My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Tentang Aku, Citra dan Mas Yudhis


__ADS_3

“Sudah, Mbak. Jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik,” kataku yang merasa risih melihat sikap kakaknya Citra.


Mas Andre, mendekati istrinya. “Iya, Ma. Duduklah, kita bicarakan baik-baik dengan Bu Resti,” timpal Mas Andre.


Mbak Sekar berdiri dan kembali duduk di samping suaminya. Matanya yang sudah sembab semakin terlihat sembab. Mau tak mau, aku semakin dibuat penasaran dengan keadaan Citra yang sebenarnya.


“Kami minta maaf jika kedatangan kami menggangu kenyamanan, Mbak.” Mas Andre melanjutkan kata-katanya.


“Sebenarnya bukan menggangu, lebih tepatnya hanya terkejut saja. Jujur, saya tidak paham dengan apa yang Mbak Sekar minta,” jawabku.


Terlihat Mas Andre menghela napasnya untuk sejenak. “Sebenarnya, keluarga kami sedang mendapatkan sebuah musibah, Bu. Adik saya, dia mengalami….” Mas Andre menjeda kalimatnya.


“Citra kenapa, Mas?” tanyaku yang masih penasaran. Ya, mungkin aku telah tahu apa yang terjadi pada Citra. Tapi, aku masih ragu dengan kabar yang hanya aku dengar dari orang lain.


“Citra hamil di luar nikah,” celetuk Mbak Sekar dengan suaranya yang parau.


Astagfirullah, jadi kabar itu benar adanya, batinku. “Lalu?” tanyaku yang tidak mengerti apa hubungannya kehamilan Citra dengan kunjungan mereka padaku.


“Kekasihnya tidak ingin bertanggung jawab.” Mbak Sekar kembali menjawab.


“Dan hubungannya dengan Resti?!”


Tiba-tiba suara bariton seseorang terdengar dari arah pintu. Kami semua menatap si pemilik suara yang telah berdiri tegap di ambang pintu. Laki-laki itu berjalan ke arahku. Sejurus kemudian, dia duduk di sampingku.


“Lalu, apa hubungannya kehamilan Citra dengan Resti?” Fatwa mengulang pertanyaannya.


“Kami … ka-kami … ingin ….” Mbak Sekar terllihat gagap menjawab pertanyaan Fatwa.


“Apa yang kalian inginkan dari teman saya?” tanya Fatwa, dingin.


“Begini, Pak. Jujur saja, kami hendak meminta bantuan Bu Resti untuk membujuk Yudhis agar menikahi Citra," jawab Mas Andre.


Seketika tubuhku terasa lemas mendengar tujuan mereka mendatangi aku. Ya Tuhan, kenapa harus melibatkan aku yang tidak pernah tahu-menahu tentang hubungan mereka? Apa mereka juga tidak sadar jika aku adalah korban dari pengkhianatan pasangan itu?

__ADS_1


Aku melihat Fatwa mengepalkan jari-jemarinya. Dia menatap tajam pasangan suami istri yang berada di depannya. Raut wajah Fatwa terlihat seperti keheranan. Mungkin yang ada dalam pikirannya saat ini, kok, bisa-bisanya mereka datang hanya untuk menjerumuskan aku ke dalam permasalahan keluarga mereka.


“Hmm, jika memang tujuan Anda menemui Resti hanya untuk membujuk bang Yudhis, sepertinya Anda salah sasaran,” tukas Fatwa dingin.


Sejenak aku melihat Mas Andre dan Mbak Sekar menautkan kedua alisnya.


“Maksud Anda?” tanya Mas Andre.


“Maksud saya, Resti bukan siapa-siapa lagi bang Yudhis. Jika memang Anda ingin meminta bantuan seseorang untuk membujuk bang Yudhis, kenapa kalian tidak meminta ibunya bang Yudhis untuk melakukan hal itu?” jawab Fatwa seolah menantang pasangan itu untuk menemui keluarga mas Yudhis.


Untuk sejenak, pasangan itu hanya saling pandang. Hingga akhirnya aku mendengar helaan napas yang berat dari Mas Andre.


“Sebenarnya, kami sudah meminta hal itu dari ibu Amara. Namun sayangnya, beliau menolak permintaan kami,” jawab Mas Andre.


Aku cukup terkejut mendengar pengakuan Mas Andre. Aku menatap Fatwa, tapi Fatwa hanya terlihat menggedikkan kedua bahunya. Ya Tuhan, setelah beberapa minggu, kupikir semua permasalahan ini telah selesai. Tapi nyatanya … malah menjerat aku terlibat semakin jauh.


