
Fatwa begitu terkejut mendengar pertanyaan Irma. Dia segera membalikkan badannya. Dan, ternyata benar. Gadis itu tak ada di belakangnya. Rasa cemas kembali menguasai dirinya. Setengah berlari, Fatwa kembali melangkahkan kakinya menyusuri ilalang yang menuju kawasan hutan jati.
Dari kejauhan, Fatwa melihat gadis itu telah tergeletak di semak-semak.
Astaghfirullahaladzim!" teriak Fatwa seraya memburu gadis itu. Fatwa berjongkok begitu tiba di hadapan sang gadis. Dia meraih kepala gadis itu dan meletakkannya ke dalam pangkuan.
"Res, bangun Res!" ucap Fatwa menepuk pelan pipi kanan gadis tersebut.
Sayangnya, tak ada reaksi apa pun dari gadis itu.
"Apa yang terjadi padanya, Fat?" Tiba-tiba Aji sudah berdiri di hadapan mereka.
"Gua nggak tau, Ji," jawab Fatwa.
"Ya sudah, kita bawa dia ke Puskesmas desa, ucap Aji seraya meraih tubuh gadis itu dan menggendongnya.
Fatwa terlihat kesal dengan perlakuan Aji yang menggendong gadis itu seenaknya. Tapi, tidak mungkin juga dia menampakkan kekesalannya di hadapan orang banyak. Apa kata mereka nanti? Dia hanya bisa pasrah menatap Aji yang membawa gadis itu semakin menjauh dari penglihatannya.
"Ayo, Fat! Gue rasa, lo juga butuh perawatan," ucap Irma yang merasa khawatir melihat keadaan Fatwa saat ini.
Dibantu Asep, Awal, Deni dan Anjas, Fatwa pun dibawa menggunakan brankar menuju Puskesmas desa.
.
.
Gadis itu masih belum sadar begitu Fatwa selesai diperiksa. Ingin rasanya Fatwa tinggal di sini untuk menemaninya. Namun, pak Irawan, bapak kepala sekolah, bapak kepala desa dan dewan adat setempat tengah menunggu Fatwa untuk melaporkan kejadian yang membuat dirinya dan gadis itu tersesat selama sehari semalam.
Setelah beristirahat dengan cukup, fatwa pun berniat mendatangi kantor kepala desa untuk membuat laporan. Namun, sebelum dia pergi ke sana, dia mampir terlebih dahulu ke Puskesmas desa.
Tiba di puskesmas, Fatwa begitu terkejut mendengar perdebatan antara Lastri dan gadis itu. Entah apa yang mereka ributkan, Fatwa tidak tahu apa akar permasalahan mereka.
"Tidak! Aku mo pulang!" Gadis itu mulai berteriak sambil memberontak, menolak untuk kembali diinfus oleh perawat.
"Ish, tenanglah Dek! Kakak janji, malam ini Kakak nggak bakalan tidur. Kakak akan menjagamu sepanjang malam." Terlihat Lastri sedang menenangkan gadis itu dengan meyakinkan jika dia akan bermalam di Puskesmas untuk menemaninya.
Meski tak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi Fatwa merasa, inilah waktu yang tepat untuk menjaga dan melindungi gadis itu.
"Tidak usah lakukan itu, Las. Biar malam ini, aku yang menjaganya!" ucap Fatwa, memasuki kamar rawat.
Sontak Lastri dan gadis itu menengok. Mereka tampak tertegun melihat tubuh tegap nan tinggi berjalan menghampiri mereka.
Lastri tersenyum melihat kedatangan Fatwa. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Seperti yang kamu lihat, Las," jawab Fatwa seraya membalas senyuman Lastri.
Fatwa mendekati ranjang gadis itu. "Tolong dipasang lagi infusnya, Sus!" pintanya.
Perawat itu tersenyum dan mengangguk mendengar perintah tegas dari Fatwa.
__ADS_1
"Ish, apa-apan lo, Fat. Nggak usah sok ngatur-ngatur hidup gue! Pokoknya gua mo pulang!" Gadis itu semakin sulit dikendalikan. "Nggak-nggak! Aku nggak mau!" Kini, gadis itu mulai berteriak histeris dan menutup punggung tangan kanannya.
Fatwa duduk di tepi ranjang, dia meraih tangan kiri sang gadis "Hei, aku sudah pernah bilang, aku akan selalu menjagamu. Kamu masih percaya ucapanku, 'kan?" tanya Fatwa, menatap lembut kedua bola mata gadis itu.
Sejenak, gadis itu menatap sendu kedua bola mata Fatwa. Mencari celah kejujuran pada diri lelaki itu. Sejurus kemudian dia mengangguk dan membiarkan perawat memasangkan kembali jarum infus di tangannya.
"Las, bisakah kamu menjaganya dulu? Aku ada urusan sebentar ke kantor kepala desa. Aku janji, secepatnya aku akan kembali begitu urusan aku dan Aji selesai di sana," ucap Fatwa melirik Lastri yang sedang duduk merangkul bahu gadis itu.
"Tentu saja, Fat. Pergilah!" jawab Lastri.
"Aku pergi dulu. Tidak usah khawatir, aku pasti kembali," ucap Fatwa kepada gadis itu. Sejurus kemudian, Fatwa keluar dari ruang rawat sang gadis.
.
.
.
Fatwa kembali melanjutkan perjalanannya menuju balai desa. Di sana terlihat pak Irawan beserta para aparat desa tengah menunggunya. Setelah dipersilakan masuk, Fatwa mulai menceritakan kronologi yang membuat dirinya tersesat bersama gadis itu.
