
Fatwa bergumam pelan. Akan tetapi aku masih bisa mendengar gumaman Fatwa
"Om Raymond?" ucapku mengulang ucapan Fatwa. "Siapa itu om Raymond, Fat?" tanyaku yang mulai penasaran karena Fatwa ternyata mengenali pria paruh baya yang sedang duduk berhadapan dengan Citra.
Fatwa menatapku. "Om Raymond, dia adalah pengacara kepercayaan keluarga besar kami," jawab Fatwa.
Seketika aku ingat kasus yang sedang menimpa salah satu anggota keluarga itu.
"Apa ini ada hubungannya dengan kasus mas Yudhis?" tanyaku.
"Hmm, mungkin saja," jawab Fatwa.
"Itu artinya, mas Yudhis bisa bebas kapan saja," ucapku pelan.
Ya, aku tidak bisa membayangkan jika mas Yudhis akan segera bebas. Sungguh, sikap dia padaku waktu itu, sempat membuat aku merasa trauma. Aku takut jika mas Yudhis akan kembali mengganggu dan berbuat nekat lagi.
Sepertinya, Fatwa melihat kecemasan di raut wajahku. Dia kemudian menggenggam tangan kananku.
"Tidak usah khawatir, aku pasti akan menjaga kamu," janji Fatwa padaku.
Aku hanya tersenyum mendengar janji Fatwa. Tak lama kemudian, makanan yang kami pesan pun datang. Seorang pelayan kemudian menyajikan makanan tersebut di meja kami.
"Selamat menikmati, Pak, Bu," ucap pelayan itu dengan sopan.
"Terima kasih," jawabku dan Fatwa berbarengan.
Aku masih tidak menyentuh makananku. Pikiranku terus melayang pada kemungkinan yang akan terjadi jika mas Yudhis bebas. Ah, tiba-tiba saja, selera makanku jadi hilang seketika.
Menyadari aku yang hanya termenung saja, Fatwa kembali menyentuh punggung tanganku. Aku tersentak, kaget.
"Iya, kenapa Fat?" tanyaku.
"Makanlah, nanti keburu dingin. Kalau sudah dingin, rasanya pasti kurang enak," kata Fatwa.
Aku mengangguk dan mulai menyentuh makananku. Meskipun pikiranku entah sedang ke mana saat ini.
Selesai makan, aku segera mengajak Fatwa untuk pergi dari tempat ini. Aku enggan berlama-lama di satu tempat dengan gadis itu. Rasanya, melihat Citra selalu membuat pikiranku tidak tenang. Emosiku selalu tidak stabil saat melihat wajah lugu yang penuh tipu.
"Baiklah, tapi sebelum kita pulang, kita mampir dulu ke rumah sakit, ya?" pinta Fatwa.
Aku mengangguk. Setelah itu, Fatwa memanggil pelayan untuk meminta bill-nya.
"Jadi berapa, Mas?" tanya Fatwa.
"Totalnya jadi 324 ribu, Pak," jawab pelayan itu.
__ADS_1
Fatwa merogoh dompet dari saku belakang celananya. Dia kemudian mengeluarkan empat lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepada pelayan itu.
"Kembaliannya ambil saja," ucap Fatwa.
"Terima kasih, Pak," jawab pelayan itu.
Sesaat setelah melakukan pembayaran, Fatwa kembali memapahku untuk pergi dari kafe ini.
"Tunggu di sini, biar aku ambil mobilnya dulu," perintah Fatwa.
Aku hanya mengangguk dan duduk di meja outdoor kafe tersebut. Saat aku sedang menunggu Fatwa, tiba-tiba seseorang menghampiriku.
"Assalamu'alaikum Kak, Chi! Apa kabar?"
Aku tersentak kaget mendapati wanita itu telah berdiri di hadapanku.
"Kau?!" pekikku saat melihat Citra berdiri, tepat di depanku.
Citra meraih tanganku, tapi segera aku tepis.
"Kakak, aku mohon, tolong bebaskan mas Yudhis. Aku mohon, kak. Jangan biarkan mas Yudhis terus mendekam di penjara. Aku ... aku tidak tega mas Yudhis dipukuli di sana. Aku sangat membutuhkan mas Yudhis. Tolong cabut tuntutan Kakak terhadap mas Yudhis," pinta Citra.
Tak ingin menanggapi ocehan Citra, aku segera berdiri. Dengan berjalan tertatih-tatih, aku menuruni anak tangga. Beruntungnya, mobil Fatwa tiba di hadapanku. Tanpa menoleh lagi, aku segera membuka pintu mobil dan memasukinya.
