
Sejenak aku termenung mendengar pesan mama. Tidak biasanya mama berbicara seperti itu. Setiap hari, sikap mama biasa-biasa saja saat aku berpamitan untuk bekerja. Tapi hari ini, tiba-tiba saja mama memberikan pesan agar aku mengabari beliau, begitu tiba di tempat kerja. Hmm, seakan aku pergi bekerja ke luar kota saja.
“Hei, kok malah ngelamun sih, Kak?” tegur mama.
Teguran mama seketika membuyarkan lamunanku tentang keganjilan sikap beliau. “Eh, enggak kok, Ma. Siapa juga yang ngelamun.” Aku mengelak.
“Hmm, Mama ini orang tua kamu, nggak mungkin bisa kamu bohongi gitu aja,” tukas mama, “kamu lagi ada masalah, Kak?” tanya mama lagi.
Aku kembali menghempaskan bokongku di atas sofa. “Nggak tahu, Ma. Hari ini, Kakak malas banget kerja,” jawabku seraya menyandarkan punggung pada sandaran sofa.
“Kalau malas, mbok ya nggak usah dipaksa, Nak. Kamu bisa telepon atasan kamu dan meminta izin, ‘kan? Apalagi semalam kamu habis begadang. Mungkin, kamu kecapean dan butuh istirahat, Kak,” tutur mama.
“Ya, Kakak bisa saja izin sama pak Diman, Ma. Tapi, masalahnya hari ini Kakak sudah terlanjur janji sama anak-anak untuk melakukan pembelajaran di luar,” jawabku.
“Hmm, kalau gitu, Mama nggak tahu harus kasih solusi seperti apa, Kak. Maafkan Mama ya, Nak. Gara-gara Mama, kamu sampai kecapean seperti ini,” ucap mama duduk di sampingku seraya mengelus rambut aku.
“Mama apaan, sih? Enggak usah minta maaf juga kali. Sudah menjadi kewajiban Kakak untuk membantu tugas Mama,” ucapku yang selalu merasa terharu dan pengen nangis jika mama sudah minta maaf. Padahal, meringankan pekerjaan orang tua merupakan kewajiban aku dan Rayya sebagi anak-anaknya mama.
“Makasih ya, Kak. Mama bangga sama kamu dan adik kamu. Ternyata, kalian anak-anak yang sangat membanggakan. Dan Mama bersyukur karena telah dikaruniai dua orang putri cantik yang selalu berbakti kepada orang tuanya,” tutur mama panjang lebar.
Aku tersenyum dan segera mencondongkan badanku untuk memeluk mama. Ah, sungguh sebuah pelukan yang selalu menghangatkan bagiku. Saat kami tengah larut dalam hangatnya perasaan kami masing-masing, tiba-tiba aku mendengar teriakan Rayya dari luar.
“Kak Chi! Ojek online-nya sudah datang, tuh!” teriak Rayya saat dia melihat sebuah kendaraan beroda dua dengan logo ciri khas ojek online, berhenti tepat di depan pintu pagar rumah.
“Iya, Dek! Sebentar!” Aku membalas teriakkan Rayya dari dalam rumah. “Kalau begitu, Kakak pamit dulu ya, Ma,” ucapku kepada mama.
Mama terlihat mengangguk. “Hati-hati di jalan, Kak!” sekali lagi mama berpesan. Ada raut kecemasan terpancar di wajahnya.
“Iya, Ma!” jawabku seraya meraih tangan mama dan mencium punggung tangan kanan mama.
“Kak Chi, cepetan! Kasihan abang ojeknya nungguin tuh!” Rayya kembali berteriak-teriak.
Setengah berlari, aku pun keluar untuk menghampiri Rayya yang sedari tadi berteriak terus. “Apaan sih, Dek? Bawel!” gerutuku kesal.
“Yeay, lagian siapa suruh lama, ‘kan kasihan abang ojeknya nungguin lama.” Rayya membela diri.
__ADS_1
“Ya, 'kan kudu pamit dulu Dek, sama mama.” Aku tak ingin kalah dari Rayya.
“Udah-udah, sana pergi gih! Dah siang juga, masih aja ngajak debat,” ucap Rayya.
“Hehehe,…” Aku hanya cengengesan seraya berlalu pergi dari hadapan Rayya.
Tiba di luar pintu pagar, dahiku sedikit mengernyit saat melihat penampilan si abang ojek. Sejenak, aku mengeluarkan ponsel untuk memastikan plat nomor yang tertera di belakang motor miliknya. Hmm nomor plat-nya sama. Tapi kok, wajahnya seperti lain. Apa karena tertutup masker? batinku.
