My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Menukar Kebebasan


__ADS_3

Entah apa yang aku janjikan ini benar atau salah, tapi aku sudah tidak mampu lagi berpikir untuk mencari jalan keluar bagi penderitaan Citra.


Citra menarik diri dari pelukanku. “Apa maksud Kakak?” tanya Citra terlihat heran.


“Kakak akan coba bicara sama mas Yudhis. Semoga saja dia mau mendengarkan Kakak,” ucapku.


“Benarkah, Kakak mau membantu Citra?” Mata Citra terlihat berbinar setelah mendengar niatku.


Aku menganggukan kepala. “Akan Kakak usahakan, Cit. Biar bagaimanapun juga, anak itu butuh sosok ayah dalam hidupnya,” jawabku.


“Terima kasih banyak, Kak!” Citra kembali memelukku.


Aku mengalihkan pandangan dan menatap Fatwa yang tengah duduk bertumpang kaki di sofa. Fatwa terlihat menatapku tak bersahabat. Mungkin bagi Fatwa, janjiku kepada Citra hanyalah sebuah kekonyolan.


Setelah cukup lama kami mengobrol, akhirnya aku dan Fatwa pamit pulang. Aku tidak ingin terlalu lama mengganggu Citra. Bagaimanapun juga, Citra butuh istirahat agar proses penyembuhannya semakin cepat.


Sebelum pulang, Fatwa mengajak aku ke kantin rumah sakit. Tidak aku pungkiri, perutku memang keroncongan setelah melakukan kunjungan yang awalnya aku rencanakan singkat. Namun, pada kenyataannya justru telah menyita waktu selama kurang lebih dua jam.


“Mau pesan apa?” tanya Fatwa begitu kami tiba di kantin rumah sakit.


“Apa saja deh, yang penting mengenyangkan,” jawabku.


“Oke! Tunggu aku di sana!” tunjuk Fatwa pada sebuah meja yang berada di pojok kantin.


Dalam hati aku menggerutu kesal. Entah kenapa laki-laki ini demen banget duduk di pojokan. Apa mungkin dia lahir di pojokan rumah sakit? Hehehe,…


Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku melangkahkan kaki menuju meja yang ditunjuk oleh Fatwa tadi. Sedangkan Fatwa sendiri pergi ke kedai nasi goreng untuk memesan makanan. Tak berapa lama, Fatwa tiba di meja, dia kemudian duduk di bangku yang berhadapan denganku.


“Apa maksud kamu menjanjikan bang Yudhis bertanggung jawab kepada Citra?” tanya Fatwa yang aku lihat dari tadi merasa gemas ingin menanyakan hal ini.


“Maaf, Fat. Tapi Res nggak punya pilihan lain,” jawabku.


“Tapi itu hal yang mustahil, Res. Kamu sendiri tahu itu, ‘kan?” ungkap Fatwa.


“Ya mana Resti tahu, Res, 'kan belum mencobanya,” dalihku.


“Res aku kenal betul bagaimana sikap bang Yudhis. Dia itu tidak akan pernah mau diatur oleh orang lain. Bahkan oleh orang tuanya sendiri,” timpal Fatwa.


Aku menghela napasku. “Sebaiknya kita coba dulu, Fat,” saranku.

__ADS_1


“Terserah, tapi jangan kecewa jika hasilnya tidak memuaskan,” ucap Fatwa menutup pembicaraan kami.


Sesaat setelah kami selesai berbicara, nasi goreng pesanan kami pun tiba. Oke-lah, untuk saat ini, lupakan sejenak permasalahan yang ada. Kita nikmati saja nasi goreng yang sudah menggoda iman. Tanpa banyak bicara, aku segera menyantap nasi goreng pedas yang membuat otakku sedikit fresh.


.


.


Keesokan harinya. Setelah aku bujuk dengan berbagai macam rayuan, akhirnya Fatwa mau juga mengantarkan aku ke penjara. Kebetulan, hari ini aku tidak ada jam mengajar, demikian juga dengan Fatwa. Pukul 10 siang, kami tiba di kantor polisi. Setelah menunggu beberapa menit di ruang kunjungan, akhirnya Mas Yudhis tiba.


Sejenak aku tertegun melihat penampilan Mas Yudhis yang acak-acakan. Rambutnya yang semrawut dengan kumis dan jambang menghiasi wajahnya, membuat aku sedikit tidak mengenali sosok yang pernah menjadi orang yang sangat berarti dalam hidupku.


“Apa kabar, Chi!” sapa Mas Yudhis.


“Alhamdulillah, baik!” jawabku.


“Mas senang kamu datang mengunjungi Mas. Ngomong-ngomong, kamu datang bareng siapa?” tanya Mas Yudhis lagi.