Beberapa jam berlalu. Setelah urusannya selesai, Fatwa kembali ke Puskesmas untuk menepati janjinya. Saat dia membuka pintu ruang rawat gadis itu, tiba-tiba...
Blugh!
"Ups!"
"Kamu tinggal di sini untuk beristirahat, bukan untuk bermain lempar bantal seperti ini!" Fatwa mendengus kesal melihat tingkah gadis itu yang menurutnya kekanak-kanakan. Dia kemudian membawa bantal yang tergeletak di lantai dan mendekati ranjang gadis itu.
"Eh, kamu sudah datang, Fat." Lastri berbasa-basi untuk mencairkan ketegangan.
"Maaf, terlambat! Tadi, pembicaraannya berjalan cukup alot," ujar Fatwa.
"Iya nggak pa-pa. Kamu jadi, nginep di sini?" tanya Lastri.
"Jadi, Las. Ya sudah, sebaiknya sekarang kalian pulang saja. Sebentar lagi magrib, biar aku yang menjaga teman kalian di sini. Aku sudah izin ke Pak irawan sama pihak Puskesmas juga, kok," ucap Fatwa.
Ketiga sahabat itu tersenyum penuh arti sebelum akhirnya mereka membubarkan diri.
Fatwa merasa senang bisa menjalani waktu bersama gadis itu. Dia bahkan menjadi seorang perawat demi kesembuhan gadis itu. Bagaimanapun juga, Fatwa merasa bersalah atas kesakitan yang menimpanya. Jujur saja, dia tidak menyangka jika dalam kamus hidupnya, dia akan menjalani waktu sedekat ini bersama seorang gadis. Bahkan, dulu saat bersama Anna, Fatwa tidak pernah menjalani momen-momen seperti ini. Sungguh sebuah momen yang tidak akan pernah dia lupakan.
.
.
Setelah melewati beberapa hari, akhirnya kegiatan observasi di desa Parentas pun berakhir. Setelah pembubaran kepanitiaan dan bermushafahah, para siswa-siswi SMA 1 kembali menuruni jalanan terjal.
Fatwa berjalan sebagai tim penyisir bersama teman-teman IREMA-nya. Saat melintasi sebuah masjid. Dia dan kawan-kawannya memutuskan untuk beristirahat sekaligus salat dhuha.
Kembali Fatwa beradu pandang dengan gadis itu. Kali ini, seulas senyum dia layangkan untuk gadis yang semakin jauh memasuki lorong hatinya. Selesai menunaikan salat dhuha, Fatwa dan kawan-kawannya keluar dan duduk di beranda masjid untuk melepas lelah. Untuk beberapa saat mereka mengobrol seputar keagamaan. Hingga akhirnya, sang ketua IREMA memberikan komando untuk memulai kembali perjalanan.
__ADS_1
Saat melintas di depan gadis itu dan temannya, Gaos mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.
"Ayo, Ma!" ajak Gaos kepada Irma.
"Siap, Bang!" jawab Irma tersenyum sambil memberi hormat layaknya sedang upacara bendera.
"Lanjut yuk, Chi!" Irma mengajak gadis itu untuk melanjutkan perjalanannya.
"Ma, bisa gendong gue, nggak!" kata gadis itu.
"Eit dah ... sue, lo! Lo pikir lo enteng." Irma mendengus kesal menanggapi perkataan temannya.
"Tapi, gue, 'kan kurus, Ma!" Gadis itu mulai merajuk
"Kurus sih kurus, tapi tulang-belulang lo padet. Tetep aja berat, geblek!" maki Irma.
"Ya, udah deh. Gua berangkatnya entar aja, nunggu orang yang mau gendong gue," celetuk gadis itu.
"Anjret! Lo mah nyusahin aja sih idupnya." Irma terlihat menggerutu dengan kesalnya.
Melihat perdebatan mereka, rasanya Fatwa ingin menawarkan diri untuk membantu gadis itu. Tapi, tiba-tiba...
"Ayo, Chi!" Gaos berteriak ke arah gadis itu sambil melambaikan tangannya.
"Geeendong!" Tiba-tiba, gadis itu merengek manja.
Tak disangka, Gaos menanggapi rengekan gadis itu. Dia kemudian menghampirinya dan mulai berjongkok di hadapan gadis tersebut. "Ayo, naiklah!" ucapnya.
"Serius, Bang?" tanya gadis itu dengan tatapan tak percaya.
"Kamu pikir Abang bakalan jongkok begini kalau nggak serius?" ucap Gaos.
Sejenak, gadis itu tampak ragu dengan penawaran Gaos.
"Kok malah bengong. Mau, nggak? Buruan, sebelum masa berlakunya kadaluwarsa," gurau Gaos.
Akhirnya gadis itu menerima tawaran Gaos. "Berat nggak, Bang?" tanya gadis itu, melingkarkan kedua tangannya di leher Gaos.
"Lebih berat sekarung beras berisi 25 kg daripada kamu," jawab Gaos.
"Hahaha, Abang bisa aja. Tapi serius Bang, berat nggak? Kalau berat, udah, Chi turun aja," ucap gadis itu
"Apa kamu nggak lihat kalau kaki kamu bengkak? Mau, tambah parah dan nggak bisa sekolah?" tukas Gaos.
Dengan tatapan dingin dan penuh amarah, Fatwa memperhatikan keakraban kedua insan berbeda jenis itu. Ish, kenapa aku merasa tidak suka dengan kebersamaan mereka. Apa aku benar-benar cemburu? batin Fatwa seraya mengepalkan kedua tangannya.
Fix! Aku memang cemburu melihat keakraban mereka.
Bersambung
__ADS_1