My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pengakuan Yudhistira


__ADS_3

Tak ayal lagi, Fatwa segera melajukan kendaraannya menuju bandara. Tekadnya sudah bulat, bagaimanapun juga, dia harus menemukan Resti. Meskipun dia sadar dia tidak akan pernah bisa dekat lagi dengan wanita itu. Namun, Fatwa merasa jika hidupnya tidak akan tenang sebelum mengetahui jika Resti baik-baik saja.


Fatwa melirik jam tangannya. Masih ada waktu untuk penerbangan terakhir. Fatwa segera menghubungi asisten pribadinya dan meminta dia untuk memesan tiket ke Bali.


Tiba di bandara, Fatwa segera menemui asistennya yang sudah berdiri di ruang tunggu.


"Bagaimana tiket saya?" tanya Fatwa.


"Semuanya sudah beres, Pak," jawab Kevin.


"Terima kasih, ya!" ucap Fatwa seraya menepuk pundak asistennya. "Tolong panggil sopir untuk mengambil mobilku," lanjut Fatwa.


"Baik, Pak!" jawab Kevin.


Setelah panggilan untuk memasuki pesawat terdengar, akhirnya Fatwa berpamitan kepada Kevin. Fatwa memejamkan mata saat pesawat lepas landas. Sepanjang perjalanan, hatinya begitu tidak tenang. Fatwa merasa khawatir jika Yudhis tidak akan memberitahukan di mana Resti berada.


Tiba di bandara Ngurah Rai, Fatwa segera memesan taksi online menuju tempat yang telah ditulis oleh tante Amara. Berbekal secarik kertas yang berisi alamat Yudhis, Fatwa pun mulai mengitari kota di Bali.


Pukul 20.00 waktu setempat, akhirnya taksi online terparkir di sebuah perumahan mewah. Fatwa mengutarakan maksudnya kepada penjaga keamanan komplek. Beruntungnya, penjaga komplek itu bukan orang yang terlalu perfeksionis. Ketika Fatwa bilang jika dia saudaranya Yudhis saja, penjaga keamanan itu langsung menyuruh taksi online yang ditumpangi Fatwa untuk memasuki komplek perumahan tersebut.


Sepuluh menit mengitari komplek, akhirnya taksi berhenti di sebuah rumah berukuran besar dan bergaya Eropa klasik. Fatwa bisa menduga jika itu adalah kediaman Yudhis. Terlihat dari gaya arsitektur rumah tersebut yang begitu menggambarkan sifat seorang Yudhistira.


"Permisi! Apa saya bisa bertemu dengan pak Yudhistira?" tanya Fatwa kepada satpam di depan rumah Yudhis.


"Maaf, Anda siapa?" tanya satpam itu.

__ADS_1


"Saya Fatwa, adik sepupu pak Yudhistira," jawab Fatwa.


"Sebentar!" ucap satpam itu seraya kembali lagi ke pos penjagaan.


Sepertinya, satpam tersebut mencoba menanyakan kebenaran dari ucapan Fatwa. Hingga tak lama berselang, dia kembali menghampiri Fatwa dan mempersilakan Fatwa masuk.


"Terima kasih, Pak," ucap Fatwa.


"Hmm, mari ikuti saya!" kata satpam itu seraya berjalan mendahului Fatwa.


Fatwa hanya mengulum senyum melihat tingkah satpam tersebut. Setelah melewati halaman rumah yang cukup luas, Fatwa akhirnya tiba di depan pintu rumah Yudhis. Tanpa disangka, Yudhis justru membuka pintu sebelum Fatwa dan satpam itu mengetuk pintu.


"Ah, apa kabar adikku yang paling manis?" ucap Yudhis seraya merangkul pundak Fatwa dan mengajaknya memasuki rumah.


Fatwa terhenyak mendapatkan sikap Yudhis yang sangat bersahabat. Seketika, dia pun mulai waspada. Takut jika sikap manisnya Yudhis hanya sebuah jebakan belaka.


Yudhis terlihat mengernyitkan kening. "Hei, ini pertanyaan atau tuduhan, Bro?" tukas Yudhis, "aku menanyakan kabarmu, tapi kamu malah menodongku dengan pertanyaan seperti itu. Ish, adik macam apa kamu ini?" lanjutnya.


"Sudahlah, Bang. Tidak perlu bertele-tele. Sekarang juga katakan, Abang, 'kan yang menculik dan menyembunyikan Resti?" Fatwa kembali menuduh Yudhis atas hilangnya Resti.


"Duduklah dulu, biar Abang jelaskan semuanya," perintah Yudhis.


Fatwa kemudian mendaratkan bokongnya di atas sofa. Demi mendapatkan informasi tentang Resti, mau tidak mau, dia pun mengikuti perintah Yudhis.


"Dengar, Fat ... Abang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Chi. Sejak Abang pergi, Abang sudah memutuskan hubungan apa pun dengan wanita itu. Hanya saja, beberapa bulan yang lalu, Abang pernah melihat gadismu itu datang dengan seorang pria di–"

__ADS_1


"Di mana Abang bertemu dia," selak Fatwa.


"Ups, tenanglah dulu, Fatwa," ucap Yudhis.


"Ish, bagaimana aku bisa tenang, Bang. Resti sudah berbulan-bulan hilang. Semua orang tidak ada yang tahu ke mana perginya dia. Aku cemas, Bang ... aku benar-benar mencemaskan dia," balas Fatwa yang nada bicaranya mulai sedikit meninggi.


Yudhis meraih buku kecil yang berada di atas meja telepon. Dia kemudian menuliskan sesuatu dan menyerahkannya kepada Fatwa.


"Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan Chi. Ini!" ucap Yudhis seraya menyodorkan kertas tersebut, "Abang bertemu Chi di alamat ini. Dan setahu Abang, dia datang bersama laki-laki yang bernama Afrizal Mahesa. Kamu pergilah ke tempat ini dan cari orang itu. Abang yakin, kamu bisa menemukan informasi yang lebih akurat di sana."


"Dan setelah itu, kamu pasti datang ke tempat yang mas Yudhis tunjukkan. Benar, 'kan?" pungkasku


Ya, aku tidak ingin Fatwa terlalu lelah bercerita. Karena itu, aku memungkas cerita dia agar dia bisa beristirahat.


"Hmm, seperti yang kamu lihat," jawab Fatwa.


"Ya, kamu memang selalu menjadi pahlawan aku, Fat. Terima kasih," ucapku.


"Kamu sendiri tahu, Res. Apa pun akan aku lakukan untuk menjaga kamu," timpal Fatwa.


Aku tersenyum. "Aku tahu Fat, karena itu aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Ya sudah, sekarang tidurlah! Aku tidak mau kamu kecapean karena terus bercerita," pungkasku.


Fatwa kembali tersenyum. Sedetik kemudian, dia pun memejamkan mata.


Terima kasih Tuhan, terima kasih telah membuat lelakiku kembali sadar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2