“Lalu, kenapa harus saya?” tanyaku lirih.


“Dekat? Apa adik Anda hanya mengatakan dekat untuk hubungan Resti dengan bang Yudhis? Jadi, adik Anda tidak mengatakan jika jauh sebelum dia masuk lagi dalam kehidupan mereka, Resti dan bang Yudhis adalah pasangan yang hanya tinggal menunggu bulan untuk menikah?” Fatwa memberondong Mbak Sekar dengan pertanyaan.


Mas Andre pun terlihat kaget mendengar pertanyaan Fatwa.


“Jadi…” ucap Mas Andre menggantungkan kalimatnya.


Aku menganggukan kepala. “Saya sempat bertunangan dengan mas Yudhis sebelum akhirnya saya memutuskan pertunangan itu karena mengetahui perselingkuhan mas Yudhis dengan adik ipar Anda,” jawabku, tegas.


Seketika, aku melihat raut wajah Mas Andre merah padam begitu mendengar kenyataan yang sebenarnya.


“Cih, benar-benar memalukan!” seru Mas Andre. “Kau dengar itu? Dengan tidak tahu malunya adikmu membuat kita mempertaruhkan harga diri kita!” sungut Mas Andre terlihat sangat marah.


Melihat kemarahan suaminya, Mbak Sekar hanya bisa menundukkan kepalanya. Sedetik kemudian, Mas Andre menatap tajam kepada istrinya.


“Tunggu-tunggu! Jangan-jangan, kamu telah mengetahui perkara ini dari awal?” tanya Mas Andre penuh selidik.

__ADS_1


Bahu Mbak Sekar sedikit berguncang mendengar pertanyaan Mas Andre.


“Ya Tuhan, Sekar … kamu membuat aku seperti seorang lelaki bodoh saja. Dengan penuh kerendahan aku memohon kepada orang yang nyata-nyata telah disakiti oleh adik kamu!” lontar Mas Andre.


Mbak Semakin berderai air mata. “Maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud membohongi kamu. Tapi, jika kamu tahu kenyataannya, kamu pasti tidak akan membantu Citra untuk mendapatkan keadilan. Sedangkan kamu tahu jika Citra adikku satu-satunya. Dia amanat yang dititipkan almarhum kedua orang tuaku. Aku tidak mau kehilangan Citra, satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah denganku," tutur Mbak sekar, pilu.


“Ish Sekar, tentu saja aku akan menuntut keadilan untuk Citra. Tapi bukan berarti melibatkan wanita yang sudah Citra sakiti. Apa kamu nggak mikir bagaimana perasaan Bu Resti saat kita meminta bantuan membujuk orang yang telah mengkhianatinya? Coba posisikan diri kamu sebagai Bu Resti. Apa kamu mau bertemu lagi dengan orang yang telah membuat kamu terluka?” papar Mas Andre.


Mbak Sekar hanya bergeming mendengar perkataan suaminya.


“Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Dan aku pikir, Resti juga tidak punya kewajiban mencampuri urusan kalian. Karena itu, saya mohon dengan hormat, jangan libatkan dia dalam musibah yang dialami adik kalian,” sindir Fatwa, dingin.


Mas Andre yang menyadari sindiran Fatwa, segera mengajak istrinya untuk pulang. Tak lupa dia pun meminta maaf atas kelancangan dia meminta bantuanku. Pun dia juga meminta maaf atas perbuatan Citra yang telah begitu menyakiti aku.


Setelah kepergian mereka, aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Entahlah, tiba-tiba perasaanku seperti hampa.


“Are you oke?” tanya Fatwa.


Aku menatap laki-laki itu. Entah kenapa, aku merasa begitu merindukannya. Ingin aku peluk tubuh tegap itu, tapi aku terlalu malu. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca karena merasa haru dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba.


“Hei, kenapa menangis?" tanya Fatwa.


Laki-laki itu menyeka air mata yang mengalir di pipiku dengan ujung telunjuknya. Beruntung suasana kantor sepi, jika tidak, aku bisa sangat malu dengan perlakuan Fatwa. Hmm, mungkin saja Bu Fina telah melarang guru lain untuk datang ke kantor.


Aku menyeka air mata dengan kedua telapak tangan. “Res baik-baik aja, Fat,” jawabku.


“Ya sudah, ayo kita pulang!” ajak Fatwa seraya meraih tanganku untuk beranjak dari kursi.


Aku menahan tangan Fatwa hingga membuat laki-laki itu melirikku seraya menautkan kedua alisnya.


“Maukah kamu menemani Res bertemu Citra?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2