My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Entah Apa yang Merasukiku


__ADS_3

Setelah melewati hampir tiga jam perjalanan, akhirnya kami tiba di puncak kawah gunung Galunggung. Aku dan teman-teman segera duduk menyelonjorkan kaki yang terasa pegal. Tiba-tiba saja,


"Capek ya, Dek?"


Aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku. Aku pun membalikkan badan. Tampak Kang Dadang, kakak seniorku yang sedang memijat kaki salah satu anggota pramuka.


Syeerrrr....


Darahku berdesir cepat melihat pemandangan itu. Entahlah, hatiku rasanya sakit. Bukan karena aku cemburu, tapi karena aku tahu jika laki-laki itu tak pernah berbuat baik padaku. Masih terekam jelas dalam memoriku saat dia membentak-bentak aku di hadapan semua anggota pramuka.


..........................


Malam itu, kami hendak mengikuti pelantikan Bantara. Aku yang memang tidak terbiasa tidur di luar rumah, hanya bisa diam sambil memandangi langit-langit ruang kelas. Karena mata ini tak bisa terpejam, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kelas.


Tiba di tengah lapang, aku melihat salah seorang anggota pramuka laki-laki yang tengah tiduran di bawah tiang bendera. Akhirnya aku menghampiri dia.


"Belum tidur, Kang?" sapaku pada Asmas, teman satu angkatan.


"Belum, Chi," jawabnya. "Kamu sendiri, kok belum tidur?" Asmas balik bertanya.


"Nggak bisa tidur, Kang. Banyak nyamuk." Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal.


"Nih, pakai!" ujar Asmas menyodorkan lotion anti nyamuk padaku.


Aku mengambilnya dan segera memakai lotion itu di kedua tangan, kaki dan leherku.


"Jangan digunakan di muka, Chi?" cegahnya saat dia melihat pergerakan tanganku yang hendak mengoleskan lotion itu ke wajah.


"Ups, nggak boleh ya, Kang?" tanyaku heran.


"Boleh saja sih, kalo mau muka kamu mateng kek udang rebus," jawab Asmas. Aku menonyor bahunya, dan kami tergelak bersama.


"Berisik!" Bentakan seseorang membuat tawa kami seketika berhenti. Kami menoleh, tampak Kang Dadang salah satu senior kami sudah berdiri di belakang. Sejurus kemudian, kami berdiri.


"Kalian berdua, kemarilah!" perintah Kang Dadang sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya.


Tanpa berpikir panjang kami berdua segera bangkit dan bergegas menghampiri senior itu.


"Kamu, pergilah ke kelasmu!" perintah senior itu kepada Asmas. Segera temanku pergi dari sana.

__ADS_1


"Dan kamu!" ucapnya dingin. Telunjuknya mengarah tepat di hidungku.


"Silakan squat jump sebanyak 25 kali!" perintahnya tegas.


"What! Hei ini nggak adil. Atas alasan apa Akang menyuruh aku squat jump sebanyak itu?" tanyaku yang merasa keberatan atas keputusannya.


"Tentu saja atas alasan kamu berkeliaran di tengah lapang jam segini. Apa kamu tahu ini jam berapa, hah? Ini hampir tengah malam. Bukankah pihak panitia telah menyuruh kalian untuk beristirahat agar kondisi badan fit saat menghadapi pelantikan nanti, hah?" Dia berteriak tepat di depan wajahku.


"Baiklah, aku tahu aku salah. Tapi bukan hanya aku yang tidak berdisiplin. Akang sendiri tahu kalau tadi aku ngobrol dengan temanku. Lalu, kenapa Akang tidak memberikan hukuman padanya?" protesku.


"Jangan membantah! Sekarang silakan kamu pilih, mau squat jump atau lari keliling lapang sebanyak 25 keliling?" ucapnya menyeringai.


Aku bergidik ngeri melihat tatapan matanya. Tanpa banyak bicara lagi, aku pun melaksanakan perintahnya. Sejak saat itu, kebencianku terhadap laki-laki tidak adil itu mulai bersarang di hati.


...................


"Aku pijit pundaknya juga, ya?" ucap Kang Dadang pada gadis itu.


Dengan wajah tersipu malu, gadis itu mengangguk dan tersenyum. Dan aku tersentak kaget saat melihat Kang Dadang mengerlingkan sebelah matanya padaku.


Astaghfirullah! Apa ini halusinasi aku saja, batinku seraya mengucek kedua mata.