“Dengan Mbak Octora Resttyani?” tanya abang ojek itu yang seketika membuyarkan lamunan aku.
“Eh, iya … benar,” jawabku. “Ini sama Bang Indra Karnawan?” Aku balik bertanya untuk memastikan si abang ojek yang datang sesuai dengan nama dalam aplikasi ojek online yang aku pesan.
“Iya benar, Mbak,” jawab si abang ojek.
“Kok agak beda, ya?” gumamku yang rupanya masih bisa didengar oleh si abang ojek.
“Masa sih, Mbak,” tukas si abang ojek. “Oh, mungkin karena pakai masker juga, jadi Mbak kurang mengenali saya. Wajah saya asli kok, Mbak … nggak perlu takut juga. Ini, saya pakai masker karena saya lagi flu berat, Mbak,” kata si abang ojek mencoba meyakinkan aku.
“Iya, nggak pa-pa, Bang,” jawabku.
“Kita berangkat sekarang, Mbak?” tanya abang ojek itu lagi.
“Mau pakai helm, Mbak?” Abang ojek itu menawari aku helm untuk menjaga keamanan.
“Boleh, “ jawabku meraih helm yang terulur dari tangan si abang ojek.
Tak lama kemudian, si abang ojek mulai menyalakan mesin kendaraan beroda dua dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Mungkin memang karena aku sedang nggak mood untuk ngobrol. Atau juga, karena si abang ojek bukan orang yang suka ngobrol dengan penumpangnya.
Setelah motor berjalan sejauh beberapa kilometer, tiba-tiba aku melihat beberapa orang yang mengenakan pakaian Dishub sedang mengatur jalanan yang sedikit semrawut.
“Sepertinya jalanan ditutup, Mbak,” tukas si abang ojek.
“Jadi kita nggak bisa lewat sini?” tanyaku padanya.
__ADS_1
“Sepertinya sih, begitu,” jawab si abang ojek.
Dahiku berkerut. “Tapi kok tumben ditutup, ya,” gumamku yang ternyata masih bisa didengar oleh si abang ojek.
“Entahlah, mungkin ada kecelakaan lalu lintas, Mbak,” jawab abang ojek.
Aku melirik jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 8 tepat. Hmm, aku sudah terlambat setengah jam, batinku. “Apa Abang tahu jalan alternatif terdekat?” tanyaku pada si abang ojek.
“Iya, Mbak. Saya tahu,” jawab si abang ojek.
“Ya sudah, tolong antarkan saya lewat jalur itu saja, Bang,” pintaku tanpa menaruh curiga.
Sejurus kemudian, si abang ojek berputar arah. Dia kembali melajukan kendaraannya melalui jalan tikus yang ternyata cukup sepi. Setelah melewati gang sempit, kami tiba di sebuah jalan yang lumayan lebar. Hanya saja, jarang sekali kendaraan terlihat berlalu lalang di jalan ini.
Ciiit!
Tiba-tiba sebuah mobil van berhenti tepat di depan ojek yang aku kendarai. Beruntungnya, dengan sigap si abang ojek menginjak rem motor.
“Apa-apaan ini?” seru abang ojek.
Beberapa orang pria datang menghampiri kami
“Cepat turun!” perintah salah satu dari mereka kepadaku.
“Pegangan Mbak," bisik si abang ojek.
Namun, saat dia hendak menyalakan motornya, sebuah pukulan, tepat melayang di wajahnya. Seketika motor kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Aww!” Aku memekik pelan saat benda berat itu menindih salah satu kakiku.
Tak ingin kehilangan kesempatan, keempat pria itu menyeret kami untuk memasuki mobil Van yang sedang terparkir.
“Tolooong!” Aku berteriak minta tolong, berharap ada seseorang yang akan menjadi malaikat penolong bagi kami. Namun, kondisi jalanan yang sangat sepi, membuat para penjahat itu semakin leluasa untuk bergerak.
“Humph!”
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang membekap mulut dan hidungku dari belakang. Aku sudah berusaha untuk melawan. Akan tetapi, obat yang aku cium dari saputangan milik mereka, cukup kuat. Sehingga membuat kesadaran aku perlahan mulai menghilang. Rupanya mereka memberikan obat bius pada saputangan yang mereka gunakan untuk membekap aku. Sedetik kemudian, aku tak mampu mengingat apa pun lagi.
Bersambung