"Cepat jalan, Fat!" pintaku kepada Fatwa.
"Apa Citra menemui kamu lagi?" tanya Fatwa yang memang sepintas seperti melihat Citra sedang berbicara denganku.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Fatwa.
"Apa lagi yang dia mau?" Fatwa terlihat kesal setelah mengetahui Citra menemui aku.
"Dia meminta Res untuk mencabut tuntutan terhadap mas Yudhis," jawabku datar.
"Lalu?" Fatwa kembali bertanya.
"Lalu apa?" Aku balik bertanya.
"Apa jawaban kamu untuknya?" tanya Fatwa lagi.
"Res nggak jawab apa-apa," kataku. "Fat, kemarin Res masih punya janji sama Tante Amara untuk menemui mas Yudhis. Apa kamu bisa mengantarkan Res ke kantor polisi?" tanyaku yang teringat akan permintaan tante Amara.
"Ish, untuk apa kamu menemui bang Yudhis? Yang ada, entar kamu bakalan luluh lagi sama janji manisnya bang Yudhis," ledek Fatwa.
"Ya, nggak mungkin, lah, Fat. Aku tuh sudah nggak punya perasaan apa-apa lagi buat mas Yudhis." Aku mencoba mengelak dari kenyataan.
__ADS_1
"Hmm, aku nggak percaya," ejek Fatwa.
"Kok, bisa nggak percaya gitu?" tanyaku.
"Ya, aku sih ngelihat pengalaman kamu aja," jawab Fatwa.
Aku menautkan kedua alisku. "Maksudnya?"
"Hmm, butuh waktu 7 tahun bagi kamu untuk berpindah hati dariku. Dan sekarang, aku nggak yakin jika kamu akan secepat itu melupakan mas Yudhis," tutur Fatwa.
"Yey, itu mah beda atuh," elakku.
"Bedanya?" tanya Fatwa.
"Kamu itu cinta pertama Res. Dan orang bilang, cinta pertama itu sulit untuk dilupakan. Apalagi kalau cinta pertamanya itu meninggalkan suatu kesan yang mendalam. Entah itu kesan manis ataupun kesan pahit," jawabku. Aku lihat Fatwa tersenyum padaku.
"Jadi, aku adalah cinta pertama kamu, Res?" tanya Fatwa.
Ups! Aku baru sadar jika aku keceplosan bicara.
"Eh, ya, nggak gitu juga." Aku mencoba mengelak lagi.
"Sudahlah, jangan mematahkan hatiku lagi, Res. Saat ini hatiku sedang berbunga ketika kamu mengakui aku sebagai cinta pertamamu. Tapi, maukah kamu menjadi cinta terakhirku?" tanya Fatwa.
Blush!
Seketika, wajahku merona mendengar pertanyaan Fatwa. Rasanya, aku ingin menjawab iya. Tapi pengalaman memaksaku untuk mengatakan tidak. Jujur, aku masih takut untuk menjalin sebuah hubungan lagi.
"Res, kok diam?" tanya Fatwa, melirikku.
Aku menatap Fatwa untuk memberikan jawaban.
"Fat," ucapku serak. "saat ini, Resti hanya ingin fokus kuliah dan memperbaiki pekerjaan Resti. Bagaimanapun juga, Res adalah tulang punggung bagi keluarga Res. Setelah semua yang terjadi pada kisah percintaan yang Resti alami, Res tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun lagi. Tolong mengertilah, Fat. Res nggak mungkin memulai lagi di saat Res baru saja mengakhiri," jawabku.
Fatwa terlihat menghela napasnya. "Aku ngerti, Res. Tapi, kita masih bisa berteman, 'kan? Aku harap, kita masih bisa terus bertemu dan menjalin silaturahmi," kata Fatwa.
Aku tersenyum padanya. "Tentu saja, kita masih bisa berteman. Apalagi, selain temanku. Statusmu juga sebagai dosenku. Dan pastinya, setiap hari Sabtu dan Minggu, kita pasti akan bertemu," jawabku.
Fatwa tersenyum mendengar ucapanku. "Jadi, aku adalah teman yang menjadi dosenmu, atau dosen yang menjadi temanmu?" tanya Fatwa, menggodaku.
"Suka-suka Anda-lah, Pak Dosen, "ucapku. Fatwa terkekeh mendengarnya.
"So, teman ... bagaimana dengan nilai remidiku? Apa ada dispensasi karena kamu adalah temanku?" gurauku kepada Fatwa.
"Hmm, kita lihat saja nanti."
__ADS_1
Bersambung