Innalillahi...! Aku bergidik ngeri melihat tingkah laku orang itu. Segera aku berdiri dan menjauh dari kumpulan anak-anak pramuka.


Tanpa aku sadari, aku telah melangkah terlalu jauh tapi aku sangat menyukai tempat ini. Tempat yang cukup sepi dan banyak ditumbuhi bunga edelweis. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan air kawah berwarna hijau berkilauan tertimpa cahaya matahari. Semilir angin membuat mataku terasa berat. Aku mulai merebahkan diri di atas pasir, menikmati suasana alam yang begitu syahdu.


Entah berapa lama mataku terpejam. Sayup-sayup aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. Aku mulai membuka mata, tampak orang-orang berkeliaran di hadapanku seraya memanggil namaku.


"Ya, aku di sini!" teriakku seraya melambaikan tangan kepada mereka.


Tapi tunggu-tunggu! Ada yang aneh dari tatapan mereka. Aku berdiri di hadapan mereka, menjawab panggilan mereka, tapi kenapa pandangan mata mereka berkeliaran seolah-olah aku tidak nampak. Bahkan aku melihat Ade, sang ketua kelompok menghampiriku seraya berteriak memanggil namaku. Rasanya telingaku pekak mendengar teriakan dia yang tepat berada di sampingku.


"Hei, dodol! Gendang telingaku bisa pecah mendengar suara kamu yang cempreng itu!" umpatku seraya memukul bahu Ade.


Aneh, sepertinya dia sama sekali tidak mendengar umpatanku. Jangankan mendengar, pukulanku pun seolah tidak dia rasakan.


Aku melangkahkan kakiku yang terasa ringan. Sedetik kemudian aku menghampiri semua teman-temanku dan mengatakan aku berada di tengah-tengah mereka. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang bisa mendengarkan aku. Aku melihat diriku sendiri, tubuhku yang sebesar ini tak mampu mereka lihat, apa mungkin aku memiliki ilmu menghilang? batinku.


Tiba-tiba seseorang menjorokkan aku hingga aku terjatuh ke tepi gunung.

__ADS_1


"Aaarggghhhh....!"


Aku berteriak sekuat tenaga. Saat aku membuka mata, hamparan batu terjal berdiri kokoh di bawahku. Aku pun segera berpegangan pada akar tanaman yang melintang di atas kepalaku.


"Toloooong! Toloooong!" teriakku sekuat tenaga.


"Chiiii! Chiiii! Resttyyyy! Lo di mana?"


"Chiiii! Jawaaab!"


Samar-samar aku mendengar suara teman-teman. Semakin lama semakin terasa jelas. Aku yakin mereka berada tak jauh dari tempatku terjatuh.


"Toloooong!" Aku kembali berteriak. Tak lama kemudian,


"Ya ampun Chi! Lo ngapain gelantungan di sana? Lo pikir lo tarzan cewek?" Tiba-tiba suara cempreng si Deni terdengar jelas di atas sana. Aku mendongak.


"Kamprett, tolongin gue! Gue sendiri nggak tahu kenapa gue bisa berada di sini. Bantuin, pegel ini tangan gue!" teriakku.


Akhirnya dengan bantuan Deni dan Anjas, aku berhasil naik ke atas gunung lagi.


"Lo ngapain sih, manjat pohon kek, gitu. Bahaya tau?! Kalo lo jatuh, bisa-bisa cuma balik nama doang, lo!" gerutu Anjas.


"Sumpah, Jas! Gue sendiri nggak tahu kenapa gue bisa gelantungan di pohon itu. Perasaan dari tadi gua tidur di sana sambil mantengin langit yg terlihat biru menyejukkan hati," bantahku kepada Anjas.


"Lah terus, gimana ceritanya lo bisa gelantungan di tepi jurang?" tanya Anjas lagi.


"Gua sendiri nggak tahu, ish entah apa yang merasukiku, hingga aku berada di ujung maut seperti itu?" gumamku sedikit lebay.


"Prettt...!" ucap Deni. "Emang lo tiduran di mana sih tadi?" tanya dia lagi.


"Tuh di sana!" Aku menunjukt hamparan pasir yang bagian tepinya terlihat hijau oleh tumbuhan edelweis.


"Eh busyet, bukannya itu bukit Sundal ya, tempat para penghuni di sini berjemur," teriak Deni


"Whatt!!!"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2