
Tiba-tiba seseorang menubrukku dari arah belakang. Tak ayal lagi, akhirnya aku jatuh terjerembab ke lantai.
"Ish." Aku meringis, merasakan ngilu di sikut.
"Maaf!"
Suara itu? batinku. Seketika aku mendongak mendengar suara yang tak asing di telinga.
"Res!"
Aku masih bisa mendengar pria dingin itu bergumam.
"Aku bantu!" ucapnya lagi.
"Tidak usah, terima kasih." Aku berdiri dan menepuk rok yang kotor terkena debu. Setelah itu, aku berlalu tanpa permisi dari hadapannya. Entah apa yang akan dia pikirkan tentangku. Sungguh, aku sudah tidak peduli lagi.
"Assalamu'alaikum!" sapaku begitu tiba di kelas.
"Chi! Ah, gua kangen ma lo!" Awal yang sedang ngobrol dengan temannya seketika menghampiri dan memelukku. "Lo ke mana aja sih, Chi? Ngilang tanpa kabar. Gua dah cariin lo ke rumah juga, tapi nyokap lo nggak bilang apa-apa. Sori ya, Chi. Gua dah ceritain masalah lo di sekolah ke nyokap lo. Gua pikir, nyokap lo dah tahu," ucap Awal panjang lebar.
Oh, jadi mama tahu semuanya dari bocah tengik ini, gumamku dalam hati. Aku tersenyum tipis padanya. "Sudahlah, Wal. Gue dah lupain semua itu, kok. Kemaren, gue hanya butuh waktu buat renungin semua kesalahan gue," jawabku.
"Tapi, lo nggak pa-pa, 'kan, Chi?" tanya Awal penuh kecemasan.
"Nggak pa-pa, gua nggak pa-pa kok," jawabku, pasti.
"Ah, syukurlah!" kata Awal.
Brugh!
Tiba-tiba aku merasakan seseorang menabrakkan diri dan memeluk aku dari arah belakang.
"Ah, Chi! Gue kangen banget ma lo!" pekiknya tepat di telingaku.
Aku memukul kedua lengannya sambil menggerutu. "Pekak tau, kuping gue!" dengusku kesal.
Bocah cempreng itu terkekeh mendengar gerutuanku. Sejurus kemudian, dia melepaskan pelukannya.
Aku berbalik. Aku melihat Tika dan Kak Lastri telah berdiri di hadapanku. Kami pun saling berpelukan untuk melepaskan rindu.
__ADS_1
"Kita duduk, yuk!" ajak Kak Lastri.
Aku mengangguk, kemudian berpamitan pada Awal dan yang lainnya. Setelah itu, aku mengikuti ketiga temanku. Suasana kelas masih terlihat sepi, karena memang masih pagi. Masih ada banyak waktu untuk ngobrol sejenak.
"Sebenarnya, lo dari mana aja sih, Chi? Kenapa mama juga nggak mo ngasih tau keberadaan lo sama kita-kita?" tanya Irma.
"Sori, Ma. Gue yang pesen ke nyokap supaya nggak ngasih tahu keberadaan gue ke siapa pun," jawabku.
"Ish, lo mah tega. Padahal kita, 'kan sahabat lo. Kita siap kok, berbagi duka ma elo. Lo inget, 'kan motto persahabatan kita. Entah itu di dalam suka ataupun duka, kita pasti akan menjalaninya bersama," ucap Irma.
"Gue tahu. Tapi ... gue cuma nggak mo repotin kalian. Gue nggak mo libatin siapa pun dalam permasalahan gue. Jangankan kalian, nyokap sendiri nggak pernah tahu masalah gue. Cuman kata si Awal, tempo hari dia datang ke rumah buat nyariin gue. Akhirnya, dia yang nggak sengaja cerita tentang kejadian minggu lalu yg bikin gue down." Aku mencoba memberikan pengertian kepada ketiga temanku.
"Chi, gue yakin ... pasti ada sesuatu yang bikin si Fatwa berbuat nekat seperti itu," ucap Irma.
"Udeh deh. Lagian, gue juga dah lupain kejadian itu," kataku.
"Tapi, apa yang dibilang Irma sepertinya bener Chi. Kakak ma Tika kenal Fatwa sudah sejak kelas 1. Dan fatwa? Dia bukan tipe cowok yg suka nyakitin perasaan cewek," timpal Kak Lastri.