“Sendiri,” jawabku berbohong. Aku sengaja menyuruh Fatwa untuk menunggu di luar agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi antara aku, Mas Yudhis dan Fatwa.


“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Mas Yudhis.


Sejenak aku menatap Mas Yudhis. “Mas, Chi datang ke sini ingin membicarakan hal penting sama Mas,” ucapku yang langsung berbicara pada tujuanku datang mengunjungi Mas Yudhis.


“Bukan … bukan itu, Mas!” tukasku, cepat.


“Lalu?” tanya Mas Yudhis terlihat penasaran.


“Mas tahu kalau saat ini Citra tengah mengandung anak kamu, ‘kan?” tanyaku kepada Mas Yudhis.


Mas Yudhis terlihat terkejut. “Dari mana kamu tahu hal itu?” tanya Mas Yudhis.


“Tidak penting dari mana Chi mengetahuinya, yang terpenting sekarang. Chi minta Mas bertanggung jawab kepada Citra,” ucapku.


Mas Yudhis menghela napasnya. “Mas pasti akan bertanggung jawab, Chi. Akan Mas penuhi semua kebutuhan anak yang ada dalam kandungan Citra. Mulai dari dalam kandungan, dan sampai dia dewasa, kelak. Tapi ….”


“Tapi apa, Mas?” desakku saat aku mendengar Mas Yudhis menjeda kalimatnya.


“Tapi Mas tidak akan menikahi Citra,” celetuk Mas Yudhis.

__ADS_1


Seketika tanganku mengepal mendengar jawaban Mas Yudhis. “Ini tidak adil, Mas!” bentakku pada laki-laki tidak berperasaan itu.


“Ini cukup adil, Chi. Mas tidak pernah memaksa Citra untuk berhubungan badan. Dia sendiri yang datang meminta kepuasan jasmani dari Mas, ” sanggah Mas Yudhis.


“Mas!” pekikku yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Mas Yudhis.


“Sudahlah Chi, kamu hanya akan membuang waktu jika terus memaksa Mas. Pulanglah!” ucap Mas Yudhis. Sejurus kemudian. Mas Yudhis memanggil sipir penjaga.


“Kenapa?” tanya sipir itu, terkesan dingin.


“Aku sudah selesai. Tolong antarkan aku kembali ke sel!” pinta Mas Yudhis.


Sipir penjaga itu mengangguk dan segera membawa Mas Yudhis kembali ke sel. Setelah Mas Yudhis menghilang dari pandanganku, aku segera keluar dari kantor polisi.


“Bagaimana?” tanya Fatwa saat aku mendaratkan bokong di kursi samping kemudi.


Aku menggeleng lemah. “Tidak berhasil, Fat,” jawabku.


“Sudah kuduga,” tukas Fatwa. “Orang seperti bang Yudhis itu tidak mau merasa rugi. Harus ada timbal balik yang sepadan atas apa yang akan dia berikan,” papar Fatwa.


Aku tertegun mendengar ucapan Fatwa. Tiba-tiba aku teringat tuntutan aku yang telah menjerat mas Yudhis ke jalur hukum.


“Bagaimana perkembangan kasus hukum mas Yudhis, Fat?” tanyaku.


Fatwa menatapku dengan heran. Mungkin dia tidak mengerti maksud dari pertanyaanku.


“Kasus hukum yang kamu ajukan?” Fatwa balik bertanya.


Aku mengangguk.


“Om Raymond sudah tidak jadi pembela lagi atas permintaan keluarga besar,” jawab Fatwa.


Aku mengernyitkan kening. “Memangnya kenapa?” tanyaku.


“Semua keluarga sepakat untuk membiarkan bang yudhis menjalani hukuman sesuai prosedur. Mereka ingin memberikan efek jera terhadap mas yudhis. Keluarga besar berharap, dengan kasus ini, bang yudhis bisa berubah menjadi lebih baik lagi,” tutur fatwa.


“Itu artinya, Mas Yudhis tidak akan bebas dalam waktu dekat jika bukan aku yang mencabut tuntutanku,” pungkasku.


“Apa maksud kamu, Res? Udah deh, nggak usah yang aneh-aneh,” tukas Fatwa yang seolah bisa menebak maksud dari ucapanku.

__ADS_1


Aku tersenyum penuh misteri. Hmm, mungkin ini waktu yang tepat. Akan aku gunakan kesempatan ini untuk menolong Citra. Fix, aku akan menukar kebebasan mas Yudhis dengan harga yang harus dia bayar untuk bertanggung jawab kepada Citra.


Bersambung


__ADS_2