucapku lantang.


Fatwa melangkah mundur. Mungkin dia tidak menyangka jika aku akan mengungkit soal perasaannya terhadap Anna.


Pria itu duduk di atas sofa yang kain putihnya sudah tersingkap. Sejenak, Fatwa menundukkan wajahnya. Bahunya sedikit berguncang, mungkin saja dia sedang menangis.


Aku mulai memberanikan diri untuk mendekat dan berdiri di hadapannya. Melihat bahunya yang semakin berguncang hebat, aku pun mulai berjongkok di hadapan pria dingin yang terlihat rapuh itu.


"Fat!" panggilku, mencoba memberanikan diri mrnyentuh kedua lututnya.


Pria dingin itu mendongak. Sinar matanya masih terlihat tajam, menatapku. "Tahu apa kamu tentang Anna?" ucap Fatwa dingin.


"Aku cukup tahu sehingga bisa memastikan jika perasaan kamu terhadapku bukanlah cinta," jawabku.


"Bullshitt!" gumam Fatwa.

__ADS_1


"Terserah! Tapi itu bukan cinta!" ucapku ngotot. "Itu hanya obsesi kamu terhadap mantan kekasihmu, sehingga apa yang kamu lihat dari diriku, adalah sisi yang mengingatkan kamu pada cintamu terhadap Anna," tuturku dingin.


Aku tidak ingin terjebak lagi dalam perasaan yang sebenarnya masih aku miliki dengan kuat.


"Kau ingin tahu apa artinya cinta, hah? Kau ingin tahu seberapa besar aku mencintai Anna?" Fatwa mulai berteriak di hadapanku.


Aku terkejut melihat reaksi Fatwa. Tanpa memberikan aku waktu untuk menghindar, Fatwa kembali mencekal pergelangan tanganku.


"Ikut aku!"


Kembali pria dingin itu menyeret langkahku hingga aku berjalan terseok-seok untuk menyeimbangi langkahnya.


Brak!


Fatwa membuka salah satu kamar yang berukuran cukup luas. Tanpa banyak bicara, dia menarik tirai yang menggantung di dinding kamar.


Sreekk!



Mulutku seketika terbuka lebar saat melihat sebuah lukisan hitam putih berukuran cukup besar tergantung di dinding.


"Ya Tuhan...!" Aku memekik pelan menatap wajah diri terpampang jelas pada sebuah bingkai raksasa yang menempel di dinding kamar.


Seketika, kedua lututku terasa lemas. Aku mulai limbung dan mencari pegangan.


Sret!


Brak!


Tanpa sengaja aku menarik salah satu kain yang menutupi kanvas lukisan yang berada di sampingku hingga terjatuh. Kembali mulutku menganga melihat foto berukuran A4 yang menjadi model salah satu lukisan.


Sejenak aku menatap Fatwa. Terlihat pria dingin itu menganggukkan kepalanya. Mendapatkan persetujuan dari si empunya kamar, aku mulai mengedarkan pandangan dan mendapati beberapa kanvas yang tertutup kain putih. Rasa penasaran semakin membuncah. Bagai orang yang kesurupan, dengan kasar aku menyingkap semua kain yang menutupi papan kanvas. Bola mataku membulat seketika melihat puluhan lukisan yang menggambarkan tentang kegiatanku di sekolah.


Cukup lama aku menatap lukisan itu satu per satu, hingga kepalaku mulai terasa berat. Mataku berkunang-kunang dan akhirnya aku limbung tanpa mengingat apa pun lagi.


.


.

__ADS_1


Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Hanya saja, usapan lembut di kepala membuat aku, perlahan membukakan kelopak mata.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar Res," ucap pria dingin itu tersenyum manis.


Aku segera bangun dan mulai beringsut. Bayangan setiap lukisan yang terpajang di dinding dan bersandar di beberapa papan lukis mulai tergambar dengan jelas dalam ingatanku. Sejenak, aku menatap lurus bola mata kecoklatan milik pria dingin itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Fatwa.


"Ke-kenapa kamu lakukan itu?" ucapku terbata.


"Melakukan apa?" Pria dingin itu masih bertanya dengan gaya santainya.


"Kenapa kau melukis dan mengumpulkan semua gambarku?" tanyaku penasaran.


"Itu karena, hanya kamu yang selalu membayangi kehidupanku," jawab Fatwa dengan entengnya.


Aku benar-benar pusing dengan semua kalimat yang dia berikan. "Sejak kapan?" tanyaku lagi.


"Maksud kamu?" Fatwa malah balik bertanya.


"Sejak kapan kamu memiliki hobi mengintai kegiatan orang lain bagaikan seorang paparazi," sindirku, karena ada beberapa lukisannya yang menggambarkan jelas aktivitasku di sekolah.


"Paparazi? Hahaha,... hmm, aku rasa itu julukan yang cocok untukku," ungkap Fatwa.


Aku mulai merasa kesal dengan semua tingkah lakunya. "Tolong jawab aku, sejak kapan kamu hobi mengintai kegiatanku dan menuangkannya ke dalam kanvas putih seperti itu?" Aku mulai sedikit emosi.


"Sejak seminggu setelah kejadian kita tersesat di Parentas," jawabnya lantang.


Aku terkejut mendengarnya. Jujur saja, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, ibarat sebuah teka-teki bagiku. Ya Tuhan ... entah sampai kapan aku bisa bersabar dalam menghadapi pria yang penuh misteri ini?


Seketika, bayangan penolakan pria itu kembali terlintas dalam ingatanku. Semuanya terekam cukup jelas. Kalimatnya, ekspresi wajahnya, bahkan telunjuknya yang terangkat tepat di depan hidungku masih bisa aku ingat dengan jelas. Nyatanya, dia menolakku. Jika memang dia memiliki rasa semenjak hari itu, lalu kenapa dia menolakku?


"Lalu, penolakanmu?" tanyaku yang sangat ingin mengetahui semua kebenarannya.


"Maafkan aku!" Fatwa hanya menundukkan kepalanya.


"Aku tidak butuh maaf kamu, aku hanya butuh jawaban darimu. Jika kau memang mencintaiku, lalu kenapa kau menolakku begitu kejam. Bahkan, tanpa perasaan kau mengatai aku di depan umum. Apa kau tahu betapa malunya aku saat itu?" Aku mulai histeris mengingat kembali masa kelam dalam hidupku.


Fatwa memelukku dengan erat. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud melukaimu sedalam itu. Aku benar-benar minta maaf, semua terjadi begitu saja. Dan kebenarannya tidak seperti apa yang kamu lihat," ucapnya.

__ADS_1


Aku menarik diri dari pelukan pria dingin itu. "Lalu, apa kebenarannya? Katakan padaku! Aku ingin tahu semua tentang kebenarannya!"


Bersambung


__ADS_2