Tapi kenyataannya, dia sudah menyakiti aku, Kak, ucapku dalam hati.
"Hmm, apa pun itu, sepertinya aku sudah tidak mau tahu lagi, Kak. Aku sudah melupakan semuanya. Anggap saja aku tidak pernah kenal dengan pria itu!" kataku tegas.
"Tidak usah, Ma. Seperti tadi yang gue bilang. Anggap aja gue nggak pernah kenal cowok itu. Saat ini, gue dah nggak mo tahu apa pun atau siapa pun dia. Awalnya gue nggak tahu siapa dia. Dan sekarang pun, gue nggak akan pernah mau tahu tentang dia. Jadi tolong, jangan bicarakan orang itu lagi di hadapan gua. Please!" ucapku sambil mengatupkan kedua telapak tangan.
Ketiga temanku hanya bisa kembali merangkul aku untuk memberikan dukungan.
.
.
Setelah mengikuti dua jam mata pelajaran, akhirnya bel istirahat berbunyi. Aku dan kedua sahabatku pergi ke kantin untuk mengisi perut. Namun, sebelumnya aku memutuskan ke masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan salat dhuha.
Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi, Kak Lastri dan Irma pun ikut salat dhuha. Dalam hati aku bersyukur, meskipun ada niat yang tersembunyi dibalik semua yang mereka lakukan, tapi akhirnya, mereka mau juga pergi ke masjid untuk menunaikan salat dhuha di jam istirahat.
Selesai salat, kami melanjutkan perjalanan menuju warung Mang Engkus. Saat melewati ruang perpustakaan, kembali aku mendengar cemoohan orang tentangku. Kali ini datang dari adik kelas. Seketika tangan Irma mengepal karena amarah. Dia kemudian hendak melangkahkan kakinya menuju sekelompok siswi yang sedang berghibah di depan perpustakaan.
"Mau ke mana?" tanyaku seraya mencekal pergelangan tangan Irma.
"Lepas Chi! Gue harus kasih pelajaran tuh bocah-bocah centil." Irma mendengus kesal sambil menatap nyalang kepada sekelompok gadis tersebut.
__ADS_1
Aku melihat beberapa di antara mereka ada yang membubarkan diri karena merasa takut dengan tatapan horor Irma. Ada juga yang berpura-pura membuka buku pelajaran yang baru saja dia bawa dari perpustakaan.
"Sudah Ma, biarkan saja!" pintaku.
"Ish, nggak bisa, Chi. Mereka tuh harus dikasih pelajaran biar mulutnya nggak ember!" dengus Irma kesal.
"Udah deh, mereka masih kecil. Lo nggak malu apa, layanin omongan anak kecil?" ucapku berusaha menahan Irma.
"Justru karena mereka masih kecil, mereka harus diarahkan dengan benar. Biar nggak ngelunjak kalo dah gede!" Irma kembali mendengus kesal.
"Udah ah, yuk cabut!" ucap Kak Lastri seraya memegang tangan Irma dan menariknya untuk segera pergi dari tempat itu.
Tiba di kantin, kami lihat Tika sudah memesan tempat duduk. Kami bertiga segera menghampirinya.
"Aku sudah pesan makanan, seperti biasa," ucap Tika begitu kami mendaratkan bokong di atas bangku.
"Thank you my lovely Tika," kata Irma sambil menyentuh pelan dagu milik Tika.
"Ish, najis lo!" gerutu Tika menepiskan tangan Irma.
"Hahahah,...." Kami semua tergelak melihat rona merah di wajah Tika.
Brak!!!
Seseorang tiba-tiba menggebrak meja. Kami semua mendongak untuk melihat siapa wanita kurang ajar itu.
"Kau!" pekik Irma yang terkejut sekaligus heran melihat gadis muda yang cantik sedang berdiri.
"Iya, gue! Kenapa? Kaget?" jawab wanita itu dengan nada sombongnya.
"Hahaha,... ngapain gue kaget ngelihat lo? Gue cuma heran aja, lah ngapain lo gebrak meja orang? Emangnya tak sakit, tuh tangan?" gurau Irma.
"Tutup mulut lo! Gue nggak pernah ada urusan sama lo!" teriak Susan.
"Kalo lo nggak ada urusan ma gua, lah ngapain lo datang ke meja kita?" Irma membalas teriakan Susan.
"Sini lo!"
Bersambung
__ADS_1